Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
[ Bukan ] Saingan Cinta


__ADS_3

AUTHOR


Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Moza langsung menoleh ke arah pria di balik punggungnya.


" Kak. . . " Ucap Moza dengan masih berusaha melepaskan cekalan tangan Fabian, tapi pria itu tidak bergeming dan justru semakin erat saja cengkramannya.


" Bian, tolong lepas ! " Gadis itu masih memohon sembari menatap bergantian ke arah kekasih dan sahabatnya dengan lengan masih terus bergerak-gerak meminta dilepaskan.


Moza terlihat sedikit gusar saat usahanya sama sekali tidak membuat Fabian melepaskannya, gadis itu khawatir Hega akan salah paham melihat apa yang sedang terjadi.


Hega menatap dingin ke arah tangan sang kekasih yang terlihat memerah, " Saya minta Tuan Fabian melepaskan tangan tunangan saya ! " Ujarnya kemudian seraya menepis tangan Fabian dari pergelangan tangan Moza.


" Kak . . . " Moza seketika melingkarkan tangannya di lengan Hega, gadis itu tahu jika kekasihnya sedang menahan amarah.


Fabian yang melihat keintiman Moza dengan Hega menatap penuh tanda tanya, " Mo, apa maksudnya ini ? " Tanyanya.


" Seperti yang anda dengar, Tuan Fabian. Moza adalah tunangan saya. Jadi saya harap kedepanya Tuan Fabian bersikap sopan pada calon istri saya ! " Jawab Hega dingin dan penuh penekanan.


Mendengar kata tunangan dan calon istri membuat Fabian begitu syok hingga tubuhnya tanpa sadar mundur satu langkah.


Fabian menatap nanar ke arah Moza, " Tidak ! Tidak mungkin ! Mo, tolong katakan jika itu tidak benar ! Kamu tidak mungkin . . . " Pintanya kemudian dengan harapan gadis itu akan menyangkal ucapan pria yang mengaku-ngaku sebagai tunangannya itu.


Hega tidak menggubris ucapan Fabian, kita mata Hega terfokus pada pergelangan tangan Moza yang memerah.


Hega mengusap lembut pergelangan tangan kekasihnya, lensa mata Hega sudah memerah marah melihat perlakuan Fabian yang sudah berani menyakiti fisik gadis yang paling Hega cintai.


" Aku tidak apa-apa, Kak. Jangan cemas begitu, hem ! " Senyum Moza sedikit meredakan amarah Hega, tapi tentu saja Hega tidak ingin membiarkan kekasihnya lebih lama berada berasama pria yang sudah menyakitinya.


Tidak hanya membuat gadis itu menangis, tapi juga menyakiti Moza secara fisik. Meskipun Fabian sendiri melakukannya tanpa sengaja.


" Ayo kita pulang. " Ucap Hega lembut.


" Kak Hega . . . " Moza menatap pria di sampingnya, memberi isyarat jika masih ada yg harus diperjelas dengan sahabat lamanya itu.


Hega membalas tatapan kekasihnya dengan tatapan tidak rela. Bagaimana mungkin Hega membiarkan Moza berduaan dengan pria lain yang jelas terlihqt memiliki perasaan pada kekasihnya itu.


Namun melihat tatapan kekasihnya yang seolah mengatakan 'percayalah padaku', membuat Hega mendesah kasar dan menyerah.


Dilihat sekilas saja pria itu memang bukan pria biasa, apalagi Hega tahu jelas siapa pria dihadapannya itu. Pria yang telah berani menyentuh bahkan menggenggam tangan tunangannya itu.


Tapi mau sehebat apapun pria itu, latar belakang ataupun kekuasaan yang dimiliki oleh Fabian. Bagi Hega pria itu bukan lah saingan cinta untuknya. Mana bisa dikatakan saingan cinta jika perasaan pria itu hanya bertepuk sebelah tangan.


Dari cara Moza menatap Fabian, Hega tahu bahwa tidak sedikitpun gadis itu memiliki rasa yang sama dengan pria itu.


" Hm... Selesaikan lah ! Aku akan menunggumu di mobil. " Ucapnya akhirnya seraya mengelus kepala Moza dan tersenyum.

__ADS_1


Gadis itu ikut tersenyum, " Eum... Aku akan segera menyusul. "


Tanpa aba-aba ataupun peringatan Hega menarik pelan kepala Moza agar mendekat padanya dan mengecup lembut kening gadis itu.


C U P . . .


Kecupan tanda sayang mendarat di kening Moza, kecupan yang juga untuk mengklaim bahwa gadis ini adalah miliknya, benar-benar miliknya dan hanya miliknya.


Setelahnya Hega melirik sekilas ke arah pria yang masih mematung di sisi lainnya, Hega mengulas senyum smirk tanda kemenangan dan kemudian segera berbalik badan meninggalkan kekasihnya, memberi waktu pada dua sahabat lama itu menyelesaikan apa yang harusnya diselesaikan.


Rona merah langsung menyembur kedua pipi putih Moza, tapi tentu saja gadis itu tidak bisa marah pada Hega. Ada hal lain yang harus diselesaikannya segera.


Fabian semakin terlihat syok dengan apa yang dilihatnya, tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya menahan emosi dan cemburu sekaligus.


Sedangkan ketiga sahabat Moza yang berada tidak jauh dari tempat Moza berdiri hanya bisa gigit jari. Ketiganya tampak cemas jika akan terjadi keributan di sana.


Ketiga gadis yang sedari tadi menatap dengan tatapan gelisah dan was-was karena melihat kedua pria itu tampaknya seperti akan adu tinju.


Fyuuuhhh . . .


Tapi tidak lama akhirnya mereka bertiga bisa bernapas lega saat terlihat salah satu pria itu melangkah meninggalkan sudut kafe yang memanas karena aura perseteruan yang kuat itu.


Ketiganya kembali terduduk lemas di kursi mereka dan menghela napas berat.


Dan disisi lain, kembali pada dua sahabat yang baru bertemu setelah sekian lama.


Moza kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi, Fabian mengikuti gerakan gadis itu dan kembali ikut duduk di kursinya semula, berhadapan dengan gadis itu.


" Mo, apa yang aku dengar tadi ? " Ah... Lidah Fabian rasanya kelu, terlalu sakit rasanya untuk melanjutkan pertanyaan yang dia sendiri sudah tahu jelas apa jawabannya.


Moza mengangguk pelan, hati Fabian kembali terasa bagaikan diremas-remas, pria itu kemudian menautkan jari-jari kedua tangannya di atas meja, dan meremas kedua tangannya sendiri menahan sakit di hatinya..


" Mo, tidak bisakah kamu memberiku kesempatan ? " Fabian belum ingin menyerah rasanya.


" Maafkan aku, Bian ! " Tegas Moza tanpa keraguan.


Seketinya penyesalan yang ada di hati Fabian kembali melanda dirinya. Penyesalan kenapa tiga tahun yang lalu ia harus pergi begitu saja meninggalkan gadis itu.


Jika saja ia tidak pergi akankah masih ada kesempatan untuknya ?


Masihkah ada kesempatan untuk bisa bersama dengan gadis yang dicintainya itu ?


Akankah dirinya yang berdiri di samping gadis itu sekarang dan dengan lantang mengatakan bahwa gadis itu adalah tunangannya, miliknya ?!


Dan bukan malah mendengar kalimat itu diucapkan oleh pria lain.

__ADS_1


" Jika saat itu aku tidak pergi apakah ada kemungkinan untuk kita . . . "


" Tidak ! " Moza memotong seketika ucapan Fabian, gadis itu tahu apa kalimat yang akan diucapkan oleh sahabatnya itu


" Saat itupun hanya ada persahabatan diantara kita, Bian. Lagipula kita tidak bisa berandai-andai tentang masa lalu yang sudah terjadi. " Lanjut Moza dengan tatapan sama, datar.


" Aku selalu menunggu kamu kembali, Bian. Bagaimanapun kamu sahabat terbaikku, sama seperti Deana. Kalian berdua sahabat yang paling berharga untukku. Tapi hari ini saat kamu tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar, aku tidak yakin apakan hatiku bisa kembali mempercayaimu. Apalagi kamu datang dengan hati yang berbeda. Itu membuatku semakin sulit, Bian. " Sambungnya lagi.


Fabian benar-benar dibuat kehabisan kata-kata. Pria itu tidak punya kekuatan lagi untuk membela dirinya, karena memang tidak ada yang bisa ia gunakan untuk membenarkan kepergiannya tanpa pamit saat itu.


Bahkan jika saat itu dirinya tidak bisa berpamitan, setidaknya satu hari, satu minggu atau bahkan satu bulan setelah kepergiaanya, seharusnya Fabian punya banyak cara untuk mengirim kabar pada kedua sahabatnya itu.


Tapi bodohnya Fabian tidak melakukannya, dan satu tahun setelah kepergiannya dari Indonesia. Fabian baru mencari kabar tentang Moza, dan hasilnya tentu saja nihil. Karena saat Moza memasuki universitas Dwitama, saat itu juga informasi pribadi tentang gadis itu dikunci dari akses luar.


Fabian sempat bertanya-tanya kenapa tidak satupun hacker yang dibayarnya bisa menembus pusat informasi yang menyimpan data tentang gadis itu.


Dan hari ini saat melihat pria yang memperkenalkan diri sebagai tunangan Moza, barulah Fabian mengerti alasan dibalik sulitnya ia mencari informasi tentang gadis itu.


Sedangkan Deana, satu-satunya harapan Fabian untuk menemukan Moza juga nihil. Data gadis itu juga tidak bisa ditemukan oleh Fabian. Karena Fabian tidak tahu jika Deana yang dia kenal selama ini juga memiliki identitas tersembunyi yang hanya Moza saja yang mengetahuinya.


" Aku senang kamu kembali, Bian. Setidaknya aku tahu kamu baik-baik saja. " Ujar Moza tulus


" Mo, aku tidak punya pilihan saat itu. Aku terpaksa pergi karena keluargaku membutuhkan aku saat itu. "


Moza menghela nafas berat, " Sepenting apapun itu, apakah sulit bagimu untuk berpamitan padaku ? Pada Dea ? Atau setidaknya kamu bisa meninggalkan pesan. Kamu tahu bagaimana aku dan Dean begitu mencemaskanmu saat itu ?! "


" Bahkan satu kabarpun tidak kami dengar darimu sejak saat itu. Kamu benar-benar seperti hilang ditelan bumi, seolah keberadaanmu selama ini tidak nyata. Jika saja saat itu hanya aku yang mengenalmu, mungkin aku akan mengira jika aku sudah gila karena memiliki teman halusinasi, teman khayalan. "


Fabian menatap Moza sendu, penyesalan memang begitu menyakitkan, " Maafkan aku, Mo ! Aku sungguh tidak bermaksud untuk menghilang tanpa jejak. Aku . . . "


" Sudahlah, Bian ! Apa gunanya membahas sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu ?! Aku tahu alasanmu pergi saat itu adalah sesuatu yang benar-benar penting untukmu. Jadi kita sudahi saja pembicaraan tentang ini ! " Putus Moza akhirnya.


" Aku harus pergi, Bian. " Pamit Moza seraya beranjak dari kursinya.


" Mo . . . " Fabian ikut beranjak berdiri hendak menahan kepergian gadis itu.


" Kita akan bicara lagi jika pikiran dan hatimu sudah lebih tenang. " Ujar Moza seraya tersenyum.


Fabian yang tidak bisa menahan kepergian Moza hanya bisa menatap nanar punggung gadis itu menjauh dari pandangannya dan menghilang di balik pintu kafe.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


MAAF BERIBU MAAF UPDATE NYA MOLOOORRR πŸ™πŸ™πŸ™


SEMOGA MASIH DAPAT FEEL NYA πŸ˜“πŸ˜“

__ADS_1


__ADS_2