Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kejujuran Yang Menyakitkan


__ADS_3

AUTHOR


Untuk kedua kalinya Hega membawa Moza ke rooftop garden secara sepihak. Berbagai pertanyaan muncul di kepala Moza.


Apa yang akan dilakukan pria ini ?


Kenapa dia membawanya ketempat ini ?


Apa yang harus dia katakan pria yang saat ini masih menggenggam erat tangannya ?


Hatinya masih belum siap untuk benar-benar terluka, debaran jantungnya untuk pria ini masih begitu besarnya.


Sedangkan Hega masih diam seribu bahasa, ekspresinya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Antara sedih, terluka, kecewa dan ada semburat bahagia karena bisa memeluk gadis yang amat sangat dicintai dan dirindukannya.



" Kenapa kita kesini kak ? " Tanya Moza akhirnya tak mampu terus berdiam diri mendapati tindakan seenaknya pemuda itu


" Ada yang harus kita bicarakan. " Jawab Hega datar.


" Tentang apa ? Apa tentang kejadian beberapa hari yang lalu ? " Tanya Moza lagi menaikkan satu alisnya.


" Iya, itu salah satunya. Duduklah. " Ucap Hega saat mereka sudah ada di dekat kursi kayu panjang berwarna coklat yang ada di rooftop garden itu. Nada bicaranya masih datar yang membuat gadis itu sedikit tidak nyaman.


" Tidak, aku berdiri saja. Karena sepertinya pembicaraan kita tidak akan lama. " Ucap Moza menolak permintaan Hega untuk duduk, menormalkan nada bicaranya untuk tetap terlihat kuat.


" Ada banyak hal yang akan aku katakan. Jadi duduklah. " Bujuk Hega, intonasi suaranya melembut.


" Jika ini tentang perempuan yang bersama kakak waktu itu, kakak tidak perlu melakukannya. Tidak perlu mengatakan apapun. Karena kita hanya berteman, kakak tidak berkewajban menjelaskan apapun. " Kekeh Moza dengan posisi tetap berdiri di depan kursi kayu.


" Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. " Sangkal pemuda itu.


" Memang apa yang aku pikirkan ? Jangan bilang kakak lagi-lagi membaca pikiranku. " Ucap Moza dingin.


" Aku tahu kamu sedang salah paham, dan itu memang sepenuhnya salahku. Tapi tolong dengarkan aku. Setelah itu apapun yang akan kamu lakukan, aku tidak akan menghalangimu. " Pinta Hega sembari meraih kedua tangan Moza, namun gadis itu menepisnya perlahan.


" Baiklah, apa yang ingin kakak katakan ? "


Moza sedikit mundur menjauhkan dirinya dari jangkauan pemuda itu, dia tidak ingin lemah, luluh pada setiap sentuhan Hega yang masih membuat jantungnya berlarian. Gadis itu tak ingin membuat logikanya dikalahkan oleh hatinya.


" Saat itu aku dengan sengaja membuatmu cemburu dan terluka. " Hega memulai menjelaskan.


Moza terkejut dengan apa yang diucapkan Hega, matanya terbelalak tak percaya.


" Kenapa ? Apa kakak mau mengukur seberapa besar aku sudah jatuh cinta pada kakak ? Atau kakak mau membalasku karena membuat kakak menunggu jawaban dari pernyataan cinta kakak waktu itu ? ! Atau bahkan mungkin kakak mau membuatku menyesal karena tidak langsung menerima pernyataan cinta kakak waktu itu ? ! " Ucap gadis itu sinis.


Mulai tak bisa mengendalikan dirinya, karena logikanya sudah mulai kalah oleh hatinya. Moza yang tadinya bertekad ingin bersikap tenang apapun yang terjadi, nyatanya hatinya terasa teriris mendengar satu kalimat saja dari pemuda itu.

__ADS_1


" Bukan begitu... " Sangkal Hega, namun belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Moza kembali memotong kalimat pemuda itu.


" Jika itu tujuan kakak, selamat, kakak sudah sangat berhasil membuatku terluka, jatuh hingga aku sendiri tidak tahu sampai di titik mana aku bisa menahan sakit ini. Tapi seperti yang kak Hega lihat aku masih bisa berdiri disini, di depan kakak, masih utuh dan sehat. Jadi kakak tidak perlu merasa bersalah kalau-kalau aku akan menjadi bodoh karena patah hati dan melukai diriku sendiri. " Dan akhirnya pertahanan gadis itu mulai terkoyak, logikanya benar-benar sudah terkalahkan oleh hatinya.


Gadis yang selalu bisa bersikap tenang dan acuh pada masalah apapun, untuk pertama kalinya dikhianati oleh hatinya sendiri. Meluapkan segala sakit yang ada di hatinya, matanya mulai memerah menahan bulir air mata, mendongakkan wajahnya menatap langit yang mulai gelap, berusaha agar tidak ada satu tetespun air mata keluar dari kelopak matanya.


Hega lebih terluka lagi melihat gadis yang dicintainya terlihat benar-benar terluka.


" Aku bilang bukan begitu, tolong dengarkan aku dulu. " Ucap Hega menyambar kedua bahu gadis itu dengan kedua tangannya.


" Aku melakukannya karena aku ingin kamu membenciku. " Lanjutnya.


Deg


Apa lagi maksudnya ini ? ! ~ Moza ~


" Hah... Lucu sekali. Beberapa minggu yang lalu kakak ingin aku mencintai kakak, tapi sekarang justru ingin aku membenci kakak. Apa kakak pikir aku boneka yang tak punya perasaan ?! Atau robot yang bisa kakak atur semau kakak kapan aku harus mencintai dan kapan aku harus membenci ?! Begitu kah ? "


Sekali lagi kalimat Hega membuat gadis itu tak bisa menahan luapan emosinya, ditepisnya kedua tangan Hega dari bahunya, tapi pemuda itu tak melepaskan Moza dengan mudah.


" Dengarkan aku, aku mencintaimu, tapi ada hal yang membuatku tidak bisa bersamamu. Aku juga sama sakitnya seperti kamu. Aku merindukanmu setiap detiknya, sangat tersiksa jauh dari kamu. Tapi aku tidak berdaya. " Ucap Hega dengan raut wajahnya yang pias.


Moza melihat mata pemuda itu memerah, dilihatnya pemuda itu juga tengah menahan diri untuk tidak menangis. Membuatnya tak bisa lagi berontak melepasakan diri dari cengkraman Hega, tubuhnya melemah, pasrah apapun yang akan dikatakan oleh lelaki itu.


Lelaki yang selalu terlihat sempurna, kuat, percaya diri dan tegas itu, untuk pertama kalinya terlihat begitu rapuh dan lemah.


" Aku dijodohkan dengan anak dari sahabat almarhumah Mamaku. " Ucap Hega pada akhirnya.


Jeder.....


Seketika tubuh Moza seperti kehilangan tenaga, kakinya seolah tak mampu lagi menahan beban tubuhnya.


Hega menahan tubuh gadis itu dengan kedua tangannya masih berada di pundak Moza, perlahan mendudukkan gadis itu di kursi kayu di belakangnya dan kemudian duduk di sampingnya.


" A-apa yang baru saja kakak katakan ? " Tanya Moza terbata, wajahnya pias, tatapan matanya sayu.


" Aku harus menikahi gadis pilihan Mamaku yang sudah dijodohkan denganku saat gadis itu masih kecil. "


" Jadi selama ini kakak mempermainkan aku ? Kakak dijodohkan tapi masih berani mengatakan jika kakak mencintai aku dan bahkan ingin menjadi lelaki yang akan membuatku bahagia dan tersenyum setiap hari. Tapi nyatanya... " Moza tak mampu melanjutkan kalimatnya, hatinya benar-benar seperti sudah dicabik-cabik.


" Tidak, aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Saat itu aku benar-benar serius mengatakan jika aku ingin membahagiakanmu selamanya. Dan aku ingin langsung menemuimu setibanya dari LA, tapi.... "


" Tapi ? " Moza menyelidik.


" Hari itu aku tidak bisa menemuimu karena kakekku mengirim orang untuk membawaku pulang dan saat itulah aku baru tahu jika aku dijodohkan. " Jelas Hega dengan ekpsresi kacau dan terlihat benar-benar hancur.


" Lalu kenapa kakak baru mengatakannya padaku sekarang ? Kenapa tidak saat itu juga kakak mengatakannya agar aku tidak menunggu dan berharap. " Ucap Moza masih menahan agar air matanya tak tumpah.

__ADS_1


" Waktu itu..... "


๐ŸŒŸ


Jederrr....โšกโšกโšก


Waktu itu kenapa hayo ?????


Hihihi.... penasaran gak ? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Next akan diceritakan apa isi pembicaraan antara Hega dan Kakek Suryatama yang membuat Hega terpaksa menerima perjodohan itu. ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ


Kapan thor ????


Bentar masih mikir akuh nulisnya. hehehe ๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”


๐Ÿ’•๐Ÿ’• Maaf yah kalau part-nya kurang sedih....


Akuh tuh emang gak bisa bikin adegan yang mengandung bawang....


๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ


๐ŸŒŸ


Jangan lupa kasih aku vitamin


โœ” LIKE ๐Ÿ‘


โœ” COMMENT โœ๐Ÿ’Œ


โœ” VOTE ๐Ÿ’ฑ๐Ÿ’ฒ yah ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


๐ŸŒŸ


โคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโค


โžก๏ธโžก๏ธ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....โค


PLEASE DON'T BE SILENT READER......๐ŸŒน๐Ÿโ˜˜.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Dukung akuh agar semangat MengHALU..... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Terima kasih ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


__ADS_2