Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Dipingit


__ADS_3

AUTHOR


Pemuda itu segera bangkit dari ranjang kekasihnya dengan ekspresi gugup dan salah tingkah, Hega jelas tidak ingin calon mertuanya salah paham padanya.


Ayu tersenyum melihat wajah canggung calon menantunya, " Bunda percaya kamu, Hega. Bunda yakin kamu tidak berbuat macam-macam sebelum waktunya. Jadi jangan pasang wajah tegang begitu ! " Ucapnya menenangkan dan mengusap lengan atas Hega.


Hega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, " Bun. . . " Hega bingung harus berkata apa, satu sisi dirinya merasa sangat beruntung mendapatkan kepercayaan seperti itu dari calon ibu mertuanya.


Tapi disisi lain, Hega juga merasa malu karena pernah hampir mencoreng kepercayaan wanita itu.


Hega melirik canggung ke arah pria paruh baya yang berdiri tak jauh di belakang Ayu Puspita, dan pria berkaca mata itu membalas tatapan gugup calon menantunya dengan senyuman.


" Terima kasih sudah ada disisinya saat dia benar-benar membutuhkanmu. " Sambung Ayu lagi sebelum pemuda itu sempat melanjutkan kalimatnya.


" Tidak, bun. Itu memang sudah tanggung jawab Hega untuk menjaganya. Bunda tidak perlu berterima kasih untuk itu. "


" Yaaah, kamu benar. Sebentar lagi tanggung jawab untuk mejaga dan membahagiakan putri bunda akan berpindah padamu sepenuhnya. " Ayu kembali mengusap kedua lengan atas Hega, pemuda pilihan putrinya, pemuda pilihan putranya.


Ya, Hyuza sendirilah dulu yang menitipkan adik kesayangannya pada sahabatnya itu. Dan itu pula lah yang menjadi wasiat terakhir putra sulungnya yang diamanatkan pada dirinya sebelum putranya itu menghembuskan nafas terakhirnya. Hyuza lah yang menginginkan untuk menjadi pendonor jantung bagi sahabatnya, dan juga menjadikan sahabat karibnya itu sebagai pendamping hidup adik kesayangannya.


Ayu mengusap pipi Hega dengan perasaan bahagia, " Bunda sangat bersyukur kamulah pria yang akan menjadi imamnya nanti. " Air mata Ayu bahkan sudah menetes di pipinya.


" Buuun. . . " Hega yang terbawa suasana segera memeluk wanita yang sudah bagaikan ibu baginya itu.


Ardi Dama mendekati sang istri, memegang kedua bahu istrinya dari belakang, kemudian mengelusnya perlahan untuk memberi ketenangan. Membuat Hega melepaskan pelukannya pada sosok ibu yang dia rindukan.


" Bun, sudah. Jangan drama dulu pagi-pagi. Mumpung Momo belum bangun, alangkah baiknya kita membicarakan dulu maksud kedatangan kita hari ini. " Tutur Ardi dengan lembut.


" Ah. . . Iya, Ayah benar. " Ujar Ayu sembari mengusap air matanya, Ayu seolah sempat lupa dengan tujuan utamanya mengunjungi rumah besannya.


Kening Hega sedikit mengerut bingung saar mendengar nada suara sang calon ayah mertua yang tiba-tiba berubah serius, " Maaf, Ayah, Bunda. Ada apa lagi ? Kenapa kedengarannya ada sesuatu yang serius ?! " Tanyanya cemas.


" Ayo kita bicara diluar saja ! " Pinta Ardi sembari menepuk lengan pemuda itu dan membimbing istrinya keluar dari kamar putri mereka.


๐Ÿƒ


๐Ÿƒ


๐Ÿƒ


~ Ruang tengah lantai tiga ~


Suryatama sudah duduk di sofa, entah kenapa Hega semakin gelisah dan cemas dibuatnya saat melihat ekspresi serius di wajah pria tua yang selama ini selapu memberikan yang terbaik untuk dirinya itu.


Hega seperti merasa seolah akan ada berita atau kejadian buruk yang sedang menanti untuk segera sampai di telinganya.


" Duduklah ! " Titah Suryatama saat melihat raut wajah gelisah cucunya.


Hega terpaksa menuruti perintah kakeknya, pemuda itu memilih duduk di samping ibu mertuanya, ouch, calon ibu mertua maksudnya.


Sedangkah Ardi yang tengah mendapat panggilan telepon segera menuju balkon, mempercayakan sepenuhnya pada sang istri untuk berbicara pada calon menantu mereka.


Meninggalkan istrinya bersama pemuda yang sebentar lagi akan menjadi suami dari putri kesayangannya.


" Bun. . . " Lirihnya dengan suara serak nan berat khas bangun tidur.


Wanita itu menatap pemuda di sampingnya yang terlihat menatapnya dengan wajah gusar, " Ayah dan Bunda akan membawa Momo pulang. "

__ADS_1


J E D E R . . .


Hega terlihat syok dengan kalimat yang diucapkan ibu mertuanya, matanya membulat dan kedua alisnya menaut.


" A-apa ? Pulang ? " Tenggorokannya terasa tercekat, Ayu mengangguk mantap sebagai jawaban atas pertanyaan singkat calon menantunya.


" Tapi Kenapa ? " Tanya pemuda itu lagi dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, antara bingung, syok, cemas dan takut sekaligus bercampur menjadi satu.


Pikirannya sudah diselimuti macam-macam kemungkinan buruk.


Kenapa tiba-tiba orang tua kekasihnya mengatakan akan membawa pulang putri mereka ?


Apa ini ada hubungannya dengan kondisi Moza yang sempat drop semalam ?


Tapi kan mereka akan segera menikah ?


Kenapa harus dipisahkan ?


Pemuda itu tampak sedikit linglung dengan pikirannya sendiri.


" Hega, dengarkan dulu apa yang akan dikatakan mertuamu ! " Sela Suryatama yang melihat jelas perubahan mimik wajah cucunya.


" Tapi, Kek. . . " Hega melihat ke arah sang kakek dengan wajah masam, kemudian kembali menatap wajah sang calon ibu mertua dengan wajah memelas.


" Bun, maafkan Hega yang telah lalai menjaga Momo hingga dia jadi seperti ini. Tapi sungguh, Hega akan menjaganya lebih baik lagi. Jangan jauhkan Hega dari Momo, bun ! Hega mohon. " Pintanya dengan suara parau sembari menggenggam tangan Ayu.


" Pffft. . . " Suryatama mendesis lirih dengan nada mengejek mendengar kekonyolan cucunya yang ternyata salah mengartikan maksud ucapan dari ibu kandung calon istrinya itu.


Hega yang merasa gelisah berubah kesal mendapati tawa mengejek dari sang kakek.


Ayu melepas tangannya dari genggaman pemuda itu, kemudian mengelus lembut bahu Hega, " Huftt. . . Apa yang ada di pikiranmu terlalu jauh, sayang. Bukan itu maksud bunda mau membawa Momo pulang. "


" Buuun. . . "


" Hah ? Apa bun ? Ping apa bun ? Pingit ? Dipingit ? " Tanyanya dengan ekspresi tidak mengerti.


" Haish. . . Dasar anak ini, Rasti jelaskan pada putramu yang bodoh itu ! " Titah Suryatama pada Rasti yang sudah ikut bergabung duduk di sofa beberapa menit yang lalu.


" Begini sayang, pingitย atauย pingitanย adalah salah satu tradisi dalam proses pernikahan adat Jawa, di mana calon pengantin perempuan dilarang ke luar rumah atau bertemu calon pengantin laki-laki selama waktu yang ditentukan. Biasanya, keduanya tidak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba. "


" Maksudnya Hega tidak bisa melihat Momo sampai hari pernikahan, begitu ? " Tanya Hega memastikan, berharap mendapatkan jawaban yang sesuai keinginannya.


Tapi anggukan semua orang membuat tubuhnya lemas seketika dan beringsut di sofa yang didudukinya.


" Jadi bunda datang bukan karena kecewa Hega lalai menjaga Momo hingga Momo sekarang . . . " Suaranya sedikit muram, bahkan Hega tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Ayu menggeleng dan kemudian tersenyum, " Tentu saja bukan. " Jawab istri Ardi Dama itu.


" Ini sudah bagian dari rangkaian acara pernikahan sayang, sudah bunda rencanakan dari awal kok. Dan sungguh bukan karena kejadian yang dialami Momo semalam. Hanya saja memang bunda datang lebih awal karena mencemaskan keadaan Momo setelah mendapat kabar dari kakek Surya semalam. " Jelas Ayu dengan nada bijaksana sembari mengusap kepala pemuda itu, layaknya seorang ibu yang berusaha menenangkan putranya.


" Buuun. . . " Rengek Hega lirih tanpa kenal situasi, sudah tidak peduli lagi dengan image cool dan berwibawa yang selama ini melekat pada dirinya.


" Hem. "


" Kenapa harus pakai acara dipingit segala sih ?! " Protes Hega dengan tatapan merayu agar ibu mertuanya itu mengurungkan niatnya.


Ingin rasanya Ayu tertawa melihat ekspresi wajah Hega yang biasanya terlihat dingin dan berwibawa di majalah ataupun siaran berita ekonomi di televisi itu kini terlihat kekanakan dan manja.

__ADS_1


" Ya, memang begitu ! Kan bundamu ini orang Jawa asli, jadi ya memang adatnya harus ada pingitan. " Jawab Ayu santai.


" Ya, tapi bun. . . Seminggu itu terlalu lama, Hega bisa sesak nafas jika tidak bisa melihat Momo selama itu. " Keluh pemuda itu sembari menjatuhkan wajahnya di bahu sang bunda.


Rasti yang melihat keakraban putra tirinya dengan calon mertua yang juga adalah sahabat Rasti itu sedikit merasa iri. Tapi Rasti tetap mensyukuri perlakuan Hega yang sudah berubah secara perlahan padanya menjadi lebih baik.


" Hahaha. . . Kamu ini sudah seperti bocah saja ! Nanti kakek minta Derka membawakanmu tabung oksigen kalau kamu kehabisan nafas. " Ejek Suryatama sarkas.


Sontak membuat Hega sedikit cemberut dan memancing gelak tawa Ayu dan Rasti.


" Ya, sudah. Bunda akan membangunkan Momo dulu agar dia bersiap. " Ayu mengelus dengan penuh kasih kepala calon menantunya itu.


Baru saja Ayu hendak beranjak dari sofa, pekikan Hega membuat wanita paruh baya itu kembali merapatkan pantatnya dengan sofa.


" HAH. . . Bun, jangan bilang kalau pulangnya sekarang juga ?! "


" Iya, bunda sudah mengatakannya pada kakek dan papamu. "


" Hish. . . Besok aja ya bun perginya, please ! " Menggenggam kembali tangan ibu mertuanya.


Ayu memukul punggung tangan Hega dengan gemas, " Kamu ini, kan minggu depan kalian sudah ijab qabul. Sabar lah ya, itung-itung kamu belajar sabar dan sekalian memupuk rindu supaya nanti saat pertemuan di pernikahan chemistry dan ikatan cinta kalian semakin bertambah. Benar kan, Ras ?! " Bujuknya dengan sabar kemudian melirik sahabatnya yang duduk di sofa di sisi kanan mereka.


Wanita bergaun magrnta itu mengangguk dan tersenyum, " Iya, Ga. Tenang saja calon istrimu tidak akan kemana-mana, kok. "


" Buuun. . . " Tapi bukan Hega namanya jika tidak keras kepala dan mau menangnya sendiri.


Sepertinya Ayu punya stok kesabaran segudang penuh dalam menghadapi calon mantunya ini, mungkin karena dia sudah terbiasa menghadapi kelakuan menyebalkan putra bungsunya yang bandelnya sudah bikin darah naik ke ubun-ubun setiap kali adik Moza itu bikin ulah.


Ayu tampak menghela nafas dan kemudian menatap Hega dengan senyum menenangkan khas seorang ibu, " Ada apalagi sih mantu bunda yang gantengnya naudzubillah ini ?! " Ledek Ayu sembari mencubit kecil pipi pemuda itu.


Hega yang merasa masih punya celah terus mencoba bernegosiasi dengan sang mertua, sebuah senyum licik terukir tipis di bibirnya.


" Kalau tidak bisa dibatalkan, bisa tidak pingitannya didiskon saja, bun ?! " Tidak berhasil menggagalkan acara pingitan, Hega tidak kehabisan akal.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


~ Iklan warkop sebelah ~


Ealah dalah. . . Dikira pingitan itu semacam beli baju di mall waktu mau lebaran kali ya, pake minta diskon ckckck ๐Ÿ™„๐Ÿ™„๐Ÿ™„


Hega : Sory ye, gue mah horang kayaaah, beli baju lebaran gak perlu tunggu diskonan. Kalo perlu gue beli tuh sama emaall nya sekalian.


Dih suoombong tingkat dewa. . .


Hega : Bodo, eh thor Emang lu dipingit thor waktu dulu mau kawin ?


Nikah woy, bukan kawin.


Hega : Yaelah, sama juga ujung-ujungnya kawin juga.


Hahaha. . . Iya seh, gue sih gak pake acara pingitan, kan gue wanita karir gitu. Kerjaan padat gak pake pingi-pingit. Siboook gue tuh. . .


Hega : Dah, sok amat lu. Gue aja yang punya perusahaan gede gak sesumbung lu ๐Ÿ™„ Dan napa juga gue pake acara pingitan segala thor, asyem lu mah.


Biarin, suka-suka gue. Biar lu ngerasain tersiksanya dipingit hahaha. . . Ntar ceritain ya gimana rasanya rindu ma calon bini.


Hega : Othooor kampreet . . .

__ADS_1


Masa bodo, ๐Ÿ˜๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜›


LIKE AKOH โš˜ KOMEN AKOH โš˜ DAN VOTE AKOH YA


__ADS_2