
AUTHOR
Kalimat Moza seolah bagaikan sambaran petir, wajah Hega merasa tertampar dengan keras.
" Mo.... " Hega seketika menghentikan aktivitasnya, menatap lekat manik mata kekasihnya.
" Tapi jika kakak ingin memintanya sekarang, maka aku akan memberikannya. Lakukanlah, Kak ! " Moza memejamkan kedua matanya, bulir air mata menetes di pelupuk matanya.
D E G . . .
Hati Hega seketika bagaikan tertusuk kristal es yang dingin dan menyakitkan.
" Mo-momo sayang, maafkan aku ! " Ucap Hega dengan nada penuh penyesalan, mengusap perlahan air mata kekasihnya yang mulai mengalir perlahan membasahi kelopak mata Moza.
" Maafkan aku ! " Ulangnya lagi seraya mengecup lembut kening kekasihnya.
" Aku memang pria brengs*k. Maafkan aku, maafkan aku. " Hega bangkit dari posisinya yang menindih tubuh Moza, duduk bersimpuh masih di atas ranjang menghadap Moza, menjambak rambutnya acak, hendak menampar wajahnya sendiri tapi dengan cepat Moza duduk dan mencekal lengan pria itu.
" Kaaak.... " Ucap Moza lirih.
" Mo, aku...." Hega menatap kakasihnya dengan tatapan bersalah, malu dan kecewa pada dirinya sendiri.
" Ssssttt..... " Telunjuk Moza sudah menempel di bibir Hega dan gadis itu menggeleng pelan.
" Mo.... "
" Kak, tidak apa-apa. Yang penting kakak sudah berhasil melawannya, dan kakak bisa menahan diri. "
" Tapi aku hampir saja ..... Aaarggghhh.... Aku sungguh tidak bermoral. " Hega kembali menarik-narik rambutnya frustrasi.
Moza reflek memeluk kekasihnya, menenggelamkan kepala Hega di bahunya dan mengelus lembut kepala pemuda itu.
" Ssst.... Tidak apa-apa, Kak. Terima kasih sudah berhenti.... ! " Ucap Moza lagi dengan sangat lembut berusaha menenangkan kekasihnya yang terlihat sangat merasa bersalah.
Setelah cukup lama, Moza melepaskan pelukannya saat dirasa pemuda itu mudah mulai tenang. Moza ikut duduk bersimpuh di hadapan Hega, pemuda tampan itu tampak sangat kacau dan ekspresi wajahnya terlihat sangat menyesal sekaligus merasa bersalah.
Moza menangkup wajah Hega dengan kedua telapak tangannya, " Kak.... "
" Hem. " Hega membalas tatapan kekasihnya, bola mata Hega berkaca-kaca, menahan air mata.
" Kakak tahu kan kalau aku sangat mencintai kakak. "
" Hem. Aku juga sangat mencintaimu, amat sangat mencintaimu. " Mata elang Hega tampak sayu.
" Eum... Aku tahu. Bisakah kakak bersabar, menunggu saat aku halal untukmu ?! " Moza menatap manik mata kekasihnya dengan tersenyum tipis.
Pemuda itu mengangguk, sekali lagi Hega teringat ucapan kakeknya, berduaan dengan gadis yang dicintainya memang terlalu berbahaya.
" Sekarang kakak tidur lah ! Badan kakak masih panas, kalau besok demam kakak masih belum turun juga, aku akan mengantar kakak ke dokter. " Ucap Moza seraya menarik tangan Hega dan membaringkan tubuh kekasihnya.
" Tetap lah disini ! Aku mohon ! " Pinta Hega saat melihat Moza hendak turun dari ranjangnya.
" Tapi kak.... " Setelah apa yang barusaja terjadi, tentu saja Moza sedikit takut berdekatan dengan kekasih tampannya itu..
" Aku janji tidak akan macam-macam lagi. Bisakan kamu tetap disini menemaniku tidur ?! "
" Kak... " Lirih gadis itu ragu.
" Hanya tidur, aku janji ! " Ucap Hega sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya.
__ADS_1
" Eum... Baiklah. " Moza mengangguk pasrah.
" Kemarilah ! " Hega menepuk sisi kirinya agar gadis itu ikut berbaring disampingnya.
Moza menurut, merapikan kemejanya dan berbaring disamping Hega, menarik selimut dan menyelimuti pemuda itu dan dirinya sendiri.
Moza hanya diam sembari menatap langit-langit kamar Hega, tidak ada yang bersuara. Hingga beberapa saat kemudian Hega memiringkan badannya menghadap Moza yang sudah memejamkan matanya. Hega menahan kepalanya dengan tangan kiri, tangan kanannya mengelus lembut kepala kekasihnya seraya menatap lekat wajah cantik kekasihnya yang sedang terlelap.
" Seandainya aku memintamu menikah denganku, apa kamu akan bersedia, Momo sayang ?! " Gumam Hega lirih.
" Tahukan kamu kalau aku sangat mencintai kamu ?! Aku sudah berada pada titik dimana aku merasa tidak akan bisa hidup tanpa kamu dan jauh darimu. Aku ingin selalu berada dekat denganmu, mencium aroma wangi tubuhmu, merasakan sentuhan tanganmu. Ah... Aku memang sudah gila. " Hega masih terus berbicara sendiri dengan jari-jarinya masih bermain di kepala Moza, memainkan rambut Moza yang tergerai.
" Mo, bagaimana jika kita membatalkan pertunangan kita dan langsung menikah saja, hem ?! " Hega terus berucap lirih, seolah takut jika gadis itu akan mendengarnya. Tapi untung lah sepertinya Moza sudah tertidur.
" Ah... Aku ingin sekali mengatakannya saat kamu dalam keadaan terjaga, tapi sepertinya aku terlalu pengecut untuk bisa mengatakannya. Aku takut kamu akan menolakku, haish.... Aku hampir gila rasanya. "
Hega mendesah lirih, " Haaah... Baiklah, anggap saja ini latihan ! Ekhem.... Moza sayang, maukah kamu menjadi Nyonya Hega Airsyana Saint ? Maukah kamu menikah denganku ? Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak kita ? "
" Arrrgh... Aku benar-benar sudah gila. Mengajak menikah setelah baru sebulan pacaran saja sudah terdengar aneh, apa-apaan tadi aku bilang untuk menjadi ibu segala ? Bisa--bisa dia kabur karena merasa tertekan dengan keinginan egoisku ini. " Hega terpekik lirih.
" Huft.... " Hega tampak frustrasi, menjatuhkan kepalanya di bantal dan menutup kedua matanya dengan satu lengannya dan menghela nafas berat.
" Kira-kira apa pendapatnya tentang menikah muda, ya ?! " Gumamnya lagi masih dengan posisi sama, berbaring dan menyembunyikan wajahnya dibawah bantal.
" Aku mau kak. " Suara lirih seorang gadis membuat Hega terkesiap dan menoleh ke arah gadis di sampingnya yang ternyata sudah terbangun dari tidur atau malah sebenarnya gadis itu memang sedari tadi belum tidur.
Hega tersentak, melempar bantal di atas wajahnya ke sembarang arah dan menoleh ke arah Moza.
" Kamu terbangun ? Apa aku membangunkanmu ? Dan apakah tadi kamu mengatakan seuatu ? " Tanyanya menatap kekasihnya yang juga tengah menatapnya.
" Apa kamu mendengar semua ucapanku tadi ? " Tanyanya lagi dan gasis itu mengangguk.
" Jadi benar yang aku dengar kalau kamu mengatakan jika kamu.... "
Moza duduk bersila, " Aku mau kak. " Lirih gadis itu masih menatap kekasihnya yang masih sibuk mengoceh sendiri.
Hega menarik tubuhnya bersandar di kepala ranjang, menghindari tatapan mata kekasihnya. " Ya aku tahu, aku mengerti dan aku akan menunggumu. Aku tahu jawabanmu pasti tidak... "
Eh... Tunggu dulu ! Sepertinya aku tidak mendengar kata 'tidak' dari suaranya tadi ?! Ah... Apa aku salah dengar ?! Tidak mungkin.
Batin Hega bertanya-tanya dan secara reflek menatap lekat manik mata Moza.
" Aku bilang aku mau kak. " Moza tersenyum tersipu.
Seketika Hega bangkit dan menarik tubuhnya terduduk tepat di hadapan kekasihnya, netra hitam Hega membelalak menatap kekasih cantiknya.
" Coba ulangi lagi ! " Pintanya dengan mata berbinar.
Gadis itu tersenyum cantik, " Ayo kita batalkan pertunangan kita dan menikah saja, Kak ! "
Mata elang Hega mengerjap beberapa kali, " Aku tidak salah dengar, kan ?! " Tanya Hega lagi memastikan, dan betapa bahagianya pemuda itu saat gadis itu menggeleng pelan mengisyaratkan jika apa yang didengar Hega tidak lah salah.
" Mo... Kamu tidak sedang mengerjaiku kan ?! Iya kan ?! " Hega menggenggam kedua tangan Moza dan masih menatap intens kekasihnya menunggu jawaban.
" Memangnya aku sejahil kakak apa ? Aku tidak suka bercanda atau mengerjai orang tahu. Apalagi menggunakan hal serius seperti pernikahan sebagai bahan gurauan. " Cibir Moza kesal.
Hega menelisik lebih dalam bola mata Moza, tidak ditemukan setitikpun kebohongan di dalamnya. Dengan cepat Hega menyambar tubuh kekasihnya dan membawanya dalam dekapannya.
" Mo, kamu benar-benar serius dengan ucapanmu kan ?! " Moza mengangguk dalam pelukan Hega, dan tentu saja pemuda itu merasakannya.
__ADS_1
Hega segera melepas dekapannya, menangkup wajah cantik Moza dengan kedua tangannya, " Kamu tidak bisa menarik ucapanmu, hem ! Dan kamu tidak boleh menyesalinya, lebih tepatnya aku tidak akan membuatmu menyesali keputusanmu ! " Ujar Hega meyakinkan gadisnya.
" Aku akan menarik ucapanku jika kakak tidak juga istirahat ! Ini sudah malam tahu, mau begadang sampai jam berapa coba ?! Kakak kan sedang sakit, bagaimana bisa sembuh jika kurang istirahat, huuh... " Dengus Moza, jelas ucapannya mengandung ancaman.
" Baiklah, baiklah. Aku akan segera tidur istriku yang cantik. " Menggerakkan kepala Moza ke kanan dan ke kiri.
" Eh.... Masih calon, Kak. " Protes Moza seraya menampik tangan kekasihnya.
" Istriku saja ya ?! Lebih enak didengar. " Bujuk Hega tersenyum smirk.
" Terserah kakak ! Tapi jangan salahkan aku jika besok saat aku bangun tidur aku akan berubah pikiran atau mungkin lupa dengan apa yang aku katakan tadi. "
" Ehhh..... Kamu mengancamku, hem ?! "
" Terserah anggapan kakak, aku mengantuk dan harus tidur karena besok aku ada kelas pagi. Selamat malam, Kak ! " Berbaring memunggungi Hega dan menarik selimut menutup tubuhnya hingga leher.
Memang enak aku kerjai ?! Salah sendiri keras kepala dan selalu seenaknya sendiri. ~ Moza ~
" Hei... Jangan begitu dong sayang, baiklah calon istriku, jangan marah lagi ya dan jangan tarik ucapanmu tadi ! Aku akan menuruti apapun perkataanmu calon istriku yang cantik dan baik hatinya. " Bujuk Hega memelas, menekankan kata 'calon' dalam setiap kalimatnya berharap kekasihnya itu tidak akan marah lagi dan menarik persetujuannya untuk menikah.
Dibalik selimut, Moza tersenyum geli mendengar nada memelas kekasihnya yang tengah membujuk dirinya dengan kalimat-kalimat manisnya.
" Ayolah Momo sayang, jangan ngambek lagi, hem ! " Menggoyang-goyang pelan tubuh Moza yang sedang memunggungi dirinya.
Moza menoleh sedikit, " Baiklah, aku tidak marah lagi asalkan kakak segera tidur ! "
Secepat kilat Hega berbaring di samping gadisnya, dan memeluk tubuh Moza dari belakang.
" Apa yang kakak lakukan ?! " Meronta saat Hega memeluknya dengan tiba-tiba.
" Bukankah kamu memerintahkanku untuk segera tidur ?! "
" Iya, tapi tidak begini, Kak ! "
" Aku janji tidak akan berbuat macam-macam padamu. Hanya peluk saja, plisss.....!! " Mohon Hega lirih.
" Huft... Baiklah, tapi jangan terlalu erat, Kak. Aku kesulitan bernafas. " Akhirnya Moza kembali pasrah juga menerima kelakuan Hega yang seenak jidatnya itu.
" Ah... Iya maaf. Begini ya ?! " Ujar Hega seraya melonggarkan pelukannya.
" Eeum.... "
" Selamat malam calon istriku yang cantik. Cup ! " Ucapnya seraya mengecup kepala Moza.
" Selamat malam juga, Kak. "
~ Flashback End ~
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
HEGA : Momo sayang, sini deh deketan dikit !
MOZA : Gak mau, Kak. Takut kakak khilaf lagi.
HEGA : Dikit doang mah gak papa....π
MOZA : Dikit banyak tetep dosa tau.... π
__ADS_1
Semoga belum bosan dengan tingkah Bang Hega ya...
Dia sedang naik tingkat kebucinannya....π