
AUTHOR
Hega berjalan gontai setelah keluar dari mobil sang kakek. Perasaannya kacau, amplop di tangannya sudah sedikit kusut karena digenggamnya terlalu erat.
Bara yang menunggu sahabatnya itu melihat ekspresi gusar bercampur amarah di wajah Hega.
" Bar, gue titip kantor. Beberapa hari ini ada yang harus gue urus. " Ucap Hega menepuk bahu temannya yang masih menatapnya curiga.
" Ada apa lagi Ga ? "
" Lusa gue ke kantor, gue jelasin nanti. Dan bantu gue selidiki orang-orang ini. " Hega menyerahkan amplop coklat di tangannya pada Bara.
" Ini ?! " Bara tercengang saat melihat sekilas foto-foto yang ada di dalam amplop tersebut serta membaca sekilas data di dalamnya.
Hega mengangguk membenarkan dugaan Bara.
" Gue akan kembali ke rumah besar. Jadi beberapa hari ini gue gak akan ke kantor. "
" HAH ?! Lo serius Ga ? " Bara sontak makin terkejut dengan keputusan sahabatnya itu, Bara tahu keras kepalanya Hega dan alasan kenapa pemuda itu tak mau kembali tinggal di rumah besar keluarga Saint.
Dan keputusan mendadak ini membuatnya heran sekaligus lega juga, mungkin ini jalan agar Hega bisa membuka hatinya lagi untuk keluarganya.
Hega dan Bara menuju ruang inap yang ditempati Moza.
Baru saja akan masuk, didengarnya suara pria di dalam ruangan Moza.
" Bagaimana kalau kita mengakrabkan diri ?! " Suara yang tak asing di telinga Hega membuatnya makin kesal.
" Siapa yang lo ajak mengakrabkan diri ?! " Suara bass Hega menggema di ruangan, mata elangnya menatap tajam pria berjas dokter yang sedang menatap genit pada gadis di atas ranjang.
Hega memasuki ruangan mendekat ke arah ranjang, gadis itu terlihat tidak nyaman, memasang ekspresi antara kesal dan muak. Namun kemudian terlihat tersenyum lega saat Hega mendekatinya.
" Wah.... Siapa ini yang datang ? Presdir Hega Saint kita yang terhormat dan super sibuk, ngapain lo disini ? Lo juga disini Bar ? " Tanya Derka basa-basi sembari menggaruk tengkuknya, seolah baru saja ketahuan sedang menggoda pasien.
" Gue tanya siapa yang baru saja lo ajak mengakrabkan diri ? " Tanya Hega lagi, kali ini suaranya terasa dingin dan mengancam.
Heh.... Kenapa berubah mengerikan gitu ekspresi lo Ga ? Dan apa-apaan pertanyaan lo barusan ? Kenapa gue ngerasa kalau salah jawab maka habislah gue.
Batin Derka melirik ke arah Bara, namun pria itu hanya mengangkat alis dan bahunya acuh. Membuat Derka melotot kesal pada sahabatnya itu tapi lagi-lagi Bara hanya acuh dan malah membuang muka.
Cari mati lo Der. Rasakan. Gue males ikut-ikut, sekali-sekali lah gue lihat lo jadi korban nih beruang kutub. Masa gue mulu yang jadi sasaran bocah nyebelin ini. ~ Bara ~
__ADS_1
" Hehehe.... Gue kan cuma pengen akrab sama sodara lo Ga. Emang salah ya ?! " Derka menggaruk kepalanya serba salah, Bara masih terkikik pelan.
" Salah. " Jawab Hega singkat dan datar tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria berjas putih itu. Dan malah sibuk mengelus kepala Moza dengan lembut.
" Dimana Ayah dan Bunda ? " Tanya Hega lembut.
" Menjemput Ryu dan sekalian aku minta untuk istirahat dulu dan membersihkan diri di hotel. " Jawab Moza lirih dan tersenyum.
" Ehmm.... Kalau begitu aku yang akan menemanimu. " Ucap Hega lagi kemudian duduk di tepi ranjang.
Haaa..... apa gue gak salah lihat nih ? Nih monster beruang kutub kenapa lembut banget memperlakukan nih cewek ? Emang nih cewek siapa si ? Dan apa-apaan senyum mesranya itu.....
Gumam Derka dalam hati, matanya mengerjap beberapa kali tak percaya dengan apa yang dilihatnya, kemudian melirik ke arah Bara meminta pencerahan.
Bara hanya cuek, lagi-lagi mengeluarkan gerakan andalannya, mengangkat kedua bahunya santai dan menjatuhkan tubuhnya di sofa tak jauh dari ranjang pasien yang ditempati Moza.
" Eh sebenernya nona manis ini siapa lo si ? Waktu itu lo panik bawa dia kesini dalam kondisi pingsan. Hari ini kakek Surya yang meminta gue handle langsung perawatannya. " Derka tak bisa lagi menahan keingin tahuannya.
Apa yang tadi dimaksud dokter aneh ini si jutek menyebalkan itu Kak Hega ya ?!
Moza masih asyik dengan pikirannya sendiri, karena setahu gadis itu yang membawanya ke rumah sakit waktu itu adalah sahabatnya Julian.
Meskipun waktu itu Moza sempat mengenali aroma maskulin khas milik Hega dari seseorang menggendongnya saat ia pingsan.
" Gak mungkin kan dia adik lo, wajah gak ada mirip-miripnya juga. Lagipula setahu gue adik lo cuma si kecil Rania, masa iya udah gede aja. Cantik lagi. Ahhh.... Bikin gue pengen daftar buat jadi adik ipar lo Ga. Gak papa deh punya kakak ipar jutek nyebelin kayak lo asalnya istri gue cantik gini. " Merasa tak juga mendapat respon dari Hega, ucapan Derka semakin ngaco.
Membuat Hega mau tak mau harus menanggapi ocehan bocah yang masih berdiri tak jauh darinya itu.
Wkkkkkwkwkwk..... Beneran bosan hidup lo Der. Duh gak tahan gue pengen ketawa, ah.... gue pengen lihat bakal diapain nih bocah sama monster beruang kutub yang baru saja jinak itu.
Bara terkikik pelan berusaha menahan tawa sambil memegang perutnya dan menutup mulutnya sendiri agar tak keceplosan tertawa.
" Bar, bawa bocah gila ini keluar dari sini. Pusing gue dengerin ocehannya. " Perintah Hega sambil melirik ke arah Bara, tangannya menggenggam erat tangan Moza dan kemudian menautkan jari mereka satu sama lain.
" Heh jawab dulu pertanyaan gue dong, main usir-usir aja. " Protes Derka, bibirnya manyun tak terima.
" Udah lo keluar aja, lo masih berani ngomong, habis lo nanti. Bahkan gue aja gak bakal bisa nolong lo. Dasar kebisaan lo ngoceh gak pake mikir. Gelar dokter lo beli kali ya, gak pinter-pinter lo. " Omel Bara sambil merangkul pundak Derka setengah menyeret pemuda itu keluar dari ruangan Moza.
" Sialan lo Bar, gue lulusan terbaik fakultas kedokteran di kampus gue tau. " Omel Derka.
" Eh tunggu dulu dong.... Emang siapa si tuh cewek, masa gue gak boleh pdkt ini. " Lanjut Derka cemberut tak terima, masih berada dibawah kungkungan lengan Bara yang semakin mempererat badannya agar tak lolos.
__ADS_1
" Boleh aja, itu kalau lo udah bosan jadi dokter disini dan mau pindah tugas di Kutub Utara sana, tapi pasiennya Beruang Kutub semua. Hahaha..." Jawab Bara santai kemudian terbahak.
" Cih... Sialan lo... Jawab dulu lah Bar siapa tuh cewek ? " Derka masih saja penasaran berusaha bebas dari rangkulan Bara.
" Calon istrinya Hega. " Masih dengan nada santainya, jawaban Bara justru membuat Derka syok.
" HAH.... Seriusan lo ? Bercanda lo Bar !! " Derka melotot tajam tak percaya, merasa dikerjai oleh sahabatnya.
" Tanya aja lagi sono kalau lo berani ?! " Mendengar ucapan Bara, Derka yang berhasil lepas dari rangkulan Bara berlari kembali ke arah ruangan gadis itu.
" Heh mau kemana lo ? " Teriak Bara kesal.
" Cari kepastian. Berani ngerjain gue, habis lo Bar ! " Ancamnya sambil mengangkat tinjunya ke arah Bara.
" Dasar bocah sial, kenapa juga gue punya sahabat dua laknat semua. " Gerutu Bara menepuk keningnya. Kemudian duduk di kursi yang ada di koridor rumah sakit tersebut.
Tak berselang lama, pemuda berjas dokter itu kembali muncul dengan langkah gontai mendekati sahabatnya.
" Gimana ? Puas lo dapat kepastian ? Hehehe.... "
Bara mengejek kesal lantaran sahabatnya itu tadi sempat tak percaya dengan ucapannya.
Derka ikut duduk di kursi panjang itu dan sedikit menubruk tubuh Bara.
" Padahal gue pikir tuh cewek bidadari yang dikirim malaikat bakal jadi jodoh gue. " Kalimat memelas Derka justru membuat Bara terkikik geli.
" Bisa jadi si, tapi lo harus lebih dulu ngadepin malaikat maut yang nongkrong di dalam sana jagain bidadari dari siluman buaya macam lo. " Ejek Bara.
" Cih... Dasar buaya teriak buaya. Sesama buaya dilarang saling menghina... " Balas Derka membuat keduanya terbahak.
โค๐๐งก๐๐๐โค๐๐งก๐๐๐
Visual nya Buaya eh salah visual nya Bang Bara ๐
Mapkan kalau menghancurkan kehaluan kalian hehe .... ๐๐
Yang punya jempol pencet tombol like ya, ๐๐๐
Yang punya perasaan komentar dong โโโ
__ADS_1
Akuh loh nulis 1200 kata semangat 45, masa dimintain 'satu kata' komentar ajah gak dikasih hehehe..... โโ ๐๐
Yang punya poin boleh dong vote Bang Hega ๐