Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Seolah Bercermin


__ADS_3

MOZA


Merasa kalah jumlah, kumemilih mengabaikan mereka yang tengah asyik mentertawakanku. Bodoh bodoh bodoh pikirku dalam hati merutuki kesalahanku sendiri yang tanpa sengaja keceplosan mengomentari perbincangan mereka.


Kupasang kembali earphone di kedua telingaku, diam-diam memikirkan kata-kata Amira dan Julian. Masa sih aku kayak gitu, kalo gitu apa coba bedanya aku sama cowok nyebelin itu. Ugh seolah-olah aku mengomentari diriku sendiri saat merutuki tingkah menyebalkan pria itu yang sebenarnya bukan urusanku.


Merasa kesal disamakan dengan pria itu dan lebih kesal karena tak menemukan gambaran apapun, kulepas kembali earphone dari telingaku, menoleh pada Amira dan menunggunya berhenti tertawa.


" Emang aku pernah gitu ya ? " tanyaku datar.


" " . Amira terlihat mengernyitkan dahinya sesaat dan kemudian tampak kembali menahan tawa, disusul oleh tawa Julian yang kembali membahana mendengar pertanyaanku.


" Tanya nih Dimas. " ucap Julian kemudian sambil menyikut pelan lengan temannya itu.


" " . gantian aku yang mengernyitkan dahi dan melirik ke arah mereka bertiga bergantian, dan kulihat Dimas mengangguk pelan.


" Lo beneran judes Mo, untung aja gue gak pernah naksir sama lo. " kata Jul kemudian.


" Btw... gue penasaran gimana lo nolak cowok-cowok yang nembak lo ? " lanjut Julian dengan nada penasaran.


" Uhuk.... uhuk.... " direspon Dimas yang tampak terkejut.


" Sory bro, bukan lo yang gue maksud. Gak mungkin tega lah Momo manis kita ini ketus sama sahabatnya sendiri, waktu itu anggap lah lo lagi tersesat di jalan yang salah. " ujar Julian sambil melirik kearah Dimas seolah meralat kalimatnya, disambut Amira yang cengengesan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan tampak menahan tawa.


" Stop, gak usah diterusin. " jawabku kesal sambil memukul pundak Julian.


" Oke oke, tapi gue masih penasaran. Gue bakal cari tahu kalo ada kesempatan. Don't blame me then. " ucap nya kemudian sambil mendengus kesakitan karena pukulanku.


AUTHOR


Disisi lainnya, suasana di mobil Hega masih aman terkendali. Renata yang biasanya ribut dan menjadi penyanyi dadakan terpaksa menahan diri, Bara dan Deana mungkin bisa menahan kecerewetan dirinya, tapi sepertinya tidak bagi sosok dingin dengan wajah datar yang duduk di samping Bara yang tengah memainkan ponselnya.


" Gimana ujiannya dek ? " tanya Bara mencairkan suasana.


" Lumayan. " kata Deana.


" Lumayan apa nih, lumayan bagus apa lumayan ancur ? " kata Bara menggoda sepupunya itu.


" Yah sedang-sedang aj lah bang. " jawab Dea kesal.


" Makanya belajar yang rajin, jangan kerjaannya nongkrong di kafe sama ngemall mulu dek. " omel pria itu mengejek.


" Lebih baik berkaca dulu sebelum menasehati. " ucap Hega dengan nada datar sontak membuat dua gadis itu sedikit terkejut karena sedari tadi pria itu hampir tak mengeluarkan suara.


" Emang bang Bara waktu kuliah gimana ? " Belajar terus ? " tanya Dea polos seolah meragukan kakak sepupunya itu.


" Uhuk .. uhuk... " Bara reflek terbatuk.


" Iya, iya cerita dong gimana waktu kalian kuliah, kan abang ganteng banget, keren juga, pasti seru kan masa kuliahnya. Pasti pacarnya banyak yah hehehe... " Renata yang sedari tadi menahan sifat cerewetnya, merasa mendapat jalan keluar bersorak semangat dengan berbagai kalimat pertanyaan yang penuh dengan nada penasaran.


" Pft... " senyum Bara mengejek ke arah sahabatnya.


" Dia yang pacarnya banyak, kerjaanya titip absen. Masih mending kalian yang sepertinya cukup rajin masuk kuliah. " jawab Hega masih dengan nada datar tanpa melirik ke arah sabahatnya sama sekali, sedangkan Bara tampak memasang wajah heran mendengar kalimat dari sahabatnya itu.


Bukan karena apa yang dia ucapkan, tapi Bara seolah merasa ini sebuah keanehan saat sahabatnya yang selalu dingin dan acuh, jutek dan enggan ikut serta dalam sebuah obrolan diluar urusan bisnis, tiba-tiba saja menanggapi pertanyaan iseng dengan kalimat yang cukup panjang, yang biasanya hanya akan berkomentar dengan kata-kata pendek, seperti iya atau hmm, dan oke. Atau sekedar mengangguk saja.


" Kalo kak Hega gimana ? " tanya Deana.


" Kakak kan jauh lebih cakep dari bang Bara, pasti pacarnya lebih banyak dong." lanjutnya polos yang membuat dahi pria yang tengah duduk di samping abang sepupunya itu berkerut.


" Huahahahaha.... Dia mana ada pacar dek, orang kerjaannya bikin cewek nangis mulu. " ucap Bara karena tak tahan dengan pertanyaan Dea.

__ADS_1


" Kenapa ? " tanya Dea dan Renata hampir bersamaan.


" Banyak yang pdkt, caper dan bahkan banyak yang nekat nembak. " kata Bara melanjutkan.


" Terus ? " Renata makin penasaran.


" Apalagi ? Ditolak lah pastinya. " lanjut pria itu diikuti tawa, tapi Hega tak merespon hanya melihat ke depan dengan tatapan tak tertarik menanggapi.


Sedangkan kedua gadis itu masih keheranan, tak puas dengan cerita sang abang, Deana kembali bertanya dengan polosnya.


" Kenapa kak ? Kurang cantik ? "


" Pft. " Bara terlihat menahan tawa.


" Buang-buang waktu, kuliah untuk belajar cari ilmu, bukan buat sibuk dengan hal lain. "


" Hahahahaha...." kali ini Renata yang tak tahan untuk tertawa.


" Kenapa lo ? " tanya Deana kaget melihat gadis itu tiba-tiba tertawa, Bara dan Hega mengeryitkan dahi tak kalah kagetnya.


" Berasa mirip seseorang ya... " katanya kemudian mencoba menahan tawanya sambil menyeka air mata dengan jarinya.


" ". ketiga orang lainnya tampak masih butuh pencerahan.


" Maksud lo Moza. " kata Dea kemudian yang seolah mengingat sesuatu.


" Siapa lagi, diantara kita berenam bukannya dia aja yang gak pernah ngomongin gebetan, Amira aja yang alim kalem gitu masih sempet naksir senior di kampus, kita berdua gak usah ditanya. Julian pacarnya hampir sebulan sekali ganti, Dimas lo tahu sendiri dia ditolak sama Moza. " katanya panjang lebar yang kemudian mendapat sikutan di lengan oleh Deana.


" Upz... maaf kebablasan. " katanya meralat kalimatnya.


" Dimas suka sama Moza dek ? " kata Bara berubah serius.


" Tapi jangan bilang kak Dimas ya kalo kita cerita soal itu, pliss. " lanjutnya kemudian dibalas anggukan dari Bara.


" Kenapa ditolak ? Dimas emang gak secakep abang sih, tapi kalo jadi pacar kayaknya tuh muka gak malu-maluin banget kan ? " tanyanya ngasal dibalas pukulan dari Deana.


" Yah alasannya kurang lebih sama dengan kak Hega tadi. " jawab Dea pelan.


" Tapi mah itu masih mendingan, mereka masih bisa temenan lagi. Coba nasib cowok-cowok lain. " kata Renata memotong.


" Itu mah mereka sendiri yang beg*, masa gak ada angin dan hujan seringkali tiba-tiba nongol minta kenalan, ngajak jalan, ada juga baru pertama ketemu udah nembak ngajak pacaran. " kata Deana tampak membela sahabatnya.


" Iya juga ya, Dimas yang main halus pdkt berbulan-bulan aja gak sukses, apalagi mereka yang modal tampang sama nekat aja. " Renata kembali ngerocos seolah tanpa rem yang kali ini mendapat pukulan di lengan oleh Dea.


" Terus ? " tanya Bara makin penasaran, diam-diam sahabat di sampingnya juga turut menyimak.


" Ya apalagi, dicuekin lah sama dia, palingan dia cuma bilang gini ehem.... ' siapa ya ? ' atau ' maaf '. kurang lebih begitulah, terus ditinggal pergi sama tuh anak. " Ucap Renata sambil sesekali menirukan gaya bicara gadis yang menjadi bahan pembicaraan mereka.


" Pft " . Deana menahan tawa seolah tak berani terang-terangan mentertawakan sahabat karibnya, meskipun saat ini gadis itu tidak bersama dengannya.


Berbeda dengan Deana yang menahan diri untuk tertawa, Bara justru tak segan-segan tertawa dengan gembiranya.


" Hahahahha.... Rasanya gue denger mereka lagi ngomongin lo dalam versi perempuan bro. " Kata Bara sambil memukul lengan sahabatnya itu.


" Cih. " kata Hega mendengus pelan.


" Jadi temen lo yang satu itu belum pernah punya pacar dek ? tanya Bara lagi.


" Begitulah. " jawab Deana singkat.


" Setidaknya lo ada temennya Ga, jomblo dari lahir. " kata Bara kemudian dengan nada menggoda sahabatnya sambil menahan tawa.

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


🌟 IKLAN 🌟


Me : aku capek mau nulis iklan...


Pembaca : ya udah tulis next episode aja thor, gak usah nulis iklan.


Me : Cih, nulis iklan aja capek, nulis next episode apa lagi, capek 2x gitu, nulis dan mikir. ( mikir \= berpikir maksudnya )


Pembaca : emang nulis iklan gak pake mikir thor?


Me : ........ 🤔🤔🤔🤔 ( mikir jawabannya )


Pembaca : mikirin apaan lu ?


Me : mikirin jawaban dari pertanyaan situ ?


Pembaca : udah nemu jawabannya ?


Me : udah


Pembaca : apaan ? 🤔


Me : ya mikir lah.


Pembaca : loh kok masih mikir lagi sih lu thor ? katanya udah nemu jawabannya ? 🤔🤔


Me : lah iya jawabannya mikir....


Pembaca : gimana sih lu thor katanya udah ada jawaban kok mikir lagi...


Me : yaelah Bejo, tadi dirimu kan tanya ' emang nulis iklan gak pake mikir apa ? '


lah jawabanya ' ya mikir lah '


Pembaca : oh gitu ya, yayayaya paham gue thor....


Me : makanya minum Agua, biar kagak hilang fokus.


Pembaca : Gue dirumah pake air minum Gleo thor...😂😂😂


Me : sama aja air mineral bejo...😡😡😡


Pembaca : ye marah lagi, darah tinggi lu thor....


Me : dih, nyumpahin lagi....


Pembaca : bukan nyumpahin, gue ngingetin tauk, gue kan sayang sama lu thor...


Me : idih gombal....🤑🤑


Pembaca : kagak gombal, beneran deh. kalo lu darah tinggi ntar gak bisa mikir, siapa coba yang lanjut nulis episode nya.... ( ada udang di balik bakwan )


Me : ternyata itu maksudmu perguso.


Pembaca : 🤣🤣🤣🤣🤣✌✌✌✌✌*


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......💔

__ADS_1


__ADS_2