Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Apa Boleh Aku Menciummu ?


__ADS_3

โš ๏ธ Mengandung kebucinan tingkat akut, bagi yang jomblo resiko baper ditanggung sendiri.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


AUTHOR


GLEK


Saat tersadar dengan pemandangan indah dan menggoda di depan matanya.


Leher jenjang yang putih dan mulus, serta aroma feminim menyegarkan yang keluar dari tubuh Moza ditambah kulit halus dan lembut yang menempel di dagu dan pipinya.


Cukup menjadi serangan mematikan yang bisa membuat logika seorang Hega berantakan seketika.


Hega seolah mendapat critical hit yang tak terduga.


Dengan sudah payah Hega menahan diri, memejamkan matanya sejenak untuk mengendalikan sesuatu dalam dirinya yang membuncah tanpa ijin darinya.


" Kak. " Moza mulai tak nyaman dengan posisi ini, tubuhnya sedikit berontak berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Hega.


" Hm. " Hega tetap pada posisinya, hanya saja posisi wajahnya berubah sedikit miring mengintip wajah kekasihnya.


" Sampai kapan kita seperti ini ? " Bulu kuduk gadis itu meremang merasakan hembusan nafas Hega yang menerpa area sensitif di belakang telinganya serta dagu dan pipi Hega yang menyentuh kulitnya.


" Kenapa ? " Nafas Hega mulai memberat pertanda ada sesuatu yang tengah ditahannya.


Ini orang beneran gak tahu apa pura-pura gak tahu si ? ! Nih jantung udah berasa mau copot tau..... ~ Moza ~


" Aku lelah berdiri terus. " Terangnya sedikit sewot, Moza mencari-cari alasan, tidak mungkin kan gadis itu mengatakan kalau dirinya kegelian atau malah sebenarnya tergoda pada perlakuan kekasihnya.


Hega membuka matanya dan membalikkan badan gadisnya agar menghadap padanya.


Dengan lembut membuka ikat rambut Moza agar rambut panjang gadis itu terurai dan menutupi area berbahaya yang dapat menggoda mata pria saat melihatnya.


" Kenapa dilepas kak ?! " Moza hendak mengambil kembali ikat rambutnya, tapi segera Hega memasukkam benda kecil itu ke dalam saku celananya.


Tubuh Moza membentur dada bidang Hega, dengan cepat gadis itu mencoba mundur mengambil jarak dari pria tampan di hadapannya.


Namun dengan satu gerakan saja Hega menggapai tubuh kekasihnya dan merapatkan kembali tubuh mereka.


Mereka kembali berpelukan. Kali ini Hega membenamkan wajahnya di ceruk leher gadisnya.


Benar-benar sedang membuat masalah untuk dirinya sendiri, membangkitkan sesuatu yang belum saatnya untuk dibangkitkan.


Apa hayo itu ?? ๐Ÿ™€๐Ÿ™€๐Ÿ˜


Satu menit


Dua menit


Lima menit


Entah sampai berapa menit ( Author capek nungguin dan ngitungin, mupeng )


" Aku merindukanmu, jadi biarkan seperti ini sebentar lagi, hm. "


Moza hanya bisa pasrah, toh dirinya juga tak dapat memungkiri jika pelukan pemuda itu sungguh membuatnya nyaman dan terlena.


Moza ikut terbawa suasana, menghirup sepuasnya aroma maskulin yang khas dari tubuh kekasihnya itu.


Meskipun lehernya merasa kegelian, dan tubuhnya meremang, tapi gadis itu masih bisa menahannya.


Setelah beberapa saat, Hega melonggarkan pelukannya. Kemudian mendaratkan bibirnya di kening gadis yang dirindukannya.


Dan kembali menenggelamkan wajah Moza di dada bidangnya.


Blush....


Mendapat serangan tak terduga, wajah Moza merona seketika. Hatinya benar-benar berbunga-bunga mendapat perlakuan yang begitu lembut dan penuh kasih sayang dari kekasihnya itu.


Tapi sepertinya itu tak cukup mengobati rasa rindu Hega pada gadis yang masih terdiam di dalam pelukannya itu.

__ADS_1


Hega kembali melonggarkan pelukannya, menyentuh dagu Moza dengan tangan kanannya. Sedangkan lengan kirinya masing melingkar di pinggang gadisnya.


Kini keduanya saling menatap lekat satu sama lain, pandangan mata mereka saling terpaut dan terkunci.


Debaran jantung mereka saling bersahutan. Moza menelan ludahnya dengan susah payah, badannya gemetar matanya mengerjap beberapa kali.


" Moza sayang. " Hega menyebut nama gadisnya dengan sangat lembut tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari wajah cantik di hadapannya. Tatapan mata pemuda itu penuh binar cinta.


Merapikan rambut Moza yang berantakan dan menyelipkannya ke belakang telinga.


Deg....


Mendengar namanya disebut dengan begitu lembutnya, ditambah kata sayang, tubuh Moza terasa meleleh, bibirnya kelu dan hanya bisa berdehem lirih.


Belum lagi sentuhan lembut jari Hega di pipi dan telinganya.


Glek.... Sepertinya jantungku benar-benar akan melompat keluar dari tubuhku. ~ Moza ~


" Hm. " Jantungnya merosot, lututnya terlalu lemas.


Jika saja Hega tak menahan tubuh gadis itu, mungkin saja Moza sudah tak mampu lagi manahan tubuhnya dengan kedua kakinya sendiri dan jatuh ke lantai.


Sepertinya aku sudah tak sanggup lagi, tapi bagaimana kalau dia menolakku ? Kami kan baru resmi pacaran beberapa minggu.


Masa aku sudah minta ijin menciumnya si ? Apa lebih baik tidak usah ditanya, langsung aku cium saja sekalian ?! aargh... Masa bodoh. ~ Hega ~


" Apa aku boleh menciummu ? "


Dua hari tak bertemu saja sudah membuat Hega bagaikan ikan yang kehabisan nafas karena jauh dari air, bagaikan berada di gurun tanpa setetespun air.


Dan sepertinya kali ini Hega tak bisa lagi menahan diri, hanya bibir mungil berwarna peach itulah yang bisa menyembuhkan dahaganya.


Menyembuhkan kerinduannya akan kekasihnya itu.


" Ahhh... Itu...." Bola mata Moza seketika membulat sempurna, terasa kikuk sehingga membuatnya gelagapan menjawab pertanyaan Hega.


Aaaaa.... Bagaimana aku menjawabnya ?! Aku malu jika bilang iya, tapi aku tidak bisa menolaknya.


" Kenapa ? Tidak bolehkah ? " Hega menatap penuh harap.


Moza mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan mata Hega yang membuatnya kelimpungan.


Tuh kan ! Bodohnya lo Ga, ngapain juga tadi lo bertanya ?! Langsung saja cium dia, jika dia marah paling hanya satu tamparan. Habis perkara.


Gumam Hega dalam hati menyesali kebodohannya.


Sejenak Hega merasakan sedikit kekecewaan, namun pernyataan Moza membuat salah satu sudut hatinya bergetar bahagia.


Bahagia karena ternyata bukan hanya dirinya saja yang merasakan perasaan sebesar itu.


Tapi dari ucapan gadis itu, menyiratkan jika Moza juga mencintai dirinya sebesar rasa cinta Hega pada gadis itu.


Seperti halnya yang dirasakan oleh Moza, jantung Hega juga kerapkali terasa hampir meledak setiap kali berdekatan dengan gadis cantik itu.


Ya, mereka memiliki perasaan yang sama, cinta yang sama. Dan sudah sama-sama tergila-gila antara satu sama lain.


Hega melupakan kekecewaannya, yang terpenting baginya saat ini adalah gadis yang dicintainya ada bersamanya. Dan memiliki rasa cinta yang sama dengan dirinya.


Dia ingin menjalani hubungan ini senatural mungkin. Tidak ingin memaksakan sesuatu yang memang belum saatnya terjadi.


" Huft... Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu terbiasa berdekatan denganku seperti ini. Sampai kamu siap. " Hega mengelus rambut Moza dengan penuh cinta.


Aku akan melepaskanmu kali ini dan memberimu waktu sebanyak yang kau inginkan. ~ Hega ~


Sepertinya aku tidak akan pernah terbiasa dengan wajah berbahaya ini, terutama jantungku yang tidak akan pernah terbiasa. ~ Moza ~


" Tapi jika saat itu tiba, jangan salahkan aku yang akan memakanmu hingga habis. " Lanjutnya, tapi kali ini berbisik lembut di telinga Moza, dan menggigit kecil cuping telinga gadis itu.


Membuat Moza berdebar hebat, memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya agar suara-suara aneh tak keluar dari bibirnya.


Suara-suara yang pastinya akan membuatnya malu setengah mati.

__ADS_1


Hega melepaskan pelukannya, gemas melihat hasil dari ulahnya. Ekspresi di wajah kekasihnya yang tampak jelas sedang merasa malu.


Hega tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu, dan kenapa kekasihnya itu terlihat menggigit bibirnya sendiri.


Sepertinya kekasih cantiknya itu juga tengah dilanda sesuatu dalam dirinya, tengah sama-sama menahan sesuatu yang memang belum saatnya mereka lakukan.


Pipi putih Moza benar-benar memerah merona, begitu pula dengan daun telinga gadis itu yang ikut memerah.


Hega tersenyum simpul, melihat ekspresi polos Moza yang sangat menggemaskan.


Bagaimanapun dirinya harus bersabar, melakukan semuanya dengan perlahan. Karena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua berada pada tahap hubungan dengan lawan jenisnya hingga sejauh ini.


Tentu saja lebih mudah bagi seorang pria, karena pria mengandalkan nalurinya untuk hal semacam ini.


Tapi bagi seorang wanita, segala sesuatunya butuh proses yang lebih rumit, apalagi jika wanita itu benar-benar tipe polos yang sama sekali tak pernah tersentuh oleh yang namanya cinta.


Dengan lembut Hega menggenggam tangan Moza dan membawanya ke untuk duduk di sofa.


Dia marah kah ?!


Aaaah.... Lagipula kenapa harus minta ijin segala si ? Aku kan bingung bagaimana mengiyakannya.


Bukankah di drama-drama biasanya langsung cium saja ya....?!


Ahh... Masa bodo kak Hega mau marah atau apa !


Hega masih terdiam, sedangkan Moza tak berani menatap wajah pria yang sudah duduk bersamanya di sofa.


Suasanya mendadak canggung, Moza tak tahan dengan situasi ini.


Ahh kalau marah ya marah saja kenapa diam saja si ?


Merasa semakin tak nyaman dengan keheningan itu, Moza memberanikan diri menatap ke arah Hega.


Bukan mendapati ekspresi cemberut marah atau kecewa di wajah pemuda itu.


Malah justru sebaliknya Hega terlihat menatap dengan ekspresi bahagia, kerinduan dan cinta.


Hega kemudian mencubit gemas kedua pipi kekasihnya, membuat Moza tak bisa lagi menyembunyikan rona merah di tulang pipinya.


" Auwh.... Kenapa kak Hega suka sekali mencubitku si ?! " Ucapnya kesal.


" Karena kamu sangat imut dan menggemaskan. " Kali ini hidung mancung Moza yang menjadi sasaran gemas Hega.


" Haiish.... Kenapa calon istriku ini sangat manis dan cantik begini si ?! "


Sambungnya sembari mengacak rambut kekasihnya membuat bibir Moza mengerucut semakin kesal dengan ulah tunangannya itu.


Astaga, mendengar kata calon istri keluar dari bibir Hega benar-benar membuat pertahanan Moza hancur.


Wajah cantiknya semakin merona dan jantungnya seperti berlarian kesana-kemari.


Tapi disisi lain, gadis itu benar-benar kesal karena tidak bisa melawan tingkah menyebalkan kekasihnya.


Melihat wajah kesal gadisnya tak membuat Hega menghentikan aksinya, malah semakin menjadi-jadi.


Kamu benar-benar membuatku gemas Momo sayang. Rasanya aku ingin mengurungmu di kamar saja berdua denganku. ~ Hega ~


Jangan tatap aku seolah aku terlihat menggemaskan saat sedang kesal. ~ Moza ~


โ€ข


๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿ’œ๐Ÿ–ค๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œ๐Ÿ–ค


Jangan kecewa ya, next part mungkin jebol sudah pertahanan Hega. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Lagipula tuh Momo mau di kekepin sama Hega di dalam kamar, berduaan sama dia. ๐Ÿ˜


Awas yang ketiga adalah syetan....


Hega : Ya lu syetan nya thooorrr

__ADS_1


Me : Alamak aku dikatain syetan... Ya udah ntar aku jadi syetannya beneran, syetan yang menggagalkan kemesumanmu....๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Hega : ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


__ADS_2