Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kembalinya Fabian


__ADS_3

AUTHOR


Moza melihat tatapan berbeda dari pria yang sudah tiga tahun lebih ini tidak ditemuinya. Fabian memang masih terlihat seperti sosok yang sama, sosok yang sempat menempati sudut hati Moza.


Seorang pemuda yang dulu memperlakukannya dengan tulus tanpa maksud tersembunyi. Satu-satunya pemuda yang bisa membuatnya percaya untuk bersandar disaat rapuhnya.


Hingga tiga tahun lalu, pria itu tiba-tiba menghilang dan meninggalkan lubang menganga di hatinya, hingga seorang Julian hadir menutupi sedikit demi sedikit lubang hampa dalam dirinya itu.


Mengembalikan kepercayaan Moza tentang arti persahabatan dari seorang pria. Dan selama ini Moza mengira jika lubang itu sudah tertutup sepenuhnya. Hingga hari ini pria itu datang kembali, Moza baru menyadari jika ada sedikit bagian dari sudut hatinya yang masih menunggu sosok di hadapannya itu.


Bagaimanapun Fabian pernah menjadi penguat saat Moza berada dalam titik terendah hidupnya. Mengembalikan kepercayaan pada dirinya jika seorang pria tidak hanya berniat mengencaninya dengan mendekatinya. Membuatnya percaya jika persahabatan antara pria dan wanita itu benar-benar ada.


Tapi Fabian datang memberikan uluran persahabatan yang tulus, bahkan Fabian menawarkan perlindungan sosok seorang kakak yang saat itu tidak dimilikinya karena kepergian sang kakak untuk selamanya.


Tapi setelah sekian lama, saat pemuda itu tiba-tiba kembali, Moza melihat sesuatu yang lain dalam tatapan mata Fabian untuknya.


Sesuatu yang paling tidak ingin dilihatnya dari mata elang sahabatnya itu.


Sesuatu yang Moza yakin akan menjadi penghancur hubungan persahabatan diantara mereka.


Tanpa sadar dan tanpa bisa dikendalikan air mata yang sedari tadi sudah tertahan di pelupuk mata gadis itu akhirnya meleleh juga dan membasahi pipi putih Moza.


Fabian terkesiap seketika melihat gadis dihadapannya malah meneteskan air mata. Fabian reflek berdiri dan hendak menghapus air mata Moza, tapi gadis itu mengangkat telapak tangannya menepis pelan jemari Fabian yang sudah berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya itu.


" Mo, apa aku mengatakan sesuatu yang membuatmu terluka ? " Tatapan mata Fabian berubah sendu.


Moza menyeka air matanya dengan jari-jarinya, menatap lekat pada pemuda yang terlihat jelas mencemaskannya.


Ditatapnya kedua mata Fabian dengan sangat lekat, " Fabian, berhenti lah sampai disini ! " Ucap Moza lirih, terdengar menahan kekecewaan dan kepedihan di hatinya.


Fabian membalas tatapan gadis itu dengan gelisah, kedua mata elang Fabian menyipit, " Apa maksud kamu dengan berhenti sampai disini ? "


" Hatimu. "


Pria itu beringsut di kursinya dan mendengus lirih, " Kamu langsung mengerti ucapanku saat aku mengatakan 'ingin lebih'. "


Gadis itu mengangguk.


" Sepertinya apa yang aku ajarkan padamu justru menjadi boomerang untuk diriku sendiri sekarang. Dulu aku mengajarkan padamu bagaimana mengartikan tatapan pria padamu, agar setidaknya kamu tahu pria mana yang mendekatimu dengan tujuan lain selain pertemanan, terutama mereka yang mendekatimu karena menginginkanmu menjadi milik mereka. Dengan begitu kamu bisa mempersiapkan perisai pelindung untuk dirimu sendiri saat menolak mereka. " Ucap Fabian seraya mengingat masa lalu.


" Namun disisi lain, sebenarnya aku juga ingin membuat pembatas di hatimu untuk para pria yang mendekatimu. Dan memberiku kepastian jika saat aku kembali hatimu masih akan tetap sama. Dan saat itu aku yang akan berusaha memasuki hatimu yang terkunci itu. " Lanjutnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


" Tapi apa ini yang aku dapatkan ?! Saat aku kembali, kamu justru mengambil jarak denganku karena kamu melihat arti lain tatapan mataku untukmu. " Tatapan Fabian berubah sendu dan penuh penyesalan sekaligus kekecewaan.


Penyesalan kenapa saat itu dirinya harus pergi dari sisi gadis itu, dan kekecewaan mendapati sambutan dingin dari gadis yang dirindukannya selama bertahun-tahun ini.


" Fabian, Cukup ! " Sela Moza lirih.


Fabian menutup sejenak kedua matanya dan mengepa nafas berat seolah sedang mengumpulkan kekuatan terakhirnya.

__ADS_1


" Ya . . . Aku akui, aku mencintaimu Mo. Aku menginginkanmu, dan aku kembali untuk memilikimu. Maka dari itu, ikutlah denganku ! Aku akan membahagiakan kamu. " Ujar Fabian dengan penuh percaya diri.


" Fabian . . . Aku. . . "


Fabian menyambar tangan Moza dan menggenggamnya dengan lembut, " Ssssst . . . . Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu siap. " Ucapnya lembut.


" Tidak, Bian. Aku tidak bisa. " Moza berusaha menarik tangannya dari genggaman Fabian, tapi pria itu malah mengeratkan genggamannya. Membuat Moza sedikit meringis kesakitan, tapi gadis itu berusaha menahannya.


" Kenapa ? Jangan bilang karena persahabatan kita. Jika itu alasannya, aku yakin bisa mengubah hatimu, Mo. Jadi berikan lah aku kesempatan ! Berikan juga kesempatan untuk hubungan kita berdua ! " Pinta Fabian tanpa sedikitpun melonggarkan genggaman tangannya.


" Bian, tolong lepaskan dulu tanganku ! " Moza masih meringis menahan sakit di pergelangan tangannya.


" Tidak akan ! Sampai kamu mengatakan iya atas permintaanku tadi. Bahwa kamu akan memikirkan permintaanku untuk memberi kesempatan untuk hubungan kita. " Tegas Fabian sambil menatap lekat kedua manik mata kecoklatan yang dirindukannya.


" Bian, aku tidak bisa. Lepaskan ! " Moza masih berusaha melepaskan tangannya tapi tidak sedikitpun Fabian berniat melepaskan genggamannya.


" Fab. . . "


" Tolong anda lepaskan tangannya ! " Sebuah suara bass menyela dari arah belakang punggung Moza.


β€’


⚘⚘⚘


Disisi lainnya,


Hega keluar dari restoran meninggalkan Julian menyelesaikan urusan Alina disana.


~ Dalam Panggilang Telepon ~


( Selamat siang Tuan Muda. )


" Ragil, dimana Nona Moza sekarang ? "


( Nona ada di De Cafe bersama teman-temannya Tuan Muda. )


" Berapa orang ? "


( Lima orang dengan Nona. )


Lima orang ? Jika itu Deana, Amira dan Renata. Harusnya mereka hanya berempat. Lalu siapa yang satu lagi ? Apa Dimas ? Ah tidak, Julian bilang Dimas sedang mengurus kafenya di luar kota.


( Halo...halo... Apa Tuan Muda masih disana ? )


" Ragil, apa kamu mengenali semua teman Nona yang sedang bersamanya ? "


( Satu orang pemuda terlihat asing Tuan Muda, tapi ketiga teman perempuannya adalah mereka yang selalu bersama dengan Nona. )


Seorang pria ? Siapa ? Apa pria yang ada di foto yang tadi Alina tunjukkan ?

__ADS_1


" Baiklah, lanjutkan tugasmu ! Terima kasih atas informasi yang kamu berikan. "


( Baik, Tuan Muda. Selamat siang. )


Tut tut tut. . .


Mendapat informasi dari sang pengawal pribadi Moza, Hega segera melajukan kendaraannya ke tempat dimana kekasihnya itu berada.


Tidak butuh waktu lama, sekitar kurang dari setengah jam Hega berada di area parkir kafe milik dari adik Bara itu.


Dengan cepat Hega segera keluar dari mobilnya dan menuju pintu masuk kafe.


Dilihatnya ketiga sahabat dari Moza yaitu Deana, Amira dan Renata tampak duduk di salah satu meja di sudut ruangan. Dan betapa resahnya Hega saat tidak mendapati sosok gadis yang dicarinya.


" Abang ganteng, sini ! " Suara cempreng Renata setengah berbisik seraya melambaikan tangannya ke arah Hega.


Hega mendekati ketiga sahabat Moza, " Dimana Momo ? " Tanyanya langsung bahkan tanpa duduk ataupun menyapa satu per satu gadis itu.


" Eh . . . I-itu bang, Momo lagi ngobrol sama temen SMA kita dulu. Tuh disana. " Jawab Deana ragu seraya menunjuk ke sudut lain kafe.


" Abang jangan salah paham dulu ya ! " Lanjut Dea saat melihat ekspresi aneh di wajah Hega.


" Saya cukup tahu bagaimana calon istri saya, Dea. Hal seperti ini tidak akan membuat saya salah paham. " Ucap Hega datar.


" Tapi sepertinya teman SMA kalian itu sudah mulai melewati batas, jadi saya tidak bisa lagi tinggal diam. " Lanjut Hega sembari menunjukkan apa yang sedang terjadi di meja dimana Moza dan Fabian tengah berbincang tersebut.


Ketiga gadis itu sontak menoleh seketika, mengamati apa yang sedang terjadi disana. Manik mata Deana membulat sempurna saat dilihatnya Moza terlihat menyeka air matanya. Dan beberapa saat kemudian sekali lagi dilihatnya Fabian mencengkeram lengan Moza hingga terlihat sahabatnya itu meringis menahan sakit.


Seketika itu juga Deana hendak beranjak berdiri menghampiri meja tempat Moza dan Fabian berada. Tapi Hega menahan bahu Deana.


" Biar saya yang menyelesaikan ini ! " Ujar Hega.


" Tapi, bang . . . " Deana jelas khawatir terjadi keributan jika membiarkan tunangan sahabatnya itu menghampiri meja tersebut.


" Tenang saja, saya cukup punya etika untuk tidak menggunakan kekerasan di tempat umum. Kecuali jika teman kamu itu benar-benar tidak bisa dihadapi dengan akal sehat manusia. " Ucap Hega datar dan menatap tidak suka ke arah pria yang tengah berbicara dengan kekasihnya.


Dengan langkah mantap sekaligus menahan amarah, Hega mendekat ke arah meja di sudut kafe. Terlihat jelas Moza sedang berusaha melepas tangannya dari cengkraman pria itu, dan jelas juga terlihat tidak ada sedikitpun niat pria itu melepaskan tangan Moza.


" Tolong anda lepaskan tangannya ! " Ucap Hega dingin, menatap Fabian dengan tatapan permusuhan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Akankah terjadi adu jotos ?!!


Siapa yang suka bau2 kecemburuan kek gini ?!


Ada yang bilang mau nikah aja masih ribet juga dikasih konflik !


Ya dasarnya banyak kejadian nyata seperti itu ya, cobaan selalu ada apalagi menjelang hari H pernikahan...

__ADS_1


Gue gak tahu thooor... Kan gue belom nikah πŸ€”


Makanya nikah sana 🀣🀣🀣 Jomblo dipelihara . . .Kambing dipelihara gemuk, lah jomblo dipelihara... Bawaannya baper mulu. . . [ Canda loh Yah... ]


__ADS_2