Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Tebakan Absurd


__ADS_3

AUTHOR


Derka duduk dengan tenang di kursinya, memasang tampang serius seolah sedang memeriksa seorang pasien di rumah sakit.


" Gue punya tebakan, yang bisa jawab boleh kasih gue hukuman atau minta hadiah tahun baru apapun dari gue. Sebaliknya, jika tidak ada satupun diantara kalian yang bisa jawab tebakan gue. Maka gue juga akan kasih hukuman atau tantangan pada kalian semua. Siapa berani ikut ?! " Ucap Derka menantang dengan angkuhnya.


Beberapa orang tampak mengangguk antusias, beberapa orang lagi terlihat cuek saja.


" Dih.... Yakin lo ?! Entar gue minta mobil sport kesayangan lo, baru tahu rasa lo Der. " Sela Bara sinis.


" Hahahaha.... Coba aja kalau lo mampu nandingin otak gue. " Cibir Derka dengan penuh percaya diri.


" Sialan, oke deal. Lo jadi saksi ya Ga ! "


" Gue gak ikutan permainan bocah. " Jawab Hega datar, malah asyik bersandar di kursi dengan menyilangkan kedua kakinya, sambil memainkan jarinya di rambut Moza yang tergerai.


" Kak.... " Moza yang merasa risih dengan tingkah Hega melotot tajam dan menyentil tangan Hega yang sedari tadi memainkan rambutnya.


" Huft.... oke. " Melihat mata mendelik lucu milik Moza membuat Hega mau tak mau ikut bergabung dalam permainan bodoh yang dibuat Derka.


" Jadi gak ada yang boleh mundur ya ! " Ucap Derka memastikan jika semua sepakat ikut permainan. Dan dibalas anggukan oleh semua yang mengelilingi meja besar itu.


Derka kembali memasang ekspresi serius di wajah tampannya, memulai buka suara. " Kalau saja ada sekolah yang berisi semua jenis hewan, hewan apa yang sering paling terlambat dan apa alasannya ? " Seketika wajah seriusnya berubah tersenyum smirk.


" HAAA . " Pertanyaan Derka benar-benar berbanding terbalik dengan ekspresi serius yang dipasang di wajahnya membuat para gadis ternganga dibuatnya, terutama Moza and the genk.


Mereka tentu saja mengira dokter itu akan mengajukan sebuah pertanyaan yang masuk akal yang berhubungan dengan ilmu sosial atau ilmu alam secara logis. Namun nyatanya tebakan yang muncul adalah tebakan absurd yang seketika membuat mereka tercengang.


" Lo dokter apa tukang bikin film kartun si atau lo mau jadi tukang lawak ya karena kekurangan pasien di rumah sakit ? Mana ada sekolah hewan ! " Protes Bara.


" Gue kan bilang 'kalau saja', iya kan Ga ?! " Elak Derka sambil memonyongkan bibirnya ke arah Hega.


" Hem, lagipula bukankah kalian lulusan sekolah yang sama ? " Ucap Hega acuh dan kemudian tersenyum iblis.


" Eh... " Membuat semua mata mengarah padanya.


" Sekolah yang isinya para buaya macam lo berdua. " Ucap Hega datar menunjuk ke arah Bara dan Derka.


" Siyalan. " Bara dan Derka memaki bersamaan, dan yang lainnya hanya bisa terkikik geli.


" Kalau kita buaya lo apaan Ga ? Bapak Buaya ? Raja Buaya ? " Maki Bara kesal, didukung Derka yang manggut-manggut membenarkan ucapan Bara.


" Gue ? " Hega mengarahkan telunjuknya ke wajah tampannya.


" Iya lah, lo lupa kita dari TK, SD, SMP tuh sekolah di tempat yang sama kalau lo lupa, bahkan kulian juga di kampus yang sama, meskipun beda jurusan si. " Omel Derka ikut kesal.


[ FYI : Mereka bertiga teman sejak kecil ya, Hega, Bara dan Derka. Kenapa SMA tidak disebutkan ? Karena saat usia 15 tahun Hega pindah ke kota tempat tinggal Keluarga Dama dan sekolah SMA disana dengan Hyuza Arkana Dama, catatan lagi bagi yang lupa jika waktu SMP Hega itu ikut kelas akselerasi jadi saat pindah ke kota asalnya Moza, Hega langsung masuk SMA ]

__ADS_1


Hega dan Bara saja sudah cukup memancing tawa setiap dua sahabat itu berdebat, ditambah lagi Derka maka lengkap sudah formasi tiga sahabat itu.


Sekilas Bara dan Derka sempat merasa puas karena bisa menang berdebat melawan sahabat mereka yang menyebalkan. Yang tidak pernah bisa mereka kalahkan dalam adu bicara.


Namun senyum kemenangan mereka tak bertahan lama saat sebuah senyum iblis kembali terukir di bibir Hega.


" Gue pawang buaya, jadi berterima kasihlah sama gue karena berkat adanya gue yang tahan dengan tingkah kalian itu kalian bisa lolos dari razia buaya, kalau tidak pasti sekarang kalian bukan ada disini. " Jelas Hega datar.


" Cih, kalau gue sama Derka gak disini mau dimana lagi coba ? " Omel Bara kesal.


Hega tersenyum devil, " Penangkaran buaya. " Jawabnya datar kemudian meneguk air mineral di depannya.


Meskipun dengan adanya partner seperti Derka pun tak membuat Bara bisa menang melawan sifat menjengkelkan Hega.


Pertengkaran tiga sahabat 2 lawan 1 yang dimenangkan oleh Hega tentu saja selalu memanciing tawa.


" Buahaahahha.... " Julian tertawa terbahak-bahak, tangan kirinya menggebrak-gebrak meja sedangkan tangan kanannya memegangi perutnya.


" Diem lo dek, lo kan juga sama-sama buaya, ngapa lo malah ikutan ketawa ?! Bukannya belain kita. " Omel Bara melotot ke arah Julian seketika membuat Julian membekap mulutnya dengan telapak tangan menahan tawanya.


" Gue masih betah kerja sama bang Hega, cicilan mobil sama apartemen baru gue masih dua kali lagi bang hahahhaa.... " Ujar Julian membela diri.


Memilih main aman, tak mau melawan boss galaknya yang mengerikan ketika marah.


" Ck.... " Hega hanya tercengir mengejek.


" Dah ah, males gue ngomong ma lo Ga. Mending lo diem aja daripada gue emosi nih tahun baru gue acak-acak party lo. " Ancam Derka.


" Hush..hush... Udah dong, kok malah ribut si ?! Kak Hega diem aja, kenapa kakak gak pernah mau ngalah si ?! " Omel Moza sambil membungkam mulut Hega dengan telapak tangannya, membuat Hega mau tak mau menurut dan menutup mulutnya.


Hehehe... Rasain lo Ga, lo monster beruang kutub kalah telak sama pawang cantik lo hahahaha..... ~ Bara ~


" Ayo apa jawabannya ?! " Lanjut Derka kembali pada tebakan recehnya.


" Siput, kan karena siput binatang paling lambat jalannya. " Jawab Renata dengan penuh percaya diri.


" Enggak dong, pasti kura-kura lah jalannya juga pelan. " Sambar Deana.


Derka menggeleng, " Dua-duanya salah. "


" Lah kok ? " Protes Renata dan Deana bersamaan.


" Gue bilang salah ya salah, no debat. " Cicit Derka dengan angkuhnya.


" Kelinci. " Jawab Moza dan Amira bersamaan.


" Alasannya ? " Derka menatap Amira dan Moza bergantian.

__ADS_1


Moza dan Amira saling pandang, kemudian Amira yang memilih untuk menjawab.


" Yah kan tuh ada dongeng si kelinci dan kura-kura lomba lari, dan di ceritanya kelinci kalah dari si kura-kura karena ketiduran. Ya jadi kelinci pasti jawabannya, dia aja kalah dari kura-kura yang jalannya lambat, pasti dia lah yang paling sering terlambat. Makanya jangan meremehkan musuh dan jangan sombong karena merasa lebih hebat, kalah kan jadinya lomba larinya. Hehehe..." Jawab Amira panjang lebar udah seperti guru TK yang memberikan nasihat pada muridnya setelah berdongeng.


" Buahahahahhaa....." Penjelasan Amira tak ayal membuat Derka dan Bara tertawa terbahak, dan tentu saja yang lainnya juga tak tahan untuk tidak terkikik geli mendengar jawaban gadis cantik berhijab itu.


Amira menoleh ke arah Moza, " Salah ya Mo ? "


" Kita sepemikiran si, tapi sepertinya yang ada di kepala dokter itu agak sedikit diluar nalar kita. " Bisik Moza pada Amira,


" Lagipula mana ada hewan sekolah, bener kata kak Hega itu sekolah khusus para buaya. " Sambung Moza kesal kemudian dua gadis itu terkikik geli, yang pastinya didengar Hega karena pemuda itu duduk diantara Moza dan Amira, membuat Hega ikut-ikutan mengulas senyum.


" Siapa lagi yang mau jawab ! "


Deana yang mendengar gerutuan Moza mengangkat tangannya, " Buaya. " Jawab Deana acuh.


" Lo jangan ikut-ikutan Hega ngatain abang dek ! " Omel Bara pada adik sepupunya itu dan tentu saja lagi-lagi mengundang tawa.


" Idih abang ge er. Maksud Dea jawabannya buaya. " Omel Deana.


" Kenapa buaya ? " Tanya Derka dengan dahi mengerut.


Deana diam sejenak, mengaduk minuman di gelasnya dengan sedotan.


" Ya karena setiap berangkat sekolah para buaya sibuk godain para gadis di jalan jadi mereka telat deh masuk sekolahnya. " Jawab Deana kemudian dengan santainya.


" Cih.... Itu juga sama saja lo ngatain abang Dea. " Omel Bara yang hanya dibalas nyengir kuda oleh Deana.


" Pffft..... " Hega yang sedari tadi datar-datar saja seketika ikut terkikik mendengar cicitan sabahat kekasihnya itu.


" Ini juga dari tadi udah macam gunung es, cuek bebek eh giliran gue dikatain buaya lo ikutan ketawa. Puas lo punya satu pendukung yang ikutan ngatain gue ! " Bara tak berhenti menggerutu.


Namun Hega tetap acuh dan hanya mengedikkan bahunya dengan gaya cuek bebek.


" Jadi gimana jawaban Dea bang Der ?! " Tanya Deana.


Lagi-lagi Derka menggeleng, ditambah mengyilangkan kedua lengannya di depan wajahnya membentuk tanda X, " Masih salah besar. " Ucapnya kemudian.


" Gimana ? Masih ada yang ingin menjawab ? Atau mau menyerah dengan konsekuensi setiap orang dapat tantangan atau hukuman dari gue ? " Lanjut Derka sambil tersenyum jahat.


Setelah itu satu per satu menjawab dan hasilnya salah semua.


Jelas terlihat ada sesuatu yang direncanakannya. Dan dokter tampan itu tersenyum puas saat semua orang terlihat menyerah.


" Jadi jawabannya apaan Abaang ? " Tanya Renata gemas, karena benar-benar penasaran dan sedikit kesal.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


➡️ Ada yang tahu jawaban dan alasannya ?! 😊


Yang bisa jawab bisa minta apa aja sama Babang Derka ☺


__ADS_2