
HEGA
Perlahan aku mengikuti Bara masuk ke dalam villa, memutuskan untuk kembali istirahat. Saat hendak menuju tangga, aku berpapasan dengan Dimas dan Julian yang tengah berjalan gontai menuju kamar mereka, terlihat sangat mengantuk.
Kucondongkan sedikit badanku menengok ke arah ruang tengah, kulihat Bara tengah berjalan ke arahku, menggendong adik sepupunya memasuki kamarnya.
" Bantu gue bawa dia. " kata Bara kemudian sambil menatap ke arah gadis yang masih ada di sofa sambil tersenyum licik.
" ". aku melotot padanya saat kutahu gadis itu adalah gadis yang tengah kami perbincangkan tadi.
Mau tak mau aku berjalan mendekati sofa tempat gadis itu tampak terlelap. Sejenak aku bingung bagaimana caranya membawa gadis itu masuk ke kamarnya.
Mending aku bangunkan saja. Rasanya tak sopan menyentuh apalagi menggendongnya ke kamar. pikirku dalam hati.
Hendak kuarahkan tanganku membangunkannya, namun tak tega karena teringat jika kemarin malam gadis ini tak tidur karena insomnia.
Kemudian kuangkat tubuhnya, kugendong ala bridal style melangkah menuju kamarnya. Tampak Bara baru saja keluar dari kamar kedua gadis itu, dan tersenyum iblis kearahku.
" Tunggu disini. " kataku padanya karena tak mau jika ada yang salah paham jika melihatku masuk ke kamar perempuan.
Aku memasuki kamar, berjalan pelan kearah ranjang besar dan membaringkan tubuh gadis itu di sisi ranjang yang masih kosong disamping sepupu Bara.
Saat kuselimuti tubuhnya, tampak dia sedang mengigau menyebut kata 'kakak' sambil meneteskan air mata.
Apa yang kamu impikan hingga menangis. batinku sambil menyelimuti gadis itu dan kemudian menyeka air matanya dengan jariku.
Berjalan meninggalkan kamar melihat Bara tampak bersandar di pintu dengan senyum iblisnya. Kemudian menutup pintu perlahan dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku, mengabaikan bocah sial dibelakangku yang tengah cengengesan.
" Pipi si gadis singa halus gak ? " tanyanya mengejek yang kemudian berlari kabur menuju kamarnya sebelum sempat kutendang kakinya.
Iya pipinya sangat halus dan lembut... Arrrggg. shit apa yang ada diotakku.
****
MOZA
Kriiiing kriiiing
Alarm ponsel ku berbunyi, kuraih benda kotak itu diatas nakas disamping ranjang. Pukul 04.30 pagi, perlahan aku bangkit dan duduk dipinggir ranjang, mengucek mataku berusaha mengembalikan kesadaranku dari rasa kantuk yang masih menguasaiku.
Kulangkahkan kaki sedikit terhuyung ke arah kamar mandi, menyalakan pemanas air dan mulai membersihkan diri, berwudhu dan kemudian sholat.
Kubangunkan sahabatku yang masih terbaring di ranjang,
" Bangun De, sholat. Katanya mau ikut jalan-jalan pagi. " ucapku sambil kugoncangkan tubuhnya beberapa kali hingga akhirnya dia terbangun.
Aku mengganti bajuku dengan celana selutut berwana putih dan t-shirt longgar biru muda. Memakai sepatu sambil duduk di sofa dan mengambil ponsel diatas ranjang.
Kulihat Deana keluar dari kamar mandi saat aku hendak berjalan keluar kamar.
" Aku tunggu diluar ya, mau lihat Amira dan Renata. " kataku kemudian yang dijawab anggukan darinya, lantas berjalan meninggalkan kamar menuju kamar Amira dan Renata.
Tok tok tok
Kuketuk pintu kamar yang berada disamping kamarku, merasa tak ada jawaban kupegang handel pintu dan membukanya.
__ADS_1
Kucondongkan badanku dan melongok mengintip ke dalam ruangan, kulihat Amira sedang melipat mukena nya dan melihat kearahku.
" Masuk, Rena masih dikamar mandi. " ucapnya sambil melambaikan tangan kearahku.
" Aku tunggu di depan aja ya, mau minum dulu. " kataku padanya.
Kuarahkan kakiku menuju dapur dan terdengar suara notif dari ponsel yang kuletakkan di saku celanaku. Kuambil dan kubuka pesan yang ternyata dari adik bungsuku, tumben pikirku dalam hati.
Ryu : kak, ....
Pesan apaan nih, pagi-pagi chat cuma bilang 'kak gak jelas. pikirku dalam hati.
Saat tengah mengetik balasan tak sengaja menabrak sesuatu karena berjalan tanpa melihat jalan.
Braakk..
Seolah merasa seperti dejavu, sebuah lengan kokoh menangkap tubuhku, melingkar di pinggangku, dan saat kusadar kulihat satu tanganya yang lain dengan sigap menangkap benda kotak yang membuatku tidak melihat jalan ketika berjalan.
" Apa kamu terbiasa berjalan sambil menunduk, atau kamu hobi menabrak orang ? " tanya pria itu ketus dengan suara bassnya dengan tatapan mata elang yang menakutkan, yang membuatku untuk pertama kalinya merinding berhadapan dengannya.
" Maaf, jika anda tahu saya tidak melihat kedepan. Seharusnya anda menghindar jika tidak ingin ditabrak. Atau anda yang justru punya hobi memeluk orang dengan alasan menolong supaya tak jatuh ? " jawabku kesal.
" Pft. " kemudian kami berdua seolah refleks menatap kearah suara yang terdengar sedang mentertawakan kami.
" Apa yang lucu ? " ucap kami bersamaan ke arah pria yang tampak menahan tawanya, membuatnya kembali mentertawakan kami yang mengucapkan kalimat yang sama disaat yang bersamaan. Segera kulangkahkan kakiku kedapur meninggakan dua manusia itu.
Pagi-pagi udah sial, pikirku kesal.
Kuambil segelas air putih dan duduk di kursi di bar table, kubuka kembali ponselku. Menelepon nomor adikku.
( ...... )
" Waalaikumsalam, ada apa chat kakak pagi-pagi ? " kataku.
( ...... )
" Kakak ada di villa temen. "
( ...... )
" Apaan sih, kakak muluk, tadi di chat cuma bilang kak, sekarang telpon kakak kakak juga ".
( ....... )
" Kenapa Ayah Bunda mau kesini, biasanya juga kakak yang pulang kalau kangen ? "
( ...... )
" Urusan apa ? "
( ....... )
" Terus kenapa ? "
( ..... )
__ADS_1
" Ya kalau mau ikut tinggal bilang aja loh sama Ayah Bunda. "
( ...... )
" Ya udah nanti kakak bilangin Ayah Bunda kalau kamu mau ikut. "
( ....... )
" Sama-sama, waalaikumsalam. "
******
Deana, Amira dan Renata datang saat aku baru saja mengakhiri pembicaraanku di telpon dengan adikku.
" Lo ngomong sama siapa Mo ? " tanya Deana.
" Adek aku. " kataku singkat sambil kemudian meneguk air dari gelasku.
" Ada apa ? " tanya nya lagi.
" Katanya Ayah Bunda mau datang, dia pengen ikut tapi gak dibolehin, minta aku bujukin Ayah bunda. " jalasku kemudian sambil turun dari kursi.
" Yuk berangkat. " teriak Dimas sambil melambaikan tangannya.
Kami berjalan mengikuti Julian dan Dimas yang sudah lebih dulu berjalan keluar villa, kulihat di pintu gerbang ada dua orang lagi yang lebih dulu berangkat, yang kuyakin itu kakaknya Dimas dan temannya.
Huh... inget kejadian tadi bikin mood jelek aja. batinku sambil berjalan sedikit enggan.
" Lo kenapa ? Lemes gitu. " kata Amira disambut tatapan menyelidik dari ketiga sahabatku ini.
" Gak papa, kepikiran telpon tadi. " jawabku mencari alasan.
" Yuk, ntar ketinggalan. " kataku kemudian sambil setengah berlari mengejar Dimas dan Julian.
Kurang lebih setengah jam kami jogging, sambil sesekali jalan pelan. Sampai di permukiman warga, tampak dua pria yang tak asing bagiku sudah duduk di kursi panjang di ujung jalan, tempatku istirahat kemarin pagi. Dan bertemu dengan pria itu.
Kemarin pagi biasa aja, kenapa tadi pagi judes banget yah. celetukku dalam hati mengingat kejadian tadi di depan dapur.
" Sini dek duduk. " lambai seorang pria yang memakai celana hitam diatas lutut dan kaos navy.
" Udah lama bang ? " tanya Deana pada abang sepupunya itu sambil kemudian duduk disampingnya.
" Baru aja, sini duduk. " katanya kemudian sambil berdiri dan melambaikan tangannya lagi ke arahku dan Amira. Kemudian tampak mengisyaratkan pria yang tadi duduk disampingnya untuk segera berdiri memberi tempat pada kami.
Aku dan Amira perlahan duduk saat kursi sudah kosong, sedang Renata tengah asyik berfoto selfie.
" Kalian mau ikut ke perkebunan gak ? " tanya pria yang 6 tahun lebih tua dari kami itu.
" Iya, tapi bentaran lagi ya. Gue masih capek bang. " kata Deana didukung anggukanku dan Amira, dan tampak pria itupun mengangguk setuju.
^^ Perlu keberanian untuk mengakui rasa ketertarikan yang ada di hati, tapi tak sedikit pula yang memilih memalingkan dirinya dari rasa itu karena memang belum menyadari jika rasa itu nyata. ^^ ( Sherinanta )
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
__ADS_1
PLEASE DON'T BE SILENT READER......💔