
AUTHOR
Deana menatap tajam ke arah Julian, tak terima dengan ucapan pemuda itu yang seolah merasa lebih mengenal Moza daripada dirinya, terlebih kalimat Julian yang terdengar membela pria yang telah membuat sahabatnya terluka.
Julian mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya. Menghela nafas dalam, bingung menghadapi tingkah Deana yang sedang terbawa emosi.
" Hega gak sepenuhnya salah dek, bocah itu juga tengah menderita sekarang. Jadi sudahlah, jangan ribut lagi ingin membuat perhitungan dengannya. Lo fokus aja nemenin sahabat lo si cantik Momo. " Ucap bara menenangkan adik sepupunya itu.
" Baaaang...... " Rengak Deana tak terima.
" Cukup Dea ! " Ucap Julian sedikit bernada tinggi, membuat gadis itu sedikit terlonjak.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun persahabatan mereka mendapati Julian membentaknya.
" Lebih baik lo cerita aja Jul, supaya nih anak gak ribut mulu. " Saran Bara.
" Abang aja yang ngomong ke dia, gue capek. Numpang mandi ya bang. " Seloroh Julian malas.
" Anggap rumah lo sendiri. " Jawab Bara mempersilahkan Julian membersihkan dirinya.
Julian meninggalkan Bara bersama Deana di ruang tengah lantai dua, saat Mami Linda datang membawa minuman dan beberapa kue untuk mereka.
" Dea, apa yang terjadi sama Moza ? " Tanya Mami Linda tak sanggup menyembunyikan kekhawatirannya.
Deana bingung mau menjawab apa, menggigit bibir bawanya mencari-cari kalimat yang tepat, merasa tak berhak menceritakan tentang masalah sahabatnya kepada orang lain, meskipun itu adalah Mami Linda, perempuan yang juga sudah dianggap Moza seperti ibunya sendiri.
" Biasa lah Mi, anak muda patah hati. Mami istirahat saja, bukannya Papi besok pulang dari Ausi. " Sambar Bara mengalihkan mata menyelidik sang ibu ke arah Deana yang diam bingung tak bisa menjawab keingin tahuan wanita paruh baya itu.
" Oh, ya sudah Mami tinggal. " Seperti yang Bara duga, menyebutkan nama sang Papi sangat efektif untuk mengalihkan perhatian sang Mami.
" Jangan pikirkan lagi hal lain dek, seperti yang abang bilang tadi, fokus aja hibur temen lo. " Ucap Bara saat melihat Maminya sudah naik ke lantai tiga.
" Bang, sebenernya apa yang kalian sembunyiin dari Dea ? Kasih tahu Dea bang, supaya Dea bisa melakukan sesuatu yang mungkin bisa sedikit menenangkan Momo. " Ucap Dean memohon.
" Dek, ini masalah pribadi Hega sama Moza, abang gak berhak cerita. " Elak Bara.
" Bang, pliss. Bukannya tadi abang bilang ke Julian supaya cerita ke Dea ? " Rengek Deana lagi.
Akhirnya Bara sedikit menceritakan tentang apa yang membuat kedua insan yang sebenarnya saling mencintai itu tidak bisa bersatu.
Sama seperti reaksi Julian saat pertama mendengar apa yang terjadi, Deana juga emosi dan marah ketika mendengar tentang perjodohan Hega.
Tapi kemarahannya berubah menjadi kekalutan dan rasa iba saat tahu alasan kenapa pemuda yang menjadi cinta pertama sahabatnya itu tidak bisa menolak perjodohan tersebut dan memilih mengakhiri hubungannya dengan Moza.
" Lalu siapa cewek yang di mall itu bang ? " Tanya Deana.
__ADS_1
" Itu Alina, adik sepupu Aliza. "
" Jadi tuh cewek tunangan bang Hega ? "
" Bukan. Kita gak sengaja ketemu pas mereka berdua lagi shopping. Tuh anak emang suka sama Hega dari dulu, tapi Hega gak pernah gubris tuh anak, dan tuh anak aja yang seenaknya nempel-nempel sama Hega, eh pas ada sahabat lo liat mereka. " Jelas Bara.
" Jadi siapa tunangannya bang Hega ? " Tanya Deana lagi dan Bara hanya mengangkat kedua bahunya.
" Jadi Dea udah salah dong bang mukul bang Hega waktu itu ? "
" Gak dek, emang pantes dipukul tuh bocah. Itung-itung lo melampiaskan cita-cita abang yang selama ini pengen setidaknya sekali aja tonjok tuh muka nyebelinnya. Hahahaha..... " Goda Bara mencairkan suasana.
" Abaaaaang..... " Rengek Deana memukul-mukul lengan Bara.
Deana sedikit menyesal atas kelakuan bar-barnya beberapa waktu yang lalu. Tapi gadis itu juga tidak sepenuhnya bersalah mengingat apa yang dilihatnya juga pasti menimbulkan salah paham bagi siapapun yang melihat kejadian itu.
Deana kembali merutuki kebodohannya yang meneriaki Hega sore tadi, menyandarkan kepalanya di sofa dan menghela nafas kasar.
" Sini Jul, nih tadi Mami bawain minum. Udah agak dingin sih. " Panggil Bara saat melihat Julian keluar dari kamar Dimas.
Deg....
Ada apa sih sama jantung gue dari tadi gini mulu ?!
Batin Deana saat melihat sahabat playboy nya itu dengan kaos oblong dan celana pendek, rambutnya masih basah dan membuat pemuda itu mendadak terlihat seksi dimata Deana.
Batin Deana lagi saat melihat Julian sudah duduk di sampingnya.
Heh.... Gila lo Deana, sadar dia itu siapa ?! Dia itu sahabat lo, si bocah playboy tengik. Sinting lo kalo mikir dia ganteng, meskipun kenyataannya emang dia ganteng sih.
Kembali Deana membatin, menyadarkan dirinya dari pemikiran gila yang sesaat merasuki kepalanya.
" Arrrrrgghhh.. " Teriak Deana tanpa sadar mengacak rambutnya, membuat Julian yang tengah meneguk kopinya terkejut dan hampir menyemburkan cairan hitam itu dari mulutnya.
" Heh... Apaan sih De ? Udah gila lo ya ?! " Umpat Julian, sambil menarik selembar tissue di meja dan membersihkan bibirnya.
" Auk ah gelap, gue mau tidur. " Omel Deana sambil ngeloyor pergi menuju kamar tidurnya.
" Kenapa lagi dia bang ? " Tanya Julian tak mengerti.
Bara hanya menjawab dengan mengangkat bahunya, kemudian memutar bola matanya jengah, merasa lucu dengan kelakuan adik sepupunya itu.
" Lo istirahat lebih awal Jul, mumpung besok weekend, puasin lo santai-santai. Karena gue gak tahu apa yang akan terjadi hari Senin depan. Pastinya akan jadi hari melelahkan buat kita, terutama lo yang jadi orang terdekatnya di kantor. " Ucap Bara yang sudah bisa menebak apa hasil dari kekacauan hati sahabat sekaligus atasannya itu.
" Iya bang. " Jawab Julian singkat.
__ADS_1
Bara tahu pemuda itu bekerja sangat keras akhir-akhir ini, sama seperti dirinya yang juga nyaris tidak ada hari tanpa lembur.
Julian yang baru beberapa bulan bekerja dengan pemuda itu pastinya mengalami hari yang cukup melelahkan. Meskipun bisa terbilang luar biasa Julian tidak sampai pingsan atau opname masuk rumah sakit.
Sedangkan bagi Bara, bertahun-tahun mengenal Hega, Bara setidaknya sudah hafal tingkah laku dan kebiasaan sahabatnya itu. Yang memang sudah punya kebiasaan gila kerja, dan tragedi percintaan Hega membuat kadar gila kerja pemuda itu meningkat berkali-kali lipat.
Jika kebanyakan orang akan frustrasi dan mengabaikan segala kewajiban atau pekerjaan mereka ketika patah hati, dan menenggelamkan diri mereka dalam kesedihan bahkan tidak sedikit yang akan terperosok dalam dunia malam yang tidak jauh-jauh dari alkohol, wanita malam dan bahkan obat-obatan terlarang.
Namun tidak bagi sosok pemuda yang satu ini, Hega cenderung membenamkan dirinya dalam kesibukannya sebagai pengusaha. Dan karena itu jugalah, selama dua bulan terakhir ini banyak proyek perusahaan berjalan sukses, pembangunan beberapa hotel, mall dan restoran di beberapa kota di dalam dan luar negeri berjalan lancar.
Omset perusahaan meningkat tajam, belum lagi bisnis pribadinya yang juga telah membuka beberapa cabang baru di beberapa negara.
Semua ini juga terjadi karena pemuda itu memiliki bekal yang cukup dalam hal keimanan, saat hatinya tak sanggup lagi menahan segala beban, maka tempat tujuannya menenangkan diri adalah bersujud di atas sajadah. Memohon kepada sang Kuasa untuk meredakan kekacauan hati dan pikirannya agar kembali jernih dan tenang.
🌟
Maaf ya guys akuh selingin cerita Dea dan Jul sedikit ya....🤗🤗
Selagi memberi ruang untuk babang Hega dan Moza untuk bergalau ria dulu....😔😔😔
Sekalian akuh masih memikirkan mau dibawa kemana kisah cinta Pangeran Beruang Kutub dan Gadis Singa Cantik 🤔🤔🤔
🌟
Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU....
✔ LIKE 👍
✔ COMMENT ✍💌
✔ VOTE 💱💲 yah 💋💋💋
🌟
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍
Terima kasih 😊😘😘😍
__ADS_1
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕