
AUTHOR
" Lalu kenapa kakak baru mengatakannya padaku sekarang ? Kenapa tidak saat itu juga kakak mengatakannya agar aku tidak menunggu dan berharap. " Ucap Moza masih menahan agar air matanya tak tumpah.
" Waktu itu..... " Ucap Hega tersengal.
" Huff... Aku menolak perjodohan itu, aku berfikir jika aku harus lebih dulu menyelesaikan hal ini dengan keluargaku dan setelah itu baru menemuimu. "
Lanjut pemuda itu sambil menundukkan kepalanya menghadap lantai marmer, menahan kedua sikunya di atas kedua kakinya dan menyatukan kedua telapak tangannya.
" Tapi.... "
" Tapi apa ? Tapi kakak tidak bisa melakukaannya kan ? Karena memang seseorang seperti kakak tidak bisa bersama dengan gadis sembarangan kan dan pasti keluarga kakak sudah memilih wanita yang sepadan dengan kakak ? Jadi..... " Lagi-lagi Moza tak dapat melanjutkan kalimatnya sendiri, kalimat yang begitu menyakitkan bagi dirinya sendiri.
" Tidak, bukan seperti itu. Keluargaku tidak pernah melihat atau menilai seseorang dari hal yang bersifat materialistis seperti itu. " Sangkal Hega sambil menatap gadis yang tampak berusaha untuk tegar itu.
" Lalu ? Hmmph.... Sudahlah cukup, aku mengerti. Sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi kak. Lebih baik aku pergi. " Ucap Moza datar, mulai menenangkan kembali dirinya. Hendak berdiri dari kursi kayu yang didudukinya.
" Tunggu, kita belum selesai bicara. " Hega mencekal pergelangan tangan gadsi itu agar tetap duduk.
" Apa lagi yang ingin kakak katakan. " Desah Moza dalam.
" Huuuuh.....Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya.... " Desah Hega mengatur kalimat demi kalimat yang akan diucapkannya pada Moza.
Sekejap Hega menutup matanya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Menata hatinya untuk sekuat mungkin mengatakan semuanya pada gadis yang teramat sangat disayanginya itu.
Hega mulai mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, di ruangannya.
Pemuda itu mulai bercerita tentang pertemuannya dengan sang kakek beberapa hari yang lalu.
•
•
~~ Flashback ~~
Gedung Pusat Golden Imperial Group, Lantai 15, Ruang Presdir ....
" Kakek tahu kan apapun yang akan kakek katakan, tidak akan merubah keputusan Hega. "
" Baiklah, jika apa yang akan kakek katakan tidak bisa mempengaruhimu, maka kakek juga akan menyerah. Lakukan apapun maumu. " Ucap kakek Surya yakin jika apa yang akan dikatakannya pasti merubah pemikiran cucunya itu.
" Arya, keluarlah ! Tunggu Papi diluar, biarkan Papi berbicara berdua dengan putramu. "
Setelah Aryatama keluar meninggalkan sang ayah untuk berbicara pada putranya itu, beberapa saat ruangan berubah hening.
Kakek Surya menunggu sang cucu menenangkan diri, sebelum pria yang sudah berusia hampir kepala tujuh itu melanjutkan kalimatnya.
" Kamu harus menikah dengannya ? " Ucap sang kakek akhirnya, membuka keheningan diantara mereka.
Hega yang masih berdiri menghadap jendela kaca besar di belakang meja kerjanya hanya mendengus kasar.
__ADS_1
" Dia adalah gadis pilihan mama kamu. " Ucap sang kakek lagi, dan pemuda itu masih tak bergeming di tempatnya.
" Dan kalian sudah dijodohkan bahkan sejak gadis itu masih ada di dalam kandungan ibunya. "
Satu per satu kalimat keluar dari mulut sang kakek masih belum bisa membuat pemuda keras kepala itu bergerak dari posisinya.
" Pilihlah ! Mengabulkan permintaan terakhir Mamamu atau kamu lebih memilih egomu ?! " Ucap sang kakek dengan nada tegas dan intonasi mulai naik.
Mendengar lagi-lagi nama sang mama disebut-sebut, Hega terpaksa beranjak dari tempatnya. Mendekekati sofa dimana sang kakek sedang duduk dengan ekpresi yang tak bisa ditebak.
Tapi Hega tahu ada sesuatu hal yang lain yang akan digunakan sang kakek untuk merubah keputusannya menolak perjodohan itu.
" Apa kakek akan terus menggunakan Mama untuk memaksaku ? " Tanya Hega akhirnya, kali ini sudah berdiri di samping sofa yang diduduki Suryatama.
" Saat usiamu masih 7 tahun, kamu divonis punya kelainan jantung. " Ucap Suryatama, merasa jika dia tak akan bisa menyembunyikan rahasia masa lalu lebih lama lagi.
Deg....
Hega lunglai mendengar kalimat sang kakek, tapi tak langsung percaya begitu saja dengan apa yang didengarnya. Dijatuhkannya tubuhnya di sofa yang ada di samping kakeknya, dilonggarkannya dasi yang melilit di lehernya dan membuka satu kancing kemejanya.
Mengatur nafasnya yang sempat tersengal karena terkejut dengan fakta jika dirinya pernah memiliki penyakit sefatal itu, kelainan jantung.
Pemuda itu tanpa sadar menyentuh dadanya, mengamati organ tubuh vital nya itu dengan merasakan detaknya lewat telapak tangannya.
" Tenanglah, jantungmu yang sekarang sudah seratus persen normal. " Kakek Surya menenangkan Hega saat dilihatnya ekspresi cucunya itu yang sedang meletakkan telapak tangannya sendiri di dadanya.
" Apa lagi yang akan kakek bicarakan ini ? " Tanya pemuda itu yang tak memahami arah pembicaraan sang kakek, karena selama ini dia merasa baik-baik saja dan sehat.
" Dengarkan dulu sampai kakek selesai bercerita. " Pinta Suryatama.
" Sampai dimana hari saat kematian Mama kamu, Nadira Candra Saint, menantu kakek. Huh... " Kalimat Suryatama terputus, kemudian terdengar hela nafas dalam sang kakek dan gurat kesedihan dimata sang kakek.
" Untuk pertama kalinya kamu mengalami syok berat yang mengakibatkan kondisi jantungmu melemah. Akhirnya kakek dan ayahmu membawamu kembali untuk berobat di Singapura dan setelah hampir satu bulan kami membawamu kembali ke Indonesia, tapi atas saran dokter, demi menghindari munculnya trauma dan syok saat mengingat pemicu serangan jantungmu pertama kali, yaitu kematian Nadira. Maka kakek memutuskan mengirimmu ke rumah keluarga dari sahabat Mama kamu, sekaligus mendekatkanmu dengan anak gadisnya yang memang sedari kecil sudah dijodohkan denganmu. " Lanjut kakek Suryatama.
" Kenapa Hega tidak ingat apapun tentang itu kek ? " Tanya Hega yang memang sedikitpun tak memiliki memori tentang gadis yang dijodohkan dengannya itu, yang tertinggal hanya memori tentang Arka sahabatnya.
" Selain karena kamu adalah cucuku satu-satunya, tapi juga pewaris tunggal keluarga Saint, maka kami menyembunyikan semua ini dari publik bahkan dari dirimu sendiri. " Jawab sang kakek.
" Apalagi setelah operasi pencangkokan jantung, kamu sempat koma selama hampir dua bulan. Dan menurut hasil pemeriksaan medis, itu mempengaruhi beberapa bagian dari ingatan masa lalumu. " Jelas Suryatama.
" Apalagi ini kek ? Pencangkokan jantung ? " Tanya Hega tak percaya.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, satu per satu rahasia menyakitkan muncul di hadapan Hega.
Mulai dari perjodohan masa kecilnya, hingga penyakit yang sempat dideritanya saat masih kecil hingga kenyataan yang baru saja didengarnya, pencangkokan jantung.
Satu per satu kejutan masa lalu yang datang bagaikan badai tsunami yang melibas habis harapan dan kebahagiaannya tanpa memberikan pemuda itu jeda untuk menata hatinya.
" Iya. "
" Tidak mungkin, kakek pasti berbohong untuk membujukku agar menuruti kemauan kakek kan ?! " Tanya Hega meragukan cerita sang kakek, meskipun dia tahu Suryatama tidak akan pernah berbohong padanya.
__ADS_1
" Satu tahun setelah kamu tinggal bersama keluarga itu, kamu sangat akrab dengan putra sulung sahabat Mama kamu itu. "
" Apa dia yang namanya Arka ? " Tanya Hega memastikan.
" Kamu mengingatnya ? " Tanya Suryatama.
" Itu satu-satunya ingatan yang Hega tahu, karena selama lebih dari 10 tahun ini Hega selalu bermimpi tentangnya, yang bahkan Hega sendiri tidak tahu apa arti mimpi itu dan siapa pemuda yang selalu muncul di mimpi Hega itu kek. " Ungkap Hega pada sang kakek.
" Itu Arka, kakak dari gadis yang akan menikah denganmu. " Jawab kakek Surya.
" Lalu dimana dia sekarang ? Kenapa di mimpi Hega selalu mendengar dia meminta Hega menjaga adiknya ? " Tanya Hega menuntut penjelasan, kenapa harus dirinya yang menjaga adik orang lain.
" Kakek akan lanjutkan cerita kakek. " Potong Suryatama.
" Setelah setahun kamu berada di sana, ada insiden buruk yang terjadi yang merenggut nyawa Arka, mungkin karena kalian sudah sangat dekat, insiden itu membuat kamu kembali syok dan memicu serangan jantungmu untuk yang kedua kalinya. " Jelas Suryatama dengan ekspresi yang begitu sedih mengingat kembali masa lalu yang menyakitkan.
" Bahkan kondisimu saat itu jauh lebih buruk daripada saat serangan jantungmu yang pertama. " Lanjut Kakek Surya.
" Dan dokter yang kakek bawa dari negara manapun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena serangan jantungmu yang kedua itu tidak berjarak lama dari serangan jantung pertamamu. Dan hanya satu jalan agar nyawamu terselamatkan dan kondisimu bisa stabil kembali. " Ujar Suryatama semakin membuat ekspresi sang cucu menjadi kacau.
🌟
Haduh ternyata babang Hega tidak sesempurna yang kita bayangkan ya ?
Punya riwayat sakit jantung loh....
Tapi kok ya ke bucinan babang Hega yang sweet banget sama Momo....
Sempet - sempetnya bikin akuh tuh yang jantungan.... 😁😁😁
🌟
Jangan lupa kasih aku vitamin
✔ LIKE 👍
✔ COMMENT ✍💌
✔ VOTE 💱💲 yah 💋💋💋
🌟
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍
__ADS_1
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕