
AUTHOR
Moza mendengus pelan saat mendapati wanita dihadapannya terlihat semakin kesal.
" Haaaahhh..... Aku tidak menyangka jika niatku menjaga harga diri terakhir kak Alina sebagai seorang wanita justru akan disalah artikan sebagai sikap bermuka dua. "
" Apa maksudmu ? " Alina tiba-tiba selalu merasa menjadi orang yang bodoh setiap kali mendengar kalimat Moza yang tidak bisa ia pahami maksudnya.
" Sepertinya apapun yang aku lakukan akan tetap salah di pandangan kakak. Jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun. Terserah kak Alina mau menilaiku pura-pura baik atau apalah itu. Toh penilaian kak Alina tidak berpengaruh apapun pada hidupku. " Ucap Moza santai tanpa ekspresi membuat air muka Alina berubah seketika, dari ekspresi sombong menjadi gelisah.
" Kamu benar-benar gadis yang mengerikan. " Umpat Alina yang sudah kehilangan kesabarannya menghadapi Moza yang terlihat begitu tenang dan percaya diri.
" Huft.... Terima kasih atas pujian kak Alina yang kesekian kelinya. Jadi aku harap kakak berhenti membuat keributan. " Moza memperingatkan dengan menatap Alina tajam.
Alina merasa kesal, kenapa gadis di hadapannya ini memiliki karakter yang serupa dengan pria yang disukainya. Kalimat demi kalimat gadis itu benar-benar tidak mudah dipahami dan membuatnya harus berfikir untuk bisa mengerti maksudnya.
" Jika kak Alina merasa cukup percaya diri dan yakin bisa memenangkan hati Kak Hega, maka datangilah saja dia, berusahalah semampu kakak, tapi jangan lagi menyeretku atau menemuiku untuk membahas hal seperti ini denganku. Apa kak Alina tau ?! Mendengar ada wanita yang mengatakan ingin bersaing berebut pria denganku rasanya sangat menyebalkan. Dan terlebih lagi pria itu jelas adalah milikku, rasanya seolah kak Alina sedang meminta ijinku untuk menjadi selingkuhannya. Itu mengesalkan tahu ! " Moza akhirnya kehilangan kesabarannya dan mengalir lah sudah isi hatinya.
B R A K . . .
Alina berdiri dari kursinya dan menggebrak meja dengan kedua tangannya. Sekali lagi Alina tampak sangat murka, sudah tidak bisa berkata-kata lagi untuk mendebat gadis di hadapannya yang begitu pandai bicara itu.
Kesabarannya dibuat habis oleh Moza yang justru terlihat tenang seolah tidak terganggu dengan semua bentuk provokasinya.
" Jadi jika kakak ingin menakhlukkan hati kak Hega, langsung saja datangi dia ! Jangan datang padaku dan membuat keributan seolah aku lah yang membuat kak Hega tidak bisa menerima perasaanmu. "
Moza benar-benar sampai pada batas kesabarannya, tapi logikanya tetap membuatnya bisa berbicara dengan tenang tanpa tersirat emosi sedikitpun, meskipun nyatanya dalam hati Moza juga ingin sekali saja menampar Alina yang sudah membuatnya jadi bahan tontonan beberapa pengunjung di cafe dan restoran mewah itu.
" Kamu benar-benar..... " Alina meremas tangannya kesal, meninggalkan Moza tanpa permisi dengan ekspresi menahan amarah.
Moza menjatuhkan kepalanya di meja beralaskan kedua tangannya yang sudah terlipat di atas meja.
Fyuuhhh.... Akhirnya selesai sudah drama menggelikan ini.
Gumam Moza, gadis itu menghela nafas lega seolah barusaja terbebas dari situasi yang membuatnya sesak.
Tak ada yang tahu jika di sisi lain terhalang sekat pembatas, ada yang sedari tadi tengah menguping pembicaraan dua gadis itu.
__ADS_1
Hingga sebuah suara tawa yang tidak asing di telinga Moza mengalihkan perhatiannya.
Sreeettt.....
Moza menggeser kursinya sedikit mundur, dan melongokkan kepalanya ke arah meja di balik sekat.
βββ
Hega barusaja tiba di restoran yang terletak di salah satu sudut kota untuk menghadiri pertemuan dengan salah satu parter bisnisnya.
Bersama Bara dan Anita yang sudah menunggu di salah satu meja khusus yang tertutup sekat ruang minimalis berbahan pvc berwarna hitam dengan pola motif bunga-bunga.
Hega yang memang tidak terbiasa menunggu, lebih memilih berangkat terpisah dari Bara dan Anita. Tepat pukul 12 siang, Hega tiba di lokasi pertemuan. Tapi ternyata klien yang mengajukan rapat di sana justru malah belum tampak batang hidungnya.
Hega melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, pukul 12 lewat 2 menit.
" Anita, jam berapa jadwal pertemuannya ? " Tanya Hega pada sekretaris pribadinya.
" Dua belas siang, Presdir. " Jawab wanita itu lugas.
" Tunggu dulu lah, Ga ! Baru juga lewat 2 menit. " Ucap Bara menenangkan sahabat sekaligus bossnya yang sudah dalam mode bad mood itu.
Senyum tersungging dari bibir Hega saat melihat gadis cantik kesayangannya tiba-tiba muncul saat mood nya sedang tidak baik.
Hendak dihampirinya gadis itu, tapi ternyata Moza sedang menemui seseorang. Hega menatap ke arah wanita yang sudah duduk terebih dahulu di kursi yang ada si sisi lainnya menghadap Moza, meja itu tepat berada dibalik sekat pembatas dimana Hega sedang duduk saat ini bersama Bara dan Anita.
Tapi Hega tidak tahu siapa yang ada di balik sekat tersebut sampai ketika sebuah suara yang juga cukup dikenalnya membuatnya bertanya-tanya.
Alina ? Untuk apa Momo bertemu dengan Alina ?
Gumam Hega dalam hati, sesaat kemudian Hega menatap Bara yang sepertinya juga menyadari siapa yang ada di balik sekat di dekat tempat duduk mereka.
Hega memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar Bara diam saat dilihatnya Bara hendak berdiri menghampiri adik sepupu kekasihnya itu.
Dari percakapan awal terdengar jika Alina lah yang meminta agar Moza menemuinya. Hega ingin tahu apa tujuan Alina menemui kekasihnya itu.
Anita yang bingung dengan bahasa isyarat antara kedua boss nya itu hanya mengerutkan dahinya beberapa kali, sangat penasaran tapi tidak berani bertanya. Tapi jelas sekali kedua pria itu sedang menguping pembicaraan dua wanita yang ada di balik sekat di sebelah meja mereka.
__ADS_1
Dua wanita yang terdengar sedang memperebutkan seorang pria, dan entah kenapa Anita seperti mengenal suara salah satu dari kedua wanita tersebut.
Anita semakin heran ketika melihat Presdir galaknya yang bagaikan kulkas tiga pintu dan minim ekspresi itu tampak beberapa kali tersenyum.
Belum lagi pria yang satunya yang terlihat menahan tawa dengan memegangi perut dan mulutnya setiap kali salah satu wanita di sebelah bersuara, siapa lagi jika pria itu bukan Bara yang sedang mentertawakan drama perdebatan dua wanita yang sedang berebut seorang pria.
Dan tokoh utama penyebab perdebatan itu sedang duduk bersamanya, siapa lagi jika bukan sahabat karibnya, Hega Airsyana.
Sejak kapan Presdir punya kebiasaan menguping pembicaraan orang lain ? Dan kenapa wajahnya terlihat senang begitu ?
Batin Anita penasaran, hingga kembali suara yang dikenalnya berbicara lagi bahkan menyebut nama pria yang mirip dengan nama atasannya.
" Mau bagaimanapun usaha kak Alina mendekatinya, itu akan percuma. Lebih baik kakak menggunakan waktu kakak untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna. Masih banyak cinta lain yang mungkin menunggu kak Alina entah dimana. Yang jelas pria itu bukan kak Hega. " Ucap wanita yang suaranya dikenal oleh Anita namun ia lupa suara siapa itu.
Mendengar nama boss nya disebut-sebut oleh suara wanita di meja sebelah membuat Anita sepertinya mulai memahami jika pasti dua wanita itu memang sedang membicarakan Presdirnya.
Cukup lama obrolan panas di sebelah berlangsung hingga salah satu wanita terdengar menggebrak meja dengan keras.
Ya tentu saja Hega menikmati drama yang sedang terjadi, awalnya Hega ingin mendatangi meja dimana Moza tengah duduk dengan Alina dan membicarakan dirinya.
Hega merasa harus memperjelas semuanya dengan Alina, bahwa hanya Moza saja satu-satunya wanita yang dicintainya.
Tidak ada tempat untuk wanita lain selain Moza, karena sepertinya ucapannya di villa beberapa waktu yang lalu belum bisa membuat Alina menyerah.
Bahkan Bara juga sempat ingin kembali beranjak berdiri dan menghentikan Alina agar tidak membuat masalah lebih lanjut.
Tapi Hega mengangkat satu tangannya dan menggeleng mengisyaratkan agar Bara tidak ikut campur.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
FYI : Kurang lebih seperti ini ya, anggap saja ruang sofa itu tempat Bang Hega mau meeting. Dan Moza ada di kursi di balik sekat atau partisi pembatas. πππ
NB : MAAF ATAS KESALAHAN UP SEBELUMNYA YA ππ
...JANGAN LUPA...
__ADS_1
...β LIKE β KOMENTAR β VOTE β...