Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Villa Siapa ?


__ADS_3

AUTHOR


Julian sudah menunggu Moza di depan rumah, setelah berpamitan pada kakek Suryatama, Moza dan Julian berangkat menuju puncak.


Hega sudah berangkat dua hari yang lalu ke Bali bersama Bara dan sekretarisnya Anita.


Julian sengaja tidak diikutsertakan dengan alasan yang hanya Hega sendiri yang tahu. Apalagi jika bukan untuk menjaga kekasih kecilnya.


Setelah menjemput Moza, mereka berkumpul di kafe Dimas untuk berangkat bersama.


Turun dari mobil, seorang gadis berambut sebahu yang terlihat cukup cantik berlari menghampiri Julian dan melingkarkan tangannya di lengan pemuda itu.


" Beb, kamu sudah lama ? " Tanya Julian mengelus kepala gadis itu.


" Baru saja kok. "


Julian mengenalkan pacar barunya pada semua sahabatnya. Gadis cantik bernama Viola langsung berusaha mengakrabkan diri dengan semua sahabat Julian.


Setelah semua siap, mereka segera berhambur memasuki mobil.


" Mo, lo sama gue kan ?! " Deana menggelungkan tangannya di lengan Moza hendak menariknya ke arah mobil Dimas.


Ya, kali ini Julian dan Dimas membawa mobil mereka masing-masing dengan alasan agar lebih nyaman saja.


" Eh.... " Moza bingung mau menjawab.


" Gak pake ya ! Momo gue yang jemput, orang rumahnya percayain dia sama gue. Jadi dia harus sama gue. " Seloroh Julian dan Moza menggangguk menyetujui ucapan pemuda itu.


" Masa lo mau jadi obat nyamuknya Julian si ?! " Omel Deana sewot.


" Gak papa De, aku sama Julian aja. Tadi orang rumah tahunya aku pergi sama dia. " Jawab Moza sambil tersenyum.


" Mo... " Deana memelas.


" Dih segitu gak mau pisahnya lo sama Momo. Apa lo mau ikut mobil gue juga De ? " Tanya Julian.


" Enggak, terima kasih. " Tegas Deana.


Setelah perdebatan panjang yang lagi-lagi sebenarnya bersifat unfaedah itu.


Deana menyerah, toh mereka akan bertemu juga di tempat tujuan.


Moza memilih duduk di belakang, padahal Julian memaksa agar dia duduk di depan.


" Kak Moza beneran lebih cantik daripada di foto ya. " Viola yang ternyata adalah mahasiswa baru di kampus itu membuka keheningan.


Moza hanya tersenyum menanggapi pujian pacar baru sahabatnya itu.


" Dulu aku pikir kak Moza dan kan Lian itu pacaran loh. Soalnya kalian cocok banget. "


Lagi-lagi Moza hanya berdehem dan tersenyum datar, bukan tidak suka dengan gadis itu hanya saja Moza sedang asyik dengan pikirannya sendiri.


" Kak Moza gak suka ya kalau Viola cerewet gini ?! " Terdengar nada kecewa di kalimat gadis itu.


" Ehhh.... Maaf aku hanya sedang memikirkan hal lain. "


" Sudahlah Beb, jangan ganggu ratu ku yang satu ini, lagipula kan kalian baru kenal masa kamu sudah nyerocos kemana-mana. " Ucap Julian mengelus kepala Viola.


" Maaf ya kak Moza, aku hanya terlalu senang bisa ketemu dan ngobrol dengan kakak. " Ucap gadis itu terdengar menyesal.


" Tidak apa-apa, kalian nikmati saja perjalanannya, jangan hiraukan aku. " Moza memasang headset di kedua telinganya dan memutar playlist di ponselnya.


Perjalanan 2 jam berlalu tampa terasa, Viola benar-benar melakukan ucapan Moza untuk menikmati perjalanan dengan caranya sendiri, berbicara panjang lebar kesana-kemari.


Terkadang bernyanyi mengikuti lagu yang diputar oleh Julian di mobilnya, tentu saja Moza tak mendengarnya karena telinganya tertutup headset.


Moza mengenal rute jalan yang dilaluinya. Tapi sepertinya villa keluarga Prasetya sudah terlewati.


" Bukannya tadi harus belok kanan ya Jul ?! " Moza melepas headsetnya.

__ADS_1


" Kita gak ke tempatnya bang Bara. "


" Terus ?! "


" Lo akan tahu nanti. " Jawab Julian misterius.


" Oh iya, tumben kamu gak ikut dinas kerja Jul ?! " Tanya Moza saat dilihatnya gadis di samping Julian tengah tertidur pulas.


" Karena gue punya tugas yang lebih penting. " Lagi-lagi Julian menjawab dengan nada misterius, mengintip sahabatnya dari kaca spion.


Kenapa Julian rasanya jadi mirip seseorang si ? Ditanya jawabannya gak jelas, malah bikin orang mikir. ~ Moza ~


Mobil Julian berhenti depan gerbang sebuah villa yang sangat mewah dengan gaya minimalis bernuansa putih hitam.


Julian turun dan berbicara dengan petugas keamanan yang ada di pos penjagaan.


Dua pria berbadan tegap dan berpakaian serba hitam terlihat membungkuk sopan pada pemuda itu. Kemudian membukakan gerbang utama villa.


" Kita sudah sampai ya kak ? " Tanya Viola yang baru saja terbangun.


" Hm. " Moza menjawab singkat, dengan masih posisi bersandar santai di kursinya.


Tak lama mobil Julian sudah memasuki gerbang dan terparkir di depan villa. Diikuti oleh mobil Dimas, dan satu mobil lagi yang terlihat asing.


Satu mobil terakhir ternyata adalah Aliza, kekasih Bara yang datang bersama tiga orang wanita yang tampak sebaya dengan Dimas.


Moza dan Deana tentu saja mengenal Aliza, dan tiga orang lainnya mereka hanya sekedar tahu saja.


Salah satunya adalah Alina, gadis yang dilihat Moza dan Deana di mall bersama Hega beberapa bulan lalu.


Dua orang lagi adalah mahasiswi di kampus mereka, hanya berbeda jurusan dan satu tingkat diatas Moza dan teman-temannya.


Julian tampak murka melihat wanita yang baru saja menutup pintu mobil dan berjalan mengikuti Aliza menuju pintu villa.


Ngapain tuh cewek disini ?!


Dan seketika sadar jika dirinya harus menahan diri jika tak ingin rahasia yang disimpannya terbongkar.


" Villa siapa Jul ? Keren banget. " Tanya Renata yang sudah mengeluarkan ponselnya hendak berselfie ria.


Semua mata tampak terpukau dengan kemewahan villa itu.


" Eh itu... " Belum selesai Julian bicara dua orang wanita dan seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka.


Mempersilahkan semua tamu masuk ke dalam villa, lagi-lagi Julian tampak berbicara dengan pria yang memperkenalkan diri sebagai penjaga Villa, namanya Pak Ahmadi (panggil : Pak Madi)


Sedangkan dua wanita bernama Bu Astuti (panggil : Bu As) dan Bu Gayatri (panggil Bu : Tri). Yang bertugas untuk urusan dapur serta kebersihan villa.


Pak Madi terlihat mengangguk-angguk saat Julian bicara, tampak jelas jika Pak Madi sangat hormat pada pemuda itu.


Moza beserta tamu lainnya sedang duduk di sofa menunggu Julian menyelesaikan urusannya. Sembari istirahat setelah perjalanan panjang mereka yang cukup melelahkan.


Sekitar 15 menit kemudian, Julian menghampiri ruang tengah dimana Moza dan yang lainnya sedang menunggunya.


" Dimas, lima kamar di lantai dua. Lo pilih aja salah satu kamar di sisi kiri, ntar sisanya buat gue. Kak Aliza dan teman-temannya lantai dua sebelah kanan. Satu kamar untuk dua orang ya. Pas kan kak Aliza berempat. " Julian menunjuk ke sudut yang dimaksudkannya.


Sedikit ekspresi malas terukir di wajahnya saat melihat sosok wanita yang duduk di samping pacar Bara itu.


" Sisa satu kamar buat kamu Viola, kamu ikut kak Aliza. " Lanjut Julian sambil mengelus kepala pacar barunya.


" Kalian berempat ikut gue. " Kemudian menatap ke arah Moza dan ketiga sahabat perempuannya yang lain.


" Jul, kamar kita dimana si ? Udah pengen rebahan nih. " Omel Renata.


Berjalan ke arah sisi samping villa memasukii lift khusus menuju lantai 3.


Pak Madi mengikuti di belakang membantu membawa barang-barang dari tamu majikannya.


Sampai di lantai 3, Renata yang tak henti-hentinya terkagum masih terus memotret setiap sudut yang dianggapnya menarik.

__ADS_1


" Ada dua kamar di sisi kanan, terserah kalian mau pakai yang mana. " Julian menatap ke arah Deana, Amira dan Renata.


" Mo, lo ikut gue ! " Julian mengambil alih tas Moza.


" Eh... Jul aku sama Deana aja kamarnya. " Moza mencoba mengambil kembali tasnya.


" Kagak ada. Lo mau bonus bulanan gue melayang, cicilan mobil baru gue belum selesai Momo. " Tolak Julian memelas.


Keempat sahabat cantiknya terlihat saling pandang tak mengerti maksud Julian.


" Udah, pokoknya udah gue atur pembagian kamarnya. Jangan protes ! " Tegasnya lalu Julian berlalu menuju sisi lain lantai 3.


Moza terpaksa mengikuti langkah pemuda itu meskipun pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalanya.


" Kamar lo disini. " Julian mendorong pintu kamar dan mempersilahkan sahabatnya itu masuk.


" Kenapa aku gak sama Deana aja si Jul ?! " Tanyanya sebelum memasuki kamar.


" Ya karena kamar ini memang udah di atur khusus buat lo. Jangan bikin gue kena omel suami galak lo itu deh, plisss.... " Lagi-lagi Julian memasang wajah melasnya.


Sebenarnya Julian tak pernah menjadi sasaran kemarahan Hega secara langsung. Tapi pemuda itu tahu betul bagaimana mengerikannya boss nya itu ketika tidak puas dengan hasil kerja seseorang. Ataupun pada siapapun yang menyinggungnya.


" Villa ini ?! "


" Iya, punya 'my hubby' hehehe... " Goda Julian.


" Aaaa.... Juliaaaan. " Moza memukul lengan pemuda itu.


" Hahahaa.... Udah lo istirahat aja, makan siang satu jam lagi. Bye.." Belum sempat Moza protes sahabatnya itu sudah ngeloyor pergi.



Moza memasuki kamar yang disiapkan untuknya, kamar minimalis dengan nuansa coklat dan cream.


Sangat elegan dan cantik, dengan jendela besar menghadap langsung ke arah perkebunan.


Diletakkannya tas miliknya di atas sofa, lalu berjalan menuju jendela dan menggeser pintu kaca yang ternyata ada balkon di depan kamarnya.


Gadis itu menuju balkon dan bersandar di sana.


Ahhh..... Kejutan apa yang kakak berikan hari ini untukku ? Kenapa tidak bilang si kalau tujuannya ke villa milik kakak ?


Moza memandang ke arah pepohonan hijau di hadapannya, sangat menyegarkan.


Seandainya kak Hega juga ada di sini, kakak sedang apa sekarang ? Aku merindukanmu.


Gadis itu menghela nafasnya, sedikit kecewa memang, tapi dia tahu tidak boleh seperti itu.


Sejak kapan aku jadi manja gini si ?


Sudah dua hari Moza tak mendengar kabar dari kekasihnya yang sedang kunjungan kerja di Bali itu, dan Moza pun sengaja tak menghubunginya karena takut akan mengganggu pekerjaan Hega.


Ahhh.... Sudahlah Mo, ayo bersenang-senanglah dengan sahabat-sahabatmu. Bukankah dua minggu ini kamu sudah cukup puas bersama dengan pacar dua minggu mu itu. Sepulang dari sini kan juga Kak Hega pasti sudah kembali dari Bali.


Lagi-lagi gadis itu bergumam-gumam kecil menyemangati dirinya sendiri.


Aaahh.... Tapi aku merindukannya, aku ingin menelponnya.... Hiks... hiks...


Cukup lama gadis itu berdiri di sana menikmati indahnya pepohonan hijau yang menyegarkan mata.


Kemudian diputuskannya untuk membersihkan diri sambil menunggu jam makan siang.


Sekitar 20 menit Moza malakukan aktifitas mandinya dan berganti baju.


Tok tok tok


Saat hendak berbaring di ranjang, suara pintu membuatnya harus mengurungkan niatnya.


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค

__ADS_1


__ADS_2