
AUTHOR
Hega kembali mendaratkan sebuah kecupan di kening Moza lalu turun mencium kedua manik mata kekasihnya yang masih terpejam. Sudah tidak peduli lagi jika dirinya sedang tidak hanya berdua saja dengan kekasihnya di ruangan itu.
Yang diinginkannya hanyalah mata itu cepat terbuka, hatinya remuk redam. Segala upaya dan semua kalimat permohonan yang diucapkannya seolah tidak berguna. Air mata Hega lolos kembali dari pelupuk matanya, tanpa sengaja menetes dan terjatuh di atas bola mata Moza yang masih tertutup rapat.
Hega bergeser mendekatkan bibirnya di telinga kekasih hatinya, " Mo, berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu, aku telah diberi kesempatan hidup yang kedua oleh Tuhan dengan jantung Arka, kakakmu. Hidup kedua yang hanya ingin aku habiskan bersama denganmu. Jika kamu tidak kembali padaku, apa gunanya jantung ini berdetak di tubuhku. " Lirih Hega dengan suara yang bergetar.
Namun tidak ada reaksi, Moza seolah masih terlena dalam mimpi indahnya yang membuatnya enggan untuk terbangun.
" Jika kamu tidak ingin bangun karena aku, setidaknya pikirkan ayah dan bunda, dan juga Ryu. Kembalilah, buka matamu ! Kembalilah untuk kedua orang tuamu yang sangat menyayangimu, untuk adikmu yang begitu mengasihimu, dan kembalilah untukku yang rela memberikan segalanya untukmu, bahkan jika bisa akan aku tukar nyawaku jika itu bisa mengembalikan dirimu. " Masih tidak ada jawaban, Hega bangkit dan tertunduk lesu, hatinya sudah tidak sanggup bertahan melihat kondisi kekasihnya.
" Mo, kembalilah sayang. Kembalilah untuk kakakmu, untuk cinta dan kasih sayang yang dia berikan kepadamu tanpa syarat selama ini. Untuk semua pengorbanannya agar kamu bahagia, jangan buat dia terluka dan tidak bahagia di surga karena melihat adik kesayangannya menderita. "
Hega kembali membungkukkan badannya, hingga wajahnya tepat berada di atas wajah Moza yang masih memejamkan mata, meraih telapak tangan Moza, menempelkannya di dada bidangnya, " Kembalilah Momo sayang, jangan buat jantung yang berdetak di tubuh ini jadi sia-sia, karena alasannya berdetak disini adalah untukmu. " Ucap Hega dengan suara parau, dan sekali lagi air matanya menetes, terjatuh dan membasahi pipi putih Moza.
Hega sudah tidak kuat lagi, diletakkannya tangan Moza kembali di atas ranjang. Hega yang sudah tidak sanggup lagi menahan sesak di dadanya hendak beranjak berdiri dan mencari tempat untuk berteriak dan menangis sekencang mungkin.
Namun baru satu langkah kaki Hega meninggalkan ranjang, terdengar suara yang dirindukannya, Hega segera menoleh kembali menatap wajah cantik Moza.
Tapi yang dilihatnya tetaplah sama, gadis itu masih seperti putri tidur yang menanti kehadiran sang pangeran untuk membangunkannya.
Hega tertunduk lesu.
Tanpa ada yang menyadari, bulir kristal bening mengalir di sudut mata Moza dan manik mata kecoklatan itu perlahan mulai terbuka, " K. . .kak . . .He. . .ga. . . "
Hega terkesiap, mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik gadisnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bola mata indah Moza terbuka dan tengah menatap ke arahnya dengan tatapan mata sayu.
" K-kaak. . . " Relung hati Hega bergetar hebat saat suara itu kembali memanggilnya.
Hega kembali duduj di pinggiran ranjang, menyusuri wajah cantik Moza dengan jemarinya.
" Mo, k-kamu . . . " Seolah tidak percaya apa yang dilihat oleh matanya, " Sayang, katakan sesuatu. " Hega mengusap bibir pucat Moza yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.
Gadis itu tersenyum tipis mencoba mengangkat tangan kirinya untuk meraih wajah tampan di hadapannya yang terlihat sedih.
" Kak. . . " Lirihnya lagi saat jemarinya berhasil menyentuh pipi Hega.
Hega meraih tangan itu, kemudian mengecupinya berkali-kali. Kemudian dengan sangat hati-hati diraihnya tubuh Moza dan dippeluknya erat tubuh kekasihnya yang akhirnya tersadar dari tidurnya itu.
" Syukurlah. . . Akhirnya kamu sadar, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih Engkau telah mengembalikan kekasihku. " Ucap Hega penuh syukur dan mengecupi kepala gadis yang berada dalam dekapannya itu.
Semua yang ada di ruangan itu seketika berhambur mendekati ranjang saat mendengar ucapan syukur yang keluar dari bibir Hega.
Ayu kembali menangis di pelukan suaminya, tapi kali ini bukan karena kesedihan melainkan air mata syukur dan bahagia karena putrinya akhirnya terbangun dari tidurnya.
Namun mereka tidak berani mengiterupsi sepasang kekasih itu, karena mereka tahu hanya pemuda itulah satu-satunya yang dibutuhkan Moza untuk menguatkannya.
" K-kak. . . Aku. . . Aku takut. . . " Suara Moza terdengar lirih dan gemetar dengan nafas yang masih sedikit tersengal, kelopak matanya juga masih mengalirkan butiran air bening dan membasahi pipi mulusnya.
" Jangan takut, aku disini. Aku akan selalu bersamamu. " Hega berbisik di telinga Moza sambil terus mengelus pucuk kepala gadis itu, memberikan ketenangan, kenyamanan dan rasa aman yang memang sangat dibutuhkan oleh Moza saat ini.
" Terima kasih sudah kembali untukku. " Ucapnya lagi sambil mengecupi pucuk kepala dan kening Moza beberapa kali.
π
π
π
Pukul tujuh malam, akhirnya kekhawatiran semua orang sirna. Kondisi Moza semakin membaik setelah Derka memeriksa gadis itu dan memberikan suntikan antibiotik.
" Hega, tinggal lah disini ! Bunda tidak mau terjadi sesuatu pada Momo lagi, hanya kamu yang bisa menenangkan hatinya. " Pinta Ayu akhirnya, baginya saat ini kesehatan sang putri lebih penting daripada adat dan tradisi.
Dan tentu saja dengan senang hati Hega menuruti permintaan calon ibu mertuanya itu.
" Bunda akan menyiapkan makan malam dulu. Kamu bersihkan dulu badanmu, mumpung Momo sedang tertidur. "
" Nak Derka juga bisa istirahat dulu sambil menunggu makan malam. " Sambung Ayu pada pria yang barusaja mengecek kondisi Moza.
" Bunda turun dulu, ya. " Ayu mengusap lengan atas Hega dan menoleh sekilas pada Derka, kedua pria itu mengangguk.
Hega dan Derka menuju kamar tamu di lantai satu, Derka membaringkan tubuhnya di ranjang menunggu Hega yang memilih mandi terlebih dulu.
" Der, gue mandi duluan. "
" Hem, buruan. Ada yang mau gue bahas ntar, tapi sekarang gue mau merem bentar sambil nungguin lo. "
" Hmmm. " Hega mengangguk dan berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Derka untuk rehat sejenak.
Sekitar setengah jam, Hega dan Derka sudah bergantian bebersih badan, pakaian ganti untuk mereka juga sudah tersedia. Tentu saja semua kemudahan hidup dan fasilitas selalu mengikuti kemanapun Hega pergi.
__ADS_1
Selalu ada seseorang yang melayani dan mempersiapkan kebutuhannya bak pelayan pribadi yang siap sedia di dekat sang putra mahkota. Dengan satu panggilan telepon, semua permintaannya akan tersedia secepat kilat.
Setelah berbicara dengan Derka, keduanya menuju ruang makan untuk makan malam. Dan Ayu hendak membawa makanan untuk putrinya, tapi Hega dengan sigap memintanya.
" Bun, biar Hega saja yang membawanya. Bunda pasti sangat lelah hari ini. Lebih baik bunda segera istirahat. " Hega tahu pasti wanita paruh baya itu butuh istirahat melihat wajah lelah dan sayu sang ibu mertua.
" Tidak papa, Ga. Bunda baik-baik saja. " Lirih Ayu dengan nafas berat.
" Bun. . . "
" Hega benar, bun. Ayo bunda istirahat aja di kamar. Besok masih banyak yang harus disiapkan. "
" Huft. . . Baiklah. Terima kasih ya, sayang. " Pasrah Ayu sambil mengelus pipi kanan menantunya.
" Dek, kamu juga istirahatlah. " Hega beralih menatap bocah remaja yang baru menyelesaikan makan malamnya.
" Ryu mau nemenin kak Momo. "
" Tidur aja lo, dek. Kakak lo kan ada kita yang jagain. Lo isi aja energi lo buat besok. " Bujuk Derka ikut membuka suara.
" Heeeh, ya udah. Ryu tidur dulu, bang. Kalo ada apa-apa bangunin Ryu ya, bang ! " Akhirnya remaja keras kepala itu menurut, Hega dan Derka mengangguk bersamaan.
" Gue, naik dulu, Der ! Lo lanjutin aja makannya. " Hega mengambil nampan di atas meja makan yang berisi makanan untuk kekasihnya yang tadi sudah disiapkan oleh ibu sang calon istri.
" Oke, panggil gue kalo butuh sesuatu. "
" Hem. "
" Dan jangan lupa, Ga . . . "
Hega kembali berbalik badan, " Apa ? "
" Yang gue bilang tadi di kamar. "
" Ya. "
Dengan langkah hati-hati Hega menaiki tangga menuju kamar Moza, membawa nampan makanan dengan satu tangan, membuka perlahan pintu berwarna peach dengan gambar beruang besar berwarna putih menghiasi pintu.
Kreeek. . .
Gelap. . .
Hega meraba dinding di dekat pintu, mencari saklar untuk menyalakan lampu.
Kosong. . .
" Kemana dia ? "
Cemas, itulah yang dirasakan Hega saat ini. Dengan cepat Hega meletakkan nampan di tangannya di atas meja.
Hega menuju kamar mandi, membuka pintu berwarna coklat itu namun kosong.
Dengan tubuh gemetar, Hega mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mencari keberadaan gadisnya. Berlari dengan cepat menuju balkon kamar, namun nihil.
Hingga samar didengarnya suara rintihan kecil, tidak, lebih tepatnya suara seseorang yang menahan tangis.
Dengan langkah cepat Hega kembali ke dalam kamar, " Momo. " Panggilnya dengan suara gelisah.
" Momo sayang, dimana kamu ? " Suara sesenggukan yang dikenalnya semakin jelas.
πππ
Manik mata Moza perlahan terbuka, mengerjap pelan beberapa kali. Kepalanya sedikit terasa berat. Dengan perlahan ia bangkit dari tidurnya, menurunkan kakinya hingga menjuntai ke lantai.
Cukup lama ia terdiam dalam posisi duduk, sesekali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
" Huft. . . Ini bukan mimpi. " Lirihnya sendu kemudian tertunduk lesu.
Perlahan ia bangkit dan berdiri, melangkah dengan kaki telanjang menuju meja belajarnya yang ada di sudut ruangan dekat pintu kamar.
Membuka perlahan salah satu laci meja belajarnya, mengambil sesuatu dari sana, dan kemudian kembali melangkah gontai menuju ranjang setelah menekan saklar lampu untuk mematikan penerangan kamarnya.
Bermodalkan cahaya bulan yang menelusup dari pintu sekat balkon yang terbuka, manik mata sayu Moza menatap lekat bingkai foto berbahan kayu berukuran sedang dan terduduk di pinggiran ranjang.
Foto almarhum kakak sulungnya, Hyuza Arkana Dama.
Tubuh Moza semakin lemas dan beringsut hingga jatuh terduduk di lantai, " Kakak, maafkan Momo ! Itu semua karena Momo. Kakak pergi karena Momo, hiks. . . hiks . . . " Rintihnya seraya mengusap kaca yang melapisi bingkai foto, satu tangan lainnya meremas bajunya si bagian dada seolah merasakan sakit dan sesak disana.
" Jika saja saat itu Momo tidak merengek meminta es krim di seberang sekolah, pasti kakak hiks. . . hiks. . ."
" Kakak. . . Bawa Momo pergi, Kak ! Huuuuu. . . " Moza duduk di lantai bersandar di ranjang sembari memeluk foto Hyuza.
__ADS_1
Hatinya sakit, amat sangat sakit. Ingatan tentang kecelakaan sebelas tahun lalu membuatnya benar-benar merasa sebagai pendosa.
Ya, dirinyalah yang paling pantas disalahkan atas insiden yang merenggut nyawa kakaknya.
Gadis kecil yang manja dan keras kepala, yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan karena seperti itulah Hyuza memanjakan dirinya.
Tidak pernah sekalipun Hyuza menolak keinginan sang adik.
Moza adalah kesayangannya, alasan baginya untuk hidup dan bahagia adalah melihat senyum di wajah cantik adiknya.
Cukup lama gadis itu berada dalam posisi itu, menangis sesenggukan seorang diri. Moza berusaha kesar agar tidak bersuara, dia tidak ingin keluarganya mencemaskan keadaannya.
Moza sadar dirinya bukan gadis kecil yang akan menangis meronta-ronta seperti sebelas tahun yang lalu.
Tapi dia tetaplah seorang gadis biasa yang rapuh dan tidak berdaya, apalagi semua kepingan ingatan tentang kematian sang kakak sudah tersusun sempurna di kepalanya.
Membuat rasa bersalah menghimpit dadanya, dan membuatnya semakin sesak dan tersiksa.
Yang bisa dia lakukan saat ini hanya bertahan dan menahan. Bertahan untuk tetap kuat demi semua orang yang mencintainya, menahan segala sakit dan luka yang masih menganga di hatinya.
" Momo. " Sesak di dadanya membuatnya seolah tuli, hingga tidak menghiraukan suara cemas memanggil-manggil namanya.
" Momo sayang, dimana kamu ? " Suara bass pria itu terdengar semakin bergetar cemas, tapi Moza masih enggan menyahut karena lelah setelah menangis cukup lama.
" Hiks. . . hiks. . . " Moza terus menahan tangisnya, sesenggukan sembari merapatkan pelukannya di kedua kakinya.
Hingga netra hitam Hega berhenti di sisi ranjang, menemukan keberadaannya.
Gadis itu terduduk di lantai, dagu bertumpukan lutut yang ditekuk hingga menempel di dada, sembari memeluk kedua kakinya sendiri.
Dengan sebuah bingkai foto tergeletak di samping tubuh gadis itu, foto kakak sulung Moza yang juga adalah sahabat Hega.
Pandangan matanya kosong hingga berapa kalipun Hega memanggilnya gadis itu tak bergeming dari tempatnya seolah sedang tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Hega menghembuskan nafas berusaha mengurai sesak yang menghimpit dada, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mengumpulkan kekuatan hatinya.
Dengan sangat perlahan Hega mendekati Moza, berjongkok di hadapan gadis itu dan menyentuh lembut kedua bahunya.
Moza merasakan sentuhan lembut dan yang seolah mengalirkan kehangatan pada hatinya yang mulai membeku. Moza langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap manik mata pria di hadapannya. Pria yang menatapnya dengan penuh cinta.
Pria yang berhasil membawanya kembali dari alam bawah sadarnya.
Hega menatap lekat manik mata kekasihnya, mencari sesuatu di dalam sana.
Ingat Ga, saat nanti dia sadar ada yang harus lo pastikan. Apakah Moza kembali pada Amnesia Lakunarnya yang melupakan kejadian yang memicu traumanya ataukan gadis itu mengingat sepenuhnya kejadian yang menyebabkan adanya tekanan psikologis karena rasa bersalah atas kematian kakak sulungnya.
Dan satu lagi yang penting dan paling berbahaya adalah kemungkinan Moza mengingat semua tetapi menyembunyikan jika dirinya sudah mengingat kejadian 11 tahun lalu. Hal ini akan membuatnya lebih tertekan karena harus berpura-pura tidak mengingat pemicu trauma nya, berperilaku normal dan baik-baik saja padahal psikologisnya menderita sendirian. Efek terburuknya bisa terjadi tindakan ekstrim yang dilakukan secara diam-diam untuk mengatasi rasa bersalahnya.
Lo tahu kan apa yang gue maksud ?!
Hega teringat setiap ucapan Derka sebelum makan malam.
Melihat bingkai foto Arka ada disana, Hega menyadari jika ingatan Moza mungkin saja sudah kembali sepenuhnya. Hega menunggu, apakah gadis ini akan tetap diam atau mengatakan sejujurnya pada dirinya.
Hega menahan diri untuk tidak bertanya, hati kecilnya berharap jika dirinya cukup bisa dipercaya dimata gadis yang dicintainya itu
Jangan menderita sendirian !
Itulah kalimat yang ingin sekali Hega lontarkan saat ini pada kekasihnya dan mendekap erat tubuh gadis itu dalam pelukannya.
Tapi Hega masih terus menahan diri.
Berharap Moza bersedia membagi beban hatinya dan bersandar padanya.
Tapi apa yang akan dilakukannya jika gadis ini memilih diam dan menderita sendirian ?
Apakah itu artinya cinta Hega tidak cukup untuk membuat Moza mempercayainya ?
Hega memantapkan hatinya, apapun yang dipilih gadis itu, Hega akan tetap teguh pada tekadnya untuk terus berada di sisinya.
Hega masih menatapi wajah kekasihnya dengan hangat, dan Moza membalas tatapan itu dengan mata sayunya.
" Kak. " Ucapnya singkat, masih tersisa isak tangis lirih dari bibir tipisnya, dan gadis itu kemudian melingkarkan kedua lengannya di leher Hega dan memeluk erat pria yang sangat ia cintai itu.
Menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih yang selalu bisa membuatnya merasa tenang dan nyaman.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Apakah Moza akan jujur dan membagi beban hatinya pada Hega ?
Atau dia lebih memilih diam dan menyimpan sendiri luka dalam hatinya ?
__ADS_1
β‘οΈ Terima kasih seluas samudera untuk kalian yang berkenan like dan komentar. Akoh padamu π