
AUTHOR
Hega menyadari perubahan ekspresi wajah kekasihnya.
" Kenapa kakak tidak menelponku jika kakak sedang sakit ? Kenapa aku harus tahu dari orang lain, hem ?! Lihat lah kondisi kakak sekarang ! Hiks.... " Moza begitu cemasnya, empat hari gelisah tanpa kabar dari Hega.
Sekarang justru saat bisa bertemu, Moza malah mendapati pria yang dicintainya itu dalam kondisi sakit. Dan lebih buruknya, Hega sendirian saat ini, saat dimana seseorang butuh diperhatikan ketika sedang dalam kondisi kurang fit.
Mendengar kekasihnya sesenggukan menahan tangis, Hega meletakkan sendoknya. " Aku tidak apa-apa kok, Momo sayang. Aku hanya demam dan sakit kepala, mungkin karena kelelahan. " Ucapnya sambil menggenggam kedua tangan Moza.
" Kenapa kakak tidak pulang selama empat hari ini ? Kenapa kakak tidak bisa dihubungi dan tidak ada kabar ? Dan kenapa kakak pindah tanpa memberitahu aku ?! "
Moza terus mencerca Hega dengan pertanyaan demi pertanyaan yang membuat Hega merasa bersalah. Bukan maunya juga sebenarnya mengambil jarak sementara dari kekasihnya, tapi apa mau dikata, Hega tidak punya pilihan atau solusi lain pada saat itu.
Lagipula siapa juga yang mau, sengaja berjauhan dengan seseorang yang dicintainya jika bukan karena keadaan yang memaksa demikian.
Apalagi Hega baru bisa bersama Moza setelah penantian panjang yang menyakitkan yang ternyata hanya karena kesalah pahaman semata.
Mendengar rentetan pertanyaan kekasihnya, rasanya tenggorokan Hega tercekat, bingung harus menjawab apa.
Tidak mungkin kan dia jujur dengan mengatakan jika dirinya memang sedang menghindari kekasih cantiknya itu karena seringkali lupa daratan dan hilang kendali jika sedang berduaan dengan gadis yang sebentar lagi akan menjadi tunangan resminya itu.
Hega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menghindari tatapan mata Moza yang menyelidik.
" Setiap malam aku kan mengirimi kamu chat, hem ?! " Elaknya membela diri kemudian kembali menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya, meskipun rasanya sulit menelan makanan berbahan beras itu.
Moza memicingkan matanya, masih menatap Hega dengan tatapan penuh tanya, " Chat ?! Huft.... "
Moza mendengus pelan, jelas tidak puas dengan jawaban Hega yang terdengar asal itu.
" Selamat malam dan selamat tidur ?! Chat itu yang kakak maksud ?! Mana bisa itu disebut memberi kabar ?! " Protes Moza kesal.
Diletakkannya kembali sendok buburnya, meraih kembali kedua tangan Moza yang terlihat kesal dan kecewa padanya.
" Maaf ! Jangan marah, hem ! Aku sedang sakit loh, masa kamu mau memarahi pacar kamu yang sedang sakit ini ?! Nanti aku tambah sakit loh ! " Rayu Hega dengan nada dibuat seimut mungkin.
Siapapun yang melihat mungkin akan muntah jika menyaksikan Hega yang dingin dan kaku ternyata bisa memasang wajah sok imut saat membujuk kekasihnya yang sedang merajuk itu.
" Hiks... hiks.... Kakak jahat ! " Moza menarik tangannya dari genggaman Hega dan memukul-mukul lengan dan bahu Hega, melampiaskan rasa jengkelnya selama beberapa hari ini.
Loh loh loh... Kok malah nangis sih ? Padahal aku sudah susah payah bertingkah imut. Apa wajahku kurang imut saat merayumu tadi ?!
Hega yang kebingungan segera menyeret kursinya mendekati kursi Moza, menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya, " Iya, iya. Aku memang jahat. Maafkan pacar jahatmu ini, ya ! " Ucapnya seraya mengelus lembut punggung dan kepala Moza.
__ADS_1
Gadis itu membalas pelukan Hega, melampiaskan kerinduannya pada kekasihnya dengan mengeratkan pelukannya seolah takut jika tiba-tiba pria di hadapannya akan menghilang lagi dari sisinya.
" Apa kakak marah padaku dan sengaja menghindariku ? Apa tanpa sengaja aku melakukan sesuatu yang membuat kakak kesal atau kecewa sehingga kakak pergi dari rumah diam-diam tanpa sepengetahuanku dan bahkan tidak memberi kabar padaku ?! "
Ehhh.... Darimana datangnya pemikiran konyol itu ? Aish.... Kenapa kamu jadi salah paham begini sih ?
Batin Hega frustrasi.
" Tidak, aku tidak marah ataupun kesal padamu. Kamu juga tidak melakukan kesalahan apapun yang bisa membuatku marah dan ingin menghindarimu. Hanya saja aku.... "
Moza mendongak menatap pria yang memeluknya erat, menunggunya melanjutkan kalimatnya yang terputus.
Aaahhh.... Apa yang harus dikatakannya sekarang pada gadisnya itu.
" Sudah lah, tidak perlu dibahas lagi, yang penting aku sudah ada bersamamu, hem ?! Dan aku janji tidak melakukannya lagi. Jadi jangan berfikir yang tidak-tidak ! " Sambung Hega kemudian membelai lembut rambut panjang Moza yang tergerai.
Moza kembali mendongakkan kepalanya menatap Hega, " Janji ?! "
" Hem, janji. " Menunduk dan mengecup kening Moza dengan sangat lembut.
Sejujurnya Hega juga begitu merindukan kekasihnya itu, rindu aroma strawberry kekasih cantiknya. Meskipun gadis itu memakai sabun dan shampo yang sama dengannya hari ini, aroma yang menyeruak dari tubuh dan rambut Moza tetap membuatnya terlena.
Hega juga merindukan bibir manis Moza yang sudah membuatnya candu.
Kepala Hega seketika berdenyut, " Akh..... "
Moza mendengar rintihan kesakitan Hega yang tertahan, reflek melepaskan pelukannya dan menatap pria di hadapannya yang terlihat meringis menahan sakit.
" Kakak kenapa ? Mana yang sakit ? " Raut kecemasan memenuhi wajah cantik Moza, gadis itu menyentuh secara acak kepala, pipi dan tangan Hega. Menangkup wajah kekasihnya dan menatap lekat mata elang yang disukainya.
" Tidak apa-apa, hanya kepalaku terasa sedikit pusing. " Masih meringis menahan sakit di kepalanya, memijat pelang pelipisnya.
" Ayo aku antar kakak ke kamar untuk istirahat ! Ahhh iya... Seharusnya kakak minum obat dulu, atau aku panggilkan dokter ?! " Moza menarik lengan Hega agar berdiri.
" Tidak perlu, bantu aku duduk kembali di sofa saja ! "
" Kenapa tidak tidur di kamar saja ?! "
" Tidak ! Aku di sofa saja, kamu bisa tidur di kamar. " Tolak Hega karena kamar tidur di apartemennya hanya ada satu, dua ruang lainnya digunakan untuk ruang kerja dan ruang olahraga.
" Tidak boleh ! Kakak kan sedang sakit, aku yang akan tidur di sofa. " Bantah Moza sedikit ketus.
" Mo, aku sedang tidak sanggup berdebat denganmu, jadi menurut lah padaku, hem ! " Pinta Hega.
__ADS_1
" Tidak ! Kali ini kak Hega yang harus menurut padaku ! " Kekeuh Moza tegas.
" Aaahhh.... Baiklah, tapi aku belum ingin tidur, kita duduk di sofa saja dulu, ya ! "
" Eum... baiklah. " Gadis itu mengangguk setuju.
Moza memapah Hega menuju ruang tamu, mengalungkan lengan kanan pria itu di bahunya dan berjalan pelan menuju sofa.
Dengan sangat hati-hati membimbing Hega duduk di sofa panjang.
" Mau kemana kamu ?! " Hega mencekal tangan Moza yang ingin berdiri meninggalkannya.
" Aku akan ambilkan air untuk kakak minum obat, dimana kotak obat kakak ?! " Tanya Moza sambil menyusuri seluruh ruangan dengan matanya mencari-cari kotak P3K.
Hega menarik tangan Moza hingga tubuh gadis itu terjatuh duduk di sampingnya.
" Tidak perlu, duduk lah disini dan temani aku saja ! Karena kamu lebih dari sekedar obat buatku. " Ucap Hega kemudian tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya.
" Jangan mulai lagi deh, Kak ! Sedang sakit masih bisa-bisanya mau menggombaliku. " Omel gadis itu memberengut.
" Siapa yang menggombalimu ?! Itu kenyataan, Mo. Lihat lah aku bahkan sempat melupakan sakit kepala yang menyiksaku dari semalam sejak kedatanganmu. " Ucap Hega membela diri.
" Ahh... Sudahlah, aku akan menelpon dokter Derka agar memeriksa kakak. " Hendak kembali berdiri namun gagal karena Hega malah berbaring dan menjatuhkan kepalanya di pangkuan Moza.
" KAAAK.... " Pekik Moza saking terkejutnya dengan tingkah kekasihnya.
" Diamlah ! Kalau kamu ingin aku lekas sembuh, maka biarkan aku seperti ini. Memanggil Derka hanya akan membuatku semakin sakit kepala. " Gerutu Hega.
" Ta-tapi.... "
" Ssstt.... " Menempelkan cepat telunjuknya di bibir Moza, kemudian memejamkan matanya.
Fyuuuuh....
Moza pasrah, membiarkan pria tampan kesayangannya itu bermanja padanya.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
...JANGAN LUPA...
...GOYANG JEMPOLNYA YA TEMAN-TEMAN...
...β LIKE β COMMENT β VOTE β...
__ADS_1
...EMUACH.... πππ...