
MOZA
Dengan nafas lega akhirnya aku terbebas dari suasana canggung yang sepertinya hanya kurasakan sendiri di tengah-tengah keseruan makan malam di taman tadi.
Bagaimana tidak canggung jika tanpa sengaja selalu kudapati mata itu seringkali melirikku.
Eits.... gimana bisa aku tahu dia melirikku.... itu artinya aku juga melakukan hal yang sama.... oh... no....stupid....
Aku merutuki kebodohanku yang baru saja kusadari. Pasti pria jutek itu juga berfikir kalo aku juga diam-diam meliriknya. Lebih baik kusimpan sendiri daripada Deana semakin gila menggodaku seperti tadi pagi.
Setengah terhuyung kumasuki kamar yang kutempati dengan Deana selama beberapa hari ini. Aku memutuskan masuk kamar mandi membersihkan diri sebelum tidur.
" Gantian Mo, jangan lama-lama. " ucap Deana sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
" Hm. " jawabku singkat sambil berlalu ke kamar mandi membawa piyama tidurku.
Tak lama setelah cuci muka, gosok gigi dan mencuci kaki dan tanganku serta berganti piyama tidur, aku segera keluar dari kamar mandi.
Kulihat Deana sedang memainkan ponselnya, kudaratkan diriku duduk di tepi ranjang.
" Sudah nih, sana buruan bersihin badan kamu. " kataku sambil meraih ponselku di atas nakas.
" Bentar lagi, tanggung. " katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
" Ya udah aku tidur duluan. " jawabku kemudian.
" Eitsss.... no... no... no.... Jangan tidur dulu. " jawaban Deana sontak membuatku terlonjak kaget.
" Ish apaan lagi ? " tanyaku keheranan.
" Pokoknya gak boleh tidur dulu, gue mau ngomong sesuatu. Tunggu bentar oke.... Gue ngambek kalo lo tidur duluan. " katanya sambil tersenyum penuh arti.
" Dah sana buruan. " jawabku pasrah.
•
•
•
🍒🍒🍒
__ADS_1
Kumainkan sebuah game di ponselku, menunggu Deana yang tengah berada di kamar mandi. Apa lagi yang akan dilakukan gadis itu padaku, setelah membuatku jengkel sedari pagi.
Tapi hubungan kami bukan setahun dua tahun yang akan merenggang hanya karena hal-hal sepele semacam ini.
Kuturuti maunya untuk tidak tidur lebih dulu dan menunggunya, selang beberapa saat kulihat Deana membuka pintu kamar mandi dan sudah berganti kostum tidur, piyama yang serupa dengan yang kupakai, hanya miliknya berwarna hijau dengan gambar binatang asli negeri Cina, yup kalian benar gambar 'panda' .
Piyama yang memang kami beli bersama, satu dari sekian banyak rutinitas yang sering kami lakukan bersama sejak SMA. Belanja bersama, memiliki beberapa barang yang sejenis dengan motif atau warna yang berbeda. Ya contohnya piyama ini, kekanakan memang, tapi persahabatan kami yang sudah sangat lama memang membuat kami seperti saudara.
Aku anak perempuan dengan dua saudara lelaki, sedangkan Deana anak tunggal. Membuat kami selalu bersama hampir seperti saudara.
Kulihat Deana melangkah ke arah ranjang, duduk bersila mendekatiku yang saat ini dalam posisi bersandar pada kepala ranjang.
Menatap penuh arti ke arahku, dan tersenyum seolah mencari tahu sesuatu dariku.
" " . aku hanya mengernyitkan dahi melihat tingkah anehnya dan gadis ini masih tersenyum tanpa mengatakan apapun.
" Apa ? " tanyaku pasrah karena tak berhasil memahami arti tatapannya.
" Ishhh... lo gak peka nih..... ." katanya kemudian berdecak kesal.
" Ada apa Dea ku sayang.... ? " rayuku kemudian setelah meletakkan ponselku kembali ke atas nakas.
" It seems like there's something you forgot to tell me. " ucapnya kemudian dengan tatapanmata menyelidik yang tak berkedip.
Aku tahu sepertinya Deana juga menyadari keanehan sikapku akhir-akhir ini. Terutama jika berkaitan dengan pria itu.
Ish.... kenapa wajahnya tiba-tiba terlintas di kepalaku.... makes me want to give a punch at that face.....
" Kita sudah lama bersama, gue tahu lo Mo. Bahkan sepertinya gue lebih dulu menyadari sesuatu daripada diri lo sendiri. " gerutunya lagi.
" Hufffft...." sepertinya aku harus menyerah dengan permainan pura-pura bodohku ini. Karena aku tahu sahabat yang sudah terasa saudara bagiku ini tak akan bisa dibohongi lagi.
" So what do you want to talk about ? " jawabku akhirnya menyerah.
" Lo tahu kan akhir-akhir ini lo aneh banget ? Mungkin tidak ada yang menyadarinya, tapi gue yakin sesuatu terjadi sama lo. Disini... " katanya kemudian sambil meletakkan ujung telunjuknya di dadaku.
" Memang seaneh apa aku ? " tanyaku ingin mengetahui seperti apa tingkah laku anehku terlihat di mata Deana.
" Pertama, saat perjalanan kemarin lo kelihatan kaget waktu di restoran ketemu sama bang Bara dan temennya. Terus gak mau pindah semobil sama gue di mobil yang dikendarai mereka. Gue kira itu karena lo gak nyaman ternyata ada orang lain yang gak akrab sama lo tiba-tiba ikut bergabung dalam liburan kita." ucapnya sambil sesekali menaikkan salah satu alisnya seolah sambil mengingat-ingat.
" you're right, aku gak nyaman tapi hanya sebatas karena kaget. " jawabku mengelak dan Deana tampak melotot padaku.
__ADS_1
" Lo gak pernah kayak gini deh, mau digodain soal cowok ataupun dicomblangin lo selalu cuek aj. Inget gak waktu Julian godain lo soal kakak senior anggota klub basket itu, atau Amira dan gue yang pernah beberapa kali mendadak jadi petugas paket pos yang dititipin coklat sama beberapa cowok dikampus. Gak pernah tuh gue liat lo ambil pusing ngurusin mereka, bahkan begitu kejamnya lo cuek sama abang sepupu gue, Kak Dimas setelah tahu dia suka sama lo, ya meskipun salah dia sendiri sih padahal gue udah ingetin dia supaya gak jatuh cinta sama lo apalagi sampe nembak. " cibirnya yang sontak membuatku melotot.
" Ups.... Sory gue kelewatan. " tambahnya kemudian sambil memegang tanganku.
" Mana ada lo pernah keki atau menghindar dari mereka, apalagi sampai canggung atau salah tingkah, palingan lo lewatin aja mereka seolah lagi skip iklan di yutub. Lah ini lo sampe bete waktu di kolam renang kita godain soal bang Hega. " sambungnya lagi sambil tersenyum miring.
" Jangan bilang aku sekarang seaneh itu ? " tanyaku kemudian sambil menerka-nerka jawaban dari Deana, padahal sesungguhnya aku sendiri sadar akan tingkah lakuku akhir-akhir ini. Tapi seolah aku butuh kepastian dari pandangan orang lain, dan berharap pemikiranku salah.
" Yup... " jawab Deana singkat sambil mengangguk-anggukan kepalanya berualang kali.
Oh my god, pliss semoga hanya Deana yang menyadari kelakuan anehku.
" Untung saja sepertinya hanya gue yang menyadari perubahan lo. " ucapnya lagi seolah tahu apa yang baru saja terlintas di benakku.
" So please tell me everything. " lanjutnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada menuntut penjelasan.
" Huh.... Jujur aku juga gak tahu bagaimana mengatakannya. Rasanya bingung harus mulai dari mana. " aku bergumam lirih dan menghela nafas.
" Mulai saja dari sejak kapan lo tertarik sama bang Hega ? " godanya sambil memainkan alisnya naik turun berulang kali.
Sungguh kalimat menggoda yang sangat menyebalkan yang keluar dari mulut gadis ini. Jika bukan sahabat karib sudah aku kasih cabe tuh mulut.
☘☘☘
☘☘☘☘☘
^^ Kalau saja mengabaikanmu semudah menekan tombol 'skip' di layar ponsel mungkin aku tidak akan segelisah ini. Karena nyatanya kamu bukanlah iklan yang muncul sekilas di chanel yutub yang begitu mudah diabaikan. ^^ ( Sherinanta )
•
•
•
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ **DITUNGGU LIKE, COMMENT DAN VOTE POIN NYA YAH..... 💕💕💕
PLEASE DON'T BE SILENT READER.... 🍁🌹🍒
Bantu VOTE dan dukung karya ini agar bisa UP yah....
__ADS_1
Terima Kasih 😘😍💕**