
AUTHOR
" Gue udah bener-bener jatuh cinta Bar. " Gumam Hega menghembuskan nafas dalam, membayangnya wajah gadis yang dicintainya.
Itu juga gue udah tahu bocah, lo aja yang kelewat polos atau justru kelewat beg* baru nyadar sekarang. ~ Bara ~
" Lo pasti lagi ngatain gue dalam hati kan Bar ? " Tanya Hega tepat sasaran.
Shit.... Gue pikir lo jadi beg* beneran gara-gara cinta, ternyata insting lo masih tajam bocah. ~ Bara ~
" Sory Ga. "
" Gue biarkan lo lolos kali ini Bar. "
" Ya ya ya, terima kasih paduka yang mulia. " Goda Bara.
" Pulang sono, bersihkan badan lo dan temuilah pujaan hati lo. Sepertinya cuma Moza yang bisa membuat lo mendinginkan kepala dan meluluhkan amarah lo itu. " Lanjut Bara.
" Mungkin yang lo bilang ada benernya Bar. Gue pergi, titip kantor. " Ucap Hega sembari berdiri dari sofa dan meraih jasnya.
" Halah, emangnya kantor lo segede ini mau pergi kemana. " Cibir Bara.
Sampai di apartemennya, Hega membersihkan dirinya menunaikan sholat dan bersiap menemui gadis yang dirindukannya setengah mati.
Mencari ponselnya di beberapa tempat, tapi nihil.
Sial....
Umpatnya saat mengingat jika benda pipihnya itu sudah hancur saat sedang emosi di mobil menuju rumah besar keluarga Saint.
Tapi tak ambil pusing langsung ditinggalkannya apartemennya menuju mobil dan melajukannya ke kampus Moza.
•
•
🍒🍒🍒
Disisi lain Moza yang sudah kembali ke kampus bersama Deana karena lupa jika harus ke perpustakaan mencari buku untuk bahan tugas mereka.
Saat hendak keluar gedung menuju taman kampus, dilihatnya keriuhan terjadi disana.
Beberapa orang mahasiswi bergerombol membicarakan sesuatu yang terlihat sangat menarik sambil terlihat menunjuk-nunjuk ke satu arah.
Saat mata Moza mengarah ke tempat dimana pusat perhatian gadis-gadis itu tertuju, Deana lebih dulu berteriak.
" Disini. " Teriak Deana melambaikan tangan memanggil pemuda yang terlihat tengah celingukan mencari sesuatu.
Begitu pencariannya mendapat hasil karena teriakan Deana, pemuda itu langsung berhambur ke arah Moza. Memeluk gadis itu erat, mendekapnya penuh kerinduan.
" Hei... Gue yang panggil kok yang dipeluk duluan Moza sih ! " Protes Deana.
" Pelukanku hanya untuk kak Moza. Kak Deana aku kasih ucapan makasih ajah ya. " Ucap pemuda itu yang ternyata adalah Ryuza Arvana Dama, adik bungsu Moza.
__ADS_1
" Dasar bocah tidak tahu terima kasih. Sini gue jitak kepala lo. " Omel Deana sembari mencoba meraih kepala pemuda itu.
" Coba aja kalau kakak mampu. " Ejek Ryu, panggilan sayang untuk pemuda itu dari orang-orang yang dekat dengannya.
Semua mata menatap iri pada Moza dan Deana, terutama dari para gadis. Dan tatapan terpesona pada pemuda bertubuh tinggi dan gagah serta berwajah sangat tampan yang tengah bercanda dengan kedua gadis itu.
" Sudah, sudah. Kenapa kalian selalu bertengkar jika bertemu sih. " Omel Moza sambil mencubit lembut lengan adiknya.
" Dan kamu Ryu, kenapa datang tanpa pemberitahuan sih ? Bagaimana jika tidak bertemu aku ? "
" Kak, aku merindukanmu tau. " Ucapnya manja sambil membawa kembali tubuh kakak perempuannya ke dalam dekapannya, menyandarkan dagunya di pundak sang kakak.
" Kamu makan apa sih sampai bisa setinggi ini ? " Geram Moza melihat perbedaan tingginya dengan sang adik yang berbeda usia 4 tahun itu.
Ryuza tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, bertubuh tinggi meskipun tidak setinggi Hega. Memiliki kecerdasan yang sama dengan Hega yang juga pernah dua kali mengikuti kelas percepatan atau akselerasi pada saat di bangku sekolah.
" Tentu saja aku harus tumbuh tinggi dan kuat supaya bisa menjagamu kan kak. " Gerutu Ryu masih manja pada kakaknya.
" Apa yang kamu lakukan disini ? Memangnya kamu tidak sekolah ? " Tanya Deana muak melihat sikao sok manja adik sahabatnya itu.
" Aku sudah ujian nasional tahu kak, aku sedang melihat-lihat kampusku belajar nanti. " Ucap Ryu bangga.
" Haaaa ?????!!!! " Deana terbengong mendengar jawaban sombong pemuda itu.
" Aku mau lulus SMA jika kakak lupa. " Protes Ryu.
Oh iya sih, nih anak meskipun bandel dan manja tapi katanya otaknya jenius. ~ Deana ~
Tengah asyik mengobrol, beberapa mahasiswi yang melewati mereka ada yang sengaja menyapa Moza dan Deana untuk mencari perhatian pemuda itu.
" Hei Moza, yang kemarin bawa mobil mewah kemana ? Udah ganti yang baru aja. " Ucap seorang mahasiswi dengan nada menghina.
" Heh, tuh mulut sekolahin napa ? Sini gue toyor tuh bibir lemes lo. " Umpat Deana membela Moza dan mengeluarkan gerakan tinjunya.
" Udah Dea, biarkan saja mereka begitu. " Moza menenangkan sahabatnya.
Ryu yang tidak tahu tentang apa yang terjadi memasang wajah dingin dan tatapan menusuk ke arah gadis yang tadi menghina sang kakak.
Meskipun dia tak tahu apapun, tapi insting untuk melindungi kakaknya seolah langsung aktif.
Sosok pemuda yang begitu manja dan menyayangi kakaknya itu, berubah menjadi sosok dingin, acuh dan ketus jika menghadapi wanita lain terutama mereka yang mengganggu kenyamanan kakak tercintanya.
Baginya mendapat julukan possesive brother hingga sister complexs yang sering melekat pada dirinya tak mengganggu sama sekali baginya. Karena yang terpenting adalah melihat kakaknya bahagia.
Karena saat Ryu masih SD, dia memiliki ingatan tentang sosok kakaknya yang begitu menyedihkan. Mendengar isak tangis bahkan jeritan sang kakak hampir setiap malam.
Ryuza yang saat itu baru masuk SD berusia 6 tahun belum memahami apa yang terjadi pada kakak perempuannya. Hingga sang ayah dan bunda menjelaskan padanya beberapa tahun yang lalu perihal kondisi psikologis gadis itu dan juga penyebabnya.
Membuat pemuda itu bertekad akan menjadi adik yang selalu membuat kakaknya bahagia, seperti apa yang dilakukan almarhum kakak sulungnya, yang bahkan dia sendiri tidak terlalu ingat sosok anak pertama keluarga Dama itu.
•
•
__ADS_1
🍒🍒🍒
Tak jauh dari tempat Moza bertemu dengan sang adik, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari jauh.
Beberapa menit yang lalu, saat Hega baru saja hendak turun dari mobilnya, pemuda itu melihat pemandangan yang membuat hatinya seolah dihujam oleh sesuatu yang menyakitkan.
Dilihatnya sosok gadis yang sangat dirindukannya sedang berpelukan dengan seorang pemuda, dan saat hendak menghubungi Deana yang juga terlihat disana, baru teringat kembali jika dia belum membeli ponsel baru.
Cemburu melanda hatinya, tatapan matanya menggelap seolah ingin menghajar pemuda yang sedang memeluk erat gadisnya.
Tapi diurungkan lagi niatnya, karena menyadari sesuatu yang harus terlebih dulu dia selesaikan.
Bara benar, aku harus memperjelas semuanya dengan kakek, dengan begitu aku bisa menemuinya tanpa beban.
Moza sayang, maafkan aku, tolong tunggu sebentar lagi.
Aku begitu merindukanmu hingga ingin sekali berlari dan mendekapmu dalam pelukku sekarang juga.
Gumam Hega yang kemudian dengan berat hati meninggalkan area parkir Fakultas Ekonomi, melewati gadis yang berdiri tak jauh dari tempat parkirnya tadi.
•
•
🌟
~ Cuplikan ~
Kamu harus menikah dengannya ?
Dia adalah gadis pilihan mama kamu.
Dan kalian sudah dijodohkan bahkan sejak gadis itu masih ada di dalam kandungan ibunya.
Pilihlah !
Mengabulkan permintaan terakhir ibumu atau kamu lebih memilih egomu ?!
Kalimat sang kakek seolah bagai petir yang menyambar di siang bolong.
Apakah pilihan yang akan diambil Hega nantinya ?
🌟
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍
__ADS_1
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕