Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Layak Untuk Dicintai


__ADS_3

AUTHOR


Tuh kan wajahmu begitu lagi, sangat imut aku suka. ~ Hega ~


" Ayo kita turun. "


Moza yang beberapa saat terlena pada pikirannya sendiri menutupi kecanggungannya bahkan tak sadar jika pria yang barusaja membuat pipinya merona merah itu sudah keluar dari mobil dan sedang membukakan pintu untuknya.


" Ah, iya. Terima kasih. "


Keduanya memasuki sebuah restoran, memesan makanan dan masih sama-sama diam tanpa bersuara.


" Kapan kakak akan kembali ? "


" Kenapa ? Apa kamu sudah merindukanku bahkan saat aku masih ada dihadapanmu ? " Hega mulai menggoda lagi.


" Uhuk..... " Moza yang tengan meminum air putih di hadapannya langsung tersedak, nyaris tersembur.


Tuh kan dia mulai lagi ?! ~ Moza membatin sebal ~


" Pelan-pelan minumnya. " Ucap Hega sambil meraih tissue dan mengarahkan ke bibir gadis itu.


" Aku bisa sendiri kak, terima kasih. Dan kenapa kakak suka sekali menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sih ? " Gerutunya.


" Hmmm.... Sudah jadi kebiasaan, tapi aku akan merubahnya jika kamu tidak suka. "


" Tidak perlu. " Ucap Moza jutek.


" Jadi maksudmu kamu menyukainya ? " Kejutekan gadis itu malah membuat Hega tak bisa berhenti menggodanya.


Jangan menyimpulkan seenaknya dong. ~ Moza ~


" Maksudku, itu bukan hal yang terlalu penting untuk diubah. Lebih baik kakak berhenti melakukan hal-hal yang.... "


Seketika Moza menghentikan kalimatnya, setengah menggigit sudut bibirnya agar kalimat mengerikan itu tak keluar dari bibirnya.


Kalimat yang mengatakan jika apa yang dilakukan pemuda itu selalu membuatnya berdebar tak karuan.


" Yang........ ?????? " Hega mengernyit memancing agar gadis itu melanjutkan kalimatnya.


" Sudahlah, makanannya datang. Selamat makan " Sambar Moza lega melihat pelayan restoran membawa pesanan mereka dan meletakkannya di atas meja.


Fiuhhhh.... Aku selamat, terima kasih mbak yang baik, anda datang tepat waktu dan menyelamatkanku. ~ Moza ~


" Kenapa tidak dilanjutkan kelimatnya ? " Tanya Hega sambil menaikkan alisnya penasaran.


" Tidak perlu, aku lapar. " Elak gadis itu mengalihkan pembicaraan.


Tolong jangan dibahas lagi ya, aku mau makan dengan tenang. ~ Moza ~


" Pft.... Katanya tadi tidak terbiasa makan pagi ? " Lagi-lagi Hega menggoda gadis yang tengah gelagapan salah tingkah itu.


" Aku akan membiasakan diri, bukankah tadi kakak mengatakan jika melewatkan sarapan tidak baik untuk kesehatanku. " Ucapnya beralasan.


" Bagus, kamu juga terlihat manis jika penurut seperti ini. " Ucapnya lembut dengan senyum penuh arti.


Aaaaarrrggg.... Aku mau makan tau, jangan berkata seperti itu lagi. Membuatku sulit menelan makananku. Dan kenapa kakak selalu punya cara membuat jantungku berlarian seperti ini sih ? Dasar curang. ~ Moza ~

__ADS_1


Setelah selesai menghabiskan makanan di piringnya, seorang pelayan kembali datang merapikan piring di atas meja dan menggantinya dengan hidangan penutup.


" Sepertinya ada yang mau kamu tanyakan dari tadi ? "


Ich... kakak dukun ya, beneran bisa baca pikiran aku gitu ?


Batin Moza tanpa sadar bergidik.


" Aku bukan dukun, dan aku tidak bisa baca pikiran kamu. "


Hei terus yang barusan itu apa ? Telepati ? ~ Moza ~


" Anggap saja ini telepati, mungkin hati kita sudah klop sehingga kita bisa membaca pikiran satu sama lain ? " Ucap Hega lagi dengan nada yang masih santai.


Aaaa.... Gila apa ? Telepati katanya ? Aku kan tidak bisa baca pikiranmu ? ~ Moza ~


" Tapi kenapa aku ..... ? " Lagi-lagi kalimatnya terputus karena sadar jika diteruskan pasti akan membuatnya malu sendiri karena secara tidak langsung kalimat itu akan membenarkan kalimat Hega jika hati mereka sudah klop. Yang artinya jika Moza memang sudah jatuh cinta pada pria di hadapannya ini.


Ish... Hampir saja aku mengatakan hal konyol. ~ Moza ~


" Apa ? Kamu mau tanya kenapa telepati kamu belum bisa membaca pikiranku ? " Ucap Hega menggoda tepat pada sasaranya.


Jleb ....


Tuh kan.... Masa sih dia beneran punya telepati ? ~ Moza ~


" Itu karena cintamu padaku belum sebesar cintaku untukmu. " Lagi-lagi perkataan Hega membuat Moza tercengang hampir saja menjatuhkan sendok es krim di tangannya.


Lihat itu ekspresi imutnya. ~ Hega ~


" Hahahha.... Kamu lucu sekali sih ? Aku benar-benar tidak membaca pikiranmu, jadi kamu jangan tegang begitu. " Ucap Hega sambil tertawa.


" Lalu bagaimana kakak tahu apa yang aku pikirkan ? " Moza masih menyelidik was-was.


" Jadi benar kamu mengatai aku dukun ? " Godanya dengan nada pura-pura marah.


" Tuh kan lagi-lagi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. " Omel Moza menyebik kesal sambil meletakkan sendok es krim di hadapannya.


" Aku hanya belajar membaca ekspresi kamu, karena kamu tidak mau mengatakannya sendiri dengan bibirmu. " Jawab Hega santai.


" Jadi apa yang mau kamu tanyakan ? " Lanjutnya.


" Itu.... Bisakah kakak memberikan hadiah yang biasa saja ? " Ucapnya sambil kemudian lagi-lagi menggigit bibirnya.


" Pertama, jangan lakukan itu lagi ! " Ucapnya lembut sambil menatap ke arah bibir gadis itu, sudah beberapa kali Hega melihat gadis itu menggigit bibirnya sendiri, membuat pemuda itu merasa tidak nyaman.


" Apa ? " Tanya Moza mendongakkan wajahnya tak mengerti.


" Bibirmu bisa terluka jika kamu melakukan itu. Dan.... "


Sontak membuat Moza melepas gigitan di bibirnya sendiri. Dan justru malah penasaran dengan kalimat terputus Hega.


" Dan ? " Mengerutkan dahinya.


" Tidak ada. "


Shit, masa aku harus bilang aku ingin menciumnya setiap kali kulihat dia menggigit bibirnya itu. ~ Hega ~

__ADS_1


" Ah kembali pada pertanyaanmu tadi. " Lanjutnya mengalihkan pikuran mesumnya sendiri.


" Hm. " Gadis itu masih menanti jawaban.


" Aku tidak bisa melakukannya. "


" Kenapa ? "


" Huff.... Kamu tanya kenapa ? Tentu saja karena kamu itu spesial, jadi bagaimana mungkin aku memberikan sesuatu yang biasa saja untukmu. "


Cih.... Spesial katanya ? Memangnya aku martabak apa ? Spesial pakai ekstra telur. Huh.... ~ Moza ~


" Tapi kan yang kakak berikan.... "


" Ssstttt..... Kalau kamu membahas lagi tentang kalung itu, bukankah sudah aku katakan untuk menanggapnya sebagai ketulusanku untukmu. " Hega memotong ucapan Moza sambil meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri.


" Tapi.... " Namun gadis itu masih saja belum mau menyerah.


" Haahhhh..... " Kegigihan Moza membuat Hega menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.


" Begini saja, pikirkan jawabanmu atas pernyataan cintaku. Jika kamu tidak bisa menjawab langsung, gunakan kalung itu sebagai jawabannya. " Ujarnya kemudian dengan nada serius sambil menatap lembut gadis itu.


" Maksudnya ? "


" Jika kamu menerimaku maka jangan lepaskan kalung itu, akan kuanggap kalung di lehermu itu sebagai bentuk jawaban bahwa kamu juga mencintai aku. " Hega semakin serius dengan ucapannya.


" Kalau aku menolak ? " Tanya Moza menggertak.


" Simpanlah. " Namun dengan santainya Hega menjawab pertanyaan gadis itu.


" Kenapa aku harus menyimpannya ? Bukankah seharusnya aku mengembalikannya pada kakak ? "


Moza kembali gigih menyudutkan pemuda itu yang justru membuat Hega semakin intens menatap bola mata kecoklatan di hadapannya, kemudian terukir senyum penuh arti di bibir pemuda itu.


Kenapa kamu gigih sekali sih ? Tapi aku suka sih sisi tangguhmu yang seperti ini. Benar-benar gadis yang layak untuk dicintai. ~ Hega ~


Dih apa lagi yang ada di kepala pria ini ? Kenapa tatapan dan senyumnya itu seperti mengisyaratkan akan terjadi sesuatu yang mengerikan. ~ Moza ~


" Simpanlah, karena jika kamu menolak maka akan kubuat kamu jatuh cinta padaku dan dengan sukarela memakai kembali kalung itu di lehermu. " Jawab Hega penuh percaya diri.


jeng jeng jeng....


🌟


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕

__ADS_1


__ADS_2