
AUTHOR
Selapas makan siang, Hega kembali melajukan ke kendaraannya menuju tujuan utama mereka.
Setelah perjalanan singkat sekitar lima belas menit, sampailah mereka di salah satu bangungan elegan dan mewah yang ada di tengah kota, C & F Boutique.
Butik terkenal itu adalah milik seorang wanita paruh baya blasteran Indo Prancis bernama Clara Florence, yang juga salah satu desainer yang terkenal melayani komunitas pelanggan kelas atas. Mulai dari artis, pengusaha, hingga pejabat.
Di depan butik, terlihat mobil mewah Mercedes-Benz berwarna hitam yang biasa dipakai oleh Rasti Kamila sudah terparkir di depan bangunan butik. Sang supir yang baru saja memarkir mobil keluar dan menyapa sang tuan muda, dan dibalas anggukan oleh Hega.
Hega langsung membawa Moza dan Deana memasuki bangunan mewah yang merupakan butik terkenal milik teman dari mami Rasti dan juga almarhummah Mama Nadira.
Amira dan Renata sudah sampai lebih dulu dan menyambut kedatangan kedua sahabatnya.
Moza memang sengaja membawa ketiga sahabat cantiknya untuk ikut fitting gaun yang akan mereka gunakan saat resepsi pernikahannya nanti. Yang rencananya memang dibuat khusus untuk ketiga sahabatnya itu.
Terlihat mami Rasti sedang mengobrol dengan seoranf wanita blasteran yang terlihat seumuran dengannya.
Rambut panjang berwarna pirang, tubuh tinggi langsing dan kulit putih khas bule Eropa.
Wanita itu menoleh ke arah pintu saat menyadari kehadiran seseorang.
" Hallo handsome, long time no see you. " Sapa sang wanita paruh baya berhambur dan memeluk Hega kemudian menautkan pipi kanan dan kirinya pada pipi pria tampan itu.
[ Halo ganteng, lama tidak melihatmu. ]
" How are you, aunty Clara ? " Sapa Hega sopan pada wanita bernama Clara sang pemilik butik tersebut.
[ Bagaimana kabar tante Clara ? " ]
" Seperti yang kamu lihat, tante baik-baik saja. Kenapa kamu tidak pernah datang ? Terakhir kamu kesini saat . . . " Ujar Clara seraya mengingat-ingat.
" Ah maaf, tante terlalu banyak bicara. " Clara segera meralat kalimatnya saat menyadari jika raut wajah pemuda itu mulai berubah.
Karena memang terakhir kali pemuda itu datang ke butik Clara adalah saat akan ada pesta perkenalan putra mahkota kerajaan bisnis Saint, dan itu adalah pesta terakhir yang dihadiri Hega bersama sang ibu.
Clara adalah salah satu teman dari almarhum Mama Hega. Di butik Clara juga lah Nadira selalu memesan semua baju yang akan dia gunakan terutama untuk perjamuan atau pesta. Begiu juga dengan setelan jas untuk Arya dan Hega dibuat di butik itu.
Dan sejak meninggalnya Nadira, Hega tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di butik itu. Semua setelan jas dan pakaian sehari-harinya sudah disiapkan oleh Paman Benyamin.
" Saya baru kembali dari L.A tan, dan belum sempat datang. "
" Ya, tante tahu, tante membaca banyak berita tentangmu. You're so amazing, your mom must be proud of you. " Ujar Clara dengan wajah haru melihat kesuksesan putra dari salah satu teman terdekatnya.
[ Kamu sangat luar biasa, mama kamu pasti sangat bangga padamu. ]
" Ehem. . . Clara, kami kesini bukan untuk bernostalgia. Kamu akan menunda pernikahan putraku jika tidak segera menyelesaikan baju pengantin mereka tepat waktu karena kamu terlalu terlena memandangi ketampanan putraku ini. " Rasti menginterupsi tepat saat suasana terlihat akan semakin menyedihkan.
__ADS_1
" Ah. . . I'm so sorry. I was just amazed to see Nadira's son was this big and handsome now. " Lagi-lagi pujian yang terucap dari bibir wanita paruh baya yang terlihat cantik dan elegan dengan longdress berwarna hitam itu.
[ Ah. . . Maafkan aku. Aku hanya merasa takjub bisa melihat putra Nadira sudah sebesar dan setampan ini sekarang. ]
Hega hanya bisa tersenyum menanggapi setiap kalimat pujian untuknya itu.
" Hei, jangan mulai lagi, Clara ! " Sela Rasti menyenggol lengan desainer cantik itu.
" Hahhaha. . . Okey, dimana gadis cantik yang berhasil mencuri hati dari keponakan tampanku ini, hem ? " Tanyanya seraya mengamati keempat gadis di belakang Hega.
Hega membalikkan badannya sekilas dan menarik tangan Moza kemudian merengkuh posesif pinggang gadis itu, " She's that beautiful girl. " Ujarnya dengan sangat bangga.
[ Dialah gadis cantik itu. ]
" Wow. . . You're so pretty, baby. Tidak heran Hega bisa jatuh cinta padamu. "
[ Wow. . . Kamu sangat cantik, sayang. ]
Pipi Moza seketika merona bak tomat ceri mendengar pujian dari desainer terkenal itu, " Terima kasih, tapi anda berlebihan. "
" Panggil tante Clara, okey. Dan apa yang tante katakan tadi tidak berlebihan. Kamu akan jadi pengantin tercantik, sayang. Tante benar kan, Hega ?! " Puji Clara lagi seraya melirik ke arah Hega, dan pria itu mengangguk mantap dan tersenyum.
" Terima kasih tante Clara. " Ucap Moza lagi.
" Ternyata bukan hanya hebat dalam bisnis, keponakan tampanku ini juga sangat pintar memilih calon istri, hem. " Goda Clara dengan memainkan ibu jari dan telunjuknya di dagunya.
" Yes of course auntie. " Balas Hega tak mau kalah.
" Ckckck. . . There will be many women who are heartbroken later, if they know the prince of their dreams is getting married. " Gumam Clara sembari menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
[ Ckckck. . . Akan ada banyak wanita yang patah hati nantinya, jika tahu pangeran impian mereka telah menikah. ]
Nyatanya hampir 90 persen pelanggan Clara yang para wanita dari kalangan menengah ke atas itu tak jarang membicarakan sosok Hega sebagai bahan obrolan mereka.
Siapa yang tidak mengenal Hega Saint ?
Tampan ? Pasti.
Kaya ? Tidak perlu diragukan.
Sukses ? Absolutelly.
Bahkan Hega mendapat berbagai macam julukan dari para kaum hawa negeri ini bahkan beberapa pelanggan Clara yang berasal dari luar negeri.
Dari National Husband, Pangeraan Impian, hingga Imam masa depan.
Para wanita itu akan heboh setiap kali mengangkat bahasan tentang Hega sebagai bahan pembicaraan mereka. Tak jarang beberapa dari mereka berbagi cerita tentang bagaimana usaha mereka mendekati pria impian mereka itu. Yang tentunya berakhir dengan kegagalan.
__ADS_1
" Hei, Clara, berhenti melantur ! Cepat lakukan pekerjaanmu ! " Potong Rasti dengan sedikit galak.
" Hahahaha. . . Ya ya ya, kamu ini cerewet sekali, Ras. " Oceh Clara.
" Okey, follow me ! " Clara melingkarkan tangannya di lengan gadis itu henak menuju ruang utama koleksinya.
[ Oke, ikuti aku ! ]
Tapi baru satu langkah, Clara berhenti kemudian berbalik badan kembali saat menyadari ada tiga gadis cantik lain yang ikut datang bersama sang calon pengantin.
" Ah, dan kalian bertiga pasti sahabat pengantin wanita kan ? " Tatapan mata Clara beralih pada tiga gadis cantik di belakang Hega, dan ketiga gadis itu mengangguk.
" Kalian bisa ikut asisten tante untuk mencoba gaun yang sudah dipesan, Mia tolong antarkan nona-nona cantik ini untuk mencoba gaunnya, dan pastikan ukurannya sesuai ! "
" Baik, Madam Clara. Mari nona-nona ikuti saya ! " Seorang wanita berusia sekitar 20 tahunan membimbing ketiga sahabat Moza menuju sudut ruangan lain.
" Hega, kamu bisa menunggu di sana ! Tante pastikan akan membuat kekasihmu ini menjadi pengantin paling sempurna. " Clara menunjuk sebuah sofa panjang tepat berwarna maroon di salah satu sudut ruangan tepat menghadap fitting room utama.
" Thanks, tan. "
Clara menggandeng lengan Moza dan Rasti menuju ruang utama.
Hega duduk di salah satu sofa tunggu, membuka ponselnya dan mengecek beberapa email penting.
Sekitar 30 menit Hega menunggu, mata elangnya masih fokus pada layar 6.5 inch di tangannya. Sambil sesekali menggeser ke atas layar ponsel pintarnya itu.
Hingga sebuah suara membuatnya mau tidak mau mengalihkan pandangannya dari benda pipih di tangannya.
" Ekhem. . . " Clara keluar dari sebuah ruang dengan tirai memutar berwarna putih.
Dan saat tirai itu terbelah dua dan terbuka ke sisi kanan dan kiri, nampak wajah cantik yang dikenalnya.
Klotak . . .
Ponsel di tangannya terlepas dari genggamannya dan benda pipih itu sukses mencium lantai marmer itu.
Pupil mata Hega membesar, pemuda itu menelan salivanya dengan susah payah saat saat melihat pemandangan luar biasa di hadapannya. Terlihat gerakan naik turun di leher Hega.
Moza yang begitu cantik tampak semakin anggun dan mempesona dengan balutan kebaya berwarna putih dengan train panjang menyapu lantai.
Detail payet dan menutupi keseluruhan kebaya, serta beberapa crystal swarovsky di bagian dada, kecuali untuk bagian lengan memakai motif embroidery dedaunan yang cantik.
Pada bagian punggung kebaya juga dihiasi untaian payet sehingga menambah kesan mewah.
Sementara itu kainnya menggunakan batik klasik bernuasana cokelat.
Kecantikan Moza seolah menyihir Hega, mata elang pria tampan seolah tidak bisa berpaling dari sosok cantik di hadapannya. Bola matanya bahkan mungkin bisa saja keluar jika saja Rasti tidak menyadarkan pemuda itu dari tatapan terpukaunya dan mengingatkan putranya untuk berkedip.
__ADS_1
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
...JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR YA SAYANG π...