
AUTHOR
Setelah perang argumen yang cukup memanas, akhirnya atas persetujuan sang kakek, Hega terlebih dahulu mengurus beberapa pekerjaan di kantor. Berkas-berkas laporan hasil kunjungan bisnisnya di Jepang yang memang harus segara diselesaikan.
Dengan syarat Hega harus mau ditemani oleh Pak Bakti dan satu orang bodyguard yang sudah disiapkan oleh sang kakek.
Meskipun enggan, Hega terpaksa menuruti kemauan sang Kakek yang punya kadar keras kepala sama seperti dirinya.
Yah memang darah itu lebih kental daripada air, watak keras kepala Hega menurun dari sang kakek.
" Katanya lo mau ketemu sama keluarga calon istri lo Ga ? " Tanya Bara yang terkejut dengan kehadiran sabahatnya itu karena Bara tahu jika hari ini Hega akan bertemu dengan gadis yang dijodohkan dengannya beserta keluarganya.
" Jangan ngingetin gue soal itu Bar. " Jawab Hega kesal membanting tubuhnya di sofa.
" Kenapa lagi emangnya ? Tuh cewek kenapa ? Kesengsem sama lo ? Atau malah sebaliknya, menolak perjodohan itu. " Bara semakin penasaran melihat ekspresi masam sahabatnya.
" Aah... Tapi gue rasa kemungkinan yang kedua kecil si. Secara siapa gitu yang gak mau jadi istri tuan muda keluarga kaya seperti lo. Hahaha....." Lanjut Bara mencibir jahil.
" Sialan lo. " Bantal sofa melayang tepat di wajah Bara.
" Jadi bener tuh cewek kesengsem sama lo ? " Masih penasaran.
" Semua asumsi lo salah. "
" ". Jawaban Hega membuat dahi Bara mengerut heran dan makin penasaran.
" Gue belum ketemu mereka. "
" Lah kenapa ? Jangan bilang lo kabur dari acara pertemuan itu ? Wah wah wah.... Benaran udah siap ditendang dari keluarga besar Saint lo Ga. Meskipun lo gak bakal jadi miskin juga si karena aset pribadi lo juga gak kalah banyak, yah walaupun masih seujung kuku jika dibandingkan aset yang diberikan kakek Surya sama lo si. " Ucap Bara sambil mengelus dagunya seolah seperti menimbang-nimbang sesuatu.
" Dasar bocah tengik lo, emang lo pikir gue mau kesana gara-gara warisan apa ?! " Hega melotot tak terima.
" Hahahaha..... Iya iya, santai dong. Tuh mata udah kayak mau kaluar sinar laser, lubang ntar jidat gue lo pelototin. "
Masih juga meledek dan terbahak tanpa bisa dikontrol. Kapan lagi coba mencela boss sekaligus sahabat galaknya itu, pikir Bara.
" Cih.... Cukup omong kosongnya Bar. Mana Julian ? " Menghentikan tawa meledek Bara.
" Tuh... " Menunjuk ke arah pintu dan Julian sudah berada di ambang pintu tersebut membawa beberapa berkas di tangannya.
" Lanjutin dulu cerita lo Ga ! " Protes Bara tak sabar.
" Selesaikan urusan kantor dulu Bar, jangan bikin gue tambah emosi ! " Tatapan Hega seolah memperingatkan Bara jika saat ini mood nya sedang tidak bisa dibawa bercanda.
" Oke oke, slow down bro... " Masih cengingisan tanpa dosa.
" Bang, siapa tuh yang sama Pak Bakti di depan ruangan ? " Tanya Julian sambil menunjuk ke depan pintu, kemudian duduk di sofa yang masih kosong.
Hega menatap malas, enggan menjawab keingintahuan Julian.
Bara yang penasaran langsung berhambur keluar ruangan, mengintip siapa orang yang dimaksud oleh Julian.
Kepala Bara menjulur keluar dengan badan masih ada di dalam ruangan Hega.
Tampak seorang pria berbadan tinggi tegap, berpakaian serba hitam.
__ADS_1
" Sejak kapan lo bawa pengawal secara terang-terangan Ga ? ! " Tanya Bara mengejek.
" Diem lo Bar, jangan bikin gue makin pusing ! " Omel Hega sinis.
Nyatanya jika selama ini meskipun Hega selalu dikelilingi beberapa bodyguard atas perintah Suryatama, Hega tak mengijinkan para pengawal itu mendekatinya dalam radius 500 meter.
Dan lebih bagus jika para pengawal itu tak terlihat oleh pandangannya, maka selama ini para pengawal tersebut menjaganya secara tersembunyi, menjadi shadow guard.
Setelah sekitar 45 menit ketiga pria itu membahas tentang berkas yang berisi laporan manajemen hotel Imperial yang ada di Jepang itu dan memutuskan beberapa poin penting mengatasi setiap permasalahan yang terjadi.
" Buat ulang laporan ini, lengkapi dengan solusi dari setiap permasalahan sesuai pembahasan kita tadi. Setelah itu tunjuk beberapa orang kepercayaan kita untuk menempati posisi penting di sana. Dan siapkan rapat dengan orang-orang terpilih itu agar mereka tahu apa saja yang akan menjadi tugas utama mereka di sana nanti. " Hega segera mengambil keputusan.
" Baik Presdir. Saya permisi. " Pamit Julian.
" Julian. " Belum juga asistennya itu menghilang di balik pintu, Hega memanggilnya dengan ragu.
" Ada lagi yang harus saya kerjakan Presdir ? "
" Hah.... Bukankah sudah saya bilang jika sudah selesai urusan pekerjaan jangan terlalu formal lagi. "
Julian langsung bisa menangkap arah pembicaraan bossnya itu.
" Iya Bang, ada yang mau Bang Hega tanyakan ? " Tanya Julian sembari mengamati di sekitarnya memastikan memang tak ada orang lain yang bisa mendengar suaranya selain mereka bertiga.
" Hmmm. Tidak jadi, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. " Hega mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang Moza.
" Oke, gue cabut dulu bang. " Pamit Julian lagi melangkah ke pintu, bafu dua langkah pemuda itu berhenti dan membalikkan badan lagi.
" Ah... Kalo abang mau tahu soal Momo, sorry gue gak tahu bang. Sejak di kafe itu gue belum ngobrol lagi sama tuh anak. " Lanjut Julian sebelum akhirnya berbalik dan benar-benar meninggalkan ruangan Hega.
" Haahhh.... Capek gue Bar. Gue kira hari ini urusan perjodohan gue bakal selesai, tapi malah tertunda gak jelas. " Keluhnya sembari bersandar di sofa.
" Ceritain sama gue apa yang sebenarnya terjadi ?! "
" Tadi gue ke tempat yang udah diatur sama kakek buat acara pertemuan. " Hega memulai bercerita dengan malas.
" Terus ?! "
Hega menceritakan kronologis kejadian di hotel yang seharusnya menjadi tempat yang mempertemukan dirinya dengan gadis tersebut.
Mulai dari kemunculan Pak Bakti di bandara yang terus mengekorinya bahkan sampai di depan rest room. Seolah tak memberikan celah dan terus mengawasi dirinya seperti tahanan yang mau kabur saja.
Sampai dengan omelan dan pukulan kakeknya, serta ruangan kosong dimana tak ada seorangpun dari keluarga gadis itu ada disana.
" Jadi tuh cewek beneran Berlinda ?! " Tanya Bara serius.
Padahal sedari tadi pemuda itu tak berhenti tertawa mendengar cerita sahabatnya. Apalagi di bagian saat sahabatnya itu diomeli dan dipukul habis-habisan oleh Kakek Suryatama.
" Gue gak tahu. Bisa jadi juga si, pas bener gue keluar dari rest room dan liat Papa ngantar mereka ke lift. Dan setelah itu kakek malah bilang ganti tempat pertemuan. Dikira gue ini pengangguran apa. Seenaknya sendiri gonta-ganti tempat, memang mereka itu siapa beraninya main-main sama gue. " Hega terus mengomel dengan tatapan mata yang sangat murka.
Bara tahu persis jika saat ini sahabatnya itu sedang sangat kesal, seorang Hega dibuat datang tepat waktu, saat sudah tiba malah tempat janjian diganti seenaknya.
Para pejabat bahkan Presiden saja yang beberapa membuat janji pertemuan dengan Hega tidak pernah menunda atau membuat sabahatnya itu menunggu, apalagi sampai seenaknya mengganti lokasi pertemuan bahkan saat Hega sudah ada disana.
Sehebat apa tunangan lo itu Ga, sampai bikin lo mati kutu gini. Asli penasaran gue. ~ Bara ~
__ADS_1
Belum juga Hega selesai menstabilkan emosinya, suara pintu diketuk diiringi suara Pak Bakti yang sudah berdiri di ambang pintu yang sudah terbuka sedari tadi.
" Maaf Tuan Muda, anda harus segera berangkat, Tuan Besar sudah menunggu. " Mendengar ucapan pria itu membuat ekspresi Hega semakin masam.
" Pak Bakti tunggu diluar, saya akan ganti baju dulu. " Jawab Hega datar.
" Baik Tuan Muda, saya akan memberi kabar pada Tuan Besar. Permisi. " Pria itu membungkuk dan meninggalkan ruang kerja majikannya.
Hega beranjak dari sofa, sudah tidak bisa menghindar atau mengulur waktu lagi. Hari ini semuanya harus dia selesaikan sampai tuntas, toh cepat atau lambat dirinya akan bertemu juga dengan gadis itu.
Mau tak mau pemuda itu harus mempersiapkan diri dengan baik, menghadapi segala kemungkinan yang akam terjadi. Serta menyiapkan segala strategi untuk menghadapi berbagai kemungkinan tersebut.
" Lo mau ikut gue Bar ? " Tanya Hega menoleh pada Bara yang masih bersandar di sofa.
" HAAH.... ?! " Bara terlonjak dari posisi santainya, bingung mau menjawab apa.
" Becanda lo Ga. Gimana kalo cewek itu naksir gue ? " Goda Bara.
โข
โข
๐
Mohon maaf ya jika masih muter sedikit ceritanya ๐
Buat yang bilang bosan macam lihat sinetron pliss ditahan dulu ya dan tetep ikutin ceritanya.๐ค
Beberapa episode lagi akan End Story... ๐
Dan terima kasih yang masih setia mendukung akuh ya, dukungan kalian sangat berarti untuk akuh. ๐ค๐๐
See you next episode
Semoga kalian suka end story antara Hega dan Moza....
๐
๐๐๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Terima kasih yang masih setia membaca kisah Hega dan Moza ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...
โ LIKE ๐
โ COMMENT โ๐
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐
__ADS_1