
AUTHOR
Tubuh Hega masih gemetar saat pria tersebut beberapa kali menepuk pelan punggungnya. Beberapa potongan puzzle momorinya seolah mulai bermunculan dan terpasang di tempatnya.
Beberapa memori yang seolah hilang dari kepalanya, kehidupan satu tahunnya tinggal bersama keluarga Arka. Dan juga kepingan memori setelah kematian sahabatnya itu yang juga terasa buram di ingatannya.
" Lama tidak bertemu. Kamu tumbuh dengan sangat baik. "
Ucap ayah sahabatnya dengan nada bangga sembari melepas pelukannya dan kemudian memegang dan menepuk-nepuk kedua bahu Hega dengan kedua tangannya.
" Apa kabar Om ? " Sapa Hega membuka suara.
" Seperti yang kamu lihat, Om sehat dan tentu saja bertambah tua hahaha. " Jawab pria tersebut berusaha mencairkan suasana seolah tahu jika pemuda di hadapannya sedang merasa canggung padanya.
" Om masih tetap terlihat gagah dan tampan seperti dulu. " Dengan nada sopan memuji pria itu yang memang masih terlihat tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi.
ย " Kamu bisa saja menyenangkan orang tua, masuklah ! Om akan ke kantin menjemput bunda. " Kembali menepuk bahu Hega.
Hega mengangguk sopan kemudian pria itu meninggalkannya setelah menoleh pada kakek Suryatama untuk undur diri sebentar menjemput istrinya.
" Kek. " Sapa Hega menatap ke arah sang kakek, dibalas anggukan dari pria tua tersebut.
" Hm.... Masuklah, kakek akan berjalan-jalan sebentar. " Ucap Suryatama datar.
" Bara, apa kamu mau menemani kakek berkeliling ? " Mengarahkan pandangannya pada pemuda di samping cucunya.
" Eh... " Bara yang bingung merespon permintaan kakek Surya segera melirik ke arah sahabatnya.
Lah kan gue disini buat jadi tumbalnya nih anak. Kalo gue pergi gimana coba ?! Bisa abis gue sama nih bocah, tapi kalau gue nolak kakek Surya, nasib gue bakal lebih kacau.
Nih kakek sama cucu kan kelakuannya hampir sama kalau sedang kesal. ๐๐ค
Bisa-bisa bukan lagi ke Afrika, mungkin gue bakal dikirim ke Kutub Selatan kali ya. Ternak beruang kutub. Hahahaha...
Bara menimbang-nimbang, menunggu respon sahabatnya. Dan segera mengangguk saat tatapan mata Hega seolah mengatakan.
Pergi lo ! Gak guna tadi gue bawa lo kesini. Gue tau kalau lo lebih takut sama kakek gue daripada sama gue.
" Tentu saja Bara mau kek. " Jawab Bara akhirnya sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa bersalah pada sahabatnya.
" Bakti, kau tetap disini sampai aku kembali. " Perintah Kakek Suryatama.
" Baik Tuan Besar. " Pak Bakti mengangguk patuh.
Bara mengikuti langkah kakek Surya, berjalan sejajar di samping pria tua itu. Diikuti oleh Paman Ben di belakang mereka.
Hega menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, mempersiapkan mentalnya sebelum memasuki ruangan yang ada di depannya.
" Tuan Muda. " Pak Bakti menyodorkan dengan sopan bouquet bunga tulip pada majikannya sebelum pemuda itu mendorong pintu.
Hega membuka pintu berwarna coklat di hadapanya, ruang rawat inap VVIP, belum jelas kenapa dia harus memasuki ruangan itu.
Apa mungkin gadis itu sedang dirawat di dalam sana ?
Atau sedang menjaga salah satu kerabatnya yang sedang sakit ?
Hega tak mau lagi menduga-duga, apa yang harus dihadapinya sudah ada di depan mata. Tidak bisa mundur lagi.
Hari ini dia harus menyelesaikan semuanya hingga tuntas, dan langkah awal yang harus diambilnya adalah menemui gadis itu, gadis yang dijodohkan dengannya.
Gadis yang selama 10 tahun lebih tak dilihatnya, hingga entah apa yang membuat pemuda itu tak bisa mengingat sedikitpun gambaran tentang gadis itu. Seolah memori setelah kecelakaan itu terjadi lenyap begitu saja.
Yang diingatnya hanyalah bahwa gadis itu adalah adik kesayangan sahabatnya. Gadis ceria dan manja yang selalu menempel pada kakaknya.
Tapi bagaimanapun kerasnya Hega berusaha mencari kepingan memori tentang gambaran wajah gadis itu hasilnya tetap saja nihil.
Lagipula 10 tahun lebih sudah berlalu, kalaupun Hega ingat rupa gadis itu, siapa yang menjamin wajahnya saat dewasa juga akan tetap sama seperti dulu.
Apalagi ini kan sudah jamannya tren perawatan wajah dimana-mana. Siapapun bisa dengan mudah mengubah diri ataupun mempercantik penampilan fisiknya dengan berbagai macam perawatan dokter kecantikan.
Hega melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruangan rawat mewah itu, pandangannya menyusuri setiap sudut ruangan.
Kosong !!! Hega tidak menemukan siapapun di sana dan memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
" Ayah sudah kembali, kenapa cepat sekali ? " Dan saat akan keluar ruangan Hega dikejutkan oleh suara yang tak asing di telinganya.
Seketika pemuda itu membalikkan badan, dilihatnya sosok gadis yang paling dicintainya sedang berjalan keluar dari kamar mandi dengan tertatih-tatih.
Kepalanya menunduk memperhatikan langkah kakinya sendiri agar tidak terjatuh. Salah satu tangannya memegang tiang penyangga cairan infus.
__ADS_1
โข
โข
๐๐๐
Mendengar suara pintu terbuka, gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi itu mengira jika ayahnya lah yang datang karena tadi sang ayah mengatakan akan menyusul bunda yang terlalu lama membeli makanan di kantin rumah sakit.
Tapi belum juga berselang lama ayahnya pergi, gadis yang sedang di kamar mandi itu mendengar suara pintu terbuka.
Karena tak ada jawaban ataupun suara sahutan, membuat gadis yang kesulitan berjalan itu terpaksa menghentikan langkah kakinya dan mendongakkan kepalanya untuk memastikan siapa yang datang.
Begitu terkejutnya gadis itu, sama terkejutnya dengan ekspresi yang ada di wajah pemuda yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Bouquet bunga tulip ditangan pemuda itu terjatuh ke lantai.
" Kak. " Moza menatap pemuda itu dengan tatapan sangat terkejut.
" Kamu ?!! " Begitu pula sebaliknya yang terlihat dari mata elang milik Hega.
" Kenapa Kakak ada disini ? " Tanya gadis itu lirih.
Bukannya aku belum mengatakan pada siapapun jika aku dirawat disini ?! Bahkan Deana saja belum aku kabari karena dia sedang pulang ke rumah orang tuanya. Dan aku tak mau membuatnya cemas yang pasti akan membuatnya heboh segera datang lagi kesini.
Guman Moza bertanya-tanya dalam hati darimana pemuda di hadapannya itu tahu keberadaannya di rumah sakit ini.
" Itu yang ingin aku tanyakan ? " Hega melangkahkan kakinya, semakin mendekat ke arah Moza yang masih mematung.
Sepertinya aku salah masuk ruangan. Kenapa kamu bisa ada disini ? Dan apa yang terjadi denganmu ? Bagaimana luka itu bisa ada di wajahmu ? Apa ada bagian lain yang terluka ?
Berbagai pertanyaan muncul di kepala Hega.
" Seperti yang kakak lihat, aku...." Berkata sambil menatap ke arah tubuhnya sendiri yang tengah dalam kondisi kurang baik.
Belum sempat gadis itu melanjutkan kalimatnya, Hega sudah berada dekat dengannya, tepat dihadapannya.
Dengan sekali gerakan cepat namun tetap lembut, mendekap erat gadis yang dirindukannya selama berminggu-minggu.
Hega sudah tidak peduli lagi apa tujuannya ke sini, dia lupa jika dia datang untuk menemui gadis yang dijodohkan dengannya.
Rasa rindu yang teramat dalam membuatnya tak lagi bisa berfikir jernih, yang diinginkannya saat ini hanya memeluk erat belahan jiwanya.
Yang terpikirkan saat ini hanyalah merengkuh gadis yang dicintainya, apalagi saat melihat kondisi Moza saat ini yang membuat hatinya sangat sakit mendapati luka di tubuh gadis yang dicintainya.
" Kak, lepaskan aku. " Gerakan memberontak dari kepalanya yang ada dalam dekapan Hega.
Ingin mendorong dengan kedua tangannya, tapi apa daya, satu tangan sedang terpasang jarum infus dan tangan lainnya memegang tiang penyangga cairan infusnya.
" Tidak akan pernah. " Jawab Hega tegas.
" Tapi kakak tidak bisa... " Moza teringat perjodohan pemuda yang dicintainya itu, membuatnya sadar diri jika apa yang mereka lakukan saat ini sangat tidak pantas.
" Aku akan membicarakannya dengan keluargaku. Kamu hanya perlu menunggu. "
Pinta Hega dengan yakin, melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuh Moza dan mendudukkanya di ranjang yang ada di ruangan itu.
Menggenggam erat tangan gadis yang sangat dicintainya, dan kemudian mengecup lembut punggung tangan gadis itu bergantian.
" Tapi..."
Moza masih ragu apakah ini keputusan yang benar. Sekejap timbul keinginan untuk bersikap egois, karena jauh dari Hega ternyata begitu berat rasanya. Tapi hati nuraninya berkata dia harus melepaskan pemuda itu.
" Sshhhh.... Percayalah padaku, oke. " Hega sedikit menunduk membungkam bibir gadis itu dengan telunjuknya, menatap intens pada bola mata kecoklatan milik gadis yang menempati posisi penting di hatinya itu.
Moza mengangguk, dan Hega kembali membenamkan wajah Moza di dada bidangnya. Mengelus kepala gadis itu dengan lembut dan mengecup pucuk kepala Moza cukup lama. Hingga sebuah suara mengejutkan mereka membuat Hega mau tak mau harus rela melepas sesaat gadis itu.
" Nak, kamu sudah datang ? " Suara seorang wanita dari pintu mengagetkan sepasang kekasih yang tengah mengobati kerinduan mereka.
Hega menoleh ke arah pintu, terkejut dengan sosok yang dilihatnya, perlahan melepaskan Moza dari pelukannya.
Dilihatnya pria yang memeluknya tadi di depan ruangan, dan seorang wanita paruh baya disamping pria itu, yang dia yakin itu adalah ibu Arka, sahabatnya.
" Tante Ayu ? " Ucap Hega ragu.
Wanita itu berhambur mendekati Hega, menyentuh wajah pemuda itu dengan tangannya, membelai lembut penuh kasih pipi pemuda itu.
" Bukankah dulu kamu memanggil bunda dan bukan tante ? " Tanya wanita tersebut sedikit kecewa.
" Baiklah Bun. "
__ADS_1
" Bolehkah bunda memelukmu Nak ? " Ucap wanita paruh baya itu dengan nada sendu, matanya memerah menahan haru.
Hega mengangguk dan memeluk wanita tersebut, wanita itu menangis terharu dalam pelukan Hega membuat Moza bertanya-tanya bingung apa yang sedang terjadi.
" Bunda ada apa ini ? Ayah.... Apa kalian kenal dengan Kak Hega ?! " Tanya Moza menyaksikan adegan di hadapannya masih dengan posisi duduk di ranjang.
Jedarr..
๐
๐
๐๐๐
Nah udah kan terjawab sudah penantian kalian. ๐ค๐ค๐ค๐๐๐
( Biarpun tebakan kalian benar semua sih Hehehe... Jadi berasa gak surprise haha.... )
Yang kemarin pada kesel sama akuh gegara alur pertemuan antara Hega dan Moza yang akuh buat
Panjang x Lebar x Tinggi yang teramat sangat dalam ituh
Maafkan akuh ya....โโ๐๐
๐๐๐
( Edisi lama gak meng ~ IKLAN )
~ Dibaca Syukuran, Gak Dibaca Sukurin ~ ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
READER : Lah udah gini aja tamat nya thor ? ๐ค๐
ME : Gimana ya ? Kalian maunya gimana ? ๐ค
READER : Lanjut mah thor gantung amat ? ๐๐
ME : Iya kah ? Ntar kalau kepanjangan katanya sinetron tipi. ๐
READER : Yaelah... ngambekan lu thor... ๐
ME : Akuh ? Ngambekan ? Enggak lah. ๐
READER : Nah tuh tadi apa coba kalau gak ngambek.๐คฃ
ME : Idih enggak deh suer terkewer-kewer akuh kagak ngambek โโ
Kan sesuai request aja supaya gak panjang hehehe....
READER : Lanjutin napa, tanggung amat. Belum juga ada ๐ nya ๐๐๐
ME : Ouwhhhh..... Itu maksudmu toh ???? Ckckck....๐
READER : Enggak enggak..... Lanjutin yah thor hehehe... Bonusin ๐ juga gak papa..... ๐
ME : Like dan komentar dulu dong.....
READER : Siap thor....๐
ME : Vote juga ya kalau ada poin nganggur ๐๐๐
READER : Ngelunjak lu thor ๐๐คฆโโ๏ธ๐คฆโโ๏ธ
ME : Hehehe... Sekali-sekali lah akuh ngelunjak dikit ๐
๐๐๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Terima kasih yang masih setia membaca kisah HEGA dan MOZA ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...
โ LIKE ๐
โ COMMENT โ๐
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐
__ADS_1