Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Have Fun, My Wife.


__ADS_3

AUTHOR


Moza yang terakhir memasuki ruang vip kafe tempat nongkrong favorit JF Genks. Gadis itu tampak bergandengan tangan dengan Hega dan tentu saja pemandangan itu sedikit menyentil hati Dimas.


Meskipun sudah berusaha ikhlas dan memutuskan berhenti berharap, tetap saja sisa-sisa rasa itu masih ada di hati Dimas dan membuatnya pasti merasa sedikit terluka.


" Tunggu aja, De. Ini juga masih baru jam empat kurang. " Ucap Moza berusaha menenangkan kekesalan sahabatnya, Amira dan Renata mengagguk-angguk setuju.


" Ish. . . Kalian jangan belain tuh bocah terus deh, bisa ngelunjak tuh anak nanti. Lihat aja ntar pasti tuh anak juga molor lagi seperti biasanya. " Omel Dea jengkel.


Rena dan Amira mengikuti langkah Dea dan ikut duduk di tempat favorit mereka, Dimas hanya geleng-geleng kepala melihat adik sepupunya terus mengomel dan memaki salah satu sahabat mereka.


Hega mengusap pucuk kepala Moza, " Aku harus kembali ke kantor, kabari aku jika sudah selesai. Aku akan menjemputmu nanti. " Ucap Hega saat sudah mengantar kekasihnya dan memastikan gadis itu aman bersama para sahabatnya.


" Iya, kak. Hati-hati menyetirnya. " Jawab Moza dengan tersenyum cantik.


" Hem. . . "


CUP . . .


Hega mendaratkan satu ciuman di kening Moza, dan kemudian kembali mengusap pucuk kepala calon istrinya itu.


Moza reflek menyentuh keningnya, " Kaaak. . . " Dan kemudian terpekik kecil saat menyadari apa yang baru saja dilakukan kekasihnya, lalu melirik kikuk ke arah teman-temannya yang menonton adegan mesra mereka secara live.


Perlakuan Hega tentu saja cukup mengejutkannya pasalnya mereka sedang tidak hanya berdua saja. Memang bukan sekali dua kali Hega mengecup keningnya.


Tapi ini kan situasinya berbeda, banyak pasang mata yang melihat kelakuan manis pemuda itu padanya.


Diperlakukan lembut dan penuh sayang tentu saja akan membuat gadis manapun merasa bahagia.


Namun mendapat perlakuan istimewa seperti itu di depan teman-temannya. Pastinya membuatnya malu setengah mati, jika mungkin gadis itu ingin rasanya menghilang secepatnya untuk menghindari tatapan jahil ketiga sahabat cantiknya.


Hega malah tercengir mendapati protes dari gadis cantik itu.


" Have fun, my wife. " Bisiknya di telinga Moza kemudian tersenyum menawan.


[ Selamat bersenang-senang, istriku ]


Amira dan Renata melongo menyaksikan adegan romantis secara live di depan mata mereka itu.


Sedangkan Deana hanya memutar bola matanya malas dan mencebikkan bibirnya kemudian geleng-geleng kepala. Seolah apa yang dilihatnya barusan bukanlah apa-apa dibanding drama bikin baper di parkiran kampus tadi siang.


Perdebatan receh Hega dan Moza yang membuatnya gigit jari berkali-kali.


" Sampai ketemu lagi, terima kasih sudah menemani Momo hari ini. " Pamit Hega menatap ke arah ketiga sahabat Moza yang masih dalam posisi duduk dengan mulut setengah ternganga.


" Ah. . . Iya, bang. Kita juga seneng kok. " Jawab Renata.


" Dim. "


" Iya, bang. " Dimas mengangguk saat pria itu menyebut namanya untuk berpamitan.


Moza masih menyembunyikan rona merah di pipinya dengan kedua telapak tangannya sendiri.


" APA ?! " Tanyanya ketus saat ketiga sahabatnya menatapnya dengan tatapan meledek.


" Hihihi . . . Baper gue, Mo, liat kelian berdua. Apalagi bang Hega sweet banget gitu, abang ganteng beneran cinta mati sama lo deh, Mo. Tadi aja di butik matanya bang Hega gak kedip liat lo terus. Ugh. . . Mau dong satu kayak bang Hega yang ganteng, tajir, dan romantis abisss. " Renata nyerocos panjang lebar bahkan tidak menghiraukan jika ada hati yang tercabik mendengar ocehannya.


" Tapi apa lo gak takut kalau entar habis nikah ketemu bang Hega yang gantengnya gak ada obat itu ditambah perlakuan manisnya tiap hari ?! " Oceh Rena lagi.

__ADS_1


Moza duduk di samping Amira, menatap Renata dengan ekspresi tidak mengerti.


" Memangnya kenapa ? " Tanya Moza kemudian.


" Kalau gue takut kena diabetes keseringan liat senyum manisnya, Bang Hega. Hihihi. . . " Cengir Rena.


Ya, mereka seolah lupa ada sosok Dimas disana.


" Haish. . . Nih mulut apa apa petasan meleduk sih, ngoceh aja bikin telinga gue gatel. " Deana menyenggol lengan Renata dan melirik kakak sepupunya dengan ekor matanya.


" Ups. . . sorry dorry morry, nih mulut emang susah di rem kalo udah ngomongin orang ganteng. Hehehe. . " Rena menepuk bibirnya dengan telapak tangannya kemudian tercengir kikuk.


Setelah lama menunggu akhirnya personel terakhir JF-Genk datang juga dengan wajah tanpa dosa. Benar seperti dugaan Deana, pemuda itu datang sangat terlambat dari jam janjian mereka. Alhasil mereka harus buru-buru menuju mall belum. Untunglah masih sempat membeli popcorn dan minuman ringan.


Moza yang sedari tadi hanya ikut saja, memilih untuk mengekor saja. Terserah mau kemana dan mau ngapain saja kelima sahabatnya itu.


Bahkan gadis itu tidak tahu film apa yang akan mereka tonton. Ya, palingan drama romantis atau komedi yang akan mereka tonton.


Secara dari keempat gadis itu hanya Deana lah yang berani nonton film bergenre horor. Jadi tidak mungkin mereka akan nonton film horor.


Dan betapa terkejutnya Moza saat mendapati film apa yang sedang di putar di layar besar di hadapannya.


Deana ternyata memilih untuk menonton film bergenre action horror berjudul Peninsula, sekuel dari film zombie Train To Busan.


Melihat satu per satu adegan, kepala Moza terasa berdenyut, apalagi melihat adegan dengan darah. Tubuhnya gemetar dan degup jantungnya semakin cepat.


Pasalnya ini pertama kalinya Moza menonton film dengan genre horror. Bukannya tidak berani, tapi itu adalah salah satu pantangan yang diberikan dokter psikiatri yang menangani phobianya. Setidaknya itu yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.


Dokter Melisa mengatakan untuk menghindari segala aktivitas yang berbau uji nyali.


Moza sendiri sempat heran dengan pantangan dari dokter yang sudah membantu menangani traumanya sejak lama itu. Karena yang dia tahu dari ayah bunda dan juga dokter Melisa, dirinya hanya mengalami phobia ringan.


" Aaakkk. " Teriak Renata dan Amira hampir bersamaan saat jumpscare datang.


" Aaaakh. " Moza yang terkejut dengan teriakan Renata dan Amira sekaligus merinding melihat adegan di layar besar di hadapannya ikut-ikutan berteriak.


Moza yang duduk di samping Deana reflek memeluk lengan sahabatnya dan menyembunyikan wajahnya di belakang bahu Dea.


Saat adegan sebuah mobil datang tiba-tiba dan melindas para zombie. Moza merasa kepalanya semakin berdenyut dan perutnya bergejolak.


Menyadari respon tubuhnya sedikit aneh, diam-diam gadis itu merogoh ponsel di dalam tasnya dan mengetikkan pesan singkat pada kekasihnya untuk segera menjemputnya.


Hampir dua jam Moza menahan diri, saat film berakhir gadis itu masih melingkarkan tangannya di lengan Deana.


" Takut tapi kok nonton film horor. " Cibir Julian saat melihat ekspresi para gadis cantik itu saat baru keluar dari ruang teater. Apalagi Moza langsung berlari ke toilet setelah film selesai diputar.


" Habisnya penasaran Jul, katanya kan tuh film bagus. Kan sekuel pertamanya keren banget tuh Gong Yo oppa yang main. " Ucap Renata dengan tubuh masih gemetaran.


" Dasar, kalian tuh para cewek makhluk paling membingungkan di dunia ini. " Julian masih geleng-geleng kepala gemas melihat ekspresi ketiga sahabatnya.


Sedangkan Deana tampak biasa saja.


" Lo gak papa kan, Mo ? " Tanya Dea cemas saat melihat Moza keluar dari toilet dengan wajah pucat.


Pasalnya gadis itu berlari ke toilet untui memuntahkan semua isi perutnya.


Moza menggeleng lemah dan kembali melingkarkan tangannya di lengan Deana. Tubuhnya terlalu lemas untuk berjalan sendiri.


Keluar dari ruang teater menuju lobby bioskop, mereka disambut keriuhan beberapa pengunjung yang tampak bergerombol dan berbisik-bisik, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang terlihat lebih menarik daripada film yang baru saja mereka tonton.

__ADS_1


Seorang pria tampan tengah berdiri bersandar di dinding bioskop tak jauh dari pintu keluar ruang teater tempat Julian dan teman-temannya menonton.


Tangan kanannya berada di saku celana dan mata elangnya terlihat mengintip jam tangan di pergelangan kirinya, kemudian tampak menyusuri sekitar mencari sesuatu atau mungkin seseorang.


" Sudah selesai ? " Suara bass nan seksi semakin menghipnotis para gadis yang tengah menatapnya.


Dan perhatian mereka seketika beralih ke arah tatapan mata pria tersebut.


Menyadari kehadiran pria yang ditunggunya, Moza sedikit memaksakan senyumnya dan perlahan berhambur ke arah pria yang juga tampak tersenyum padanya.


Moza membenamkan wajahnya di daa bidang kekasihnya. Dan disambut pelukan hangat dari pemuda itu, dengan lembut Hega mengelus kepala gadis yang wajahnya tampak pucat, tidak menghiraukan sekitarnya, seolah lupa banyak mata yang tengah memperhatikan mereka berdua.


" Boleh saya bawa tunangan saya pulang lebih dulu ? Karena sepertinya dia sedang kurang sehat. " Hega menyadari tubuh gemetar gadisnya, pria itu kembali mengelus kepala gadis itu dan kemudian menatap kelima pemuda pemudi yang tadi berjalan di belakang gadis itu.


" Eh. . Iya Bang. " Deana sadar ada sesuatu yang aneh pada sahabatnya sedari tadi, mengiyakan saja permintaan pria tersebut.


Meskipun sebenarnya masih ada agenda lanjutan untuk acara hangout mereka kali ini.


Moza menoleh sebentar ke arah teman-temannya, meminta maaf melalui sorot matanya dan dibalas anggukan dan senyum oleh kelima sahabatnya.


Kemudian berbalik dan meninggalkan kelima sahabatnya, berjalan menjauh masih berada dalam rengkuhan Hega.


Hega membawa gadis cantiknya yang terlihat pucat pasi langsung menuju mobilnya.


" Kamu tidak apa-apa ? " Hega menangkup kedua pipi Moza dengan tangannya saat keduanya sudah berada di dalam mobil, Moza hanya menggeleng lemah.


Tapi Hega bisa melihat jelas tubuh Moza yang gemetar, perlahan diraihnya kedua tangan kekasihnya, mengusapnya dengan lembut.


Dingin . . .


Itulah yang dirasakan Hega saat menggenggam tangan kekasihnya. Hega semakin cemas melihat kondisi Moza, ditempelkannya kedua telapak tangan Moza di pipinya.


" Mo, kenapa tangan dan badan kamu dingin sekali ? " Hega melepaskan tangan Moza dan beralih menyentuh leher gadis itu.


" K-kak. . . A-aku mau pu-lang. " Bibir Moza bergetar dan keringat dingin bisa Hega rasakan saat menggenggam telapak tangan kekasihnya.


" Tidak. Kita ke dokter. " Putus Hega tegas.


" K-kak, aku mohon. Aku hanya ingin pulang, . . . "


Melihat kekasihnya yang tampak gelisah, Hega dengan lembut merengkuh tubuh gadisnya, " Iya, sayang. Kita pulang. " Ucapnya menenangkan seraya mengelus kepala gadis kesayangannya.


Hega mengatur sandaran kursi Moza setengah berbaring agar Moza lebih nyaman. Kemudian menyelimuti Moza dengan jasnya.


" Tutup matamu ! " Moza menurut dan memejamkan matanya dengan posisi miring menghadap Hega.


Melihat kondisi kekasihnya yang sedikit aneh, Hega segera melajukan mobilnya menuju rumah besar, tidak lupa menghubungi sahabatnya Derka melalui headset bluetooth di telinganya. Meminta agar dokter muda itu segera menuju kediaman Saint sekarang juga.


" Der, datang ke rumah sekarang juga ! "


( Ada apa ? )


" Jangan banyak tanya ! Berangkat saja ! "


( Yayaya. . . Baiklah. )


Hega kembali fokus melajukan mobilnya dengan sesekali mengelus kepala Moza dan melirik ke arah gadis yang terlihat masih gemetar di kursinya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2