Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Like An Angel


__ADS_3

AUTHOR


Hega masih terperangah dengan posisi yang sudah bangkit dari sofa dan berdiri tepat menghadap sosok cantik yang ada di atas panggung fitting room utama.


Rasti yang melihat ekspresi membeku Hega segera menghampiri putra tirinya itu, kemudia memungut ponsel Hega yang teronggok di lantai dan terabaikan oleh pemiliknya yang sibuk menikmati kecantikan sang calon istri.


" Bagaimana, Ga ? " Pertanyaan mami Rasti sedikit mengembalikan kesadaran Hega dari pesona Moza yang membuatnya begitu takjub.


" Apa dia Momo Hega, Mi ? " Tanyanya dengan ekspresi linglung.


Rasti tersenyum mendengar pertanyaan konyol putranya, " Tentu saja, sayang. Dia Momo kamu, calon istrimu. Kamu ini baru ditinggal sebentar sudah lupa wajah calon istrimu. " Tutur Rasti.


" Bagaimana ? " Tanya wanita paruh baya itu kemudian.


" Like an angel. Beautifull Angel " Ucapnya spontan dengan pandangan masih lurus kedepan membuat


[ Seperti Bidadari. Bidadari yang cantik. ]


Mata elang Hega bahkan tidak berkedip sedikitpun, menikmati wajah ayu Moza yang semakin terlihat mempesona dengan balutan kebaya yang melekat indah di tubuh ramping calon istrinya itu.


Lengkungan ke atas bahkan terukir dengan sempurna di bibir pria tampan itu.


Tingkah Hega membuat Rasti tersenyum sembari geleng-geleng kepala, karena memang hampir tidak pernah Rasti mendapati ekspresi seperti itu di wajah putra dari suaminya itu. Selama ini Rasti terlanjyr terbiasa dengan ekspresi dingin dan tatapan tajam Hega.


Jadi sungguh suatu keajaiban bisa melihat wajah tampan itu berekspresi hangat dan penuh cinta seperti saat ini. Terutama jika sudah ada kaitannya dengan gadis cantik yang tengah ditatap mesra oleh kedua mata elang Hega.


Tidak hanya Hega yang terkagum dengan kecantikan gadis itu, ketiga sahabat Moza yang sudah lebih dulu keluar dari fitting room sampai ternganga takjub melihat kecantikan sahabatnya yang semakin mempesona dengan balutan kebaya pengantin yang dikenakannya.


Ditambah lagi make up tipis yang dipoles oleh Clara untuk menyempurnakan penampilan gadis itu.


Ketiga gadis itu berteriak serempak, " Kyaaaa. . . . Mooooo. . . Lo cantik bangeeeetttt ! "


Moza yang memang selalu tampil polos tanpa make up, yang biasanya hanya menggunakan bedak tipis dan liptint. Tentu saja terlihat berbeda ketika wajah yang sudah cantik natural itu dipercantik dengan riasan wajah.


Ini saja masih make up sederhana, sudah bisa membuat gadis itu berkali-kali lipat cantiknya. Bagaimana nanti saat acara pernikahan dengan make up lengkap dari penata rias profesional. Pastinya kecantikan Moza akan semakin tak terbayangkan.


Dan baru saja Hega hendak menghampiri calon istrinya itu, tapi langkah kakinya kalah cepat dengan kehebohan ketiga sahabat dari Moza yang sudah lebih dulu selesai memakai gaun mereka dan berhambur mendekat ke arah Moza.


Moza tersenyum malu mendengar teriakan histeris sahabat-sahabatnya yang memuji dirinya.


" Kalian juga sangat cantik. " Balas Moza melihat ketiga sahabatnya tampak cantik dengan gaun bermodel kembaran yang bernuansa pink peach.


Hega terpaksa menahan diri dan berhenti di tempatnya semula. " Huft. . . "


Rasti tersenyum melihat ekspresi putra tirinya, " Sabar, sayang ! Jika sudah sah nanti, akan banyak waktu untukmu menikmati kecantikan istrimu. " Rasti mengedipkan satu matanya dan mengelus lengan Hega saat mendengar helaan nafas kecewa dari putra tirinya itu.


Hega tersenyum dan mengangguk pasrah, yah untuk saat ini dia memilih mengalah pada gadis-gadis itu. Toh benar kata sang mami, saat nanti sudah menikah akan banyak waktu baginya untuk mengagumi dan menikmati keindahan dan kecantikan istrinya itu, dan itupun untuk dirinya sendiri.


Setelah mencoba kebaya untuk prosesi akad nikah, Moza juga harus mencoba gaun untuk resepsi pernikahannya.


Memastikan semua gaun sudah sesuai ukurannya.


Tentu saja tiba giliran Hega yang juga harus mencoba setelan jas untuk akad nikah dan juga resepsi yang akan digunakannya nanti.


Setelah beberapa menit Hega keluar dengan setelah jas berwarna hitam dengan kemeja putih. Rambutnya disisir rapi ke belakang semakin terlihat tampan dan gagah.

__ADS_1


Bahkan pesonanya bisa menyihir semua pegawai di butik Clara. Untung saja butik memang sedang sepi pengunjung karena Clara sengaja menutup butiknya hari ini khusus untuk menangani pakaian pernikahan putra dari sahabatnya.


Jika tidak, sudah dipastikan kehadiran Hega akan menghebohkan para pelanggan Clara yang notabene nya adalah para kaum hawa.


" Kamu tampan sekali, sayang. " Puji Rasti sembari membetulkan jas Hega dan merapikan dasinya.


" Terima kasih, Mi. "


" Aduduuhhh. . . , kamu makin ganteng aja sih, ponakan tante ini benar-benar luar biasa. " Sambung Clara dengan ekspresi takjub mengangkat kedua jari jempolnya ke arah pemuda tampan itu.


" Thanks, Tan. "


Tak lama, Moza keluar dengan gaun putih dengan lace detailed di setiap sisinya. Bagian bawah dress juga sangat lebar, sehingga membuatnya terlihat semakin anggun. Illusion sleeves yang pendek juga makin membuatnya tampak elegan. 


Pandangan mata Hega sekali lagi kembali terhipnotis pada sosok cantik itu.


" Mi, bisa gak kalau pernikahannya dipercepat jadi besok ?! " Ucapnya tanpa sadar.


Netra hitam Hega masih memandang sosok cantik yang sebelumnya menggunakan kebaya tradisional kini sudah bagaikan bidadari khahyangan dengan gaun putih modern yang membuatnya makin jatuh cinta pada sosok gadis cantik itu.


" Hahaha. . . Kamu ini ada-ada saja. Sabar ya, kan tinggal beberapa hari lagi. " Bujuk Rasti mengusap lengan putranya dan disambut gelak tawa semua yang ada di ruangan itu.


Moza yang mendengar gumaman konyol Hega justru menunduk malu. Pipinya merah merona.


Haish. . . Satu minggu kenapa terasa seperti satu tahun saja sih.


Gerutu Hega dalam hatinya.


▪▪▪


Usai fitting baju, Hega rencananya ingin mengajak Moza dan ketiga sahabat gadis itu untuk makan malam bersama, tapi sebelum mengutarakan keinginannya. Moza sudah lebih dulu meminta ijin untuk pergi bersama sahabat-sahabatnya.


Hega yang barusaja memasang seatbelt nya seketika menoleh menatap tunangan cantiknya, kemudian menoleh ke kursi belakang dimana Deana, Amira dan Rena sudah duduk manis menunggu jawaban Hega.


" Kalian berempat ? " Tanyanya kemudian.


" Sama Julian dan Dimas juga, bang. " Celetuk Renata.


Dahi Hega mengerut, jelas terlihat ketidak sukaan di wajahnya saat mendengar nama Dimas juga disebut-sebut.


" Apa saya juga boleh ikut ?! " Hega menatap Moza dan ketiga sahabatnya beegantian.


Moza hanya bisa menelan salivanya mendengar permintaan calon suaminya karena gadis itu jelas tahu apa alasan dibalik permintaan Hega untuk ikut.


Begitu pula Deana dan Amira yang bingung harus menjawab apa hanya bisa saling pandang dengan canggung.


Mau ditolak gak enak, mau diiyakan aaahhhh bisa-bisa mereka tidak akan leluasa . . . mereka kan sedang ingin menikmati friends time.


" Yah. . . Kita kan lagi mau friend time sama Momo bang, itung-itung pesta lajang sebelum Momo nikah. Secara nanti kalau Momo udah jadi istri abang, pasti kita gak bisa sebebas sekarang nongkrongnya. Jadi mana enak kalau abang ikutan, yang ada kita nanti jadi obat nyamuknya Abang sama Momo. Atau malah kita yang bakal jadi nyamuknya ntar gangguin abang sama Momo. " Berbeda dengan ketiga sahabatnya, Renata tanpa segan-segan justru nyerocos dengan jujurnya membuat ketiga sahabatnya bengong.


G L E K . . .


Moza, Deana dan Amira masih tercengang dengan ocehan Renata. Ingin rasanya mereka tertawa mendengar ocehan jujur Renata, tapi mereka bertiga berusaha menahan diri.


Sebenarnya ada rasa lega juga saat Renata dengan beraninya mengungkapkan isi hati mereka. Tapi dalam diam mereka juga merasa cemas takutnya si kekasih bucin Moza itu justru akan salah paham nantinya.

__ADS_1


Mereka masih terdiam, menunggu respon dari satu-satunya pria tampan yang ada di dalam mobil yang terlihat masih mencerna setiap kelimat yang dilontarkan oleh Renata.


Melihat wajah gusar kekasihnya dan juga para sahabatnya membuat Hega tidak tahan untuk tidak tertawa.


" Hahaha. . . Yayaya. . . Maaf, sepertinya saya kurang peka ya ?! " Tuturnya diselingi tawa ringan sembari melirik ke arah ketiga gadis yang terlihat bereskpresi harap-harap cemas di kursi belakang.


Tatapan Hega kembali pada gadis di sampingnya, " Dan kenapa kamu malah diam saja tadi, hem ?! " Hega mencubit gemas pipi kekasihnya.


" Eum. . . Aku hanya . . . " Ucap Moza kikuk sembari memainkan jari di telinga kanannya.


Hega tersenyum kecil, " Sudahlah, jadi mau diantar kemana sekarang ? "


" Ke kafenya kak Dimas aja, Bang. Kita janjian sama Julian dan kak Dimas untuk ketemuan disana. " Jawab Deana lugas.


" Oke. "


Fyuuuh. . . Lega rasanya karena ternyata Hega bisa memahami keinginan Moza dan memberikan waktu pada gadis itu untuk tetap menikmati kehidupan pertemanannya.


▪▪▪


Dan tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di kafe Dimas. Tentu saja Dimas sudah ada disana, sedangkan si Julian belum tampak batang hidungnya.


" Kak, mana Si Jul ? " Tenya Dea saat baru saja memasuki kafe.


" Kayaknya tuh anak masih di kampus, katanya tadi mau ngintip klub basket bentar. " Jawab Dimas.


" Ih. . . Dasar, padahal kan kita sudah janjian buat ketemuan disini. Palingan tuh bocah lagi tebar pesona sama para gerombolan cewek centil di kampus. Apa itu mereka sebutnya ?! " Omel Deana sembari mengingat-ingat nama fansclub Julian.


" Prince Lian's Fansclub. " Jawab Renata cepat.


" Iya ituh. Idih dengernya aja gue geli. " Cemooh Deana sambil terus melangkah menuju sudut kafe yang menajdi basecamp mereka.


" Hahaha. . . Bilang aja lo jealous, De ! " Ucap Renata dengan nada mengejek.


Deana sontak menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menatap Renata, " Hei, gue ? Jealous sama si Jul ?! " Tanya Dea yang dijawab anggukan oleh Renata.


" Impossible and never will be. " Kelit Dea ketus kemudian kembali berbalik dan melangkah cepat menuju sofa panjang di ruangan khusus bersekat kaca.


[ Tidak mungkin dan tidak akan pernah. ]


" Jangan gitu, Dea. Lo nanti kena karma loh. " Gumam Amira menimpali.


" Jangan nyumpahin gue gitu dong bu ustadzah. " Gerutu Deana sembari memonyongkan bibirnya kemudian menjatuhkan pantatnya di sofa empuk nan nyaman favoritnya.


Amira dan Renata terkikik geli melihat Deana yang tampak kesal sekaligus salah tingkah itu.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


...GOYANG JEMPOL DONG...


...❤ LIKE ❤ KOMENTAR ❤...


INFO :


Pengumuman Pemenang Giveaway sudah diupload di igeh thor ya. intipin Story IG @sherinanta.

__ADS_1


Cek di Sorotan PJJDS 👇



__ADS_2