Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Sahabat Absurd


__ADS_3

AUTHOR


" Ngapain gue jagain di kosnya kalau gue bisa jagain dia di rumah gue . "


" HAH ?! " Teriak Bara membuat Hega sedikit mengambil jarak dari sahabatnya itu karena teriakan Bara tepat di telinganya.


" Sial lo Bar ! Lo mau bikin telinga gue tuli hah ?! " Umpat Hega kesal menoyor kepala sahabatnya.


Bukannya takut, Bara malah melotot meminta penjelasan.


" Kakek memutuskan akan membawa Moza pulang ke rumah besar. " Jawab Hega santai.


" What ?! Serius lo Ga ? Wah wah wah....Kakek Surya benar-benar gerak cepat nih, pengen segera dapet cicit kayaknya. Hihihii...." Goda Bara melirik sahabatnya dengan tatapan jahil.


Kemudian menatap menyelidik ke arah Hega.


" Eitsss.... There Something i'm missed ( Ada sesuatu yang gue lewatkan ). Jadi alasan lo tiba-tiba mau pulang ke rumah besar adalah.....Ekhemmmm..." Lanjut Bara saat menyadari alasan sebenarnya kepulangan sahabatnya itu ke rumah besar.


Tempat yang selama 10 tahun ini selalu dihindari oleh sahabatnya itu.


" Ciehh.... Ternyata oh ternyata.... Lo bisa bucin juga ya Ga. Hahahaha..." Bara terbahak, benar-benar puas mengejek sahabat karibnya itu.


Diam-diam sudut bibir Hega melengkung keatas, terukir senyum tipis dibibirnya mendengar ocehan sahabatnya itu.


Yang tentu saja langsung disembunyikannya dengan cepat agar tak terlihat oleh sahabat tengilnya itu.


Karena Hega tahu bagaimana sifat Bara, bocah itu akan terus menjadikan hal ini sebagai bahan untuk meledeknya jika sampai Bara benar-benar menyadari kebucinan dirinya.


" Heh... Kalian lupa ini dimana ya ? Apa perlu gue panggil satpam buat seret biang keributan. " Sambar seseorang dengan nada sombong dari arah belakang.


" Hahahha.... Buaya patah hati mau cari masalah sama malaikat maut penjaga bidadari nih ?! " Celetuk Bara yang kesal dengan omelan Derka yang membuatnya kaget karena muncul tiba-tiba.


" Diem lo Bar, gue masih betah disini. " Bisik Derka yang dengan cepat merangkul Bara.


" Punya takut juga lo hah ?! " Ejek Bara sambil nyengir.


" Awas lo, kalau sampai gue dikirim ke Kutub Utara, gue akan seret lo pergi sama gue. " Ancam Derka masih menjaga suaranya agar tak terdengar oleh Hega.


Tapi tentu saja itu percuma, semua pembicaraan kedua sahabatnya itu terdengar jelas si telinga Hega.


Namun Hega hanya mengernyit karena tak memahami maksud dari obrolan tak penting kedua temannya itu.


โ€ข


โ€ข

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Derka sudah melakukan pemeriksaan akhir pada Moza, memastikan jika semuanya baik-baik saja dan mengijinkan pasien VVIP nya itu pulang.


Moza duduk di ranjang dengan kaki menggantung ke bawah, sudah terlihat rapi dengan dress selutut berwarna biru muda dengan flatshoes warna senada.


Rambut panjangnya terurai dengan sebuah jepit permata di salah satu sisi rambut diatas telinganya. Sudah siap untuk pulang.


" Apa tidak perlu periksa ke dokter ortopedi ? " Tanya Suryatama pada Derka.


" Tidak perlu kek, itu hanya terkilir biasa hanya perlu hati-hati saat berjalan dan akan segera membaik dua atau tiga hari kedepan. " Ucap dokter Derka.


" Dan untuk memar dan baretnya, saya akan mengirimkan salep yang bagus untuk menghilangkan bekas lukanya dengan cepat. " Lanjutnya.


" Terima kasih sudah merawatnya. " Suryatama mengangguk dan menepuk bahu dokter muda yang juga sahabat cucunya itu.


" Kakek seperti dengan siapa saja. Derka kan bukan orang asing yang harus mendapat ucapan terima kasih segala kek. " Ucap Derka.


Derka yang memang tumbuh besar sejak kecil bersama Hega sudah dianggap keluarga oleh Suryatama, seperti halnya Bara yang sudah dianggap cucu, begitu pula dengan Derka.


" Ahh... Kalau kakek mau berterima kasih cukup katakan saja pada Derka satu hal. " Sambung pemuda yang satu tahun lebih tua dari Hega itu.


" Apa itu ? " Tanya Suryatama mengangkat alisnya penasaran.


" Bagaimana caranya kakek bisa membujuk Beruang Kutub ini untuk menikah ? " Tanya Derka penasaran sekaligus ada nada jahil dalam pertanyaannya.


Sedangkan Ardi dan Ayu tersenyum tipis mendengar celotehan konyol dari dokter muda itu.


Ryuza terlihat berekspresi yang sulit diartikan, antara heran dan juga bingung maksud dari pertanyaan dokter tersebut.


Dan Hega ? Jangan ditanya, ke kepoan Derka tentu mendapat tatapan tajam dari Hega.


" Hahahaha..... Kalau kamu ingin tahu ceritanya, datanglah ke rumah, kakek akan menceritakan semuanya. Termasuk saat bocah itu menolak mati-matian perjodohan ini. Karena jika kakek menceritakan disini, kakek takut rumah sakitmu ini akan hancur terkena serangan sinar laser. Hahahhaa..... " Jawaban Suryatama sontak menimbulkan tawa membahana di ruangan itu.


Kecuali Hega tentunya, tetap dengan wajah datar dan acuhnya. Sedangkan Moza tampak tersenyum melihat kekasihnya menjadi bahan gurauan kakeknya sendiri.


Dan di sudut sofa, Ryuza malah terbengong heran.


Menolak perjodohan ? Maksudnya menolak kakakku ? Cih... Memang siapa dia berani menolak kak Momo yang secantik itu. Dan kenapa sekarang malah mereka mau menikah ? Jangan bilang dia berubah pikiran setelah melihat wajah kakak yang cantik ?! Sialan...


Ekor mata Ryuza tak henti-hentinya mengawasi gerak-gerik Hega.


" APA ?! Menolak calon istri secantik ini ?! Kalau Derka pasti sudah dengan senang hati menerimanya. " Lagi-lagi Derka berceloteh tanpa berpikir, tak memperhatikan tatapan murka yang menusuk ke arah dirinya.


Ckckck....Benar-benar bosan hidup lo Der. Awas aja sampai lo merengek minta tolong gue saat diamuk sama Hega, gak sudi gue tolongin lo ?!

__ADS_1


Bara mengusap wajahnya kasar, frustrasi melihat kelakuan absurd sahabatnya.


Ardi dan Ayu tersenyum mendengar pujian dokter muda itu untuk putri mereka. Sedangkan Moza sendiri malah tersenyum kecut karena tahu pasti tipe pria seperti apa dokter yang menangani pengobatannya dua hari ini.


Tipe pria yang sejenis dengan Bara dan juga sahabatnya Julian.


" Terima kasih atas pujiannya dokter, dan terima kasih sudah merawat putri kami selama dua hari ini. " Ucap Ayu berterima kasih.


" Tidak masalah tante, dan panggil saja saya Derka, dengan senang hati saya akan menerima pasien secantik putri tante ini. Ah....Iya, apa tante dan om punya putri lain selain nona Moza ? " Tanya Derka penuh harap.


" Sayangnya tidak ada nak Derka, Moza anak perempuan tante satu-satunya. " Jawab Ayu sembari tersenyum.


" Ah.... Sayang sekali. " Derka menggaruk tengkuknya canggung dan sedikit kecewa.


" Baiklah, kami pamit ya Nak Derka. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. " Kali ini Ardi yang menyampaikan terima kasih pada dokter muda itu.


" Sama-sama om. " Jawab Derka sopan.


" Semoga lekas sembuh nona Moza, jika ada yang terasa tidak nyaman silahkan hubungi saya ya. Dengan senang hati saya akan memeriksa nona. " Ucap Derka mengantar kepergian pasien cantiknya.


" Terima kasih dok. " Jawab Moza sopan dan tersenyum tipis.


Seberapapun sebalnya Moza dengan tingkah dokter itu, gadis itu tetaplah harus menjaga etika kesopanan. Bagaimanapun Derka lah yang menangani perawatan dirinya selama dua hari ini.


Meskipun terkesan genit dan petakilan, nyatanya dokter yang ternyata juga sahabat Hega itu adalah sosok dokter yang profesional dan bertanggung jawab atas pekerjaannya.


" Ga, telfon gue kalau ada apa-apa. " Ucap Derka dengan tak tahu malunya mengangkat jadi jempol dan kelingkingnya di telinga.


" Cih... Jangan mimpi. " Hega yang dari tadi menahan diri akhirnya melampiaskan juga kekesalannya dan dengan sengaja menginjak kaki sahabatnya itu saat berjalan melewati Derka sambil mendorong kursi roda Moza.


" Auwhh..... Sialan, dasar monster beruang kutub, jutek menyebalkan.... Awas lo..... !!! " Umpat Derka memaki Hega, sambil mengangkat kakinya yang menjadi korban injakan mematikan dari sahabat galaknya itu.


" Rasakan lo, udah gue bilang ngomong tuh dipikir dulu. Lo dokter kok kagak pinter-pinter juga ?! Hadeh....!!! " Cibir Bara menepuk keningnya sendiri, kemudian berlalu melewati dokter itu.


" Sialan lo Bar, gue sumpahin lo kena sama tuh bocah sialan. "


" Udah kebal gue sama kelakuan Hega, jadi lo gak usah mencemaskan gue. Pikirin aja bagaimana nasib lo setelah ini. Hehehe.... " Balas Bara diiringi seringai di bibirnya.


Mendengar kalimat terakhir Bara, entah kenapa Derka terlongo di tempatnya. Kemudian bergidik membayangkan apa yang akan dilakukan Hega untuk membalas kelakuan absurd nya tadi.


Pria berjas putih itu mengacak rambutnya kesal dan frustrasi saat tersadar jika dirinya sudah membuat sahabatnya itu kesal.


Dan benar kata Bara, Hega benar-benar menyebalkan untuk urusan membalas dendam.


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca episode ini


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ˜Š


__ADS_2