
AUTHOR
Sambungan telepon terputus sepihak bahkan sebelum Hega memastikan keadaan calon istrinya.
" Derka, dimana peralatanmu ? " Tanya Hega saat menyadari Derka sudah berdiri di sampingnya.
Bola mata Derka membulat, " Ada di mobil gue. Kenapa ? "
" Cepat ambil dan ikut gue balik ke rumah mertua gue ! "
Bola mata Derka semakin melebar, begitu pula dengan Bara, " Ada apa ? " Tanya mereka bersamaan.
" Jangan banyak tanya ! Der, 5 menit gue tunggu di pesawat. " Titah Hega dengan nada dingin.
" Oke oke. . . " Derka segera berlari menuju parkir mobilnya dan mengambil tas saktinya.
" Ada apa ini ? " Tanya Suryatama yang sempat mendengar sedikit obrolan Hega di telepon.
" Siapa yang pingsan, nak ? " Rasti ikut bertanya dengan sangat cemas.
" Kakek, Hega akan kembali lagi ke kota Momo, dia pingsan. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Tadi Ragil sempat memberi laporan, tapi Hega harus kesana langsung untuk mencari tahu detilnya. " Jelsanya pada sang kakek.
" Baiklah, ayo kita kembali. "
" Tidak, kek. Hega dan Derka saja yang akan kembali. Kakek, Papa dan Mami tetap pulang ke rumah besar. Hega akan memberi kabar begitu sampai disana. "
" Bar, gue titip kantor. " Pinta Hega singkat sambil menepuk lengan atas sahabatnya itu.
" Oke, lo serahin sama gue. " Jawab Bara sambil mengangguk mantap.
Disaat seperti ini Hega merasa sangat beruntung memiliki sahabat yang bisa selalu diandalkannya.
" Pah, Mih. Hega titip semua urusan disini. " Pinta Hega lagi, kali ini pada kedua orang tuanya.
" Kamu tenang saja sayang, Mami akan mengurus semuanya dengan baik. " Rasti mengelus lengan Hega mengisyaratkan agar pemuda itu tidak mencemaskan urusan lain dan fokus pada calon istrinya.
" Makasih, Mih. " Hega memeluk wanita paruh baya itu. " Doakan tidak terjadi apa-apa ya, Mih. " Pintanya lirih di telinga Rasti.
" Hem, pasti sayang. Pergilah. Jangan lupa mengabari kami apa yang terjadi. " Ujar Rasti saat melihat Derka sudah kembali dengan setengah berlari.
" Pakai jet saja. Kakek sudah meminta Ben menyiapkannya. "
Hega mengangguk setuju, " Terima kasih, kek. "
π
π
π
Dokter yang dipanggil Ardi, masih terlihat sibuk memeriksa Moza yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Namun tidak ditemukannya ada gejala penyakit pada tubuh gadis itu.
" Bagaimana, dok ? " Tanya Ardi dengan wajah cemas, Ayu bersimpuh di atas ranjang, tepat di samping putrinya yang tampak terlelap seolah sedang tertidur.
Dokter menggelengkan kepalanya, " Tanda-tanda vitalnya semua normal, Pak. "
" Jika kondisinya memang normal, kenapa putri saya belum sadarkan diri, dok ? Tubuhnya juga sangat dingin. " Geram Ayu yang merasa tidak mendapatkan jawaban memuaskan dari sang dokter.
" Bun, tenang dulu ! " Ardi menepuk pundak sang istri.
" Saya sudah melakukan beberapa tindakan untuk memancing kesadarannya, tapi sepertinya nona ini menolak untuk kembali dari alam bawah sadarnya. " Dokter itu menghela nafas, sepertinya dokter itu menyadari jika bukan dokter umum seperti dirinya yang dibutuhkan saat ini.
" Maksudnya bagaimana, dok ? " Ardi menatap dokter itu yang seolah ingin mengatakan sesuatu.
" Sepertinya pasien sedang dalam kondisi tertekan. Jika boleh tahu apakah sebelumnya putri bapak pernah mengalami gangguan psikologis atau trauma mungkin ? " Tanya dokter itu dengan sangat hati-hati karena khawatir akan menyinggung prang tua dari pasien yang baru saja diperiksanya.
D E G. . .
" Huuuuu. . . Ayaaah, Momo, Yah. . . " Mendengar pertanyaan itu, tangis Ayu kembali pecah.
" Buuun. . . " Ryu mengelus bahu ibunya memberi kekuatan, meskipun tidak tahu pasti, tapi Ryu ingat beberapa tahun lalu ada masa saat dirinya melihat kakaknya sering menangis seorang diri dan mengurung dirinya di dalam kamar.
" Saya sudah memberikan cairan infus, alangkah baiknya jika nona Moza dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. " Saran dokter tersebut.
" Baiklah, dok. Terima kasih. " Ardi mengantar kepergian dokter itu.
" Ayah. . . " Ayu berlari ke pintu saat melihat suaminya sudah kembali dari mengantar dokter ke pintu depan.
" Bun, ada apa ? " Ardi memegang kedua lengan atas istrinya yang hampir terjatuh.
" Ayah, Hega, yah. "
__ADS_1
" Iya, kenapa Hega ? Tadi ayah sudah menelponnya. "
" Ayah, bunda bukankah sepertinya benar kata dokter, kita harus membawa kak Momo ke rumah sakit. " Ryu menyela pembicaraan kedua orang tuanya yang terlihat tidak bisa berpikir jernih karena cemas itu.
" Tidak, kita tidak akan membawanya ke rumah sakit. " Putus Ayu.
" Tapi bun, . . . " Ryu tidak habis pikir apa yang ada di kepala bundanya saat ini.
Jelas-jelas kakaknya sedang terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri, dan kakaknya itu bukan sedang tidur, melainkan pingsan.
Tapi bisa-bisanya bunda menolak membawa kakaknya itu ke rumah sakit.
" Ayah, cepat ayah telepon Hega, minta dia datang secepatnya, yah. " Pinta Ayu dengan sangat memohon dan air mata masih mengalir di pipinya.
" Bunda, bang Hega bukan dokter bun. " Protes Ryu yang semakin tidak mengerti kemana pikiran ibunya itu.
" Diam, Ryu. Kamu tidak tahu apa-apa. Ayah, cepat ! Hanya Hega yang bisa mengembalikan Momo kita, ayah. Huuuu. . . " Ayu kembali ke ranjang dan mengelus serta menciumi wajah putrinya yang terlihat pucat.
" Ayah, panggil juga dokter Melisa ! " Pinta Ayu akhirnya di sela tangisnya.
Ardi mengangguk, dan segera mengambil ponsel Ayu yang tadi disimpannya di saku celana.
Menghubungi dokter psikiatri yang dulu menangani trauma putrinya. Baru setelah itu kembali menelepin nomor calon menantunya. Tapi tidak tersambung, karena Hega saat ini sedang ada di dalam jet pribadinya menuju kembali ke kota tempat tinggal keluarga Dama, dan tentu saja Ardi tidak mengetahuinya.
Ayu mendesis, menangis sesenggukan sembari menggenggam erat jemari tangan putrinya, kemudian menciuminya hingga telapak tangan gadis itu basah oleh air mata Ayu yang terus mengalir.
Ryu sendiri masih menatapi wajah pucat kakaknya, tidak tahu apa yang bisa dilakukannya.
Sekitar 20 menit, seorang dokter wanita paruh baya memasuki rumah dengan langkah cepat.
" Ada apa ini, Pak Ardi ? Bukankah sudah lama Moza tidak kambuh ? " Tanya wanita yang memakai jas putih dan membawa tas dokter itu.
" Saya tidak tahu, dok. Tolong periksa dulu kondisi putri saya. " Jawab Ardi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan dokter yang merawat putrinya bertahun-tahun lalu.
" Yah, dimana Momo ? " Suara Deana yang barusaja muncul dari pintu utama dengan wajah yang tampak sangat cemas, disusul seorang pemuda di belakangnya yang juga tidak kalah cemasnya.
" Dea, kamu tunggu disini saja. " Titah Ardi pada sahabat putrinya itu.
" Tapi, Yah. "
" Dea, sudah, kita tunggu disini saja. " Fabian menahan lengan gadis yang bersikukuh ingin melihat kondisi sahabatnya itu.
Dengan langkah cepat, Ardi membawa dokter itu menuju kamar putrinya. Dokter Melisa memeriksa kondisi gadis yang menjadi pasiennya sebelas tahun lalu.
" ARRRGH. . . Bian, sebenernya apa yang kalian bicarain di restoran sih ? Kenapa lo gak tahan dia buat tungguin gue sih pulangnya ?! " Kesal Dea sedikit memekik kecewa pada pria.
Fabian hanya mendesah kasar menyesali keteledorannya. Pria itu pun tidak menyangka Moza akan pulang sendiri setelah bicara dengannya.
" Huuu. . . Gue yang bodoh, kenapa gue percaya aja waktu Momo kirim chat ke gue dan tuh anak bilang dia sudah perjalanan pulang. " Dea mengacak rambutnya frustrasi.
" Kalo aja bang Hega gak telfon gue, gue gak akan tahu kalo tuh anak sedang tidak baik-baik saja. Hiks. . . " Sesal Dea kemudian.
Fabian merasa menyesal kenapa dia mengabaikan peringatan pria itu.
~ Flashback ~
Si sebuah restoran tampak Hega sedang duduk di salah satu kursi ruangan VIP, sesekali melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
Dan kemudian mengetuk-ketukkan jarinya pada meja di hadapannya. Wajahnya mulai kesal seolah sudah berjam-jam menunggu padahal nyatanya baru lewat sepuluh menit dari waktu yang ditentukan.
" Maaf, saya sedikit terlambat. " Sapa seorang pria dengan suara bariton nya, tanpa dipersilahkan pria itu langsung duduk di hadapan Hega dengan wajah tanpa dosa.
Pria yang mengajaknya bertemu adalah Fabian Arsen Graham, partern bisnis perusahaan berliannya di LA sekaligus sahabat dari calon istrinya.
Hega mendengus pelan, namun ekspresi wajahnya tetap datar, " Apa yang ingin anda bicarakan ? "
" Sepertinya anda tidak terlalu suka basa-basi ya ?! "
" Bukankah Anda juga demikian ?! " Balas Hega datar
" Hahahaha. . . Jika Anda bukan saingan cinta saya, mungkin kita akan jadi teman sekaligus rekan bisnis yang cocok. "
" Sepertinya Anda salah bicara. " Ucap Hega dengan nada sinis.
Kening Fabian mengerut sekilas.
" Tuan Fabian dan saya tidak bisa disebut saingan cinta. Karena nyatanya sekarang saya lah yang akan menjadi suaminya. "
" Ck. . . Baiklah, saya langsung ke intinya saja. Saya akan terus mengawasi Tuan Hega, sampai saya yakin jika Moza benar-benar bahagia dengan pilihannya untuk menikah dengan Anda. "
" Maksudnya, Tuan Fabian berniat merebut calon istri saya begitu ?! "
__ADS_1
" Mungkin. " Jawab Fabian santai namun ada nada menantang dalam suaranya.
Namun Hega sang juara berdebat tentu saja tidak mudah dikalahkan, " Lebih baik anda buang jauh-jauh keinginan anda yang mustahil itu ! " Ujarnya dengan tersenyum mengejek.
Kedua manik mata Fabian menyipit, kemudian terlihat seringai kecil dibibirnya, " Kenapa ? Apa anda tidak percaya diri untuk bisa menjaga dan mempertahankan rumah tangga anda ? "
Kalimat pria di hadapannya itu sontak membuat Hega tidak bisa menahan tawa, " Kenapa saya harus merasa seperti itu ?! " Tanyanya seraya terkekeh kecil.
" Yah, banyak hal yang bisa jadi alasan. " Namun Fabian tentu saja juga bukan pria biasa yang akan mudah menyerah.
Hega tetap bisa mengatur ekspresi di wajahnya agar tetap terlihat tenang, menunggu apa lagi yang ingin diucapkan oleh pria yang begitu gigih ingin memiliki gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
" Perasaan anda misalnya. " Lagi-lagi Fabian tersenyum licik.
Kedua mata Hega memicing, " Memangnya ada apa dengan perasaan saya ? " Tanyanya dengan suara mengintimidasi.
" Saya tahu jika anda pernah mendapat transplantasi jantung. Dan saya tahu jantung siapa yang sekarang berdetak di tubuh Anda. "
Hega mulai memahami kemana arah pembicaraan pria di depannya ini, " Ck. . . Lalu ? " Tanyanya kemudian dengan suara mencibir ketus.
" Apa anda yakin jika perasaan anda pada Moza bukan karena jantung milik kakaknya itu ? Apa anda cukup percaya diri mengatakan jika perasaan anda murni ada untuk Moza dan bukan karena pengaruh jantung yang bukan milik Anda itu ? " Sepertinya otak encer Fabian sedang tidak berfungsi saat ini, hanya emosi dan perasaan yang menguasainya.
" Huh. . . Anda mau mengatakan jika saya akan menikahi Moza saya karena tanggung jawab moril begitu ? Atau perasaan saya tidak tulus pada calon istri saya dan hanya karena rasa bersalah saja begitu ? " Hega yang mulai terpancing emosi tetap berusaha setenang mungkin.
" Yah. . . Bukankah kemungkinan itu bisa saja terjadi. Dan jika suatu saat anda menyadari hal itu, dan ingin melepaskan Moza. Maka saya akan merebutnya dari anda. " Ucap Fabian dengan sangat percaya diri.
Tawa Hega langsung menggelegar, " Hahahaha. . . "
" Apa itu lucu ?! "
" Tentu saja lucu, anda terobsesi pada calon istri saya Tuan Fabian. " Ucap Hega sarkas.
" Saya tidak peduli anda menyebutnya apa, yang saya pedulikan hanyalah kebahagiannya. "
" Jika benar seperti itu, maka seharusnya anada melepaskan perasaan anda secepatnya. Karena kebahagiaannya adalah bersama dengan saya. " Hega selalu percaya diri dengan apapun yang dilakukannya.
" Ah, Tuan Fabian, sebenarnya saya tidak mau membahas hal ini. Tapi sepertinya sebelum anda menilai perasaan orang lain, alangkah baiknya anda berkaca terlebih dahulu ! " Sambung Hega sinis.
" Apa maksud anda ? "
" Seperti anda menyelidiki tentang saya, apakah anda tidak pernah berpikir jika saya juga bisa melakukan hal yang sama dengan yang anda lakukan ?! "
" Anda menyelidiki saya ?! " Fabian tampak menggertakkan giginya menahan marah.
" Tidak ! Saya bukan orang yang punya waktu sesenggang anda untuk mencari tahu kehidupan orang lain yang bahkan saya sendiri tidak kenal. " Mencibir dengan santai.
" Saya hanya mencari tahu tentang masa remaja Moza terutama saat saya tidak ada di sisinya. "
" Dan tanpa sengaja saya menemukan satu fakta menarik. " Terukir seringai tipis di bibir Hega.
" Kenapa seorang Tuan Muda pewaris perusahaan besar Eropa seperti Tuan Fabian tiba-tiba berada di sebuah kota kecil di usianya yang baru 15 tahun. "
" Lebih menarik lagi, saat usia 18 tahun anda justru memilih menjadi murid sebuah SMA alih-alih menjadi mahasiswa di universitas. Padahal yang saya tahu anda sudah menyelesaikan home schooling tingkat SMA saat usia anda 17 tahun. "
" Apa sebenarnya yang ingin Tuan Hega katakan ?! " Geram Fabian sambil mengepalkan telapak tangannya di atas pahanya.
Hega meneguk kopi di hadapannya, kemudian tersenyum tipis penuh kemenangan, " Bukankah Anda seharusnya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan saya ?! "
" Berhenti mengurusi kehidupan saya apalagi menilai perasaan saya pada calon istri saya, atau mene tukan hal apa yang menjadi kebahagiaan untuknya. Sebelum anda sendiri berkaca dan mengingat kembali apa motif anda mendekati Moza 5 tahun yang lalu dengan berperan menjadi sahabatnya ?! "
Mendengar penuturan Hega sontak membuat hati Fabian mencelos, Fabian terlihat sangat syok mendapati jika pria di hadapannya itu mengetahui rahasia yang disimpannya rapat-rapat selama ini. Rahang Fabian mengeras, telapak tangannya kembali mengepal.
Hega tentu bisa membaca ekspresi cemas di wajah pria itu, " Tuan Fabian tenang saja ! Saya cukup punya akal pikiran yang waras untuk tidak mengatakan tentang hal itu pada Moza. Karena sebagai sahabatnya anda pasti juga tahu sejak kecelakaan itu, Moza mengalami trauma yang cukup berat. Jadi saya tidak akan pernah mengungkit satu katapun tentang insiden kecelakaan 11 tahun yang lalu yang akan membuka kembali luka pada calon istri saya. "
" Jadi saya peringatkan pada anda, jangan berpikir untuk mendekati calon istri saya jika tidak bisa menahan keinginan anda untuk memilikinya. "
Sekali lagi Fabian dibuat terkejut dengan penuturan pria yang sangat tidak disukainya itu. Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Hega membuat Fabian terdiam dan tidak bisa berkata apapun untuk membalas ucapan sarkas pria itu.
" Hah ! Pasti anda pikir saya pria gila dengan masih memberikan kesempatan pada pria yang memiliki hati pada calon istri saya untuk tetap menemuinya. "
" Tapi yah, mungkin saya memang gila. Apapun akan saya lakukan untuk kebahagiaannya. Termasuk memberikan kebebasan padanya untuk bertemu dengan semua sahabatnya. Meskipun di antara beberapa sahabatnya memiliki perasaan lebih padanya. Sebesar itulah saya mencintai dan mempercayainya, terlebih karena saya tidak ingin calon istri saya merasa sedih dengan terpaksa menjauhi sahabatnya karena dibatasi oleh statusnya. "
Fabian tersenyum penuh arti, " Anda akan menyesal jika ternyata anda salah mengambil keputusan. "
" Anda lah yang akan menyesal jika berani main-main dan melewati batas toleransi yang saya berikan. " Hega bangkit dari duduknya, tapi baru dua langkah ia berhenti dan kembali membalikkan badan menghadap Fabian yang juga sudah bangkit dari kursinya.
" Satu hal lagi, jika yang anda miliki itu memang cinta maka pasti anda akan melepaskannya untuk bahagia. Tapi jika anda tidak mau melepaskan dia karena rasa bersalah dan tanggung jawab untuk menjaganya. Maka lupakan saja itu, karena mulai saat ini saya yang akan menjaganya, mengobati segala luka dari trauma karena kecelakaan yang merenggut nyawa kakaknya. " Sambungnya penuh penekanan kemudian melangkah keluar meninggalkan Fabian yang tertegun mendengar kalimat yang diucapkan oleh calon suami sahabatnya itu.
βββ
^^ Cinta itu bukan bagaimana kamu berusaha memiliki seseorang. Tapi lebih pada bagaimana kamu berusaha membuatnya bahagia. Meskipun dengan merelakannya bahagia dengan pilihannya yang ternyata bukanlah dirimu. ^^ ( Sherinanta )
__ADS_1
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...