
AUTHOR
" Mari kita akhiri disini kak, lepaskan aku. "
Kalimat itu akhirnya terucap dari bibir Moza, gadis itu meremas-remas tangannya sendiri. Bibirnya terasa kelu, matanya memerah menahan bulir air mata.
" " . Hega menatap tajam gadis itu, mencari sesuatu di bola mata kecoklatan milik Moza.
" Kita sama-sama tahu tidak ada kemungkinan bagi kita untuk bersatu. " Lanjut Moza lirih.
Moza membuka tasnya, mengeluarkan kotak bludru berwarna hitam. Menghadap ke arah Hega yang masih menatapnya lekat-lekat. Gadis itu berusaha menghindari tatapan mata itu, hatinya masih teriris sembilu.
" Jangan lanjutkan. "
Potong Hega, tenggorokannya terasa tercekat mendengar ucapan gadis itu, tangannya mencengkeram erat kemudi. Kemudian memejamkan mata sejenak, sekejap kemudian menatap mata Moza secara intens, memerintah agar bibir itu berhenti bicara.
Karena apapun yang akan keluar dari bibir itu tak akan mempengaruhi keputusannya.
Moza meraih tangan Hega, meletakkan kotak hitam kecil itu di telapak tangan pemuda itu.
" Lepaskan aku kak, dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Berbahagialah dengan pilihan keluargamu. "
Moza masih tetap melanjutkan kalimat demi kalimat yang sudah disusunnya, meskipun keteguhan hati yang dipersiapkannya sedari tadi sudah luluh lantak.
" Tapi aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan pernah. " Tegas Hega.
" Kak, penuhilah janji perjodohan itu. " Dengan menahan gemetar Moza mengucapkan kalimat yang menyakitkan dirinya.
" Berhentilah mengatakan kalimat yang menyakiti hatimu sendiri. "
Hega meletakkan kotak hitam ditangannya, mendekati Moza dan menyentuh lembut bibir gadis itu yang tengah gemetar selepas mengucapkan kalimat itu.
" Lagipula bukan aku yang berjanji, aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang perjodohan itu. Jadi aku... "
" Sssttt..... "
Moza berhambur ke pelukan Hega, mendekap pemuda itu dan mengelus punggung Hega dengan lembut.
Perlakuan Moza sontak membuat Hega tercengang, luluh seketika, mulutnya tertutup rapat menurut pada gadis itu untuk menghentikan kalimatnya.
Tangannya kini membalas pelukan gadis itu, satu tangan mengelus rambut Moza yang terurai. Menghirup wangi yang dirindukannya, terasa penderitaannya selama ini musnah seketika.
" Kak, bukankah sebagai seorang anak, kita memiliki kewajiban untuk menyelesaikan segala hutang orang tua kita ? " Ucap gadis itu masih berada di pelukan Hega.
" Hmmm. " Jawab Hega singkat.
" Perjodohan itu adalah janji yang dibuat oleh almarhumah Mama kak Hega, jadi bukankah sebagai putra satu-satunya kakak berkewajiban untuk melunasi hutang janji itu. " Lanjut Moza berusaha untuk tenang.
" Tapi aku.... " Sela Hega dengan nada getir.
" Buatlah aku mengingat kenangan indah bahwa aku pernah mencintai seorang pria sejati yang menepati janji, meskipun itu bukanlah janji yang terucap dari mulutnya sendiri. "
" Mo... " Hega melepaskan dekapannya, suaranya naik beberapa oktaf, menatap lekat mata kecoklatan Moza.
" Aku akan merasa sangat bahagia dan beruntung pernah mencintai lelaki hebat seperti itu. "
Moza menangkup kedua pipi Hega dengan kedua telapak tangannya.
" Berbahagialah kak, meskipun jika ada kemungkinan satu persenpun untuk kita bersama, aku tidak yakin aku mampu merengkuhnya dan mengabaikan hutang janji yang dibuat oleh ibu dari pria yang aku cintai. Itu akan membuatku hidup tidak tenang. Membuatku merasa bersalah seumur hidupku. Bagaimana mungkin demi ego dan kebahagiaanku sendiri, aku tega membuat seorang putra mengabaikan hutang janji dari ibu yang melahirkannya. "
Hega terdiam, tak bisa menyangkal sedikitpun setiap perkataan gadis itu. Hatinya terasa dihantam sesuatu yang menyakitkan.
Keduanya lalu sama-sama tak bersuara, saling menatap satu sama lain seolah ini adalah pertemuan terakhir bagi mereka.
" Apa kamu akan menghindariku ? " Tanya Hega akhirnya, menatap Moza sendu, dan gadis itu menggeleng perlahan.
" Menghindar dan tidak bertemu kakak, tak lantas membuatku bisa dengan cepat dan mudah melupakan kakak. Jadi aku akan membiarkan waktu yang akan mengobati hatiku dan membuatku benar-benar bisa melupakan kakak. "
__ADS_1
Fyuh..... Setidaknya kita masih bisa bertemu, aku tidak akan pernah melepasmu. Jadi jangan salahkan aku jika nantinya aku akan menyingkirkan siapapun yang berani mendekatimu.
Batin Hega tersenyum lega dan kemudian menyeringai tipis. Selama masih bisa bertemu, maka masih ada kesempatan untuk dekat dengan Moza.
Dan tentu saja menantisipasi agar tak ada satupun lelaki yang mendekatinya. Terakhir kali melihat Moza bersama dengan Dimas saja sudah membuat darahnya mendidih, ingin sekali saat itu membawa gadis itu pergi bersamanya.
Hega bertekad tak akan membiarkan gadis itu melupakannya sedetikpun, apalagi mengikis cinta di hati gadis itu untuknya.
Kesempatan bertemu masih terbuka lebar, Moza memutuskan untuk tak lagi menghindar. Dan Hega menggunakan hal tersebut untuk memastikan dirinya selalu ada di hati dan pikiran gadis itu.
Dan selama itu pula Hega akan mengatasi segala hal yang berkaitan dengan perjodohannya.
" Baiklah, aku akan memberimu waktu menenangkan hati dan pikiranmu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak akan menyerah. " Ucap Hega disertai senyum lembut dan kemudian membelai kepala Moza.
" Istirahatlah, hari ini pasti sangat melelahkan untukmu. " Tangan kanannya menekan tombol kunci otomatis.
" Selamat malam kak. " Gadis itu turun dari mobil kemudian melambaikan tangannya dan tersenyum.
Moza meninggalkan Hega termenung di balik kemudi, pemuda itu masih menatap nanar ke arah Moza dengan menggenggan kotak hitam berisi kalung berlian pemberiannya. Menatap punggung gadis itu yang menjauh dan menghilang dibalik dinding kosan.
Aku pastikan kamu hanya akan menjadi milikku Moza Artana, tak akan aku biarkan kamu melupakanku barang sedetikpun. Karena aku tak bisa bernafas tanpamu, dadaku sesak setiap kali memikirkan kamu dimiliki oleh lelaki lain. Tunggulah aku, aku akan memenuhi janjiku untuk membuatmu bahagia selamanya. ~ Hega ~
Setelah beberapa lama Hega kembali mengemudikan mobilnya, mengantar si kecil Rania pulang. Dan tentu saja kedatangannya sudah dinantikan oleh Aryatama.
Setelah memberikan Rania kepada ibunya, Aryatama mendekati putranya yang terlihat kelelahan.
" Masuklah nak, sepertinya kamu kelelahan. "
" Tidak, Hega akan pulang Pah. "
" Tunggu. Apa Papa boleh menanyakan sesuatu ? "
" Hmm. "
" Ayo kita bicara disana. " Aryatama membawa putranya ke kursi taman.
" Apa yang ingin Papa bicarakan ? "
" Apa maksud Papa ? "
" Tidak, hanya saja wajahmu terlihat kurang baik. "
" Hega baik-baik saja Pa. "
" Papa mendengar akhir-akhir ini kamu terlalu keras bekerja, jangan siksa badanmu nak. Jika ada masalah kamu bisa bercerita pada Papa. " Ucap Aryatama penuh perhatian.
" Dan soal perjodohanmu, Papa sungguh tidak terlibat, itu adalah keinginan Almarhummah Mamamu dan sabahat karibnya. Papa.... "
" Papa tidak perlu menjelaskan. Hega minta maaf sudah menuduh Papa waktu itu. " Hega menyela kalimat ayahnya, ada seberkas penyesalan dalam nada bicaranya karena menuduh ayahnya perihal perjodohan itu.
" Hmm. Syukurlah kalau begitu. Pulanglah, segera istirahat. " Menepuk punggung putranya.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil Hega, saat hendak membuka mobil Hega terlihat ragu-ragu namun kemudian berbalik badan.
" Pah. "
" Ya. "
" Hmm. " Hega masih tampak ragu berbicara.
" Katakan, Papa mendengarkan. "
" Bisakah Papa membantu Hega membatalkan perjodohan itu ? " Dengan menekan ego dan harga dirinya, setelah sebelas tahun lamanya untuk pertama kalinya Hega meminta bantuan pada Papanya.
" Kenapa kamu bersikeras menolaknya ? Bukankah itu keinginan terakhir Mamamu ? " Aryatama sangat tahu watak putranya itu yang sangat menyayangi ibunya dan pasti ada alasan dibalik keputusan Hega tersebut.
" Hega... "
__ADS_1
" Apa kamu mencintai gadis lain nak ? " Tanya Aryatama menyimpulkan.
Hega menunduk lesu, namun dari ekspresi yang ditunjukkan pemuda itu, Aryatama tahu dengan jelas apa jawaban dari pertanyaannya.
Pria paruh baya itu mendekati putranya, kemudian memeluk pemuda itu dengan sayang. Sebelas tahun lamanya mereka tak pernah sedekat ini, tak pernah menunjukkan kasih sayang satu sama lain.
Terakhir kali sua pria ini saling berbagi perasaan layaknya ayah dan anak adalah saat kematian Nadira Candra Saint, ibu Hega sekaligus istri Aryatama.
" Apapun yang membuatmu bahagia, Papa akan selalu mendukungmu. " Arya menepuk lembut punggung putranya, mendukung setiap keputusan yang akan diambil oleh putra kesayangannya itu.
" Terima kasih Pa, Hega pamit. Assalamualaikm. "
Hega memasuki mobilnya, sebelum menyalakan mesin kendaraanya terdengar sang ayah berkata.
" Waalaikmsalam. "
" Nak, Papa akan coba bicara dengan kakekmu. " Lanjut Aryatama dan disambut senyum tipis putranya.
๐
๐
๐๐๐๐๐
Moza : Ide mampet soalnya sepi yang komentar ๐
Kak Hega jangan sedih ya meskipun komentar dan vote nya dikit... ๐๐
Hega : Hmmm. . . . Gak sedih kok, tapi Cium dong Momo sayang .... ๐
Siapa tahu ntar banyak yang comment dan vote kita.... ๐คฉ๐คฉ๐คฉ
Moza : Dih belum halal kak... ๐๐ค
Hega : Ayuk kita halalin.... ๐ ๐
Moza : ๐๐๐ ( Memutar bola matanya jengah )
๐
Yey.... Dibantu Papa Arya....
Kita doakan Semoga babang Hega bisa bersatu dengan gadis yang dicintainya yah....
Supaya cepet Halal
Berdoa bersama dimulai....
๐คฒ๐คฒ๐คฒ๐คฒ
๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Bantu VOTE agar karya ini naik RANK yah....
Terima kasih ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jika kalian suka Episode ini, jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...
โ LIKE ๐
__ADS_1
โ COMMENT โ๐
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐