Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Pemilik Hatimu


__ADS_3

AUTHOR


Moza segera menyusul kekasihnya setelah berpamitan pada kedua temannya, Amira dan Renata. Meninggalkan Fabian yang masih diam terpaku di tempatnya, tanpa sedikitpun menoleh kembali pada pria yang masih menatap sendu kepergiannya.


Perasaan Moza juga sama kacaunya dengan perasaan pria itu, antara bahagia dan kecewa bercampur menjadi satu. Gadis itu juga butuh menenangkan hatinya.


Saat sampai di tempat parkir terlihat Hega sedang mengobrol dengan seseorang yang ternyata adalah Deana.


" Aku kira kamu pergi kemana ? "


" Eh. . . Mo, ini tadi kasian bang Hega sendirian nungguin lo makanya gue temenin. Takut ntar dipepet cewek-cewek ganjen yang dari tadi lewat matanya pada melotot kek mau keluar aja tuh mata pas liat ada orang seganteng dan sekeren bang Hega nganggur di parkiran. Hehehhe . . . " Deana tercengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendapati sahabatnya sudah berada di balik punggungnya.


Moza hanya geleng-geleng kepala menanggapi candaan sahabatnya.


Padahal ucapan gadis itu sebenarnya tidak sepenuhnya candaan. Toh memang benar sedari tadi banyak perempuan yang melotot terpesona setiap melihat sosok Hega.


Hega menatap gadis cantiknya dan tersenyum, " Sudah selesai ? " Tanyanya seraya membelai rambut panjang Moza saat gadis itu sudah berdiri tepat di sampingnya.


" Eum. . . " Jawab gadis itu seraya membalas dengan senyum yang sama.


" Kita pulang ? " Tanya Hega lagi dan gadis itu mengangguk.


" Dea, aku balik dulu ya. " Pamit Moza pada sang sahabat.


" Fabian ?! " Tanya Deana yang langsung reflek membekap mulutnya sendiri.


" Sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan dirinya saat ini. "


" Huft . . . Memang dasar tidak punya otak itu anak, pergi tanpa pamit, datang tiba-tiba udah kayak setan aja. " Oceh Deana lagi.


" Dea . . . " Potong Moza lirih sambil menggeleng kecil mengisyaratkan agar Dea menghentikan pembahasan tentang Fabian, apalagi di depan calon suaminya.


" Hehehhe . . . Sorry, Mo ! " Gadis itu lagi-lagi tercengir canggung dan melirik Hega dan Moza bergantian merasa telah membahas sesuatu yang seharusnya tidak dia bahas di depan tunangan sahabatnya itu.


Hega hanya tersenyum menanggapi sifat Deana yang memang ceplas-ceplos itu.


" Eh. . . Iya, tangan lo, gak papa kan ?! " Dea menyambar lengan Moza saat teringat perlakuan Fabian yang sedikit kasar tadi dan gadis itu menggeleng membuat Deana bisa sedikit bernapas lega.


" Ya udah, aku balik dulu ya. Aku udah pamitan sama Amira dan Rena tadi. " Moza pamit sekali lagi dan memeluk sahabat karibnya.


" Eum. . . Tenang aja, gue bakal urus si Bian sialan itu. " Bisik Deana kemudian melepas pelukannya dan mengerlingkan satu matanya pada sahabatnya.


Moza tersenyum dan mengangguk kemudian memasuki mobil Hega.


" Dea, terima kasih sudah menemani saya tadi. " Ucap Hega sebelum memasuki mobilnya.


Dibalas acungan dua jempol oleh sahabat dari kekasihnya itu.


⚘⚘⚘


Di dalam mobil, Hega terus melajukan kendaraannya tanpa bicara. Entah karena bingung apa yang mau dikatakan atau karena pria itu sedang memberi waktu gadisnya untuk menenangkan dirinya.


Hening . . .


Hening . . .


Dan hanya keheningan . . .


Hingga tanpa terasa perjalanan dalam keheningan itu berakhir saat mobil putih Hega memasuki gerbang utama kediaman Saint dan berhenti di dekat botani garden, padahal letak bangunan rumah utama masih satu kilometer lagi.


" Mo. "


" Kak. "


Ucap Hega dan Moza bersamaan sambil saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


" Kamu dulu ! " Ucap Hega.


" Tidak, kakak saja yang duluan ! "


Hega melepas seatbeltnya dan memiringkan badannya menatap lekat wajah Moza, kedua mata gadis itu sedikit sembab.


" Kamu baik-baik saja, kan ?! " Mengusap pipi Moza perlahan.


" Eum. . . Iya, kak. Aku baik-baik saja. "


Hega menyentuh pergelangan tangan Moza yang masih terlihat memerah, mengelusnya lembut dan meniupnya berharap bisa mengurangi rasa sakit gadisnya.


" Masih sakit ? " Tanyanya kemudian dan si pemilik tangan mungil itu menggeleng.


" Kak. . . "


" Hm. . . " Masih fokus meniup lengan Moza dan sesekali mengusapnya.


" Maaf. "


Mendengar permintaan maaf keluar dari bibir gadisnya membuat Hega sejenak menghentikan aktivitasnya meniup pergelangan tangan Moza yang memerah.


Hega mengangkat wajahnya menatap kekasihnya, " Kenapa minta maaf, hem ? "


" Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa kakak akan kecewa padaku. " Moza menundukkan kepalanya.


Hega menyentuh dagu Moza dan mengangkan wajah gadis itu agar menatapnya.


" Kenapa aku harus kecewa ? Kamu tidak melakukan sesuatu apapun yang membuatku kecewa, Momo sayang. " Ucapnya kemudian.


" Apa kakak tidak ingin menanyakan apapun padaku ? "


" Sebenarnya banyak yang ingin aku ketahui, tapi semua itu tidak lagi penting. Toh aku tahu siapa pemilik hatimu, dan itu cukup untukku. Aku hanya tidak suka kamu menangis dihadapan pria lain. " Ujar Hega seraya tersenyum hangat.


" Ahh. . . Bukan berarti aku suka melihatmu menangis di depanku. Pokoknya aku tidak suka melihatmu menangis, apalagi karena orang lain, terlebih karena seorang pria. Lebih buruknya aku tidak bersamamu saat kamu menangis, membuatku semakin merasa tidak nyaman saja. " Gerutu Hega panjang lebar masih terus mengelus pergelangan tangan Moza.


Jemari Hega berpindah mengelus kepala gadisnya, " Sudahlah, kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Sedikit banyak Dea sudah bercerita tentang pria yang kamu temui tadi, bagaimana hubungan persahabatan kalian dulu. Tapi aku khawatir sahabatmu itu tidak akan menyerah begitu saja. Mungkin lebih baik kamu jangan menemuinya dulu untuk sementara waktu ini. "


" Fabian tidak akan melakukan hal yang buruk padaku, Kak. " Ucap Moza meyakinkan.


Moza mungkin memang tidak cukup mengenal latar belakang Fabian. Tapi keyakinannya cukup besar bahwa Fabian tidak akan punya niat melukai dirinya dan juga Deana.


" Ya, aku tahu. Tapi di dunia ini ada banyak cara bagi seorang pria mempertahankan cintanya. Kita tidak tahu dia termasuk dalam kategori pria yang merelakan gadis yang dicintainya bahagia dengan pria lain. Atau justru dia termasuk dalam jenis pria yang akan melakukan segala cara untuk bersama dengan gadis yang dicintainya. Aku tidak mau ambil resiko. Jadi berhati-hati lah. Apalagi sahabatmu itu punya latar belakang yang sulit untuk dijelaskan. "


Dahi Moza mengerut menatap Hega dengan penasaran, " Kakak mengenal Fabian ?! "


Hega mengangguk pelan tanpa melihat wajah Moza karena masih dengan aktifitasnya mengusap lengan Moza yang kemerahan.


" Hem. . . Dia partner bisnisku di LA, lebih tepatnya dia meneruskan usaha orang tuanya. Saat aku menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaannya, waktu itu ayahnya lah yang jadi pemimpin perusahaan. Dan setahun lalu aku baru tahu jika putranya yang mengambil alih perusahaan itu, dan aku baru bertemu dengannya kemarin saat dia datang ke kantor untuk urusan pekerjaan. Aku tidak menyangka kalian saling kenal. " Jelas Hega ringkas.


" Oh. . . "


" Tapi Momo sayang, . . . " Hega tiba-tiba menatap Moza dengan tatapan serius.


" Hem ?! "


" Sebaik apapun kamu mengenalnya di masa lalu, aku harap kamu tetap waspada terhadapnya. Bisa jadi Fabian yang barusaja kamu temui tadi berbeda dengan Fabian yang kamu kenal dulu. " Ucap Jega misterius.


Bukan Hega jika tidak menyelidiki terlebih dahulu siapa partner bisnis yang bekerjasama dengannya. Ada satu sisi gelap keluarga Graham yang sebenarnya sempat membuat Hega saat itu tidak ingin melanjutkan kerjasama dengan perusahaan Graham Corps.


Tapi saat itu ayah Fabian, Antonio Alhard Graham memberikan jaminan, jika kerjasama mereka terlaksana maka Graham Corps tidak akan merugikan HEART dalam bentuk apapun.


" Kak. . . " Suara Moza memutus rangkaian lamunan Hega.


" Ah. . . Aku mengatakan ini bukan karena aku cemburu, aku hanya tidak mau terjadi sesuatu padamu, apalagi pernikahan kita tinggal menghitung hari. Kamu mengerti maksudku kan, Momo sayang ?! "

__ADS_1


" Eum, iya kak. Aku akan menuruti kakak. " Jawab Moza dengan tersenyum cantik membuat Hega sangat terpesona dibuatnya.


" Bagus, my sweet wife. " Mencubit gemas hidung mancung Moza.


" Ish. . . "


" Kenapa ? Masih tidak suka aku memanggilmu dengan sebutan 'istriku' ? "


" Bukan begitu, Kak. Aneh saja kan memang aku belum jadi istri kakak. " Merengut imut dan menggemaskan.


" Pffft. . . Anggap saja latihan, supaya nanti kalau sudah sah jadi mudah membiasakan diri dengan panggilan itu. " Elak Hega dengan liciknya membuat Moza tersipu malu.


" Kak. . . " Menangkup pipinya sendiri dengan kedua telapak tangannya.


" Ya, tersenyumlah seperti itu. Aku tidak suka melihatmu murung. "


" Ah iya, tadi Mami menelpon meminta kita meluangkan waktu besok untuk fitting akhir baju pengantin kita. " Lanjut Hega.


" Eum. . . Besok aku ada dua mata kuliah, mungkin jam sebelas aku baru selesai. "


" Kalau begitu aku akan menjemputmu di kampus. "


" Eum. . . "


Hega hendak menyalakan kembali mesin kendaraannya, tapi Moza menggenggam pergelangan tangan kiri pemuda itu.


Tersirat sedikit keresahan yang masih tersisa di wajah ayu Moza.


" Kenapa lagi, hem ? " Tanya Hega setelah melihat raut wajah kekasihnya yang terlihat risau.


" Apa kakak sungguh tidak ingin menanyakan apapun padaku ? " Tanya gadis itu ragu, nyatanya Moza hanya tidak ingin muncul kesalahpahaman diantara dirinya dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.


Apapun yang ada di benak Hega saat ini, Moza ingin mengetahuinya.


Mendengar pertayaan sang kekasih, ekspresi wajah Hega kembali berubah serius.


Hega meraih kedua tangan kekasihnya, " Baiklah, satu hal yang ingin aku pastikan walaupun sebenarnya aku tidak perlu melakukannya karena aku yakin dengan apa yang aku lihat di matamu. " Ucapnya seraya menatap lekat manik mata Moza.


" Katakanlah, Kak ! "


☘☘☘


Dasar dari sebuah hubungan adalah kepercayaan


Jika kita tidak bisa mempercayai orang lain


Jangan menuntut mereka untuk percaya pada kita


Kepercayaan adalah hal yang sulit


Tapi menjaga kepercayaan adalah hal yang jauh lebih sulit


( Sherinanta )


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


...HARI INI LANGSUNG NGEBUT UP...


...KARENA SAYA SEDANG SIBUK DI DUNIA NYATA...


...SEHINGGA TIDAK TAHU KAPAN LAGI BISA UP NYA 🙏🙏🙏...


...JANGAN PELIT GOYANG JEMPOLNYA YA SAYANG...


...⚘ LIKE ⚘ KOMENTAR ⚘ VOTE ⚘...

__ADS_1


...TERIMA KASIH READERS TERZAYANG 🤗🤗🤗...


__ADS_2