Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Malam Pertama


__ADS_3

AUTHOR


Bayangan siluet seorang pemuda muncul dari kegelapan malam. Menghampiri Moza dengan dengan perlahan, sosok tinggi tegap berpakaian serba putih.


Kedua mata Moza menyipit, berusaha menangkap bayangan itu dan mencari tahu siapa pemuda itu.


Semakin dekat, mulai terlihat jelas wajah tampan yang dikenalnya. Sosok yang selalu dirindukannya, ekspresi hangat dan begitu tenang diwajah itu membuat Moza ingin sekali berlari mendekat ke arah pemuda itu.


Tapi tubuhnya membeku, tak bisa digerakkan.


Hingga tak lama pemuda itu sudah berdiri tepat di hadapannya, kemudian memeluknya penuh kasih sayang.


Mereka berbagi kerinduan, Moza menangis terharu dan bahagia bisa bertemu kembali dengan sang kakak yang paling dikasihinya.


Ya, pemuda itu adalah Hyuza. Kakak yang selalu dirindukan oleh Moza, kakak yang sangat dicintainya.


Kakak yang juga sangat mencintainya, dan selalu mengutamakan kebahagiaannya.


" Kak, aku merindukanmu. Kemana saja kakak selama ini ? Kenapa kakak pergi meninggalkan aku ? " Pertanyaan demi pertanyaan berhambur dari bibir Moza yang tengah berada dalam pelukan sang kakak. Menangis sesenggukan di dada bidang kakaknya.


Tapi tak ada jawaban dari pemuda itu, Hyuza hanya diam, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap sendu adik perempuannya.


" Kak, kenapa kakak diam saja ? Kakak darimana saja selama ini, hm ? Kenapa kakak tidak pernah menemuiku ? Apa kakak tidak menyayangiku ? Kakak tidak merindukanku ? "


Pemuda itu masih membisu, hanya tersenyum pada adik kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa itu.


Moza merasa ada yang aneh dengan sang kakak. Kenapa pemuda itu diam saja sedari tadi, seketika Moza tersadar, bukankah kakaknya sudah tiada ?


Kecelakaan ?! Kakaknya sudah meninggal karena kecelakaan.


Lalu siapa pemuda yang kini berdiri di hadapannya itu ? Pemuda yang tadi memeluknya, Moza berusaha mengambil jarak dari pemuda yang sangat mirip dengan kakaknya itu.


Tapi lagi-lagi tubuhnya tidak bisa digerakkan, tubuhnya kaku, membeku di tempatnya berdiri.


Moza mengatupkan bibirnya, tubuhnya gemetar, tapi pemuda itu memang benar-benar sangat mirip dengan kakaknya.


Tidak ! Itu memang benar-benar adalah kakaknya, Hyuza.


Tapi bagaimana mungkin ?!


" Kak Hyu..." Panggil gadis itu ragu.


Pemuda di hadapannya kembali tersenyum, kemudian mengelus kepala Moza dengan lembut.


" Berbahagialah adikku yang aku sayangi. "


Iya, itu suara yang dikenali oleh Moza. Suara kakaknya, dan itu berarti pemuda itu memang benar adalah Hyuza, kakak sulungnya.


Moza mengusap-usap kedua matanya, meyakinkan dirinya jika ia sedang tidak sedang berhalusinasi. Kemudian mencubit lengannya sendiri, memastikan jika itu bukan mimpi.


" Kak Hyu. " Pemuda itu mengangguk, tangisan Moza mulai tak bisa dibendung lagi, Moza menutup mulutnya dengan telapak tangannya berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.


" Bagaimana mungkin kakak bisa ada disini ?! Bukankah kakak sudah....."


" Kakak selalu ada bersamamu, mengawasimu, menjagamu dan memastikan kamu bahagia. "


" Bagaimana bisa ? Kakak sudah..... "


Hyuza kembali tersenyum.


" Raga kakak memang sudah tidak bersamamu, tapi jiwa kakak terus ada di dekatmu. Dan sekarang sudah saatnya kakak benar-benar pergi, dek. "

__ADS_1


" TIDAK !!! Kakak mau kemana ? Tidak boleh ! Kakak tidak boleh pergi ! Jangan tinggalkan Momo lagi kak, hiks.. "


" Sudah ada yang bisa kakak percaya untuk menggantikan kakak menjagamu, tugas kakak sudah selesai. "


" Tidak, Momo cuma mau kakak, hiks.... "


" Ijinkan kakak pergi Momo sayang, lepaskan kakak, ikhlaskan kakak pergi. "


" Tidak Kak, jangan tinggalkan Momo kak. Hiks hiks... " Rintih Moza.


Hyuza memeluk erat adiknya seolah itu adalah pelukan untuk terakhir kalinya, kemudian mengecup kening Moza dengan lembut dan sayang.


" Berbahagialah adikku. Berbahagialah untuk kakak dan juga untuk dirimu sendiri. Selamat tinggal adikku sayang. Kakak sangat mencintaimu. "


Hyuza melepaskan pelukannya, kemudian berjalan menjauh dari Moza, semakin jauh dan semakin jauh hingga bayangannya hilang diantara cahaya putih yang menyilaukan mata.


Saat Moza membuka mata, bayangan kakaknya benar-benar sudah lenyap bersamaan dengan memudarnya cahaya putih keemasan di hadapannya.


" Kak Hyu, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, bawa aku juga kak. Hiks...hiks.... " Moza ingin berlari mengejar kakaknya, tapi percuma, badannya masih tak bisa digerakkan.


Gadis itu hanya bisa mencengkeram bajunya sendiri, tapi kedua kakinya benar-benar membeku.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sudah tiga hari berjalan semenjak kepindahannya ke rumah mewah milik keluarga Hega.


Moza masih terlihat belum bisa menyesuaikan diri di tempat yang baru, apalagi malam pertama tidur di kamar barunya yang luas dan nyaman tak lantas membuatnya bisa tidur dengan nyenyak.


โ€ข


Seperti biasa, gadis itu benar-benar hampir terjaga semalaman saat pertama kali tidur di ruangan yang asing baginya.


Meskipun semua barang pribadi Moza di kosan sudah berpindah sepenuhnya di kamar itu, termasuk si Polar Bear raksasa miliknya.


Tetap saja tak membuat gadis itu langsung nyaman disana. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Moza masih terjaga dengan gelisah, berusaha mencari kesibukan, bermain ponsel dan membaca beberapa novel.


Dan saat kantuk menyerangnya, serangan mimpi tentang sang kakak kembali mendatanginya.


Dan diam-diam Hega menyelinap ke kamar gadis itu saat didengarnya suara tangisan lirih dari kamar kekasihnya itu.


Ekspresi cemas menghiasi wajah tampan pemuda itu, perlahan mendekat ke arah ranjang besar dengan sprei dan bedcover bernuansa peach di salah satu sudut ruangan.


Dilihatnya Moza sedang terbaring dengan ekspresi gelisah dan terdengar rintihan serta tangisan lirih gadis itu.


" Tidak Kak, jangan tinggalkan Momo kak. Hiks hiks... " Rintih Moza.


Cairan bening mengalir perlahan dari kelopak mata Moza yang masih terpejam, membasahi pipi putihnya.


" Kak Hyu, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, bawa aku juga kak. Hiks...hiks... " Jemari Moza mencengkeram kuat selimut yang menutupi tubuhnya.


Hega sudah mengantisipasi jika akan terjadi hal seperti ini. Tapi Hega tak menyangka akan mendapati gadisnya dalam kondisi seburuk ini.


Hega penasaran apa yang sebenarnya diimpikan oleh Moza yang terus menyebut nama sang kakak.


" Aku disini, aku tidak akan kemana-mana. Tenanglah dan tidur yang nyenyak. " Hega mendekat ke ranjang, mengambil posisi disamping gadisnya, meraih tubuh mungil kekasihnya dan mendekapnya erat penuh sayang.


Mengelus-elus kepala dan punggung gadis itu kemudian mengecup pucuk kepala Moza.

__ADS_1


Moza masih memejamkan matanya, tapi tubuhnya mulai tenang kembali meski sempat mencengkeran erat piyama Hega si bagian dada.


Hega masih ingat jelas kejadian setahun yang lalu saat di villa Bara, perihal kebiasaan buruk Moza yang akan terserang insomnia saat tidur di tempat yang baru.


Belum lagi saat dilihatnya gadis itu menangis dalam tidur saat Hega membopongnya masuk ke kamar.


Serta sedikit cerita dari calon ibu mertuanya sebelum kedua orang tua Moza pulang ke kota asalnya. Perihal trauma yang dialami putri keluarga Dama itu, yang membuat anak gadis kesayangan Ardi dan Ayu itu bisa saja menangis di malam hari karena mimpi buruk.


Tolong jaga Momo ya nak Hega, anak itu memang terlihat tegar dan kuat tapi ada kalanya hatinya begitu rapuh meskipun selalu disembunyikannya. Bunda harap kamu selalu ada di saat-saat terberat dalam hidupnya. Bunda titip putri kesayangan bunda.


Ucapan bunda Ayu masih tersimpan jelas dalam ingatan Hega. Karena itulah malam ini Hega sengaja berjaga jika terjadi sesuatu seperti yang dikhawatirkan oleh calon ibu mertuanya itu.


Dan sepertinya apa yang ditakutkan Ayu benar-benar terjadi. Malam pertama gadis itu tinggal di kediaman keluarga Saint, malam itu juga gadis itu mendapat serangan trauma yang membuatnya memimpikan kakaknya.


Hega menemani Moza hingga gadis itu kembali terlelap dan tidur dengan tenang. Mendekap gadisnya di dadanya dan tak henti-hentinya mengelus kepala gadis itu.


Hingga suara rintihan dan tangis Moza perlahan berganti dengan dengkuran lembut, nafas gadis itu mulai teratur.


Dan saat Hega melepaskan pelukannya, dilihatnya ekspresi Moza sudah normal kembali. Gurat kegelisaan di wajah cantik itu sudah memudar, berganti dengan wajah tenang nan ayu.


Benar-benar seperti seorang bidadari yang imut dan menggemaskan di mata Hega.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ Epilog ๐Ÿ


Di meja makan pagi harinya.


" Dimana cucu menantuku ? " Tanya sang kakek saat melihat Hega baru saja datang dan duduk di kursi ruang makan.


" Masih tidur kek. "


" Kenapa tidak kamu bangunkan untuk sarapan bersama ? Terlambat sarapan tidak bagus untuk kesehatannya. " Ucap Suryatama.


" Sepertinya semalaman dia tidak bisa tidur karena belum terbiasa dengan kamarnya. " Jelas Hega singkat tanpa memberikan detail alasannya.


Sang kakek mengangguk-angguk mengerti.


Hega memang sengaja tak membangunkan kekasihnya, membiarkan gadis itu terlelap dalam tidurnya. Karena kekasihnya baru saja tertidur nyenyak jam tiga pagi.


" Bagaimana hasil penyelidikanmu ? "


" Bara sudah mengumpulkan informasinya, tapi masih ada hal yang ganjil, Hega akan terus mencari tahu. Kakek tenang saja. "


" Hmm. Kakek percayakan padamu. Bagaimanapun Ardi dan Ayu sudah mempercayakan putrinya padamu. " Tutur sang kakek mengingatkan dan Hega mengangguk mengerti maksud kakeknya.


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค


Crazy up thoor.....


Ampun jangan minta crazy up, entar akuh yang crazy beneran. Up nya ngebut, komentarnya minim. Ngenes akuhnya.... Hehehe


Ya udah ntar ku koment yang banyak hahahha... Tapi crazy up yah...


Yah entar kalau komennya udah 1000 aku crazy up, mayan buat beli permen ๐Ÿฌ


Hadehhhh.... Lama itu mah....


Hadehhh.... Dikira mikir satu episode bentaran apa hahahaha.....Aku mah juga maunya cepet ditamatin ajah nih biar langsung fokus sama Lapak Bang Lian tapi yah mau gimana lagi, giliran waktu senggang eh idenya mampet, pas ide lancaaarrr waktunya yang gak ada ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


Udahlah sabar dulu mah ya.... Biarkan akuh menghalu dengan bahagia....๐Ÿ˜˜๐Ÿคฃ๐Ÿ˜Š


Serah lu lah....


__ADS_2