Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Menghindar atau Hadapi ?


__ADS_3

AUTHOR


Setelah menikmati makan siang yang tertunda begitu lama hingga hampir menjelang petang. Merekapun bersantai sejenak, sambil sekalian sholat maghrib di mushola yang berada di area restoran.


Tampak Dimas sedang ngobrol bersama Bara dan Hega, merasa tidak enak dengan sahabat abangnya itu karena membawa teman-temannya untuk ke villa tanpa mengetahui kalau Hega sudah lebih dahulu memiliki rencana yang sama.


" Sori ya bang, gue gak tahu kalau kalian mau pakai villa. " ucapnya ragu sambil melirik ke arah Hega kemudian beralih ke Bara meminta bantuan abangnya untuk berbicara pada sahabat abangnya itu.


Hega memang sosok yang dingin dimata orang-orang di sekitarnya, sehingga mereka yang tidak memiliki hubungan yang cukup dekat dengannya akan segan bahkan takut untuk memulai pembicaraan dengan pria itu. Begitu juga bagi Dimas, meskipun sudah mengenal Hega cukup lama, masih saja sering merasa canggung setiap kali terlibat pembicaraan dengan sahabat abangnya itu.


Tetapi tidak ada yang tahu bahwa diam-diam Dimas sangat mengagumi pengusaha muda tersebut, Hega adalah sosok role model bagi Dimas, baginya Hega adalah panutan untuk memotivasi dirinya berusaha keras mencapai sukses di usia muda. Sosok pria multi talent, tidak hanya berkompeten dalam hal berbisnis, tetapi juga cukup handal dalam olahraga, dan seni.


Jika saja pria ini sedikit saja memiliki sifat ramah milik Bara, pastinya akan semakin banyak gadis yang mengejarnya. Bukan berarti sekarang tidak ada wanita yang menginginkannya, hanya saja sikapnya yang acuh dan bahkan angkuh membuat wanita yang ingin mendekatinya menjadi menjadi tak berdaya.


Alih-alih bisa menjalin hubungan dengan sosok tampan itu, mereka bahkan harus rela mundur dengan kekecewaan menghadapi tatapan mata dingin dan juga kalimat-kalimat ketusnya yang seringkali menusuk hati. Dan mereka harus pasrah hanya mengagumi sosok itu, tanpa berani berniat memiliki.


" Kalau lo gak nyaman bareng mereka, biar ntar Dimas sama temen-temennya sewa villa lain aj. " kata Bara santai sambil menyikut lengan adiknya.


" Gak papa. " jawab Hega singkat sambil kemudian meminum kopinya.


" ". Bara dan Dimas mengeryitkan dahi bersamaan.


" Sepertinya tidak terlalu buruk jika makin banyak orang, lagipula kita bukan orang asing. " kata Hega dengan ekspresi datar.


" Makasih bang, kalo gitu gue lihat yang lain dulu apakah sudah siap melanjutkan perjalanan. " ujar Dimas dengan nada lega dijawab denga anggukan dari dua sahabat itu.


" Lo yakin gak masalah ? " tanya Bara lagi selepas kepergian adiknya.


" Hm. " jawab Hega singkat.


" Oke, kalo lo nanti merasa kurang nyaman,... "


" Sepertinya menghindari masalah tidak akan membuatku bisa mengatasinya, malah mungkin semakin memperburuk. So i will see how to deal with it ?. " jelas Hega memotong kalimat sahabatnya yang pastinya membuat Bara bertanya-tanya, tapi terlalu enggan meminta penjelasan karena dia tahu benar Hega tak akan memberi penjelasan terperinci.


" Bang, yang lain udah siap. " teriak Dimas tak jauh dari mereka berdua.


" Yuk. " kata Bara kemudian berdiri dan melangkah ke arah kasir.


" Sudah dibayar oleh tuan yang tampan berbaju putih. " kata wanita penjaga kasir saat Bara menanyakan tagihan dan hendak mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, semua tagihan ternyata sudah dibayar oleh sahabatnya saat baru selesai sholat maghrib tadi saat yang lainnya tengah sibuk mengobrol sambil beristirahat.


Bara melangkah menuju tempat parkir setengah berlari mengejar sahabatnya, rombongan Dimas sudah bersiap masuk ke dalam mobil saat kemudian Bara tampak melihat ke arah mobil Dimas, kemudian bertanya dengan isyarat pada sahabatnya yang tengah membuka pintu mobil untuk mengijinkan beberapa orang pindah ke mobilnya. Kemudian dijawab dengan anggukan oleh pemilik mobil.


" Dek, lo sama abang aja, biar agak longgaran mobilnya. " kata Bara pada Deana.


" Tambah seorang lagi boleh, jadi satu mobil berempat. " lanjutnya, Deana mengangguk setuju.


" Yuk Mo, kita pindah. " Deana melirik pada sahabatnya.


" Renata aja yang pindah, aku disini aj. " kata gadis itu sedikit ragu.


" ". Deana mengernyitkan dahinya keheranan.


" Biar gak ribut aja Renata sama Julian satu mobil. " kata Amira membela Moza, yang tanpa sadar diikuti desahan nafas lega dari gadis cantik itu.


Deana mengangguk setuju tanpa curiga, diikuti Renata yang berjalan kearah mobil Hega. Dan perjalananpun kembali berlanjut.


MOZA


Suasana perjalanan berubah drastis saat kini kami hanya berempat di dalam mobil karena Deana dan Renata berpindah ke mobil yang dikendarai kak Bara. Tidak ada lagi nyanyian setengah sumbang dari Renata, dan tidak ada lagi ejekan menggoda dari Julian. Hanya sesekali kami membicarakan sesuatu yang sepele, seperti rasa makanan di restoran, berapa lama lagi sampai di villa atau beberapa hal remeh lainnya.


Kuambil headset dan menancapkannya di ponsel ku, memasang satu earphone di telinga sebelah kiri, dan membiarkan yang satunya bergantung di bawah leherku. Mencari playlist lagu-lagu favoritku, dan Amira juga tengah asyik bermain sosmed di ponselnya.

__ADS_1


Dimas tetap fokus pada kemudi, Julian menggantikan posisi Renata, menjadi penyanyi solo di mobil sambil sesekali mengganti lagu di pemutar musik mobil. Ya tentu saja suara Julian masih tergolong suara yang bisa dinikmati, jika tidak mungkin aku dan Amira yang akan menggantikan posisinya seperti saat dia mongolok-olok menggoda Renata yang bernyanyi.


" Mobil bang Bara ganti lagi Dim? " tanya Julian kemudian masih sambil mengotak-atik pemutar musik mencari lagu yang dia suka.


" Bukan, itu mobilnya Bang Hega. Mana mampu keluarga gue beli tuh mobil, meskipun mampu juga sayang lah duitnya. " jawab Dimas tanpa mengalihkan pandangannya.


" Loh, setahu gue bang Hega pakai Porsche. " tanya Jul masih penasaran.


" Orang kaya mah bebas mau punya berapa mobil Jul, lo sendiri kan juga punya mobil lain selain yang biasa lo bawa. " kata Dimas kemudian.


" Kalo gue mah apa atuh, ini aja udah cukup deh, ada duit mending buat modal gedein kafe. " lanjut Dimas lagi.


Bukan bermaksud menguping, tapi memang obrolan mereka sangat jelas. Yang kutahu Julian adalah anak tunggal keluarga Adiputra yang bisa dibilang tingkat kekayaannya masih diatas keluarga Prasetya. Yang selalu terpenuhi kebutuhannya dan mendapat semua yang dia inginkan, apalagi dengan sifatnya yang suka bersenang-senang, mengikuti tren baru terutama untuk masalah gadget.


Tapi dia adalah tipikal yang loyal pada teman-temannya, bahkan hampir setiap kali kami empat dara jalan-jalan di mall dan Julian selalu nimbrung tanpa malu, si Julian lah yang membayar makanan kami dan sekaligus menjadi supir kami tentunya. Saat kami tanya apa dia gak malu jalan bersama empat gadis jawabannya selalu santai ' anggap aja gue Raja lagi jalan sama Ratu dan selir-selirnya '. Jawaban ngasal yang berakhir dengan pukulan kompak dari kami berempat, disertai tawa yang seringkali membuat kami jadi pusat perhatian saat di keramaian.


Sedangkan Dimas lebih punya kedewasaan, Apalagi sejak merintis usaha kafe nya dengan modal dari sang abang, Dimas bertekad untuk mandiri. Memenuhi kebutuhan dan keinginannya dari hasil usahanya sendiri. Meskipun orang tua dan bahkan abangnya seringkali menawarkan bantuan jika Dimas memiliki keperluan atau keinginan, sejauh ini dia merasa masih belum memerlukannya. Tentu saja itu adalah cerita dari Deana, karena aku bukan tipikal yang akan menanyakan kehidupan pribadi orang lain, sedekat apapun aku dengan mereka.


Mengingat latar belakang kedua sahabatku ini aku sedikit penasaran seberapa hebatnya orang yang sedari tadi mereka bicarakan itu. Apa pria itu begitu hebatnya hingga dia bersikap seperti itu pada gadis-gadis yang selama ini mendekatinya. Semakin diingat semakin bikin kesal, apa sih yang dilihat para gadis dari dia, apa wajah ganteng saja sudah cukup bagi mereka. Memang tampang tidak selalu mencerminkan sifat seseorang pikirku.


" Ganteng, kaya dan pengusaha sukses. Mantap betul ya bang Hega. " kata Julian kemudian.


" Tapi kok gak pernah liat bareng cewek ya ? " lanjutnya berubah dengan nada keheranan.


" Gimana punya cewek, jutek judes gitu. " kataku keceplosan dengan masih tetap asyik dengan ponselku, yang disambut lirikan dari mereka bertiga.


" Selama ini emang kaku dan dingin sih orangnya, padahal kita udah sering ketemu dan ngobrol ya, tapi biasanya responnya paling cuma anggukan atau mengangkat bahu sekalinya bersuara cuma bilang 'hm' atau 'iya'. " ujar Amira menimpali.


" Tapi gak pernah tuh dia judes atau ketus kalau lagi ikut nimbrung sama kita, palingan pasang muka datar. " jawab Julian keheranan.


" Emang lo pernah dijudesin sama dia Mo ? " tanya Julian sambil menoleh kearahku, yang diikuti Amira yang seolah sama penasarannya. Sedang Dimas hanya terlihat sesekali melirik ke arah spion seolah juga menunggu jawabanku.


" ". disambut ekspresi masih menuntut penjelasan.


Kemudian kualihkan pandanganku dari ponselku, melepas earphone dan menarik nafas perlahan kemudian menceritakan apa yang pernah kulihat di kafe tanpa sengaja, saat seringkali kulihat beberapa wanita mencoba mendekatinya, mulai dari wanita yang menatap pria itu, berpura-pura terjatuh sampai bahkan ada yang nekat mengajak kenalan. Semuanya diacuhkan dengan ketus dan ada beberapa yang ditolak dengan ekspresi dingin bahkan pernah ada yang ditolak dengan satu dua kalimat yang sepertinya menyakitkan bagi mereka, karena kulihat beberapa kali ada yang menangis setelah berurusan dengan pria itu.


" Emang dia bilang apa sampai bikin tuh cewek nangis ? " kata Amira penasaran.


" ". aku memutar bola mataku sambil berusaha mengingat sesuatu.


" Ehem.... dia bilang gini 'saya disini untuk makan, bukan untuk ngobrol dengan anda, silahkan pergi'. semacam itulah. " kataku sambil menirukan nada pria itu.


" Ha ha ha ha ha....... " sontak Julian dan Amira tertawa bersamaan, tentu saja bikin aku kebingungan.


" Apanya yang lucu ? " tanyaku kesal.


" Kok gue merasa gak asing sama kalimat itu. " kata Jul kemudian didukung dengan anggukan dari Amira yang tampak berusaha menahan tawa, sedangkan Dimas tampak tersenyum dibalik kemudi.


" Apa ? Kamu pernah juga lihat tuh orang kayak gitu ? " tanyaku polos.


" Bukan dia, tapi lo. " kata Amira kemudian sambil mengelap air matanya karena tertawa, kali ini Julian juga mendukung kalimat Amira dengan anggukan.


" ". aku kembali mengernyitkan dahi masih keheranan.


" Lo lupa tiap kali ada cowok yang nyamperin lo, terutama pas di kantin yang pura-pura jatuhin sendok lah, yang liatih lo makan lah, dan yang terang-terangan ngajak lo kenalan. Coba apa jawaban lo ? " kata Jul kemudian.


" Aku lupa. " jawabku singkat karena memang kurasa itu bukan hal penting yang harus aku ingat.


" Gini nih lo jawabnya, ehem.... ' maaf saya disini untuk makan, bukan untuk cari kenalan ' ....." jawabnya kemudian seolah-olah menirukan gaya bicaraku. Yang kemudian disambut tawa lagi oleh mereka berdua, dan kali ini Dimas terlihat menahan diri untuk tidak ikut tertawa.


Merasa dikeroyok, kembali kuraih ponselku dan memasang kedua earphone di kedua telingaku berharap bisa meredakan suara tawa mereka yang membuatku hampir tuli. Dan segera kualihkan pandanganku ke arah kaca mobil di samping kiriku melihat jalanan yang gelap karena kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 18.30.

__ADS_1


^^ Seringkali kita tak menyadari bagaimana kita bersikap, baik atau buruk, salah atau benar. Seperti halnya cermin untuk melihat punggung kita, begitu juga Sahabat yang selalu ada untuk mengingatkan hitam dan putih perilaku kita. ^^ ( Sherinanta )


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


🌟 IKLAN 🌟


Me : Karena edisode nya udah cukup panjang, kali ini iklan nya dikit aj ya.


Pembaca : Yaaaah..... penonton kecewa... huuuuu 😯😯😯😯


Me : kok penonton sih, emang orkes dangdutan ?


Pembaca : eits pembaca kecewa ding.... 🤣🤣


Me : udah aku kasih QOTD sesuai janji kemarin, jadi aku tak ada hutang padamu ya.... Jangan lupa janjimu buat kasih diriku like comment and poin loh...


Pembaca : Masa sih gue janji gitu... ???? (pura-pura beg*)


Me : jangan pura-pura beg*, ntar beg* beneran. ( doa orang teraniaya di bulan puasa )


Pembaca : ( pura - pura lupa )...


Me : jangan pura-pura lupa, ntar pikun beneran. ( doa orang teraniaya di bulan puasa )


Pembaca : dih doain gue jelek-jelek luh thor...


Me : aku tuh mana tega doain situ jelek-jelek, kasihan kan udah jelek tambah jelek 🤣🤣🤣🤣


Pembaca : " " ( mikir sambil ngaca )


Me : gak usah pake ngaca, mau ngaca sampe kaca pecah juga gak bakal berubah tuh muka....


Pembaca : sialan lu .... gue mah cakep taukkk....


Me : yey mana aku tahu dirimu cakep apa kagak, PP aja pake foto artis korea, gak pede ama tuh muka ?


Pembaca : gue mah aslinya emang cakep, tuh PP mewakili muka gue tauk....


Me : Halu nya jangan ketinggian, jatoh sakit.... tau kagak kalo " jatoh dari kehaluan tak seindah jatuh cinta.... "


Biar gak halu aku doain deh muka lo beneran jadi mirip sama tuh artis korea.


Pembaca : Bener ya thor....


Me : tapi kasih aku like comment dan poin yah....


Pembaca : Siap thor....


Me : Ya Allah, berikanlah pembacaku ini wajah secakep artis korea, biar dia gak galau lagi ma mukanya.... Amin. ( biarpun gue doa sampe 7 hari 7 malam tuh doa gak bakalan kesampaian, kecuali lu oplas di korea ✌✌✌✌✌✌ )


Pembaca : kagak ikhlas doanya lu thor...


Me : aku ikhlas kok, cuma tercapai atau tidak tergantung usaha dirimu lah yaw....


Pembaca : kalo gitu like comment and poinnya tunggu kalo doa lu terkabul thor, klo muka gue udah secakep artis korea....😝😝😝😜😜


Me : 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......💔

__ADS_1


__ADS_2