Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kebiasaan Buruk


__ADS_3

HEGA


Pukul 04.30 kubangun dan segera mandi dan mengambil air wudhu, selepas sholat subuh aku kenakan sebuah celana selutut kaos oblong berwarna biru muda dan sepatu. Meskipun tengah liburan aku tak lantas mengabaikan kebiasaanku untuk jogging, dan sepertinya ide yang bagus lari pagi dan menghirup segarnya udara puncak.


Saat hendak menuruni tangga, kulihat Bara membuka pintu kamarnya, tampak baru saja terbangun dari tidurnya.


" Jogging ? " tanyanya sambil menguap, yang kujawab hanya dengan anggukan.


" Lo mau ikut gak ? " tanyaku kemudian sambil berjalan menuruni tangga.


" Not now, gue masih ngantuk. Lo aja duluan. " katanya lagi sambil mengikutiku menuruni tangga dan melangkah masuk ke arah dapur.


Perlahan kulangkahkan kakiku keluar villa, pemanasan sejenak dan lanjut berlari memasuki area lahan perkebunan. Sekitas 30 menit berlalu kuputuskan untuk istirahat di kursi kayu di ujung jalan yang menghadap ke area kebun teh, semoga kursi itu masih ada disana pikirku dalam hati. Dari kejauhan kulihat seseorang yang tak asing tengah lebih dulu duduk disana. Kali ini tentu saja bukan dengan piyama beruangnya, perlahan kulangkahkan kakiku menuju kesana.


*A**UTHOR*


Tampak asyik menikmati pemandangan dihadapannya sehingga sepertinya hampir tak menyadari seseorang tengah mendekat ke arahnya. Perlahan Hega mendaratkan tubuhnya disamping gadis itu berusaha agar tak membuatnya terkejut, namun usahanya gagal karna gadis itu tampak terlonjak kaget nyaris saja terjatuh dari kursi jika saja Hega tak sigap menahan Moza dengan lengannya.


" Maaf, sepertinya sekali lagi aku mengejutkanmu. " kata Hega dengan nada menyesal.


" Tidak apa. " jawabnya singkat. Kenapa dia hobi mengejutkan orang sih, pikir Moza dalam hati.


" Kamu jogging ? " tanya pria itu basa-basi.


" Tidak, hanya jalan-jalan santai. " jawab Moza tanpa mengalihkan matanya dari pemandangan dihadapannya.


Jalan santai ? Jam berapa gadis ini keluar villa jika jam segini sudah ada disini padahal hanya jalan santai, dibanding aku yang tengah jogging, mungkin itulah yang tengah dipikirkan pemuda itu saat ini, namun segera dialihkan pikiran tak penting itu.


" Kamu sendirian ? " tanya Hega lagi sambil iseng melihat sekeliling.


" Iya, Anda juga tampaknya sendirian. " kata Moza kemudian.


" Bara baru saja bangun dan terlihat masih lelah setelah perjalanan kemarin. " jawabnya.


" Pft, teman-teman saya justru sepertinya masih terlelap di ranjang mereka. " tampak gadis itu setengah menahan senyum sambil menoleh ke arah pria disampingnya.


" Sepertinya kita senasib. " ucap pria itu kemudian dengan nada datar yang kemudian disertai tawa dari mereka berdua.


" Apa kamu tidak keberatan jika aku temani ? " tanya pria itu yang kemudian tampak dia sesali setelah mengucapkannya.


" Saya tidak suka jogging karena sudah bosan maraton. " katanya kemudian yang membuat Hega tampak mengerutkan dahi bingung namun enggan bertanya lebih jauh.


" Nanti akan membuat Anda tidak nyaman karena saya berjalan pelan. " lanjut gadis itu.


" Aku sudah jogging sekitar setengah jam dari villa, sepertinya tidak buruk juga jika berganti menjadi jalan santai." kata pria tampan itu dengan nada santai.


" Baiklah. " kata Moza singkat, toh sepertinya gadis cantik ini butuh pemandu, karena sepertinya lupa rute jalan untuk kembali ke villa.


" Jika nanti Anda ingin jalan lebih dulu karena saya terlalu lambat, jangan sungkan untuk pergi lebih dulu. " lanjutnya kemudian.


" Hn." kata Hega sepakat.


Kemudian keduanya tampak berjalan bersama mengitari area perkebunan dan setelah beberapa saat memutuskan kembali ke villa.


" Terima kasih untuk semalam dan pagi ini. " kata gadis itu saat keduanya hampir sampai di villa keluarga Prasetya.

__ADS_1


" Tidak perlu. " kata pria itu singkat.


" Setidaknya bisakah tidak menggunakan saya dan anda ? " lanjutnya kemudian setelah merasa aneh setiap kali berbincang dengan gadis itu selalu saja menggunakan kata saya dan anda yang hanya dia gunakan jika sedang dalam percakapan bisnis.


Kemudian gadis itu berbalik kearah Hega dan berkata, " Saya merasa tidak cukup akrab dengan anda untuk menggunakan kata aku dan kamu,..."


Baru saja Hega hendak mengucapkan sesuatu, gadis di hadapannya kembali melanjutkan kalimatnya yang ternyata masih belum selesai.


" Hmm ... dan saya cukup punya sopan santun untuk tidak menggunakan lo gue saat berbicara dengan orang yang lebih tua dari saya. Saya permisi masuk terlebih dulu, sekali lagi terima kasih. " kata gadis itu sambil berbalik badan melangkahkan kaki memasuki gerbang villa. Meninggalkan pria itu di belakang yang tampak tercengang sesaat karena jawaban tegas gadis itu, namun akhirnya ikut melangkah masuk kembali ke villa.


Dari kejauhan tampak sepasang mata tengah memperhatikan kedatangan mereka dengan ekspresi keheranan.


MOZA


Memasuki bangunan villa, aku disambut oleh Deana yang tampak baru saja terbangun dari tidurnya.


" Darimana lo Mo ? " tanyanya sambil menguap yang kemudian kurespon dengan menutup hidungku dengan telapak tanganku berniat menggodanya.


" Jalan-jalan. " jawabku singkat sambil berjalan ke arah dapur hendak mengambil air minum.


" Emang lo tahu jalan ? " tanyanya sambil mengikutiku ke dapur, tampak istri penjaga villa sedang memasak disana.


" Buktinya aku sampai di villa lagi. " kataku sambil menuang air dari dispenser.


" Dan tentu saja terima kasih pada seseorang. " gumamku lirih saat melihat teman kak Bara itu tengah memasuki dapur, dan sesaat aku seperti melihatnya tersenyum seolah dia mendengar perkataanku.


Dan aku sadar bahwa dia betul-betul mendengarnya saat dia berbalik badan setelah mengambil botol air mineral dari dalam lemari es dan berkata padaku dengan pelan, " Sama-sama."


Kemudian tampak tersenyum sambil berjalan meninggalkan dapur.


" " . kualihkan pandanganku pada Deana yang tengah terbengong, semoga dia tak mendengar perkataan pria barusan.


" Lo liat gak tadi ? " katanya seolah syok.


" Apaan ? " tanyaku seolah merasa ketahuan.


" Kak Hega senyum, manis banget.... Pagi-pagi sudah dapat anugrah. " katanya kemudian dengan nada seolah tak pernah melihat pria itu tersenyum.


Setelah kupikir-pikir memang sepertinya hampir tak pernah melihat sahabat kak Bara itu senyum, kecuali tadi saat di kebun teh sih, tuh orang bukan hanya senyum, tapi juga tertawa. Kalo lihat senyumnya aja dianggap anugrah, mungkin tawanya jadi mujizat kali ya, pikirku kemudian sambil senyum sendiri. Ah yang penting aku gak ketahuan Deana.


" Kamu mimpi, mandi sana biar sadar. " kataku kemudian menggodanya sambil menjitak pelan dahinya seolah ingin menyadarkan sahabatku itu dari khayalan bodohnya. Yang aku sendiri tahu bahwa itu bukan khayalannya, tapi memang benar jika pria tadi tersenyum. Tapi aku yakin Deana akan ribut nanti bercerita pada Renata dan Amira jika dia sadar bahwa apa yg dilihatnya adalah kenyataan.


Aku segera berjalan memasuki kamar dan membersihkan diri. Kemudian berkumpul dengan yang lainnya di ruang makan, membantu istri penjaga villa yang kuketahui namanya adalah Bu Ratna saat tadi berkenalan di dapur.


" Penyakit lo kambuh Mo ? " tanya Deana yang membuat semua orang yang tengah menikmati sarapan menatap ke arahku.


" Uhuk... uhuk.... " aku nyaris saja tersedak dan menyambar air putih di depanku.


" Lo punya penyakit apaan Mo ? Kok gak bilang-bilang ? Sekarang udah gak papa kan ? " tanya Renata tanpa henti.


" Ralat pertanyaanmu itu. " kataku sambil melotot ke arah Deana.


" Sorry, maksud gue kebiasaan buruk lo yang sulit tidur di tempat baru hehehe... " katanya kemudian meralat kalimatnya sambil cengengesan.


" Hn. " kataku singkat.

__ADS_1


" Jadi lo gak tidur sama sekali ? " tanya Dimas kemudian.


" Tidur kok. " kataku kemudian sambil menusuk potongan ayam di depanku dengan garpu.


" Gue kebangun jam lima lo gak ada. " kata Deana kemudian.


" Lo mimpi De, aku ada kok. " kataku kemudian dengan santai karna aku yakin Deana tidak mungkin sepenuhnya terbangun melihat ekspresi nya tadi saat aku baru kembali dari jalan-jalan. Dan sekilas kulirik pria di samping kak Bara tengah menatap ke arahku juga, berharap dia tak membocorkan kebohonganku, dan syukurlah sepertinya dia bukan tipe orang yang akan mencampuri urusan orang lain.


Selesai sarapan, kami bersantai sejenak di ruang tengah, merencanakan kegiatan untuk mengisi liburan kami tiga hari kedepan. Saat tiba-tiba Dimas kembali mengungkit pembicaraan di meja makan yang aku pikir sudah selesai.


" Beneran lo gak begadang semalaman kan ? " tanyanya lagi.


" Nope. " jawabku singkat.


" Terus jam berapa lo tidur ? " Deana menyela.


" Sekitar jam 1 pagi mungkin aku lupa. " kataku kemudian sambil meraih remote tv di atas meja berusaha menutupi kebohonganku yang nyatanya baru saja bisa tidur pukul 02.30 pagi dan itupun terbangun pukul 4.


" WHAT ? " kata mereka berlima hampir bersamaan.


" Kenapa gak bangunin kita ? " tanya Amira.


" Gak papa, aku udah terbiasa, kalian juga pasti capek habis perjalanan. Lagipula cuma hari pertama gitu, selanjutnya enggak kok. Ntar malam pasti normal lagi kok. " kataku menjelaskan kebiasaan anehku berusaha menghilangkan kekhawatiran mereka.


" Janji ya kalo gitu lagi bangunin kita, biar ada temennya. " kata Amira lagi masih tampak khawatir.


" Bener tuh, ntar lo sendirian disamber setan loh. " kata Julian menggodaku.


" Ish, jangan nakutin juga kali Jul. " kataku kemudian sambil melempar bantal sofa ke arah Julian.


" Cewek cakep kayak lo dek, paling yang nyamber setannya ganteng juga. " kata kak Bara kemudian tampak melirik kearah pria disampingnya.


" Bisa gitu ya bang ? " tanya Deana polos.


" Yah mana berani setan jelek nyamber, pdkt aja palingan minder. " jawabnya asal yang disambut tawa oleh semuanya, kecuali aku dan pria yang tengah duduk di samping kak Bara yang hanya tersenyum sambil meminum secangkir kopi.


" Cih,." dengusku kesal.


" Terus tadi pagi lo dari mana Mo ? Jangan bilang lo jogging. " tanya Deana setelah meredam tawanya.


" Ngapain juga dia jogging, bukannya udah master maraton. " kata Julian kembali asal bicara, dan sekali lagi disambut tawa oleh Deana, Amira dan Renata.


" Lo ikut kejuaraan maraton dek ? " tanya bang kak Bara lagi sambil mengernyitkan dahinya.


" Bukan lomba bang, cuma dia tuh suka bangun kesiangan terus ke kampus lari pagi. " kata Deana menjelaskan.


" Tapi itu dulu, waktu tahun pertama. Sekarang sudah rajin kok hehe... " lanjut Deana seolah mendapat ancaman dari tatapan mataku.


" Banyak bener kebiasaan buruk lo ya Mo kalo dipikir-pikir. Gue penasaran masih ada lagi kagak ? " sahut Julian dengan nada menggoda.


" Ugh. " dengusku kesal sambil meraih bantal sofa milik Renata dan melemparnya kembali ke arah bocah itu yang lagi - lagi diiringi tawa semuanya.


" Orang cantik mah bebas dek, punya seribu kebiasaan buruk juga kagak keliatan, masih kalah ma muka cantiknya. Kalo gak ada yang mau, nih masih ada Abang yang bersedia kok. " Ucap kak Bara lagi semakin asal dan kali ini membuat beberapa bantal sofa mengarah padanya.


^^ Banyak hal yang perlu dilakukan agar membuat seseorang nyaman berada bersama kita, tutur kata, sikap dan perbuatan. Jangan sekali-kali memaksakan apa yang kamu inginkan pada diri orang lain. Karena setiap orang memiliki pribadi yang berbeda. Maka jika kita ingin menjalin hubungan baik dengan seseorang, lakukan dengan perlahan dan ketulusan maka ia akan merasakan kesungguhanmu.

__ADS_1


Bukan dengan tekanan dan paksaan, yang akan membuatnya semakin menjauh dari jangkauanmu. ^^ ( Sherinanta )


__ADS_2