
AUTHOR
β’ Kembali ke Rumah Utama β’
" Ah... Kakek jadi penasaran bagaimana caramu meyakinkannya ?! Hahaha.... " Sambungnya menatap curiga cucu nakalnya itu.
G L E K . . .
Moza menelan salivanya dengan sudah payah, melirik cemas ke arah kakek Suryatama. Canggung dan tegang rasanya mengingat rekaman cctv di ruang olahraga.
Kemudian pandangannya beralih pada pemuda yang sudah berubah status dari calon tunangan menjadi calon suami dalam semalam. Sedikit kesal melihat pemuda itu malah tercengir dengan wajah tanpa dosa.
Moza berharap kejadian seperti semalam itu tidak akan terulang lagi sebelum dirinya resmi menyandang status istri dari Hega.
" Kalian yakin dengan keputusan kalian ini ?! " Tanya Ardi tegas, menatap putrinya dan calon menantunya bergantian.
Gurat keraguan jelas terlihat di ekspresi wajah pria paruh baya itu. Meskipun selama ini Moza selalu bersikap dewasa di hadapan kedua orang tuanya. Tapi bagi Ardi, gadis itu tetaplah putri kecil kesayangannya.
Sejak Moza kecil, Ardi memang kurang memiliki waktu untuk putrinya itu karena kesibukannya merintis usaha restorannya. Dan tanggung jawab menjaga gadis itu dipegang oleh almarhum putra sulungnya.
Dan sekarang saat usaha Ardi sudah stabil dan bahkan berkembang sangat baik dengan cabang di beberapa di kota.Pria itu rasanya ingin menebus waktu kebersamaannya dengan putrinya yang tidak bisa dinikmatinya saat gadis itu masih anak-anak.
Jelas Ardi merasa belum rela jika anak gadisnya tiba-tiba menikah, Ardi mengira jika setelah pertunangan maka pernikahan putrinya akan dilaksanakan minimal dua tahun kedepan menunggu kelulusan Moza.
Dan Ardi masih memiliki cukup waktu untuk memanjakan putrinya hingga saat dimana gadis itu menikah nantinya. Jadi keputusan untuk mengubah acara pertunangan menjadi pernikahan, tentu saja membuat Ardi terkejut dan merasa kecolongan. Rasanya seperti ada yang akan mencuri putri kecil kesayangannya.
" Haaah.... " Ardi mendesah kasar saat anggukan mantap dan senyuman bahagia didapatkannya dari putri tercintanya sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi.
Plak. . .
__ADS_1
Ayu Puspita menepuk pelan bahu suaminya, " Kenapa ayah malah mendengus seperti itu ?! Bukankah ini kabar baik yang harus disambut dengan tawa suka cita ? "
Mendapat pertanyaan seperti itu dari ibu anak-anaknya membuat Ardi menatap pias sang istri, kenapa wanita yang menemaninya selama 28 tahun ini seolah tidak memahami isi hatinya.
Dan bukannya Ayu tidak memahami isi hati sang suami, hanya saja Ayu tidak ingin merusak kebahagiaan putrinya. Lagipula Ayu yakin jika Hega bisa menjaga dan membahagiakan putri cantiknya itu.
" Ini kan berita bahagia, Ayah jangan memasang ekspresi mengerikan seperti itu ! " Ayu malah menggoda suaminya.
" Bunda ! " Pekik Ardi lirih merasa tidak enak dengan keluarga calon besannya jika mereka akan salah paham dengan responnya yang terlihat kurang antusias itu.
" Ayah, maafkan Hega jika keputusan kami terdengar terburu-buru. Jika Ayah keberatan maka kami bisa mengundur waktunya sampai ayah mau merestui kami. " Hega yang seolah tahu arti ekspresi di wajah calon ayah mertuanya itu, berusaha memahami kegelisahan pria paruh baya tersebut.
" Keberatan apanya ?! Ayah hanya belum rela saja anak gadisnya diambil orang. Jadi jangan kamu ambil hati, anggap saja ayah bucin ini sedang merajuk karena putri kesayangannya mau kamu curi ! " Ucapan Ayu membuat seluruh keluarga terbahak, ya kenyataannya semua pria di keluarga Dama itu memang sudah bucin pada gadis itu.
" Bunda ini apa-apaan sih ?! Membuat malu ayah saja. " Gerutu Ardi melirik sang istri.
" Hega tidak akan mencuri Momo kok, Yah. Hega kan juga anak ayah dan bunda. Anggap saja Hega mengambil tanggung jawab untuk menjaga dan membahagiakan putri ayah yang berharga. " Ucap Hega mencoba mengambil hati ayah Moza itu.
" Iya, ayah percaya padamu dan ayah merestui kalian. Apapun yang membuat putri ayah ini bahagia, maka ayah akan mendukungnya. " Jawab Ardi seraya tersenyum pada sahabat almarhum putranya itu dan beralih menatap gadis yang duduk disampingnya, mengelus kepala putrinya yang berharga.
Ya... Dia juga putraku, dia pasti akan menjaga dan membahagiakan putriku. Arka... Ayah sudah benar kan dengan melepas adik kesayanganmu untuk menikah dengan pemuda pilihanmu, sahabatmu ?! Ayah harap kamu tenang dan bahagia di sana.
Batin Ardi meyakinkan dirinya jika keputusannya untuk menyetujui pernikahan ini memang adalah hal yang sudah tepat.
" Mas Arya, kalau menurut mas sendiri bagaimana ? Apa jangan-jangan mas juga merasa resah dan belum rela melepas putra kesayangan mas Arya untuk menikah ?! " Lagi-lagi celetukan Ayu memancing gelak tawa semuanya.
" Ahhh . . . Tidak rela apanya ?! Aku malah senang dia segera menikah, aku justru akan merasa resah jika dia masih juga melajang di umur yang setua ini. Dan lagi sejak bersama putrimu, anak jutek dan galakku ini sepertinya sudah mulai jinak. Hahaha.... " Balas Arya menanggapi gurauan Ayu dengan candaan yang lebih menjurus membully putranya, dan tentu saja celetukan usil sang papa membuat Hega melotot dingin pada sang papa, merasa malu pada calon mertuanya.
" Papah.... "
__ADS_1
HAHAHHAA......
Gelak tawa memenuhi ruang keluarga, di beberapa sudut para pelayan yang ikut mendengar pembicaraan keluarga tersebut juga ikut tersenyum bahagia melihat kehangatan keluarga yang sempat hilang selama bertahun-tahun lamanya.
Dan hari ini hingar bingar dan tawa kembali menghidupkan suasana dan memberi warna ceria di rumah utama yang selama ini terlihat polos dan datar-datar saja.
" Bagaimana menurut Papi ? " Giliran Arya meminta pendapat pada pria paling sepuh di keluarga, dan semua wajah kembali terlihat serius seolah menunggu sang Raja mengambil alih keputusan setelah semua menteri mengungkapkan pendapat mereka masing-masing.
" Mereka sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada apa yang sudah mereka putuskan. Kakek akan selalu mendukung apapun yang membuat kalian berdua bahagia. Menikah muda toh juga tidak ada salahnya, siapa tahu kakek bisa segera dapat cicit. " Ujar Suryatama serius kemudian tersenyum setelah mengucapkan kata cicit di kalimat terakhirnya dan melirik penuh arti pada Hega dan Moza secara bergantian.
" Kakek .... " Sela Hega seraya menggertakkan giginya, Hega tidak ingin membuat Moza merasa stress dan tertekan apalagi merasa dituntut untuk segera hamil dan memberikan penerus untuk keluarga.
" Iya, iya. Kakek hanya bercanda, dasar bocah nakal, kakek kan sedang membantumu membujuk mertuamu. Tapi kalau cucu menantu kesayangan kakek ini mau mengabulkan bercandaan kakek tadi ya apa boleh buat, kakek dengan senang hati menerimanya. " Ucap Suryatama lagi masih dengan senyum menghiasi ekspresi bahagianya.
B L U S H . . .
Jelas rona merah langsung menyembur di pipi putih Moza yang masih diam saja menjadi pendengar pendapat para orang tua.
" Kakek, berhenti membahas tentang itu ! Hega tidak mau Momo merasa tertekan dengan kemauan kakek. " Protes Hega menahan kesal.
" Dasar, memangnya cuma kakek saja yang ingin segera punya cicit. Papa dan mertua kamu pasti kan juga ingin punya cucu, iya kan Nak Ardi ?! " Suryatama mencoba memancing kembali respon dari calon besannya, berharap dengan menyebutkan kata cucu bisa sedikit melunakkan hati pria yang jelas masih berat melepas putri satu-satunya itu.
" Ekhem.... Saya terserah anak-anak saja Om, yang terpenting mereka bahagia. " Jawab Ardi akhirnya.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Alhamdulillah akhirnya Ayah Ardi luluh juga. Gini nih punya bapak bucin anaknya... Anak gadisnya mau nikah malah baper...
HEGA : Sabar Ayah, nanti Hega buatkan cucu yang lucu dan seganteng mantu Ayah ini. ππ
__ADS_1
THOR : Narsisnya kumat ππ
HEGA : Kenyataan ini thoor... Iri bilang thoor... !!!