
AUTHOR
Julian tersedak batagor yang baru saja ditelannya, disambarnya botol air mineral miliknya, diteguknya hingga seluruh isinya tandas.
" Pelan-pelan Jul makannya, lo kelaperan apa doyan sih ? " Omel Deana.
Julian menatap bergantian ke arah ketiga sahabatnya, mencari clue yang mungkin bisa didapatkannya dari gadis-gadis itu.
" Apa ada yang gue lewatkan ? " Tanya Julian.
Namun ketiga gadis itu hanya menaikkan kedua bahu mereka.
Masa sih bang Hega sama Momo.... ?? Ah... gak mungkin.
Batin Julian masih dengan tatapan menyelidik ke arah ketiga sahabatnya.
Tapi kalau iya.... Pantesan bang Hega gitu amat kalau gue godain Momo.
Gumamnya masih dalam hati.
Sial... ngapain gue pake acara ngomong kayak gitu kemarin. Mamp*s deh kalau beneran mereka ada apa-apa.
Batinnya lagi sambil mengacak rambutnya frustrasi.
" Lo kenapa lagi sih Jul ? " Tanya Amira.
" Hmm. Gak papa. Mau balik sekarang gak ? Gue mau pulang nih istirahat. " Ucap Julian mengalihkan pembicaraan.
Beru aja hendak beranjak dari kursi mereka masing-masing, Dimas dengan tergesa-gesa menghentikan keempat sahabatnya itu.
" Mau kemana ? " Tanya Dimas sambil duduk dan meletakkan ranselnya di kursi yang kosong.
" Pulang. " Jawab Julian agak ketus.
" Dih yang jadi asisten boss garang amat. " Cibir Dimas.
" Dia baru pulang dari Singapura Dim, masih jetlag kayaknya. Maklumin aja. " Ucap Amira bijak.
" Gue liat Momo naik mobilnya bang Hega, mau kemana mereka ? " Tanya Dimas dengan nada penasaran dan dahi mengkerut.
Glek....
Ketiga gadis itu saling pandang, membuat Dimas semakin penasaran. Julian yang melihat ekspresi ketiga temannya itu juga menaruh sedikit kecurigaan, jika apa yang diduganya tadi memang benar.
" Ituh.... dia mau bahas kontrak store butik, mau tanda tangan berkas apa gitu. " Deana menutupi.
" Oh, tapi tumbenan sampai bang Hega sendiri yang datang ? " Dimas mulai curiga, nyatanya memang Dimas tidak tahu jika selama ini sahabat abangnya itu seringkali menghabiskan waktu bersama keempat sahabat cantiknya itu saat mereka tengah sibuk persiapan pembukaan butik.
__ADS_1
Dan lagi Dimas sempat melihat dari kejauhan sahabat sekaligus gadis yang disukainya itu berbicara cukup akrab dan intim dengan pria yang menjadi idolanya itu.
Deana, Amira dan Renata sempat gelagapan mendengar pertanyaan Dimas yang sedikit menyelidik. Bingung mau menjawab apa, khawatir jika salah memilih jawaban akan membuat pemuda yang sempat memiliki rasa pada Moza itu akan kecewa atau sakit hati.
" Sekalian tadi habis dari bandara mampir, biar beres dokumen nya kan awal bulan depan butik mereka udah mau resmi dibuka. " Jelas Julian menutupi kebingungan ketiga gadis itu, membuat ketiganya diam-diam bernafas lega.
" Yuk ah cabut, gue mau cepet rebahan. " Lanjutnya sambil beranjak dari kursinya.
" Gue bareng kak Dimas aja Jul, nitip Amira sama Renata aja. " Sambar Deana dibalas anggukan oleh Julian.
Ketiga gadis ini tahu jika selama ini Julian yang selalu menjadi perisai bagi Moza setiap kali ada pria yang berusaha mendekati gadis itu. Namun tidak ada yang tahu jika diam-diam pemuda itu menyimpan tekad untuk terus menjadi pelindung sang sahabat jika memang tidak ada pria yang bisa menaklukkan hati sahabatnya itu.
Dan dengan polosnya atau mungkin dengan bodohnya, untuk pertama kalinya dia mengungkapkan rahasia itu pada orang yang salah.
Cinta bagi Julian bukan urutan pertama dalam hidupnya, dan bukan prioritas utama baginya. Ada alasan sendiri yang disimpan pemuda itu kenapa selama ini dia selalu mengutamakan sahabatnya daripada kekasihnya.
Tentu saja hal itulah yang ternyata seringkali menjadi alasan putusnya hubungan percintaannya. Dan sekali lagi hal ini tidak diketahui oleh kelima sahabatnya.
Yang mereka tahu hanyalah bahwa Julian seorang playboy yang doyan berganti pacar. Tapi kenyataan yang sebenarnya bahwa setiap kali dia putus dengan kekasihnya mayoritas alasannya adalah karena Julian lebih memilih mengutamakan waktunya untuk bersama sahabat-sahabatnya daripada menghabiskan waktu dengan pacarnya.
Yang pastinya membuat para kekasih pria itu mengamuk setiap kali Julian mengabaikan mereka dan memilih jalan-jalan menemani keempat sahabat cantiknya.
Seorang Julian, penerus ATRA Corp yang selalu loyal pada sahabatnya, jadi supir ataupun pembawa belanjaan, dan bahkan rela mengeluarkan isi dompetnya untuk mentraktir nonton atau makan keempat gadis manis yang selalu mengisi hari-harinya dengan warna bahagia.
Sebegitu pentingkah seorang sahabat bagi seorang Julian ? Jawabannya adalah sangat penting. Dirinya selalu merasa nyaman setiap kali menghabiskan waktu dengan canda tawa, obrolan receh ataupun bahkan perdebatan tak penting setiap kali bersama sahabat-sahabatnya.
Bahkan dia bersedia menjadi perisai pelindung bagi sahabat-sahabat itu. Bukan hanya bagi Moza saja, jika saja bukan Moza yang memiliki trauma kehilangan yang membuatnya memiliki sifat introvert pada lawan jenisnya.
•
•
🍒🍒🍒
Kembali ke restoran, dimana sepasang pria dan seorang gadis tengah menikmati makan siang mereka.
Memesan dua porsi steak dan dua gelas jus jeruk ditambah dua botol air mineral.
" Jadi awal bulan depan pembukaan butiknya ? " Tanya Hega memecah keheningan diantara mereka.
" Hn. " Jawab Moza singkat disertai anggukan.
" Kamu sudah urus hak paten brand kamu ? " Tanyanya lagi.
" Belum, Rena bilang bisa sambil jalan nanti. Kami masih mencari informasi prosedurnya. " Jelasnya sambil merapikan rambutnya yang terurai berantakan ke belakang telinga kemudian mengikatnya ke atas.
Yang tanpa disadarinya mengekspose leher jenjang berkulit putih mulus miliknya.
__ADS_1
Deg deg ser....
Glek...
Melihat pemandangan indah terpampang jelas dihadapannya, pemuda yang sedari tadi tampak tenang mendadak kaku seketika, mengerjapkan bola matanya beberapa kali, sekerjap menelan salivanya.
Kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, menggaruk tengkuknya dengan canggung.
Hega, apa yang baru saja kamu pikirkan ? Ini bukan pertama kalinya dia mengikat rambutnya seperti itu. Sejak kapan otakmu mendadak jadi mesum ?! Sadarlah !!!
Batin pemuda itu frustrasi.
Untung saja pelayan restoran datang dengan membawa pesanan mereka, setidaknya Hega bisa mengembalikan perasaan canggung yang diam-diam melanda dirinya tanpa sepengetahuan gadis yang masih duduk manis di hadapannya.
Hega dengan tenang memotong-motong steak di hadapannya, kemudian mendorong hotplate berisi steak yang sudah terpotong ke hadapan Moza, kemudian menarik hotplate gadis itu ke arahnya.
" Makanlah dengan santai. Bukankah kita sudah sepakat seperti itu. " Ucapnya sambil tersenyum tipis melihat gadis dihadapannya terlihat gelisah.
Sampai kapan sih kakak akan bersikap seperti ini padaku ?! Benar-benar membuatku merinding.
Gumam Moza lirih menghadapi sikap manis Hega yang semakin membuatnya gelagapan.
" Hm ? Apa kamu mengatakan sesuatu ? " Tanya Hega yang hanya mendengar gumaman tak jelas keluar dari bibir gadis itu.
" Tidak. Selamat makan. " Jawabnya.
Baru saja Hega akan menikmati makanannya, ponselnya kembali berbunyi.
" Saya terima telepon sebentar. " Pamitnya pada gadis itu yang hanya dijawab anggukan.
•
•
Selang beberapa menit Hega kembali, baru saja masuk ke restoran didengarnya sebuah percakapan dari meja berisikan beberapa pemuda yang dilewatinya.
" Ada cewek cantik tadi gue lihat di meja ujung sana, gimana kalau gue ajak kenalan. " Ucap salah seorang pemuda.
⚘⚘Ada yang cari mati nih berani-beraninya mau ngajak kenalan gadis pujaan si Presdir Jutek. Mau tahu nasib pemuda tersebut ? Tunggu next update ya. InsyAllah bonus episode lagi nanti. 😊🙀🤗
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
__ADS_1
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕