
AUTHOR
Sampai di rumah utama, Hega melihat Moza sudah tidur meringkuk di kursinya. Tapi wajah pucatnya masih terlihat jelas dengan menyisakan gurat kesedihan di wajah itu.
Dahinya tampak sesekali mengerut dengan tubuh yang masih sedikit gemetaran menandakan jika tidurnya tidak nyenyak.
Disentuhnya pipi Moza dan mengelusnya perlahan.
Kemudian dibopongnya Moza memasuki rumah, dan ternyata Derka sudah sampai lebih dulu daripada dirinya.
Derka menghampiri Hega dengan cemas, " Ngapain lo nelpon gue malem-malem gini, Ga ?! "
" Sssht. . . Ikut gue, Der ! " Titah Hega setengah berbisik sembari melirik gadis dalam gendongangannya, dan memberi isyarat pada Derka untuk mengikuti dirinya menaiki lift menuju lantai tiga.
Sampai di kamar Moza, Hega membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang dengan sangat perlahan.
" Ada apa ini ? Apa yang terjadi pada Moza ? " Suryatama yang tadi sempat melihat sekilas kedatangan Derka mengurungkan niatnya untuk tidur dan langsung ikut menuju kamar Moza karena khawatir.
" Tidak apa-apa, Kek. Hega hanya ingin Derka memeriksa Moza karena tadi wajahnya agak pucat dan berkeringat dingin. " Ucap Hega sambil mengisyaratkan agar Derka memulai tugasnya.
" Eugh. . . " Mendengar sedikit keributan, Moza terbangun, gadis itu tampak mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.
" Auwh. . . " Moza memegang kepalanya yang terasa berdenyut saat hendak bangkit dari posisi berbaring.
" Jangan bangun dulu ! Tetaplah berbaring, biarkan Derka memeriksamu. " Ucap Hega seraya menyentuh kedua bahu Moza agar kembali berbaring.
" Ada apa ini, Kak ?! " Tanyanya saat melihat dirinya sudah ada di kamarnya, tapi kenapa ada dokter Derka juga disana, ditambah wajah cemas kakek Suryatama.
Hega duduk di pinggir ranjang, merapikan anak rambut Moza dan menyelipkannya di belakang telinga. " Tidak papa, aku hanya meminta Derka untuk memeriksamu karena tadi wajahmu terlihat pucat dan kamu juga berkeringat dingin. "
" Ah . . . Aku tidak apa-apa, Kak. Sepertinya aku hanya kelelahan saja. " Ucap Moza lirih, terlihat masih memijat-mijat kepalanya yang terasa sakit.
" Biarkan Derka memeriksamu, sayang ! " Bujuk Suryatama yang sudah ikut mendekat ke arah ranjang.
" Sungguh Momo baik-baik saja kok, Kek. " Dilihat bagaimanapun jelas gadis itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Wajah pucat, tubuh gemetar ditambah sedari tadi gadis itu tampan memijat-mijat kepalanya.
" Iya, kakek tahu. Tapi kasihan Derka sudah datang jauh-jauh. Biarkan dia memeriksamu agar kedatangannya tidak sia-sia. "
" Eum, baiklah, Kek. " Akhirnya Moza terpaksa menuruti permintaan Suryatama karena tidak ingin sang kakek semakin cemas padanya.
Derka mendekati ranjang, membuka tas saktinya, memeriksa tekanan darah dan denyut nadi calon istri sahabatnya.
Hega yang terlihat cemas sudah beranjak dari ranjang memberi akses pada Derka untuk mengecek kondisi calon istrinya itu.
" Gimana, Der ? " Mendekat ke arah ranjang dan langsung duduk di tempat yang tadi diduduki Derka untuk memeriksa gadis itu.
" Sepertinya memang benar hanya kelelahan saja. " Ucap Derka serius, karena memang Derka tidak menemukan gejala-gejala aneh yang merujuk pada penyakit tertentu.
Moza tersenyum tipis, jelas senyum yang sedikit dipaksakan. " Benar kan apa yang aku katakan, Kak. Aku hanya kelelahan. Kakak terlalu berlebihan. "
" Gue akan buatkan resep vitamin untuk adik ipar untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. "
Mendengar penjelasan Derka, Hega sedikit bernafas lega. Hega menggenggam kedua tangan Moza yang masih terasa dingin dan mengusapnya perlahan, seolah ingin memberikan kehangatan melalui sentuhan tangannya.
" Itu tidak perlu, dok. Aku sudah punya vitamin yang diberikan bunda. "
Mendengar pernyataan Moza, kening Derka mengerut sekilas.
" Boleh abang lihat vitamin kamu, dek ? " Tanya Derka mode serius.
Ingin rasanya Hega menjitak kepala sahabatnya itu, setelah tadi menyebut Moza dengan sebutan adik ipar, sekarang dengan sebutan 'adek'.
__ADS_1
Kalau saja gadis itu tidak sedang sakit saat ini dan Hega yang membutuhkan bantuan Derka, mungkin Hega sudah menendang kaki Derka saat ini juga.
Moza mengangguk mendengar permintaan dokter yang juga sekaligus sahabat dari kekasihnya itu.
" Eum . . . Kak, bisa ambilkan botol obat di laci meja riasku, ada di laci sebelah kanan nomor dua dari atas. " Hega berdiri dan segera menuju tempat yang disebutkan oleh Moza.
Membuka laci yang dimaksud dan membawa dua botol kaca berukuran kecil dengan jenis obat yang berdeda.
" Yang mana ? " Hega berbalik badan dan mengangkat kedua botol di tangannya sembari berjalan kembali mendekati ranjang.
" Yang putih, Kak. "
" Lalu yang ini ? " Hega mengangkat botol kaca dengan tablet berwarna merah tua di dalamnya.
" Kata bunda yang satu itu hanya diminum kalau aku tidak bisa tidur karena mimpi buruk. Tapi aku sudah lama tidak pernah meminumnya. "
" Coba sini gue lihat, Ga ! " Derka menyambar dengan cepat dua botol di tangan Hega. Mengamatinya beberapa menit.
" Sejak kapan kamu meminum obat ini, dek ? " Tanya Derka kemudian.
" Eum. . . Aku lupa sejak kapan, mungkin sejak SMP. Tapi itu bukan obat, kata bunda hanya vitamin. "
" Ah. . . Iya, sejak kapan kamu minum vitamin ini ?! " Ralat Derka dengan berat hati, nyatanya Derka tahu jika itu bukanlah vitamin.
" Der ?! " Hega menatap tajam Derka dengan curiga.
Kening Moza mengerut, " Kenapa dengan vitamin aku ? " Tanya gadis itu kemudian saat menyadari ada gelagat aneh yang ditunjukkan oleh dokter muda yang baru beberapa bulan ini dikenalnya.
" Ah. . . Gak papa, dek. Cuma sepertinya abang harus resepkan vitamin baru buat kamu. Yang ini abang bawa dulu ya ? " Derka jelas-jelas berusaha untuk bersikap setenang mungkin
" Eum . . . " Dan untunglah Moza tidak bertanya lebih lanjut, kondisi kesehatannya tidak mengijinkan dirinya untuk mencari tahu lebih jauh.
Jasmaninya terlampau lelah untuk menuruti kepekaan firasatnya. Jadi Moza memilih diam saja dan pasrah, yang diinginkannya saat ini hanyalah tidur.
" Sekarang kamu istrirahat aja. Abang udah kasih suntikan antibiotik ringan tadi. Jangan stress, jaga pola makan dan istirahat yang cukup ! " Ujar Derka.
" Ah. . . Kalau persiapan pernikahan membuatmu kelelahan, jangan dipaksakan ! Jika perlu tunda saja kalau perlu pernikahan kalian sampai kondisi kamu pulih kembali. " Goda Derka ngasal, berusaha mencairkan suasana yang sedari tadi terasa menegangkan.
Mendengar hal itu sontak membuat Derka mendapat tatapan tajam membunuh dari sahabatnya. Sedangkan Moza hanya tersenyum simpul.
" Hahaha. . . Abang dipelototin beruang kutub, dek. " Celetuk Derka jahil.
" Kalau sudah selesai, pulang sana ! " Desis Hega dingin.
" Dasar gak tahu terima kasih ini bocah. " Omel Derka kesal melirik Hega dengan mulut mengerucut.
" Abang pulang dulu ya, dek. Ingat pesan abang tadi, istrirahat dan jaga pola makan. " Sambungnya beralih menatap gadis yang terbaring lemah di ranjang besar dengan nuansa peach-cream itu.
" Iya, terima kasih. " Jawab Moza seraya tersenyum tipis.
Hega kembali duduk di tepi ranjang, membetulkan selimut Moza dan mengecup kening kekasihnya itu.
Hega menggenggam tangan kanan Moza dan mengecupnya singkat, " Aku akan mengantar Derka sebentar, Sasa akan menemanimu sampai aku kembali. " Hega melirik ke arah pelayan pribadi Moza yang barusaja memasuki kamar.
" Kaaak. . . " Lirih Moza sembari mengeratkan genggaman tangannya, seolah meminta agar pemuda itu tetap menemani dirinya.
" Hanya sebentar, aku janji. Sekarang istirahatlah, aku akan segera kembali. " Mengelus lembut pipi Moza yang sudah mulai menghangat.
Moza tersenyum mengangguk pasrah, " Eum . . . "
βͺβͺβͺ
__ADS_1
~ Ruang Keluarga ~
" Ada apa, Der ? " Tanya Hega saat keduanya sudah berada di ruang keluarga di lantai satu.
Derka terlihat menimbang-nimbang sesuatu, menatap Hega dan Kakek Suryatama bergantian.
Jelas ada keraguan dalam sorot mata dokter muda itu, Derka bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan perihal kecurigaannya.
" Katakan saja nak Derka, ada apa sebenarnya ? " Kakek Suryatama juga sudah ada disana, ditemani oleh Benyamin yang selalu siap siaga setiap kali tuan besarnya itu masih dalam kondisi terjaga.
" Der, jangan bikin gue makin khawatir. Cepat katakan ada apa ? Kenapa wajahmu seperti itu ?! "
Derka memejamkan matanya sejenak, menghela nafas dalam dan memijat celah diantara kedua alisnya.
Kemudian kembali menatap sahabatnya dan Suryatama bergantian, lalu kembali menatap ke arah Hega yang masih berdiri mematung dengan wajah tegang.
" Ga, apa lo udah tahu sejak dulu kalau adik ipar mengkonsumsi obat ini ? " Tanya Derka sembari menunjuk kedua botol obat yang ada di meja.
Hega tampak bingung mendengar pertanyaan sahabatnya, " Hah ?! Apa maksud pertanyaan lo itu, Der ? "
" Jawab saja ! " Sorot mata Derka tampak menajam, benar-benar bukan sosok Derka yang biasanya santai dan cenderung ceria.
Melihat tatapan tidak biasa dari Derka, Hega sedikit tercengang, " Tidak, sejujurnya gue juga baru tahu tadi. " Jawabnya tegas.
Derka menjatuhkan tubuhnya di sofa, menghempaskan punggungnya di sandaran sofa dan memijat-mijat keningnya.
" Huuuffft. . . " Terlihat kecemasan besar di wajah Derka, entah sudah berapa kali dokter muda itu menghela nafas dalam.
" Jangan bikin gue penasaran, Der ! Ada apa sebenarnya ?! Ada apa dengan vitamin itu ? " Ranya Hega dengan geram dalam posisi masih berdiri tepat di hadapan dokter muda itu.
" Itu bukan bukan vitamin, Ga. " Derka berdesis lirih, ada semacam kecemasan dalam pernyataanya. Berharap kekhawatirannya yang muncul di kepalanya tidaklah benar.
Kedua mata Hega terlihat menyipit, " Apa maksudmu itu bukan vitamin ? Jelas-jelas Momo mengatakan jika itu vitamin. " Protes Hega.
Derka membelalakkan matanya dengan galak, " Haish . . . Gue yang dokter, Ga. Gue yang lebih tahu itu obat apa vitamin. Dan itu bukanlah vitamin seperti yang dikatakan adik ipar. " Jawab Hega dengan ketus.
" Maksud lo, Momo berbohong ? " Tatapan mata Hega terlihat sinis tidak terima dengan perkataan Derka yang menyinggungnya.
" Maksud gue bukan gitu. Kan tadi dia bilang itu dari bundanya, coba deh lo tanya sama tante Ayu. Yang jelas itu bukan vitamin. Jadi kalau gue bilang bukan berarti ya bukan. " Kesal Derka frustrasi.
" Kalau begitu jelaskan ! Jangan berputar-putar ! " Umpat Hega lebih galak.
" Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar, tenangkan diri kalian dulu dan kita bicarakan baik-baik. " Tutur Suryatama menengahi.
" Maafkan Hega, Kek. Hega hanya . . . "
" Ya, kakek mengerti kalau kamu hanya mencemaskan calon istrimu. Tapi dengan emosi tidak akan membuat Momo membaik, duduklah dengan tenang dan kita dengarkan penjelasan nak Derka. " Ujar Suryatama yang sudah duduk di sofa single diantara Derka dan Hega.
" Hega berdiri saja, Kek. Hega belum bisa tenang kalau belum tahu kondisi Momo yang sebenarnya. " Pemuda itu masih berdiri di tempatnya, bersandar pada pegangan sofa.
" Jadi katakan dengan jelas apa maksud ucapanmu tadi, Der ?! " Sambung Hega seraya menatap lekat sahabatnya yang jelas terlihat berbeda dari kebiasaan pemuda itu.
" Huuuh. . . Dua obat itu adalah antidepresan dan prazosin dengan dosis yang cukup tinggi, obat khusus untuk mengatasi depresi dan mencegah mimpi buruk. Dan adik ipar menggunakan kedua obat ini sekaligus selama hampir sebelas tahun, mungkin lebih karena dia sendiri bahkan lupa sejak kapan obat itu ada bersamanya. " Terang Derka sembari menunjuk kedua botol obat yang ada di tangannya.
B R U K . . .
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
YANG NUNGGU HEZA KE PELAMINAN
SABAR, TINGGAL BEBERAPA EPISODE LAGI
SIAPKAN ANGPAONYA YAH πππ
__ADS_1
SEBELUM ITU GOYANG JEMPOLNYA DULU DONG
LIKE DAN KOMENTAR πππ