Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Tidak Akan Mudah


__ADS_3

AUTHOR


Tidak terasa liburan selama empat hari tiga malam di villa puncak milik keluarga Prasetya sudah terlewati begitu cepat.


Tinggal dua orang pria yang masih duduk di kursi taman, berbincang ringan sambil menikmati malam terakhir liburan mereka.


" Tumben lo bisa santai gitu jawab pertanyaan Julian ? " tanya Bara selepas kepergian Julian dan Dimas yang memutuskan untuk tidur lebih dulu.


" Sepertinya gue udah gak mau ambil pusing lagi masalah itu. " jawab pemuda itu santai yang membuat pria disampingnya mengangkat satu alisnya, sedikit keheranan jika selama ini sahabatnya itu selalu enggan berkomentar setiap ada yang menanyakan tentang masalah keluarganya, terutama perihal keputusan kakek Surya yang lebih memilih cucunya daripada putra kandungnya sendiri untuk meneruskan tahta kerajaan bisnis keluarga Saint.


" Sepertinya liburan beberapa hari ini bener-bener bikin lo lebih rilex sob. Lo harus sering-sering refreshing gini, biar tuh kepala gak ruwet mikirin kerjaan doang. Buat apa jadi Presdir kalo apa-apa lo kerjain sendiri. Enjoy your life my bro.... " kata Bara sambil menepuk bahu temannya.


" Sepertinya begitu. " jawabnya singkat diikuti senyum penuh arti kemudian meneguk minuman kaleng yang sedari tadi ada ditangannya.


" Bersulang buat kembalinya kewarasan lo. " goda Bara sambil mengangkat minuman kaleng miliknya dan diikuti sahabatnya meskipun pemuda itu terlihat sedikit enggan.


Sepertinya benar yang diucapkan Bara, aku memang harus punya waktu khusus buat refreshing. Setidaknya punya waktu bebas dari segala beban pekerjaan, dan hanya memikirkan diriku sendiri.


-Batin Hega-


Beberapa hari ini rasanya benar-benar menyenangkan bagi pemuda itu, memang awalnya bukan liburan seperti yang dia bayangkan, tidak banyak orang, hanya dirinya dan sahabatnya yang meskipun dianggapnya setengah tidak normal, tapi nyatanya adalah teman yang selalu bisa dia andalkan.


Terbukti dengan kesediaan Bara membantu Hega mengurus perusahaannya. Padahal sebagai salah satu penerus keluarga Prasetya, harusnya sahabatnya itu punya tanggung jawab utama pada perusaan keluarganya.


Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun berlalu, sekali lagi Hega merasakan kenyamanan berada diantara orang-orang yang membuatnya seolah merasakan kembali kehangatan keluarga. Beberapa hari diiringi berbagai macam keseruan, keceriaan dan bahkan tingkah konyol dari adik sepupu Bara dan sahabat-sahabatnya.


Selama ini pemuda itu merupakan sosok yang selalu sibuk dengan kuliah dan bisnis pribadinya, ditambah lagi sekarang punya tanggung jawab penuh pada kerajaan bisnis keluarga. Seolah tidak ada waktu baginya memikirkan kehidupan pribadinya, baginya saat ini yang terpenting adalah bagaimana melaksanakan tanggung jawab yang diberikan sang kakek padanya.


Apalagi selama ini kakek Suryatama juga tidak pernah menuntut pemuda itu untuk segera menikah. Entah apa yang dipikirkan sang kakek, mungkin saja memang lelaki yang sudah berusia hampir kepala tujuh itu benar-benar ingin cucu kesayangannya fokus dulu pada perusahaan.


Bahkan ketika sang putra, Aryatama yang merupakan ayah Hega menyinggung perihal calon istri untuk putranya itu, kakek Surya yang merupakan Tuan Besar keluarga Saint terlihat santai menanggapi desakan putranya untuk segera menikahkan sang cucu. Seolah sudah memiliki rencana tersendiri untuk masa depan cucunya itu.

__ADS_1


🍒🍒🍒


Alarm berbunyi pukul setengah lima pagi, Hega bergegas memasuki kamar mandi membersihkan diri kemudian melaksanakan ibadah sebagai seorang muslim.


Setelah sholat subuh, seperti biasa jogging ringan sesuai rutinitasnya, tapi hari ini hanya ditemani sahabatnya.


Saat menuruni tangga, suasanya di lantai satu masih sangat tenang.


" Sepertinya mereka masih tidur, jadi kita berdua aja nih. " ucap Bara sambil menepuk pundak pemuda di depannya saat mendapati sahabatnya itu seolah mencari sesuatu, dan hanya dijawab anggukan darinya.


Rute jogging yang sama, pemandangan yang sama, tapi tidak juga membuat Hega bosan. Rasanya suasana seperti inilah yang selalu dia rindukan, suasana yang jauh dari riuhnya keramaian perkotaan.


Meskipun rumah utama keluarga Saint yang berada di kawasan super elite juga memiliki ketenangan yang tak jauh dari suasana di villa ini, tapi tak membuat pemuda itu dengan senang hati tinggal di rumah mewah itu.


Dia lebih memilih tinggal di apartemen pribadinya yang tak jauh dari kantor dengan alasan hemat wakti dan tenaga. Tapi tentu saja dibalik itu ada alasan lain yanh memmbuat pemuda itu tak ingin tinggal dirumah utama dalam waktu dekat ini.


Sekali lagi ia duduk di bangku panjang di perempatan desa, dimana tanpa sengaja pernah terukir sebuah kenangan manis bersama gadis cantik yang masih saja terus berkeliaran di kepalanya.


Jika perempuan lain yang dia perlakukan seperti itu, maka bukan kabur, mereka malah akan berlomba mendekat jika mendapat tatapan lembut dari pria yang selama ini tidak pernah memperlakukan seorang gadis selembut itu.


Menikmati perlahan suasanya nyaman, sambil mengingat senyum dan tawa ceria gadis itu. Tanpa sadar membuat pemuda itu menaikkan sudut bibirnya, dan kemudian menghela nafas.


Apapun akan aku lakukan supaya bisa melihat senyum itu. Batin Hega kemudian meneguk air mineral yang dibeli sahabatnya.


" Gue kira lo udah lupa caranya tersenyum bahagia. " seringai Bara saat mendapati ekspresi sang sahabat.


" Rasanya gue menemukan satu tujuan hidup selain pekerjaan. " gumam pemuda yang meskipun lirih tetap bisa terdengar oleh pria disampingnya.


" Sepertinya hati lo yang beku sudah mulai mencair. " kata Bara sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


Hega hanya menghela nafas panjang mencoba memikirkan kembali apakah dengan ini dia bisa membuka lembaran baru hidupnya. Dan tak ingin menjadikannya sebagai pelampiasan atau sekedar pengalihan untuk melupakan luka masa lalunya.

__ADS_1


" Memang tidak akan mudah Ga. Tapi waktu sepuluh tahun rasanya sudah cukup buat lo bersembunyi dari kebahagiaan. Sudah saatnya lo mikirin diri lo sendiri, gue yakin nyokab lo mau lihat lo jalanin hidup lo secara normal, begitu pula dengannya. " ucap Bara serius sambil menepuk bahu Hega, berusaha memberi kekuatan dan semangat pada sang sahabat.


" Lagipula mau sampai kapan lo menyimpan luka hati yang bahkan gak berusaha lo obati itu. " tambahnya.


" Lo tahu gue bukan gak berusaha, tapi memang gue gak punya cara apapun untuk mengobatinya selain membiarkannya hilang seiring berjalannya waktu. " ucapnya dengan nada sedikit sendu kemudian mengacak rambutnya.


" Tapi untuk pertama kalinya gue menemukan sesuatu..., sesuatu yang mampu mengalihkan diri gue dari masa lalu yang menyakitkan. " tambahnya lirih.


" Apapun itu gue harap sesuatu yang bisa membuat lo bahagia, dan gue akan selalu dukung lo. " jawab pemuda itu serius tanpa berbalik tanya karena Bara setidaknya menyadari apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.


" Thanks, you're indeed my best friend. " balasnya sambil menepuk balik pundak sang teman yang memang selama ini selalu ada saat susah dan senangnya.


☘☘☘


☘☘☘☘


^^ Tidak semua luka bisa disembuhkan sekejap mata, terlebih luka karena ditinggal selamanya oleh seseorang yang amat berharga. Bersabarlah dan yakinlah Allah selalu punya rencana agar setiap manusia memiliki kebahagiaan yang akan terasa indah jika saatnya tiba. ^^ ( Sherinanta )


☘☘☘


☘☘☘☘


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ AUTHOR tunggu LIKE & COMMENT nya Yah....💕


PLEASE DON'T BE SILENT READER.... 😍😘


Bantu VOTE agar KARYA ini UP yah....


Terima kasih 😊😘😘😍

__ADS_1


__ADS_2