
β€ Maaf akoh beberapa hari ini menghilang karena ambruk, tipes thor kambuh πππ. Satu part lagi Final Story insyAllah meluncul malam ini, kalau kuat lanjut ngetiknya sih hehe... Ini ajah nyolong-nyolong takut ketahuan PakSu ππ
Maafkan istri mu ini ya sayang, demi pembaca akoh nih, sekali aja akoh nakal πππ
Jan lupa like dan komebtar ya sayangkoh π€
π Happy Reading π
AUTHOR
Hega membalas pelukan kekasihnya, mendekap erat gadis itu dengan penuh cinta. Mengelus lembut punggung Moza yang masih terisak dalam pelukannya.
Hatinya seolah bisa merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan gadis itu, hatinya seperti tercabik dan diremas-remas.
" Jangan dipendam sendiri, sayang. Aku disini, bersamamu. " Hega berusaha menenangkan kegelisahan Moza, meskipun hatinya sendiri juga tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja.
Tapi Hega menguatkan dirinya, berusaha untuk menjadi sosok yang bisa diandalkan oleh sang kekasih. Jika sekarang dirinya ikut jatuh dan terpuruk, maka kemana lagi tempat Moza berlabuh dan bersandar.
" Bersandar lah padaku karena aku akan selalu ada hanya untukmu. " Hega terus mengelus lembut punggung Moza, memberi ketenangan, menyalurkan kekuatan, menawarkan kenyamanan dan rasa aman untuk kekasih hatinya.
Hega masih menunggu dengan kesabaran, dia harus mampu bertahan, memberikan tempat ternyaman dan menenangkan untuk hati Moza yang tengah gundah gulana.
Dan bukan dengan memberikan tuntutan agar sang gadis menceritakan semua isi hatinya. Meskipun bibirnya ingin sekali bertanya.
Biarlah gadis dalam pelukannya ini yang memutuskan atas kemauannya sendiri untuk berbagi beban hatinya, dan bukan karena paksaan Hega yang memaksa dan terus bertanya dengan kata Apa ataupun Mengapa.
" Semua karena aku, hiks. . . Aku yang salah, kak. Aku yang berdosa, hiks. . . hiks. . . " Rintih Moza, bukan hanya suaranya bergetar takut, bahkan tubuh mungil gadis itu juga bergetar.
Mendengar ucapan Moza yang terdengar sangat frustrasi, Hega seketika melonggarkan pelukannya, memegang kedua bahu Moza dan menatap wajah pias kekasihnya.
" Apa yang kamu katakan ini ? Kesalahan apa ? Dosa apa ? " Tanya Hega akhirnya karena sudah tidak tahan lagi melihat kekacauan Moza, belum memahami kemana arah pembicaraan Moza, sesekali Hega sedikit mengguncang bahu gadis itu.
" Kak Hyu,. . . hiks. . ."
Pupil mata Hega membesar menatap wajah Moza yang berekspresi sendu, " Ada apa dengan kakakmu ? "
" Dia pergi karena kesalahanku, kak Hyu meninggal karena aku . . . "
Hati Hega mencelos mendengar ungkapan mengejutkan Moza, dadanya sesak, " Hei, apa maksudnya itu adalah kesalahanmu ? Itu adalah kecelakaan, Momo sayang. "
Moza menundukkan kepalanya, tampak begitu tertekan, " Tidak, itu salahku. Kalau saja waktu itu aku tidak merengek meminta es krim, kalau saja aku menuruti Kak Hyu untuk memakan es krim di rumah, es krim buatannya. Maka kak Hyu. . . "
Haaah. . . Dia ingat semuanya.
Hega mendesah kasar, memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya sebentar, kemudian kembali menatap manik mata sendu beriris coklat milik Moza. Berusaha setenang mungkin.
" Sssst... Lihat aku ! Dan dengarkan aku ! " Hega kembali mendekap tubuh Moza, hatinya semakin terasa sakit mendengar ucapan kekasihnya itu.
Beban berat yang selama ini ditanggung Moza dalam diam, memberikan tekanan batin pada gadis itu ternyata adalah rasa bersalah atas kematian kakaknya.
Beban yang disembunyikannya, yang membuat kondisinya psikologisnya sempat tidak stabil beberapa tahun yang lalu. Hingga dirinya harus menjalani hypnoteraphy dan merelakan beberapa memori masa lalunya menghilang bersama memori menyedihkan insiden kecelakaan tragis sebelas tahun lalu.
Hega menciumi pucuk kepala Moza beberapa kali, terus mengusap punggung gadis itu memberi ketenangan, " Hilangkan pemikiran bodoh itu dari kepalamu karena itu sama sekali tidak benar, hem. " Tuturnya kemudian.
" Kak. . . " Suara Moza masih terdengar muram dan bergetar, bahkan Moza sedikit mencengkeram punggung Hega.
Hega kembali melepas pelukannya, menangkup wajah Moza dengan kedua tangannya, " Sssshhh. . . Kecelakaan itu terjadi bukan karena kesalahanmu. Itu murni kecelakaan, jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri ! "
Hega membopong tubuh Moza, meletakkannya di atas ranjang dengan perlahan. " Jangan kemana-mana, kak. " Pinta Moza saat melihat pria itu hendak bangkit dari ranjang setelah menyelimuti tubuhnya.
" Aku hanya ingin mambawakan makananmu. " Ujarnya seraya menunjuk nampan berisi makanan yang tadi dibawanya.
Moza menggeleng, " Aku tidak lapar, kak. Aku hanya ingin istirahat. Jangan tinggalkan aku ! Kumohon ! " Pintanya lagi dengan suara parau.
" Baiklah, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap disini. " Hega ikut naik ke atas ranjang Moza, bersandar di kepala ranjang dan menyandarkan kepala Moza di dada bidangnya.
Tangan kirinya melingkar di bahu Moza, dan tangan lainnya membelai rambut panjang Moza yang terurai.
Moza merasakan ketenangan merayap perlahan di relung hatinya, " Kenapa kakak baru datang sekarang, kenapa kakak tidak bersamaku sejak dulu, hikk. . . " Isaknya sembari menenggelamkan wajahnya di dada kekasihnya.
Sesal dan sesak, rasa itulah yang kembali menyeruak di dada Hega.
" Maafkan aku, aku sangat terlambat kembali padamu. Seandainya saja aku bisa memutar waktu, aku tidak akan membiarkanmu melewati semua ini sendirian. Aku akan menemanimu saat itu, saat kamu masih terlalu muda menanggung semua luka ini. "
__ADS_1
" Maafkan aku, maaf. " Hega terus mengulang kata maaf dan penyesalan.
Hega menepuk lembut punggung Moza hingga isak tangis gadis itu perlahan berubah menjadi dengkuran halus, bahunya yang sedari tadi berguncang karena menahan tangis juga mulai tenang.
Hingga tanpa sadar keduanya jatuh tertidur dengan posisi saling berpelukan.
Hingga subuh menjelang, Hega baru terjaga dari tidurnya. Sejenak ia menatapi wajah kekasihnya yang masih terlelap, hatinya sedikit merasa lega melihat Moza yang akhirnya bisa jatuh tertidur setelah menangis cukup lama.
Pemuda itu memutuskan bangun dan menunaikan sholat subuh, saat keluar dari kamar Moza, alangkah terkejutnya Hega saat berpapasan dengan Ardi Dama.
" A-ayah. . . He-ga. . . " Jelas Hega tidak ingin terjadi kesalahpahaman, dua kali dirinya terpergok berada di kamar Moza yang masih belum resmi menjadi istrinya itu.
" Ayah tahu, ayah mendengarnya semalam. Jadi kamu tidak perlu tegang begitu, ayah percaya padamu, Ga. Kamu tidak akan mengecewakan kami. " Ardi menepuk bahu puda itu beberapa kali dan Hega hanya bisa membalas dengan senyuman.
" Ayah mendengar semuanya ? "
" Tidak semua, tapi hanya saat Moza menangis memanggil nama kakaknya. Jika sebelas tahun lalu kamu ada bersamanya, mungkin. . . " Sesal Ardi dengan wajah muram.
" Maafkan Hega, yah. Hega tidak ada saat Momo sangat membutuhkan Hega saat itu. . . "
" Yah, semua sudah digariskan seperti itu. Jangan disesali, yang penting sekarang kamu sudah kembali. Dan ayah titip putri ayah. " Pinta Ardi.
" Hega janji, akan memberikan yang terbaik pada Momo dan selalu ada bersamanya. " Tutur Hega kemudian.
" Ya, terima kasih. "
" Ah, sudahlah. Ayo segera bersiap kita sholat subuh di masjid bersama. " Titah Ardi sambil menepuk lengan atas Hega.
Hega mengangguk dan segera turun ke kamar tamu di lantai satu, dimana dia meninggalkan Derka sendirian di kamar itu semalaman dan malah tidur seranjang dengan calon istrinya.
Haish. . . Entah ini cobaan atau anugerah, disaat dirinya mati-matian ingin menggagalkan prosesi pingitan, namun usahanya tidak ada yang berhasil.
Tapi kemudian muncul insiden tidak terduga yang membuatnya malah bisa terus menempel dengan pujaan hatinya hingga menjelang hari pernikahan.
Memang jodoh itu tak kemana, mau dijauhkan bagaimanapun juga, akhirnya akan tetap ada alasan untuk keduanya mengikis jarak dan kembali berdekatan.
" Cieh, yang semaleman bobok bareng calon bininya. " Goda Derka selepas pulang dari masjid, Derka menghempaskan kembali tubuhnya di atas ranjang.
Jika kalian mengira Derka sealim itu, maka jawabannya adalah kadang iya kadang tidak πππ.
Seperti saat ini, Hega yang memang bisa dibilang selalu taat beribadah, maka Derka akan mengikuti kebiasaan sahabatnya itu setiap mereka bersama.
Dan sebaliknya, jika Derka bersama dengan Bara yang cenderung badboy yang hobi nongkrong di club malam ya dokter muda itu juga tidak segan-segan memasuki tempat yang paling anti bagi seoeang Hega.
Istilahnya bagi Derka hidup itu jalani saja, hidup mengalir seperti air, jika air membawanya ke laut yang jernih, maka dia akan ikut, jika aliran air membawanya ke sungai yang keruh yang maka ikutlah ia kesana.
Dan mungkin Derka baru bisa sepenuhnya menjadi pria baik jika nantinya Tuhan mengirim seorang wanita baik-baik yang mampu menggiring dirinya ke mata air yang jernih, dan bukan ke aliran sungai yang kotor dab menyesatkkannya.
" Diam lo, Der ! Gue sedang gak mood bercanda. " Maki Hega ketus, sembari melipat kain sarungnya dan meletakkannya di atas meja.
" Yayaya, sorry. Jadi gimana semalem ? " Wajah Derka berubah serius.
" Dia ingat semuanya. "
Mata Derka membulat, " Maksud lo ? "
" Kejadian sebelas tahun lalu. "
" Terus ? " Derka terlihat semakin antusias.
Hega mendesah kasar, dan mengusah wajahnya, menyugar rambutnya ke belakang, " Dia menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang terjadi pada Arka, yang membuat kakaknya meninggal. "
" Haish. . . Sudah gue duga, dari hasil hypnosis yang gue baca dari doktenya Moza, ada satu hal yang menjadi akar penyebab calon bini lo itu sampai trauma sehebat itu sebelas tahun lalu. Tapi tidak tertulis jelas apa faktor utamanya. "
" Ya, gue kira Momo trauma karena melihat kakaknya terbaring di jalan dengan kondisi berlumuran darah di depan mata kepalanya sendiri. Gue gak nyangka kalau ada alasan lain yang disembunyikannya, yaitu rasa bersalahnya. "
" Untungnya dia memilih percaya sama lo, Ga. Terbukti dia mau membagi beban hatinya sama lo. "
" Hem, gue bersyukur karena dia percaya dan mau bersandar sam gue, Der. "
Derka mengangguk-angguk setuju.
" Tapi Der. Gue minta lo rahasiakan ini dari semua orang. "
__ADS_1
" Kenapa ? " Menatap heran ke arah Hega.
" Apa dia yang memintanya ? " Tanya Derka lagi.
" Sepertinya Momo masih belum siap untuk berbagi semua ini selain sama gue, Der. Biarlah dia sendiri yang memutuskan mau menyimpannya atau membagi bebannya dengan keluarganya. Yang penting untuk sekarang anggap saja cukup gue yang tahu tentang hal itu. "
" Oke, lo pasti tahu apa yang terbaik untuk calon bini lo. "
" Gue gak bisa bayangin kalau sampai waktu itu gue terlambat menyusul Arka ke sekolah Momo. "
Hega teringat kembali kejadian saat itu, Arka lebih dulu menjemput Moza di sekolahnya, sedangkan Hega yang masih bermain basket dengan beberapa teman sekolahnya mengatakan akan segera menyusul.
Dan jika saja saat itu dirinya datang terlambat beberapa detik saja mungkin Hega tidak hanya akan kehilangan sahabatnya, tapi bisa jadi takdir juga akan membawa pergi gadis yang sangat dicintainya itu.
Beruntungnya saat itu Hega segera berlari dan menyambar tubuh kecil Moza ketika gadis itu hendak berlari menghampiri tubuh Arka yang terbaring di tengah jalan setelah tabrakan terjadi.
Hega tidak mau membayangnya apa yang akan terjadi jika ia terlambat, mungkin rasa bersalag dan penyesalan akan menghantuinya seumur hidup.
" Ya memang takdir menggariskan lo untuk menyelamatkan dan menjaga dia seumur hidup lo, Ga. " Ujar Derka sembari menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
" Eum. . . Dan gue akan melakukan yang terbaik untuk itu. " Hega mendongak menatap Derka.
" Thanks, Der. " Sambung Hega.
" Hidih, merinding gue dengar tuh kata keluar dari mulut lo. " Derka memeluk bahunya sendiri dan bergidik.
" Ceeh. . . Karena ini pertama kalinya gue ngerasa lo berguna. Dah ah, gue mau lihat bidadari gue udah bangun apa belom. " Sinis Hega kemudian berlalu keluar kamar.
" Dasar, siyalan. Bisa-bisanya habis bilang makasih terus balik lagi mode beruang kutub. Nyesel gue sempet terharu. " Umpat Derka kesal mendapati cepatnya sikap sahabatnya berubah kembali dingin dan menyebalkan.
πππ
Moza mengerjapkan kedua matanya perlahan, matanya mencoba beradaptasi dengan cahaya mentari yang menyeruak diantara tirai jendela kamarnya. Matanya terasa berat, badannya terasa sedikir lelah.
Ceklek. . .
" Pagi, calon istri. " Sapa Hega ketika baru saja masuk dan mendapati ternyata gadisnya sudah duduk bersandar di kepala ranjangnya.
Moza menoleh ke arah pintu dimana sosok tinggi dan gagah yang dikenalnya sudah terlihat begitu tampan dengan kemeja lengan pendek berwarna biru tua dan celana panjang.
" Pagi juga, calon suami. " Balas Moza sambil tersenyum cantik, kemudian menutupi wajahnya dengan telapak tangannya karena merasa malu dengan kalimat yang barusaja keluar dari bibirnya.
Hega mendekat duduk di tepi ranjang, menghadap ke arah Moza yang masih tersipu malu.
" Kenapa ditutupi ? " Tanyanya sembari menyibak kedua telapak tangan Moza yang menutupi wajah cantiknya.
" Aku malu, kak. "
Alis Hega sedikit naik, " Malu ? Malu kenapa ? Dan malu pada siapa ? "
" Tentu saja pada kakak. "
" Kenapa harus malu denganku ? Ini bahkan bukan pertama kalinya aku melihat wajah bangun tidurmu yang cantik ini. " Mencubit lembut pipi Moza yang merona.
" Ya ampun, aku jadi was-was ini. " Sambung Hega kemudian saat melihat keimutan kekasihnya, membuat gadis itu kembali menatapnya dengan manik mata membulat sangat indah.
" Eh, kenapa ? "
" Tiap bangun pagi aku akan melihat wajah bidadari di sampingku, sepertinya setiap pagi aku akan olahraga jantung, karena dia terus berdetak kencang setiap melihat wajah cantik ini. " Ujarnya kemudian dengan jari telunjuk mengarah ke dadanya, jantungnya yang memang tengah berdegup dengan sangat kencang.
B L U S H . . .
Semakin merona lah wajah putih Moza karena kelakuan Hega, dan kini justru gadis itu yang serasa olahraga jantung setelah mendengar rayuan gombal calon suaminya itu.
" Kakak. . . " Pekik Moza kesal, lalu memukul lengan Hega.
Hega menggapai tangan mungil Moza yang barusaja mendarat di lengannya, menariknya hingga tubuh Moza mendekat ke arahnya.
" I love you, Mo. " Bisiknya di telinga Moza saat gadis itu sudah berhasil jatuh dalam pelukannya.
" I love you too, kak. " Moza membalasnya lirih, namun masih terdengar oleh Hega, kemudian membalas pelukan pemuda itu dengan melingkarkan tangannya di punggung calon suaminya.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
__ADS_1
Siapin undangannya ya genks, besok babang Hega kawin. Ups salah, nikah ding. . .ππππ