
AUTHOR
Bruak
Tengah berjalan dengan pikiran yang entah kemana, tanpa sengaja menabrak seorang wanita paruh baya yang tengah menangis sesenggukan sambil setengah berlari. Diikuti seorang pria paruh baya yang mengejar di belakang wanita itu.
" Maafkan saya nak, saya buru-buru hiks... " Seorang wanita paruh baya terjatuh di lantai.
" Tidak bu, saya yang melamun. Apa ibu tidak terluka ? " Hega berjongkok mencoba membantu ibu tersebut untuk berdiri.
" Saya tidak apa-apa. Saya harus segera pergi. Terima kasih nak. " Pamit wanita itu sambil mengusap air matanya.
" Supir saya akan membantu ibu. " Menawarkan dengan nada menyesal.
Wanita tersebut menggeleng, belum sempat menolak kesungguhan Hega seorang pria paruh baya sudah berada di sisinya.
" Sudah ayah bilang untuk pelan-pelan kan tadi. Ayo kita lekas pergi. " Ucap pria tersebut tanpa menoleh ke arah Hega, langsung memapah wanita paruh baya tadi memasuki lift.
Hega kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tempat pertemuan.
" Maaf tuan muda, lebih baik anda merapikan pakaian dulu di rest room. " Ucap Pak Bakti sambil menunjuk setelan jas nya yang sedikit berantakan akibat tabrakan tadi.
" Hmm. Baiklah, Pak Bakti tunggu disini. " Berbalik badan menuju rest room.
" Saya akan menemani tuan muda. " Mengikuti langkah tuan mudanya.
" Hah, sampai kapan Pak Bakti mau terus mengekor pada saya ? " Berhenti sejenak, bertanya tanpa menoleh.
" Saya hanya menjalankan perintah Tuan Besar. " Menjawab dengan serba salah.
" Saya tidak akan kabur Pak, tunggulah disini. "
" Baik Tuan Muda. "
Setelah sekitar 10 menit merapikan kembali setelan jas dan dasinya, Hega yang hendak menuju ruangan pertemuan melihat ayah dan anak keluarga Grace, yang membuatnya murka adalah pria yang ada di samping Joseph Grace yang tak lain adalah sang Papa yaitu Aryatama.
Sedang apa Joseph Grace dan putrinya ada di sisi ? Dan kenapa Papa bersama mereka ? Ada apa ini sebenarnya ?!
Batin Hega curiga.
" Pak Bakti, apa bapak tahu seperti apa gadis yang dijodohkan dengan saya ? " Melirik ke arah supir pribadinya.
Apa ? Gadis yang dijodohkan ? Saya bahkan baru tahu jika anda dijodohkan ?
Bingung mau menjawab apa, pria paruh baya itu hanya menggeleng ragu.
Haah.... Pintar sekali kakek dan papa menyembunyikan hal ini. Bahkan sampai orang terpercaya seperti Pak Bakti saja tidak tahu apa-apa.
Gumam Hega lirih.
__ADS_1
" Maaf, tuan muda mengatakan sesuatu pada saya. " Masih gemetar bertanya, tapi Hega masih berada di pikirannya sendiri.
Tunggu, apa jangan-jangan ini ulah kakek yang memblokir semua akses informasi tentang gadis itu ?! Jika iya pantas saja semua orang kepercayaanku tidak bisa menembus pengamanan pusat informasi itu.
Hega masih bergumam sendiri menganalisa setiap kemungkinan yang ada dipikirannya. Mengabaikan pria di belakangnya.
" Tuan Muda. Disini ruangannya. "
" Aah... Maaf Pak Bakti, saya melamun tadi. " Tersadar saat Pak Bakti menepuk pelan lengannya.
" Silahkan. " Pak Bakti membuka pintu besar berwarna coklat dengan nomor ruangan berwarna emas.
Belum sempat Hega melangkah masuk, sang kakek sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi antara marah dan kecewa.
" Dasar cucu tidak berguna, bagaimana bisa kamu terlambat di acara penting seperti ini. " Kakek Suryatama memukul-mukul bahu cucunya dengan keras.
" Bukankan sudah kakek katakan untuk datang tepat waktu, dan memohonlah sendiri jika ingin membatalkan pertunangan. Bukan malah menghindar seperti ini. Dasar bocah kurang ajar kamu. " Membombardir Hega dengan omelan dan juga pukulan.
" Tunggu kek. " Hega melingdungi tubuhnya dengan kedua tangannya.
" Apa lagi yang mau kamu katakan hah ?! Alasan bisnis ?! Bukankah sudah kakek bilang, tidak perlu ke Jepang, biarkan saja jika memang hotel itu bangkrut. Itu tidak akan membuat keluarga kita jadi miskin. Tapi ini kamu malah...."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh kakek Suryatama melemas. Hega menahan tubuh sang kakek dengan kedua tangannya, dibantu Pak Bakti memapah pria tua itu masuk dan duduk di sofa.
Kemudian mengambilkan segelas air putih untuk menenangkan sang kakek.
" Betul Tuan Besar, saya sendiri yang memastikan Tuan Muda sampai tepat waktu. Tapi tadi di dekat lift tuan muda tidak sengaja menabrak seorang wanita yang tengah berlari sambil menangis. Jadi pakaian tuan muda sedikit berantakan, dan harus dirapikan dulu di rest room. " Dengan sedikit gemetar Pak Bakti menjelaskan secara rinci kejadian yang membuat tuan mudanya terlambat.
Mendengan penjelasan pria yang merupakan salah satu orang kepercayaannya itu, Suryatama tersentak.
Wanita menangis sambil berlari ?
" Apakah wanita itu memakai hijab ? "
Suryatama menyebutkan ciri wanita dan juga pria yang bersama dengan wanita tersebut. Hega yang memang saat itu tengah tidak fokus karena pikirannya sedang melayang di tempat lain hanya bisa mengangkat bahu.
" Betul Tuan Besar, yang wanita memakai pakaian seperti yang tuan besar sebutkan tadi. "
Kakek Suryatama menepuk dahinya kemudian memijit-mijit pelipisnya frustrasi.
" Ayo kita segera pergi. " Suryatama beranjak dari duduknya.
" Bukankah kita akan bertemu gadis itu dan keluarganya disini kek ? "
Hega yang baru saja tersadar dengan tujuannya datang sontak mengarahkan pandangannya menyusuri semua sudut ruangan VVIP tersebut.
Kosong, tidak ada orang lain, hanya ada dirinya, sang kakek dan Pak Bakti. Kemudia muncul dua pria paruh baya, salah satunya adalah Aryatama dan menyusul seorang pria yang usianya lebih tua dari sang Papa yaitu Paman Ben yang tengah berdiri belakang Aryatama.
Paman Ben adalah kepala pelayan di mansion tempat kakeknya tinggal sekaligus orang yang paling dipercaya oleh Tuan Besar Keluarga Saint itu.
__ADS_1
" Apa kau sudah mengantar mereka ? "
" Iya Tuan Besar, mereka akan tiba dengan cepat dan saya sudah mengatur orang untuk mengurus semuanya disana. Saya juga sudah menghubungi dokter Derka Raharsa untuk bertanggung jawab disana. " Paman Ben menjawab dengan posisi badan setengah membungkuk.
" Bagus, antar aku kesana segera. "
" Baik Tuan Besar. "
Hega masih tak memahami maksud pembicaraan sang kakek dengan pria yang bisa dibilang adalah ajudan kepercayaan kakeknya itu.
Apa yang mereka bicarakan ? Kenapa menyebut-nyebut si Derka segala ? Siapa yang ada di rumah sakit hingga Derka yang harus menanganinya secara pribadi ?
" Ayo, apalagi yang kamu tunggu ? Apa kamu terlalu lelah dalam perjalanan bisnismu itu hingga mau menginap dulu disini ? " Suryatama melirik sang cucu yang masih tak bergeming di posisinya.
" Memang kita mau kemana lagi kek ? Siapa yang sakit hingga harus Derka sendiri yang menanganinya ? Memangnya tidak ada dokter lain apa sampai harus merepotkan Kepala Rumah Sakitnya segala ?! " Protes Hega yang memang lelah karena baru saja turun dari pesawat setelah perjalanan lebih dari tujuh jam itu.
" Sudah kamu diam saja, ikuti saja perintah kakek ! " Tegas Suryatama sembari melangkahkan kaki menuju pintu, diikuti oleh putranya Aryatama dan juga Paman Ben.
" Tapi Kek, bagaimana dengan pertemuannya ? " Tanya Hega akhirnya.
" Pindah lokasi. " Ucap kakek Surya datar tanpa menoleh ssdikitpun ke arah cucunya.
" APAAA ?! " Protes Hega yang tanpa sadar berteriak.
Aaargh apa kakek sedang bercanda denganku ? Lagipula sehebaf apa calon tunanganku itu hingga bisa seenaknya mengganti tempat pertemuan ?!
Gumam Hega dalam hati.
Apa benar Berlinda Grace itu yang selama ini dimaksud oleh kakek ? Dan tadipun Papa sempat bertemu dengan mereka. Apa mereka yang meminta mengganti tempat pertemuan ? Tapi untuk apa harus pindah tempat ? Apa ayah dan anak itu mau mengerjaiku ? Sial !!!
Hega terus mengumpat dalam hati, tak henti-hentinya mengomel sendiri dalam hati jika mengingat-ingat dua orang dari keluarga Grace itu.
๐๐๐๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Terima kasih yang masih setia membaca kisah Hega dan Moza ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...
โ LIKE ๐
โ COMMENT โ๐
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐
__ADS_1