
AUTHOR
Hega tampak sesekali tersenyum mendengar celotehan Renata yang seolah-olah menjadi juri penilai para pria, apalagi ketika gadis itu tengah berbicara panjang lebar tentang dirinya.
Sesekali mencuri pandang gadis didepannya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan ocehan temannya.
Pemuda itu seolah ingin tahu ekpresi atau respon gadis itu terhadap apa yang tengah menjadi perbincangan diantara sekumpulan pemuda pemudi ini.
Namun ia hanya dapat melihat ekspresi datar dari gadis itu, hanya sesekali tersenyum tipis seolah hanya mengikuti tawa dari teman-temannya.
Sepertinya bahan pembicaraan yang tengah berlangsung sama sekali tak menarik minatnya.
Selama ini tidak sedikit yang menyebutnya sebagai sosok pria sempurna. Tampan, memiliki postur tubuh dan kecerdasan yang sempurna, serta kekayaan yang luar biasa baik dari hasil kerjanya sendiri ataupun kerajaan bisnis yang diwariskan oleh sang kakek padanya.
Jangankan untuk menjadi kekasihnya, banyak wanita akan rela mengantri hanya untuk sekedar bertemu dengannya. Melakukan segala cara baik normal ataupun seringkali ekstrem untuk bisa mendekati pemuda itu.
Namun tak satupun perempuan yang bisa meluluhkan hatinya, atau hanya sekedar dekat dan berbincang ringan dengannya.
Dan untuk pertama kalinya Hega merasakan kekhawatiran mendengar kata perfect man yang nyatanya sudah melekat pada dirinya. Apalagi saat menatap gadis dihadapannya, yang tampak dengan santai menikmati kentang goreng yang ada dimeja.
Apa yang kamu pikirkan dalam diam mu ? Apapun itu semoga kamu tidak sepemikiran dengan sahabatmu, sehingga aku akan memiliki sedikit peluang untuk lebih dekat denganmu.
Batin Hega sambil meneguk minumannya dan menatap sekilas gadis cantik itu.
🍒🍒🍒
" Udah ah bang, Rena ngantuk mau bobok. " ucap Renata.
" Gue juga ikutan. " Amira ikut beranjak dari kursinya.
" Yah kok pergi dek, lanjutin napa lagi seru-serunya juga. " omel Bara.
" Ogah ah, ntar gue ketiduran disini, kasihan kalo abang mesti gendong gue ke kamar, badan gue berat bang hahaha.... " celoteh Renata seolah menggoda sahabatnya.
" Mana ada berat, abang dengan senang hati dek gendong cewek cantik.... " jawab Bara tak kalah usil sambil menyikut lengan sahabatnya.
Amira dan Renata segera beranjak meninggalkan taman dan memasuki villa menuju kamar mereka.
" Deana juga mau masuk aja deh, capek. " ikut beranjak dari kursinya sambil menarik lengan sahabatnya yang sepertinya sudah tampak kelelahan juga.
" Yaelah kok ikutan pergi sih dek, sini aja ntar kalo ketiduran abang gendong kayak kemarin malam, ya kan Ga ? " ucapnya lagi sambil melirik kearah gadis disebelah Deana, sekilas tampak wajah gadis itu sedikit merona namun tetap terdiam dan memilih mengikuti saja sahabatnya.
" Ish... Modus abang mah.... Yuk Mo kita masuk. " kata Deana sambil menatap sang sahabat.
" Duluan ya. " pamit kedua gadis itu sambil menatap bergantian kearah keempat pemuda yang masih tenang di kursi mereka.
Sekilas sepasang mata Hega dan Moza bertemu, gadis itu tampak sedikit canggung dan berusaha segera mengalihkan pandangannya dari sorot mata tajam pria di hadapannya.
Sedangkan Hega tampak tenang dan tersenyum kearah gadis itu, senyum yang sudah ia persiapkan dengan sepenuh hati dengan menahan segala kegelisahan di dalam dirinya. Berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi jutek nya dihadapan gadis itu seperti yang ia lakukan pagi tadi.
Huft.... Untung saja dia lekas pergi, kalau tidak aku gak akan sanggup menahan lebih lama. batin Hega lega saat kedua gadis itu melangkah dengan cepat menuju villa.
__ADS_1
Bara diam-diam tersenyum melihat ekspresi sahabatnya saat mendapati pemuda disampingnya menghela nafas, tampak lega seolah baru saja terbebas dari sebuah siksaan.
Tidak terasa waktu hampir menunjukkan tengah malam, keempat dara cantik yang sudah memutuskan untuk istirahat dikamar mereka meninggalkan para pria di taman.
Sedangkan para pria masih enggan beranjak dari kursi taman dan memilih melanjutkan obrolan para pria.
" Jadi lo bakal kerja di perusahaan papi lo Jul ? " tanya Dimas melanjutkan pembicaraan perihal liburan semester mendatang.
" Maunya sih gue liburan main-main aja, belum siap ngurusin perusahaan papi gue. " ucapnya sambil tertawa.
" Tapi kartu kredit gue bakal disita kalo gue gak mau belajar ngurusin perusahaan. " lanjutnya sambil memasukkan keripik kentang ke mulutnya.
" Kalo bukan lo siapa lagi coba yang bantuin papi lo. " ucap Dimas lagi.
" Gue maunya kayak lo, usaha sendiri. " balasnya.
" Yakin lo mau usaha sendiri ? Waktu lo buat pacaran bakal berkurang. " kata Dimas kemudian sambil tertawa.
Bara dan Hega tampak menyimak pembicaraan kedua pemuda yang lebih muda dari mereka itu. Terlihat belum menemukan celah untuk bergabung dalam pembicaraan tersebut.
" Iya juga sih hahahah..... " jawab Julian kemudian.
" Masalahnya gue gak boleh langsung masuk di perusahaan, papi gue maunya gue magang dulu di tempat lain. Kerja ikut orang dulu, cari pengalaman sambil belajar. Kalo nyuruh ngurus perusahaan ya harusnya diajarin langsung diperusahaan, ngapain coba mesti kerja di tempat lain dulu , repot bener. Enak lo kan bebas usaha sendiri. " omel Julian.
" Itu berarti papi lo maunya lo belajar mandiri dan bertanggung jawab dek. Ya nggak Ga ?. " sambar Bara disambut anggukan sang sahabat.
" Emang bang Hega dan Bang Bara juga gitu ? "
" Kalo abang bukan gak mau nerusin perusahaan keluarga, masih mau cari pengalaman dulu, belajar sama mister jenius penggila kerja ini, lagipula papi abang masih mampu mengurus perusahaan kami. Suatu saat abang sama Dimas mau gak mau yang akan melanjutkan. Sekarang masih jalan sesuai keinginan masing-masing. " lanjut Bara panjang lebar.
" Saya dan kamu sama-sama anak tunggal, yang mau tidak mau harus melanjutkan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Karena orang tua kita sudah bekerja keras untuk membangun usaha sampai sebesar ini juga untuk kita. Jadi saya rasa wajar jika papi kamu ingin kamu belajar sejak dini untuk bertanggung jawab pada perusahaan keluarga kamu. " Hega menambahkan.
" Tapi kenapa coba gak langsung aja papi gue yang ngajarin gitu bang, kenapa harus cari pengalaman di tempat lain dulu ? " tanya Julian.
" Apa kamu yakin jika kamu langsung belajar di perusahaan papi kamu, kamu tidak akan bekerja semau kamu ? Apakah kamu punya kepercayaan diri yang cukup besar jika kamu akan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan kamu dan bukan mengandalkan status kamu sebagai anak pemilik perusahaan dan mengabaikan tugas kamu ? " jawab Hega dengan nada sedikit menekan sejenak membuat merinding Julian dan Dimas.
Bara hanya tersenyum mendengar penuturan sahabat sekaligus boss nya di kantor itu. Untuk urusan profesionalisme kerja, Hega adalah sosok paling sempurna yang dikenal Bara yang pasti memiliki jawaban yang paling tepat untuk hal semacam ini.
" Kayaknya papi lo udah ngerasa kalo lo bakalan seenaknya sendiri kalo lo langsung masuk ke perusahaan keluarga lo. Palingan nanti lo sering bolos. " sambar Dimas menggoda sahabatnya.
" Iya juga sih. " jawab Julian jujur sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, disambut tawa dari Dimas dan Bara.
" Bang Hega gak berat gitu masih muda sudah menanggung beban kewajiban perusahaan yang begitu besar ? Kenapa bukan om Arya yang lebih dulu memegang tanggung jawab itu ? " tanya Julian tiba-tiba yang disambut semburan air dari mulut Bara.
Baru saja ingin menghentikan pembicaraan yang mengarah bahaya ini, namun belum sempat berkata apapun pemuda disampingnya kembali angkat bicara.
" Mungkin kakek saya menganggap saya lebih mampu mengemban tanggung jawab itu daripada papa saya. " jawab Hega dengan nada datar sambil kemudian meneguk kembali air mineral di depannya.
Sedangkan Bara yang sempat merasa cemas langsung merasa lega mendapati sang sahabat tengah merespon dengan tenang pertanyaan berbahaya yang dilontarkan Julian yang memang tidak tahu apa-apa perihal sejarah keluarga pemuda itu.
☘☘☘
__ADS_1
☘☘☘☘
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
🌟 IKLAN 🌟
Pembaca : thor gue mau komplen....😡
Me : Ish... apaan tiba-tiba nongol mau komplen...🤔🤔
Pembaca : tuh bang Hega kok gaya bahasanya berubah muluk... gue jadi bingung bacanya....
Me : bingug napa ?
Pembaca : kadang lo gue, aku kamu, nah nis sekarang pake saya kamu ???? 🤔🤔🤔🤔
Me : Maklum ya Bang Hega kan berpendidikan tinggi, punya manner sempurna. cirinya gini biar gak bingung 👇
🍁 Mode Bisnis : Saya - Anda
🍁 Mode Teman : ada 2 versi
☘ versi Fun : Lo - Gue
☘ versi serius : Saya - Kamu
🍁 Mode Monolog : Aku
Pembaca : noh bukannya dia pernah komplen sama si Moza jangan pake kata 'saya'..... Maunya gimana sih.....pake lo gue gitu.... ? kan gak romantis ?.....
Me : kalo sama gadis singa bang Hega gak mau pake aku / lo / saya....
Pembaca : lah terus.... ????🤔🤔🤔
Me : maunya pake saya + ng ......😍😍😍😍😍
Pembaca : setujuuu.... lanjutkan thor....
Me : sabar...... kita tunggu aja gimana mereka nanti ngobrolnya kalo udah pdkt....
Pembaca : 😍👍👍👍👍👍
Me : diriku tunggu juga like comment and poin nya yah.... jangan pelit - pelit ...😊😊😊 ntar diriku juga pelit kasih adegan sayang-sayangannya.....
Pembaca : idih ngancem lu....
Me : biarin.... 😛😛😛😛
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
__ADS_1
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘