Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Bersamamu Membuatku Nyaman


__ADS_3

AUTHOR


Hega kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa dimana sedari tadi dia duduk.


Tidak lama kemudian Moza menyusul masuk bersama pemuda remaja tampan yang tadi datang dengan membuat kehebohan.


Moza memberikan isyarat pada sang adik, dan pemuda itu berjalan mendekati Kakek Suryatama dan Arya untuk memberi salam dan mencium punggung tangan kedua pria tersebut.


" Maaf atas ketidak sopanan Ryu tadi ya Kek, Om ! " Ucap Ryuza dengan nada menyesal.


Suryatama dan Arya mengangguk dan pemuda itu berjalan mendekati calon suami sang kakak.


" Maafin Ryu ya, Bang ! " Hega menyambut permintaan maaf calon adik iparnya dengan pelukan hangat.


" Hm. Saya tidak akan mengecewakan kamu. Saya akan menepati janji saya sebelumnya untuk menjaga dan membahagiakan kakak kamu. " Bisik Hega di telinga Ryuza disela pelukan mereka. Hega menepuk-nepuk pelan punggung sang adik ipar.


" Iya Bang. Ryu percaya sama Abang. "


" Terima kasih atas kepercayaan kamu. Saya tidak akan memberi kesempatan pada kamu untuk mengeluh tentang saya. " Ucap Hega penuh percaya diri.


" Hahaha.... Memang tidak ada yang bisa menandingi kepercayaan diri abang. " Ryuza malah tergelak dengan keyakinan sang calon kakak ipar.


Semua mata menatap takjub pemandangan itu, bunda Ayu tanpa sadar menitikkan air matanya. Sungguh terharu dengan kedekatan kedua pemuda itu.


Seandainya Hyu masih ada, pasti dia juga akan sedekat ini dengan adiknya.


Ya Allah terima kasih sudah membawa kembali putraku, membawa Hega dalam kehidupan kami.


Karena aku bisa melihat putra sulungku Hyuza tetap hidup dalam dirinya.


Gumam Ayu dalam hati.


" Bunda. " Ardi menepuk lembut lengan istrinya yang tengah menatap sendu pada kedua pemuda yang sedang berpelukan dan sontak Ayu tersadar dari lamunannya.


" Ah... Iya, Yah. " Ucap Ayu seraya mengusap air matanya.


Pembicaraan pernikahan berjalan dengan sangat lancar, tanggal sudah ditetapkan minggu kedua bulan depan.


Dan mereka beralih menuju ruang makan, karena insiden kedatangan Ryuza yang menghebohkan tadi membuat jam makan siang jadi tertunda.


" Ah iya Mas Arya, kenapa Mamanya Rania tidak pernah kelihatan ya ? Tiga kali kami datang berkunjung belum pernah bertemu dengan istri Mas Arya. " Tanya Atu Puspita di sela kegiatan makan siang mereka di ruang makan.


D E G . . .


Suasana hengat dan ceria hening seketika, tidak ada yang bersuara. Dahi Ayu mengerut melihat perubahan suasana yang mendadak tegang. Suryatama melirik cucu lelakinya yang terlihat seperti menahan emosi.

__ADS_1


" Ah . . . Mamanya Rania jika jam segini ada di toko kue, sepertinya sedang ada banyak pesanan dan akan membuatnya pulang terlambat. " Jawaban Arya terdengar canggung dan hati-hati.


" Oh . . . Sayang sekali kami belum bisa bertemu. Padahal kami penasaran sekali loh seperti apa Mama Rania, karena putrinya sangat cantik pasti mamanya juga sangat cantik ? " Sambung Ayu lagi.


" Ya, semoga kalian bisa segera bertemu nanti. " Arya kembali menjawab dengan sangat hati-hati.


" Sebaiknya besok Mama Rania juga ikut bergabung dengan kita, bukankah waktu fitting baju tempo hari juga belum sempat ukur bajunya kan ?! "


Ayu masih mencoba mencari kesempatan untuk bertemu dengan calon besannya itu, meskipun Ayu tahu jika mama Rania adalah istri kedua Aryatama, dan ibu sambung atau ibu tiri dari Hega. Tapi Ayu merasa tetap perlu untuk bertemu dengan wanita yang bahkan tidak pernah terekspose ke publik itu.


Padahal untuk menjadi istri seorang Aryatama Saint, seharusnya wajah wanita itu bisa muncul di banyak media seperti yang terjadi pada almarhumah sahabatnya dulu, yang juga adalah istri pertama Arya yaitu Nadira yang cukup terkenal sebagai menantu keluarga Saint.


Ayu merasa harus mengetahui sosok calon besannya, dan jika bisa mengakrabkan diri dengan calon ibu mertua dadi putrinya itu.


Bagaimanapun Moza akan menjadi menantu Arya, jadi Ayu ingin memastikan jika putrinya akan memiliki hubungan baik dengan ibu sambung dari suaminya.


Klotak. . .


Tanpa sadar Hega meletakkan sendok dan garpunya di atas piring dengan cukup keras, membuat perhatian mengarah padanya.


Semua mata terfokus pada Hega, terutama para pelayan yang tahu betul peraturan di rumah utama. Bagaimanapun pembahasan tentang istri kedua dari Aryatama sangat dilarang jika ada putranya disana.


" Maaf, Hega pamit lebih dulu. Silahkan kalian lanjutkan makannya. " Pamit pemuda itu sopan dan beranjak dari kursinya berjalan menuju tangga, Moza jelas bisa melihat air muka Hega berubah dingin.


" Kakek . . . " Ucap Moza memberi isyarat pada Suryatama dan pria tua itu mengangguk mengerti.


Moza segera beranjak berdiri dan menyusul kekasihnya menuju lantai tiga setelah sebelumnya berpamitan dengan semuanya.


" Maaf Om Surya, apa tanpa sengaja saya mengatakan sesuatu yang membuat Hega tidak senang ? " Tanya Ayu yang menyadari perubahan mood Hega saat dirinya membahas istri kedua Aryatama.


" Ah . . . " Suryatama sedikit ragu menjawab apalagi ada Ryuza disana, apa yang akan dikatakannya jelas bukan hal yang layak didengar oleh anak-anak


" Kakek, apa Ryu boleh berkeliling rumah ini ?! " Ryuza cukup cerdas dan peka untuk bisa mengetahui situasi yang sedang terjadi disana.


" Oh . . . Tentu saja, Ben akan menemanimu berkeliling. " Jawab Suryatama seraya melirik memberi isyarat pada sang Kepala Pelayan.


" Ah. . . Tidak perlu, Kek. Ryu bisa sendiri. "


" Baiklah, nikmati waktumu, anggap saja seperti rumah kamu sendiri ! " Ujar Suryatama dijawab anggukan sopan oleh Ryuza dan kemudian pemuda itu beranjak berdiri dan menghilang di balik dinding menuju pintu utama.


" Sebenarnya ada apa ini, Om ? Ayu minta maaf jika ada perkataan Ayu yang mungkin . . . "


" Tidak perlu minta maaf, Nak Ayu. Sebenarnya bubungan Hega dengan Mama sambungnya memang kurang begitu baik, Nak Ayu. "


" Maksudnya ? " Gurat kecemasan menghiasi wajah Ayu Puspita.

__ADS_1


" Bunda !!! " Ardi menggeleng pelan memberi isyarat agar tidak bertanya lebih jauh. Bagaimanapun itu adalah masalah rumah tangga orang lain.


" Ah. . . Maaf, Om dan Mas Arya, saya tidak bermaksud untuk ikut campur. "


" Tidak apa-apa Yu, kita kan sudsh seperti saudara, lagipula sebentar lagi kita juga akan jadi keluarga. Dan memang sepertinya kalian harus tahu tentang masalah ini agar tidak ada salah paham nantinya. " Ujar Aryatama berat dan menghela nafasnya kasar.


Dan Suryatama dan putranya, Arya bergantian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Aryatama dan putranya itu.


Ayu dan Ardi mencoba memahami situasi yang terjadi.


" Kenapa kamu tidak menceritakan yang sebenarnya saja pada Hega, Ar ? " Tanya Ardi akhirnya. Sebenarnya Ardi juga cukup akrab dengan Arya semenjak kuliah, mereka adalah teman kuliah di fakultas yang sama namun hanya sekedar kenalan saja. Keakraban mereka jutru adalah karena persahabatan para istri mereka yang saat itu masih menjadi kekasih mereka.


Arya hanya mendesah kasar menanggapi pertanyaan teman lamanya itu.


" Mungkin akan tiba saatnya dimana Hega harus mengetahuinya. Tapi yang jelas bukan sekarang karena aku tidak mau merusak kebahagiaannya saat ini, setidaknya tunggulah hingga pernikahan. " Jawab Arya akhirnya.


Ardi dan Ayu mengangguk setuju, mencoba memahami posisi sulit yang dialami oleh calon besannya itu.


⚘⚘⚘


Disisi lain, Hega yang sedang menyendiri di balkon kamar tidurnya. Menatap nanar ke langit yang mendadak berubah mendung seperti menyindir suasana hatinya yang juga tengah kelam seperti awan hitam yang bertebaran menutupi langit biru.


Dengan perlahan Moza memegang handel pintu dan membuka pintu besar berwaran hitam di hadapannya. Manik mata Moza berkeliling mencari sosok sang kekasih, dan gadis itu segera menuju balkon dimana Hega sedang berdiri dengan gelisah.


" Kak . . . " Suara lembut dan merdu sang kekasih menyadarkan Hega dari lamunan panjangnya.


Hega berbalik badan, menatap wajah cantik sang kekasih yang masih berdiri di ambang sekat kaca di antara balkon dan kamarnya. Gadis itu perlahan mendekat.


Hega merengkuh tubuh sang kekasih dan menjatuhkan kepalanya di bahu Moza, jelas terlihat kegusaran dalam ekspresi pemuda itu.


" Kak . . . "


" Biarkan aku seperti ini sebentar saja ! Aku merasa tenang setiap memelukmu dan bisa menghirup aroma wangi tubuhmu seperti ini, bersamamu membuatku sangat nyaman. "


" Eum. . . " Pasrah Moza seraya mengelus kepala sang kekasih.


" Beri aku kekuatan Momo sayang ! " Lirih Hega sendu.


" Kak, aku mungkin tidak bisa membantu menghapus beban di hati kakak, tapi bisakah kakak berbagi beban itu denganku ? Setidaknya aku bisa membantu kakak menanggungnya dan meringankan beban itu meskipun hanya seujung kuku. " Ucap Moza lirih dengan masih mengusap lembut kepala Hega.


" Tidak Momo sayang, dengan kehadiranmu saja sudah membantuku melupakan sejenak beban itu. Kamu tidak perlu ikut menanggungnya, biarkan aku sendiri yang mengatasi luka hatiku ini ! " Ujar Hega lirih.


" Baiklah jika kakak belum siap menceritakannya padaku. Mungkin kakak belum sepenuhnya percaya padaku. " Moza kembali mengelus lembut kepala Hega dan satu tangan lainnya menepuk pelan punggung pemuda itu.


Hega melepas pelukannya, " Bukan itu maksudku Momo sayang. "

__ADS_1


" Tidak apa-apa, Kak. Aku selalu disini menunggu kakak siap membagi luka hati kakak. Atau sekedar diam menemani kakak dan memberikan kekuatan pada kakak. " Moza tersenyum dan mengelus pipi kekasihnya yang terlihat muram.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2