
AUTHOR
" Kalo lo dek, gak usah aja, abang yang takut, ntar ada yang jambakin rambut abang. " Ucapnya sambil cengengesan membuat keempat gadis itu menatap padanya dengan tatapan tak mengerti.
Moza yang sekejap menyadari maksud dari pria itu mendadak hatinya terasa mencelos. Wajah pria yang dengan susah payah dihilangkannya dari pikirannya beberapa hari ini muncul begitu saja kembali mengacaukan pikirannya.
" Yey.... yuk kita rayakan !!! " Ucap Renata bersemangat setelah mereka mendapatkan solusi dari masalah mereka yang terakhir.
" Abang.... " Rayu Renata pada Bara.
" Apaan lagi dek ? " Jawab pria itu dengan nada tak kalah genitnya.
" Traktir. " Yang serempak didukung anggukan memelas Amira dan Deana.
" Jiah.... Napa abang gitu yang traktir ? Udah kasih sewa gratis abang juga yang traktir. Yang ada harusnya kalian dong yang traktir abang. " Gumam Bara sambil menepuk jidatnya gemas dengan kelakuan gesrek teman dari adik sepupunya ini.
" Yah kan abang banyak duitnya. Lagian apa abang gak malu minta traktir sama cewek ? " Sambar Deana.
" Tahu darimana abang banyak duit ? " Goda Bara lagi, seberanya walaupun tanpa diminta pria itu dengan senang hati mentraktir gadis-gadis cantik itu untuk makan siang.
Tapi entah mengapa dia sangat senang menggoda mereka dan melihat ekspresi memelas mereka yang menggemaskan.
" Tahulah.... Buktinya abang bisa punya investasi di mall ini. " Jawab Deana ngasal.
Sebenarnya tempat yang dia maksud bukan benar-benar milik Bara. Tapi milik sahabatnya, tapi dia yakin bisa dengan mudah memberikan tempat tersebut pada gadis-gadis ini.
Toh menyewakan gratis satu stand kelas menengah tidak akan membuat perusahaan sahabatnya itu bangkrut. Begitu yang ada di pikiran Bara saat ini.
Semua sahabatnya tampak antusias dengan hasil rapat yang bersifat setengah rumpi hari ini. Karena mereka mendapatkan hasil yang mereka inginkan, dan dengan begitu mudah, ditambah lokasi butik yang bukan di pertokoan biasa, tapi mall menengah keatas.
Namun tidak bagi Moza, gadis itu masih datar-datar saja, wajahnya yang sempat blushing kembali bisa dinetralkannya. Hanya menjadi penonton kegaduhan yang dibuat teman-temannya, mengaduk-aduk es coklatnya yang sudah hampir habis.
Nih cewek antik juga, temen-temenya pada gesrek gini dia mah anteng aja macam tembok batu.
Batin Bara menyaksikan ekspresi gadis di depannya, membuatnya semakin gemas ingin menggodanya.
Mumpung gak ada boss sekaligus sahabat gue yang lagi gila itu gue mau godain gebetannya.....
Batinnya lagi.
Moza yang merasa ditatap oleh Bara melotot pada pria itu, seolah merasakan ancaman dari tatapan Bara.
" Apaan liat-liat. Es coklat aku dah abis nih, sedotannya nganggur...." Decaknya kesal pada Bara.
" Cih... Peka amat lo dek.... Lagian apa hubungannya ama sedotan nganggur ? " Gumam pria itu.
__ADS_1
" Berhenti liatin, mata kecolok sedotan rasanya pasti gak enak. " Jawab Moza ngasal.
" Sadis lo. Emang udah pernah kecolok sedotan dek ? " Tanya Bara menggoda.
" Belum. " Ucap Moza lagi tanpa melihat pria itu.
" Gimana tahunya kalo kecolok sedotan gak enak ? " Godanya lagi semakin gemas.
" Abang coba dulu, nanti cerita ke aku gimana rasanya. " Cibirnya lagi membuat ketiga temannya yang sedari tadi melongo menyaksikan obrolan dua orang itu tergelak tak percaya. Kemudian tak sanggup lagi menahan tawa mereka.
Duh baru pertama nih gue debat sama cewek kalah telak. ~Bara~
•
•
🍒🍒🍒
Direstoran yang masih berada di mall yang sama, Bara membawa keempat gadis itu makan bersama sesuai janjinya.
Sambil menunggu pesanan mereka masih melanjutkan obrolan rumpi mereka.
" Emang teman kalian yang satu itu emang gitu ya ? " Tanya Bara pada ketiga gadis itu saat Moza sedang berada di toilet.
" Enggak bang. " Jawab Renata.
" Maksud Rena Moza tuh gak biasanya ngomong sama cowok lebih dari satu kalimat. Kecuali sama Julian atau Dimas. Kita aja tadi sampe melongo tumbenan nih anak ngomong panjang lebar gitu meskipun kadar jutek nya tetep sih. Hehe.... " Sambar Deana.
" Nah emang biasanya gimana ? "
" Ya gitu kalo diajak ngobrol sama cowok, melengos gitu aja, paling kalo kepaksa cuma bilang maaf, terima kasih atau permisi, atau oke gitu. Bukannya Rena udah pernah cerita ya sama abang. " Lanjut Renata.
Bara teringat sedikit cerita tentang gadis itu saat dalam perjalanan ke puncak. Sifat yang kurang lebih sama dengan sahabatnya.
Iya juga ya pantesan dari tadi berasa ada yang aneh, baru ni gue denger tuh gadis singa nanggepin gue ngomong sampe beberapa kalimat. Meskipun bener juga kadar juteknya tetep. Macam bocah yang lagi menggila di kantor. Awas gue panas-panasin lo ntar...
Batin Bara sambil menyeringai memikirkan ide jahil untuk mengerjai sahabatnya.
" Kenapa bang, serem amat senyumnya ? " Tanya Deana.
" Oh... nggak dek, minum dulu keburu dingin. "
" Yeee.... abang ya emang kita pesennya jus ya pasti dingin, ya kali jus anget. " Protes Renata.
" Oh yayayaya.... Becanda dek, sewot amat.... "
__ADS_1
" Ucapan Moza gak usah diambil ati bang, anggap aja tuh anak udah mulai nyaman sama lo bang. " Ucap Renata lagi sambil meraih jus jeruk yang baru saja datang.
Bara hanya ber o ria mendengarkan penjelasan gadis-gadis itu.
Pria ini memang nyatanya selalu merasa nyaman setiap kali bergabung bersama kelompok gadis - gadis yang menurutnya sangat menggemaskan ini. Mereka berempat yang memiliki banyak perbedaan satu sama lain justru menambah keseruan setiap mereka berkumpul.
Renata yang centil dan cerewet macam komentator pertandingan bola yang jika bicara nyaris tak bisa dihentikan.
Deana yang punya kepribadian ceria, cuek apa adanya, ceplas-ceplos yang tanpa ragu mengomentari ke gesrekan sahabatnya yang super centil itu. Membuat mereka berdua sering terlibat adu mulut.
Tapi selalu bisa di jeda oleh kalimat bijaksana dan dewasa oleh sosok Amira, jika sosok keibuan Amira tak mampu menghentikan keduanya. Maka siapa lagi yang akan turun tangan. Beberapa kalimat ketus, jutek bahkan pedas dari Moza akan membuat mereka berhenti seketika.
•
•
🍒🍒🍒
Disisi lain Hega tampak kesal setelah beberapa saat yang lalu mendapatkan pesan dari sahabatnya yang membuatnya ingin segera menendang temannya itu. Yah siapa lagi kalau bukan bang Bara pelakunya.
Isi pesannya apalagi jika bukan Bara yang tengah memamerkan dirinya yang bertemu dengan keempat gadis itu di foodcourt saat sedang mengecek kondisi mall sesuai perintah Hega.
Dan semakin membuatnya kesal saat mendapat kiriman foto dari sahabatnya yang sedang makan bersama dengan keempat gadis itu di restoran.
Perlahan tanpa sadar disentuhnya layar ponsel yang ada di tangannya, digerakkan jarinya perlahan, memperbesar tampilan foto, memusatkannya pada wajah gadis yang dirindukannya.
Sekejap kekesalannya seolah menghilang, berganti sebuah senyum kecil mengembang di sudut bibirnya.
Didaratkannya tubuhnya kembali di kursi kebesarannya, menghela nafas dalam dan kemudian mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja.
Dahinya sedikit mengkerut, tampak jelas sedang memikirkan sesuatu.
Bagaimana caranya aku mendekatinya tanpa membuatnya canggung ataupun memasang wajah kesalnya itu ??!! Meskipun tidak masalah juga si jika dia begitu, justru menggemaskan....
Gumamnya perlahan.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Terima kasih 😊😘😘😍
__ADS_1
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕