
AUTHOR
Entah sudah berapa lama kedua pasang mata itu saling memandang dengan bahasa cinta. Menyiratkan kebahagian mendalam yang sepertinya tidak akan cukup diungkapkan dengan sekedar kata-kata semata.
" Ekhem. . . Memang sudah halal, tapi ingat masih banyak tamu loh. Dilanjut nanti dulu ya kalau sudah sepi. " Lagi-lagi suara si bapak penghulu menginterupsi adegan mesra Hega dan Moza.
" Monggo [ silahkan ] mas dan mbak nya tanda tangan dulu buku nikahnya ! " Sambung bapak penghulu seraya mendorong dua buku kecil berwarna merah dan biru di atas meja. Hega dan Moza bergantian menanda tangani buku nikah mereka.
Selepas menandatangani dokumen pernikahan, acara dilanjutkan dengan meminta restu dan doa kepada kedua orang tua.
Pertama Hega dan Moza menghampiri kursi dimana Suryatama berada, bergantian meminta doa dan nasihat kepada anggota keluarga paling sepuh itu.
Dengan senyum bahagia Suryatama memanjatkan doa untuk kebahagiaan kedua cucunya itu. Dan kemudian merangkul dengan sayang sepasang pengantin itu sekaligus dengan kedua tangan panjangnya.
" Semoga kalian selalu bahagia. " Ucap sang kakek sambil menepuk punggung kedua cucunya.
Dilanjutkan menuju kedua orang tua mereka yang sudah duduk di singgasana yang memang sudah disiapkan untuk prosesi sungkem.
Mulai dari Moza yang duduk bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya.
" Ayah, Bunda. Moza mohon doa restunya agar Mo bisa menjadi istri yang baik untuk suami Mo. Maafkan Moza yang belum bisa membahagiakan Ayah dan Bunda. Hiks. . . Hiks. . . "
Ardi dan Ayu mengecup kening putrinya bergantian dan memeluk putri kecil mereka yang telah tumbuh dewasa dan menjadi seorang istri.
" Sayang, kami akan selalu mendoakan kalian. Patuh lah pada suamimu, semoga rumah tangga kalian berdua sakinah mawadah warohmah. "
" Jaga putri kami ya, Nak ! Bimbing dia menjadi istri yang berbakti. " Ucap Ayu saat Hega memohon restu dan doa.
" Iya, Bun. Hega akan menjaga dan mencintai Moza, Hega janji akan membahagiakan putri Ayah dan Bunda. "
Tangis haru menghiasi prosesi sungkeman itu.
Doa yang sama juga terlontar dari Arya dan Rasti.
" Terima kasih sudah membawa kebahagiaan untuk anak Papa. Semoga kalian berdua selalu dilimpahi kebahagiaan. " Arya mengecup kening menantunya.
Arya beralih pada putranya, memeluk Hega dengan kasih sayang, " Dan kamu, jadilah imam yang baik untuk istri kamu. Hilangkan sifat keras kepala dan acuhmu itu ! " Ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung Hega.
" Iya, Pa. Mana bisa Hega acuh pada istri Hega yang secantik ini ?! " Jawab Hega sembil melirik menggoda pada istrinya yang tengah sungkem pada Mami Rasti.
" Hahaha. . . Iya, Papa sampai lupa kalau kamu sudah jadi suami bucin istri. " Goda Arya kembali menepuk-nepuk bahu Hega setelah melepas pelukannya.
Seketika tawa para anggota keluarga dan tamu yang hadir menyaksikan prosesi sungkem menggema di seluruh ruangan.
Senyuman terus terukir di bibir sepasang insan manusia yang sudah menjadi kekasih halal beberapa saat yang lalu.
Hega dan Moza tidak henti-hentinya mengembangkan senyuman mereka pada para tamu yang memberikan ucapan selamat pada mereka.
__ADS_1
Kini Hega sudah tidak segugup tadi, membayangkan mulai malam ini akan selalu ada wanita cantik yang menemaninya tidur, dan ada wajah bidadari yang akan menyambutnya saat terbangun di pagi hari.
Dan ia bisa dengan leluasa merasakan hangatnya memeluk gadis yang dicintainya tanpa takut dosa.
" Kekasih halalku cantik banget. " Bisik Hega di telinga Moza disela-sela menerima ucapan selamat dari sanak saudara dan tamu undangan.
Hega tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari sang istri dan terus saja melantunkan kalimat pujian pada wanita yang sudah halal baginya itu.
" Astaga, lihat lo seseneng itu, gue jadi pengen kawin juga, Ga. " Celetuk Bara yang sudah tidak tahan lagi sedari tadi melihat senyum merekah yang menghiasi bibir sahabat juteknya itu.
" Nikah, Bar, nikah ! " Omel sang kekasih sembari memukul lengan pria itu.
Moza tersenyum melihat tingkah sepasang kekasih yang tidak ada romantis-romantis nya itu.
" Ujungnya kawin juga, sayang. " Bara bersungut membela diri sambil mengelus lengannya yang menjadi korban pukulan kekasihnya.
" Ampun deh gue lihat lo dari tadi senyum terus, tuh bibir kek mau robek ditarik mulu dari tadi. " Serobot Derka menyibak badan Bara dan Aliza yang tengah berdebat di depan pelaminan, menghalangi dirinya untuk memberi selamat kepada pasangan pengantin baru itu.
" Mo, selamat ya. Akhirnya lo mendapatkan kebahagiaan lo. " Dea berhambur memeluk sahabatnya, disusul Amira dan Renata.
" Momo, selamat juga dari gue, akhirnya ntar malam lo akan jadi wanita beneran. " Celetuk Julian sambil menyerobot diantara sahabat cantiknya dan hendak memeluk sahabatnya itu.
Namun tentu saja usaha Julian gagal total, saat tubuhnya sudah tinggal sejengkal memeluk Moza, Hega sudah menarik kerah jas Julian dari belakang.
" Mau apa kamu, Julian ?! " Seringai Hega dingin sengan tatapan tajam serta aura membunuh.
" Yah mau kasih selamat lah, bang. Apalagi coba ?! "
" Tidak perlu pakai peluk, bukan mahramnya. " Tolak Hega dengan tangan masih berada di jas Julian.
" Ish, pelit nih. " Gerutuan Julian membuat sahabat-sahabatnya terkikik mentertawakan pemuda itu.
" Iya, lo. Pelit amat, kasih selamat doang apa salahnya sih ? Gak tiap hari juga kita peluk istri lo, kan cuma di hari spesial sekali seumur hidup lo nih moment bahagia. Dasar suami posesif !!! " Maki Bara dengan bibir yang sudah monyong-monyong kesal.
Dan para orang tua dan tamu yang ada di sekitar mereka hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli melihat kekonyolan pemuda itu.
" Kakaaaak, semoga kakak bahagia. Katakan pada Ryu jika bang Hega bikin kakak sedih dan menangis ! " Ryu menyambar tubuh kakaknya, memeluk erat dengan penuh kasih sayang saat Hega sedang lengah karena disibukkan dengan tingkah Julian dan juga Bara.
Moza membalas pelukan adik kesayangannya, kemudian melepasnya dan mengusap pipi pemuda tampan itu, " Makasih, dek. "
" Mo. . . " Fabian muncul di belakang Ryuza, pria tampan dengan setelah jas berwarna hitam itu tersenyum. Kemudian tanpa peringatan pria itu nekat memeluk sahabat yang dicintainya, meskipun ada ancaman bogem mentah yang bisa saja kembali mendarat di salah satu bagian tubuhnya.
" Kamu harus bahagia ! " Ucap pria itu kemudian disela pelukannya, Moza mengangguk kecil, dan Fabian bisa merasakannya.
Fabian hanya ingin memberi pelukan terakhir yang akan membuat dirinya melepaskan dengan ikhlas gadis yang sudah bersemayam di hatinya selama lima tahun ini.
Merelakan gadis itu bahagia dengan pilihannya, berusaha mencapai level tertinggi dalam cinta, yaitu melepaskan orang yang dia cintai untuk bahagia, meskipun kebahagiaan itu bukan bersama dengannya.
__ADS_1
Moza hanya diam membisu sesaat di tempatnya berdiri, melirik wajah suaminya yang mulai terlihat masam. Memberi isyarat pada sang suami melalui tatapan matanya, jika ini hanya pelukan persahabatan.
Dan Hega harus berbesar hati untuk itu, ya, hari ini Hega harus menerima semua ucapan selamat dengan suka cita, bahkan dari pria yang pernah mencintai istrinya sekalipun, atau mungkin masih mencintai istrinya.
Toh gadis itu kini sudah mutlak miliknya, hanya miliknya seorang.
Fabian melepaskan pelukannya, beralih menatap pria di samping sahabatnya itu. Mengulurkan tangan kanannya pada pria yang sudah resmi menjadi suami sahabat sekaligus gadis yang Fabian cintai.
" Selamat atas pernikahan anda. " Ujar Fabian.
Hega membalas uluran tangan pria yang juga adalah rekan bisnisnya itu, " Terima kasih atas ucapan selamat dan juga kedatangan anda. "
Fabian menarik tangan Hega dan merapatkan tubuh mereka, " Anda harus pastikan dia bahagia, atau saya tidak akan segan-segan merebutnya dari anda. " Bisik Fabian tepat di telinga kiri Hega seraya menepuk punggung Hega dengan tangan kirinya.
" Saya pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi. " Desis Hega datar.
" Saya harap begitu. " Fabian melepaskan jabatan tangannya dan tersenyum ke arah gadis yang terlihat sangat cantik dengan kebaya putihnya.
Kemudian meninggalkan kediaman rumah Ardi Dama tersebut dengan langkah cepat tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Seperti halnya cintaku padamu yang akan terus ada di hatiku. Maka seperti itu pula aku akan terus mendoakan kebahagiaanmu.
Karena tidak bisa memilikimu, bukan berarti aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk membahagiakanmu.
Berbahagialah, sahabatku. . .
Berbahagialah, cinta pertama ku. . .
~ Sahabatmu, Fabian ~
Fabian meninggalkan sebuah kotak kado berukuran sedang berhiaskan pita berwarna emas da sepucuk surat perpisahan sekaligus doa untuk kebahagiaan Moza.
Mengikhlaskan cinta pertamanya bahagia dengan pilihan hidupnya.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Terima kasih teman-teman yang sudah setia hingga akhir cerita. π€π€
Saya akhirnya dengan berat hati memutuskan untuk rehat dulu sebelum mempertimbangkan apakah akan ada kelanjutan dari story ini.
Yang mungkin akan ada cerita After Marriage Hega dan Moza ( tapi tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana. Karena saya sedang dalam kondisi kesehatan yang naik turun )
Saya minta doa dan dukungan teman-teman agar saya bisa kembali dalam kondisi yang sehat kembali, dan menemani teman-teman dengan cerita kehaluan saya.
Sampai Jumpa Salam Lope Lope β€β€β€
Jan lupa follow igeh thor @sherinanta untuk update kapan kelanjutannya. π€π€
__ADS_1