
AUTHOR
~ Universitas Dwitama ~
Seorang pria tampan bertubuh tinggi dan gagah bersandar di mobil mewahnya. Terlihat sangat mempesona dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Kemeja putih garis-garis hitam dipadu celana dan dasi berwarna hitam dan jas merah tua. Membuat sosoknya menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswi yang melintasi area parkir dimana pria itu sedang berdiri seolah menunggu seseorang.
Beberapa kali diintipnya jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, jam mahal yang harganya hampir seharga mobil mewah. Sedangkan tangan lainnya tersembunyi di saku celana.
Pria itu diam tak bergeming di tempatnya, tak menghiraukan bisik-bisik kekaguman dan teriakan histeris para gadis yang terpukau saat melihat penampakan manusia super sempurna yang sudah bagaikan dewa yang turun dari langit mengunjungi kampus kenamaan itu.
Wajahnya masih datar, hingga netra hitamnya menangkap sesosok gadis cantik yang sedari tadi dinantinya.
Ya, pria itu mungkin sudah menjadi anggota baru dalam grup kekasih bucin se-Nusantara [ thor lebay π ].
Siapa lagi jika bukan Hega Airsyana Saint. Dan gadis yang dinantinya pasti lah sang pujaan hati, Moza Artana Dama.
Seperti janjinya kemarin, Hega sengaja menjemput Moza di kampusnya karena hari ini ada janji dengan mami Rasti untuk ke butik tempat pemesanan gaun pernikahan mereka.
Hega melepaskan kacamata hitamnya dan memasukkannya di saku jasnya. Sudut bibirnya terangkat sempurna melihat gadis yang sedari tadi ditunggunya semakin mendekat ke arahnya.
Tatapan mata kagum para gadis di sekitarnya berubah arah menuju arah dimana pria itu tengah menatap dengan tatapan yang penuh cinta.
Siapa atau apa gerangan yang sudah membuat makhluk sempurna itu terlihat semakin sempurna dengan senyum memikat yang terukir di bibir merah nan seksi itu.
Bibir tipis yang membuat wanita pasti ingin merasakan nikmatnya kecupan dari bibir indah itu.
Membayangkannya saja sudah membuat sekujur tubuh gemetar dan panas dingin.
Belum lagi lesung pipi yang membuat pria tampan itu semakin tampan beribu kali lipat. Semua gadis yang tanpa sengaja menikmati senyum menawan itu dibuat lumer seketika.
Tubuh mereka gemetar dan dada mereka berdebar hebat mendapati serangan ketampanan pria itu.
Dan lesu lah mereka seketika saat mendapati siapa gerangan yang membuat pria tampan itu tersenyum.
Senyum yang sudah membuat para kaum hawa Universitas Dwitama BAPER berjamaah dan langsung patah hati massal seketika itu juga.
Sedangkan Moza yang sedari tadi sedang asyik ngobrol dengan Deana, merasa aneh tiba-tiba menjadi pusat perhatian para gadis dan membuatnya sedikit tidak nyaman. Gadis itu tentu saja belum menyadari kehadiran Hega disana.
Selama ini cukup tatapan para pria saja yang membuatnya jengah, tapi kenapa hari ini dirinya juga harus mendapati tatapan menusuk dari para wanita ?!
Moza ingat terakhir kali mendapat tatapan cemburu dari para gadis adalah saat bersama Fabian dulu. Saat itu banyak yang mengira jika salah satu diantara dirinya atau Deana pasti adalah kekasih dari idola sekolah itu.
" Mo, bang Hega tuh. " Dea menyenggol lengan Moza dan menunjuk ke arah Hega dengan bibir mengerucutnya.
Dan terkuak lah alasan dibalik tatapan laser para gadis yang sedari tadi mengarah padanya. Moza berjalan cepat ke arah area parkir.
" Yank, sudah selesai kelasnya ? " Sapa Hega dengan wajah tanpa dosa dan senyum andalannya.
" Uhuk. . . " Mendengar panggilan mesra itu tidak hanya membuat Moza saja yang terbatuk kaget, bahkan Deana juga ikut-ikutan terbatuk.
__ADS_1
Melihat reaksi kedua gadis itu membuat kedua alis Hega mengerut.
" Kenapa ? " Tanya Hega dengan tatapan bingung.
Moza tampak memicingkan kedua matanya, " Kakak panggil aku apa tadi ? " Tanya Moza memastikan, takutnya telinganya bermasalah.
" Ya... "
" Ahh... Jangan diulang ! " Sela Moza secara tiba-tiba saat pemuda itu akan mengulangi kata yang akan membuatnya merinding kembali.
Ternyata telinganya memang normal dan apa yang didengarnya tadi benar adanya.
Kening Hega kembali mengerut bingung, " Kenapa sih ? Kamu tidak suka ? Bara dan Julian juga sering memanggil kekasih mereka seperti itu, tuh. " Protes Hega dengan entengnya.
Mendengar pembelaan diri Hega, membuat Moza manik mata Moza yang tadinya menyipit berubah membulat sempurna, gadis itu bahkan sempat lupa jika dirinya masih berada di tempat umum dan menjadi pusat perhatian para penghuni kampus.
Sedangkan Dea terlihat memegangi perutnya menahan tawa. " Pffft. . "
" Lihatlah ! Bahkan Dea saja geli mendengarnya. " Ucap Moza menyikut lengan sahabatnya membuat gadis itu tidak enak hati dan melirik Hega dengan tatapan menyesal.
" Ah. . . Maaf, Bang. Dea gak maksud ngetawain abang. Tapi sumpah demi apapun abang gak cocok ngucapin kata itu hahhaha. . . " Pecah juga tawa Deana akhirnya, gadis itu terbahak hingga meneteskan air mata saking gelinya.
" Memang kenapa ? "
" Abang terlalu cool untuk menggunakan kata-kata panggilan sayang seperti itu, image abang gak cocok ngikutin gaya genit nya Bang Bara sama si Jul. " Terang Dea sembari menyeka air matanya, ucapan Dea didukung anggukan kepala oleh Moza beberapa kali.
" Lalu cocoknya saya harus memanggil pacar saya dengan sebutan apa ? " Tanya Hega dengan polosnya.
" Ya banyak lah, Bang. " Jawab Dea disambut tatapan penasaran oleh sepasang kekasih itu. Tapi tentu saja arti tatapan Hega dan Moza berbeda arti.
Hega jelas penasaran sedangkan Moza justru sebaliknya, tatapan matanya seolah mengisyaratkan agar Deana menghentikan kegilaannya yang meladeni tingkah gila kekasihnya.
" Banyak itu contohnya apa ? " Tanya Hega akhirnya.
" Ya. . . Contohnya . . . " Dea memainkan ibu jari dan telunjuknya di dagu terlihat berpikir.
Mereka ini apa-apaan si ? Kenapa membahas hal seperti itu disini ? Ah iya, kenapa aku jadi lupa kami sedang berada dimana.
Moza celingukan memperhatikan sekelilingnya yang ternyata masih ada beberapa mahasiswi yang tengah menatap ke arah mereka, lebih tepatnya menatap sosok Hega yang sudah bagaikan magnet yang menghipnotis para kaum hawa untuk memandanginya.
Dan tentu saja Moza merasa kesal karena wajah tampan calon suaminya sedang dinikmati oleh banyak wanita.
" Haish sudah, Kak. Hentikan ! " Moza mengibaskan tangannya di depan wajah Hega dan Deana.
" Kak, cepat buka mobilnya ! " Sambungnya seraya menepuk lengan kekasihnya membuat Hega reflek menekan tombol smart key yang ada di tangannya.
Diikuti langkah Moza yang mendorong Deana memasuki pintu belakang mobil dan membuka pintu depan untuk dirinya sendiri.
Hega mengedikkan bahunya melihat tingkah sang kekasih, kemudian mengikuti kedua gadis itu memasuki mobil.
Hega memasang seatbeltnya sembari melirik sekilas gadis di sampingnya.
__ADS_1
" Kita makan siang dulu ya istriku yang cant . . . Auwh. . . Kenapa nyubit sih ?! "
Pemuda itu kemudian terpekik dan meringis kecil seraya mengusap pinggangnya yang barusaja mendapat cubitan gemas dari kekasih cantiknya.
Deana yang sedari tadi sudah berhasil meredakan tawanya malah kembali lagi terkikik geli.
" Jangan panggil aku seperti itu, Kak ! " Menatap tajam Hega.
" Cih . . . Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Lalu aku harus panggil apa ? " Protes Hega kemudian reflek menoleh ke kursi belakang.
Deana yang merasa ditatap hanya terbengong dengan wajah tak mengerti.
" Kenapa abang malah liatin Dea kayak gitu ? " Tanya Deana kemudian dengan polosnya karena tidak memahami arti tatapan mata dari calon suami sahabatnya itu.
" Kamu tadi yang mau menyarankan panggilan sayang yang cocok dengan image saya, kan ? " Ucap Hega datar dengan tatapan menunggu jawaban Deana.
" Hehe. . . Apa ya ? "
Bukannya menjawab, gadis itu malah tercengir bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan bergumam dalam hati.
Ya sebenernya sih banyak, bisa baby, darling, sweet heart, honey. Tapi kan gak ada yang cocok sama image abang yang cool ituh . . . Yang ada ntar malah bikin geli dengernya. Hehehe . . .
Membuat Hega mendengus kecewa. " Huuuh . . . "
" Sudahlah, Kak. Seperti biasa saja, lagipula kenapa kakak tiba-tiba ingin mengganti panggilan si ? " Ucap Moza lembut.
" Aku kan juga ingin terlihat seperti pasangan kekasih normal pada umumnya, yank. " Gumam Hega dengan wajah memelas, ditambah puppies eyes yang menggemaskan.
Deana semakin terkikik di kursi belakang.
Moza menepuk keningnya frustrasi melihat tingkah konyol tunangannya itu.
" Kaaaak. . . ! Memangnya kita terlihat seperti pasangan yang tidak normal apa ? Dan kenapa harus meniru orang lain si ? Jadilah diri kita sendiri, jangan ngikut-ngikut orang lain ! " Protes Moza menanggapi kegilaan kekasihnya yang ternyata masih berlanjut.
Hega mendengus kasar, " Iya, iya baiklah Ratu ku yang sedang dalam mode galak. " Gerutu Hega kemudian menyebikkan bibirnya.
" Kaaak, aku serius. " Pekik Moza sambil memukul pelan lengan pria tampan yang pandai bicara itu.
" Aku jauh lebih serius, Momo sayang. Buktinya minggu depan kita akan menikah. Kurang serius apa coba kekasihmu ini ?! " Elak Hega membela diri sambil mencubit gemas pipi kekasihnya yang sedikit mengembung karena kesal.
" Huh, kenapa kakak pintar sekali bicara si ? " Moza melengos kesal dan melipat kedua tangannya di dada.
" Ekhem. . . "
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Setelah sekian lama. . .
Sekali lagi thor minta dukungan LIKE dan KOMENTAR ya Sayang. . .
VOTE nya juga boleh, dikit-dikit πππ
__ADS_1