
AUTHOR
Baru saja sampai di pintu, terdengar suara teriakan dan suara benda-benda terjatuh di lantai. Anita dan semua staff ruang sekretaris Presdir bahkan tak berani mendekat ke ruangan sang Presdir.
Bara dan Julian secepat kilat mendorong pintu di hadapan mereka. Betapa terkejutnya dengan apa yang dilihat dengan mata kepala mereka sendiri, ruangan yang selalu rapi berubah kacau dan berantakan seolah baru saja terkena gempa.
Kertas-kertas map, buku dan banyak benda berserakan di lantai. Dan yang lebih buruk dari itu adalah kondisi pemuda yang adalah pimpinan tertinggi Golden Imperial Group, pemuda yang selalu tampil rapi, bersih dan sempurna.
Terlihat kacau dengan kemeja berantakan, dasi yang sudah tidak rapi dan jasnya sudah terlempar di lantai. Rambut acak-acakan, pemuda itu sedang duduk bersandar di sofa dengan memegang kepalanya dengan kedua tangannya, menunduk menghadap lantai marmer.
Tampak frustrasi, mengeram beberapa kali dengan suara bass nya yang menakutkan. Ekpresi wajah yang sulit ditebak apa yang sedang berkecamuk di kepala pemuda itu. Belum lagi samar-samar terdengar suara tangis dari pemuda itu.
Apalagi yang terjadi ? Siapa yang membuat bang Hega sampai seperti ini ? Ekspresinya bahkan jauh lebih menakutkan daripada saat kejadian di LA kemarin. ~ Julian ~
Sebenernya apa yang tadi mereka bicarakan selama itu sampai bikin lo sekacau ini Ga ? ~ Bara ~
" Ga, tenangin diri lo. " Ucap Bara menenangkan Hega sambil duduk di samping pemuda itu dan menepuk pundak sahabatnya.
Julian yang menyaksikannya hanya bisa diam mengamati, tidak berani bersuara.
" Gimana gue bisa tenang Bar setelah mendengar apa yang baru saja kakek katakan. " Ucap pemuda itu masih menutup matanya.
" Memang apa yang beliau katakan hingga bikin lo kacau seperti ini ? " Tanya Bara.
" Gadis yang dijodohin sama gue Bar..... " Ucapan Hega terpotong seolah tak sanggup melanjutkan kalimat selanjutnya.
Posisi pemuda itu sudah berubah bersandar di sofa, dengan posisi kedua matanya tertutup oleh satu lengannya, dan lengan satunya lunglai disamping tubuhnya yang tampak tak bertenaga.
What ? Bang Hega dijodohin ? Bagaimana dengan Momo ? Arrghh... ~ Julian ~
Julian seketika seolah baru saja tersambar gelombang tsunami, menelan ludahnya dan mengerutkan dahinya.
" Kenapa dengan gadis yang dijodohin sama lo ? "
" Gadis itu .... " Ucap Hega tersengal.
" Iya, gadis itu kenapa ? " Bara semakin gelisah melihat mimik wajah sahabatnya.
Hega menceritakan semua yang dikatakan kakeknya selama satu jam di ruangannya tadi. Sesekali wajahnya murka, kemudian berubah sendu tak berdaya.
Bara yang mendengar cerita sahabatnya merasa tak kalah terguncangnya dengan ekspresi Hega saat mendengar kalimat demi kalimat kakeknya tadi.
__ADS_1
Julian yang masih berdiri di tempatnya, tak kalah syok mendengar apa yang baru saja diucapkan boss nya itu.
Julian yang awalnya mendengar jika Hega tidak bisa menolak perjodohan itu rasanya hatinya penuh kemarahan. Ingin di hajarnya pemuda yang dirasa akan membuat sahabatnya itu terluka dengan begitu hebatnya.
Namun amarah Julian berganti kekalutan ketika mendengar alasan dibalik perjodohan dari pemuda yang dicintai oleh sahabatnya itu.
Di satu sisi terbayang wajah pilu sahabatnya, Moza yang pasti akan sangat terluka dengan kenyataan yang ada.
Saat hati gadis itu baru saja terbuka untuk cinta seorang pria, sekejap harus hancur bahkan saat hubungan cinta itu belum terjalin sempurna.
Dan di satu sisi ada atasannya, melihat ekspresi wajah Hega yang kacau. Alasan yang pasti juga tidak akan bisa ditolak oleh Julian jika dirinya berada dalam posisi yang sama seperti boss nya itu.
Satu prinsip yang sama, jika persahabatan adalah sesuatu yang paling dijunjung tinggi keduanya.
Meskipun Julian nyatanya lebih ekstrim dengan mengabaikan para kekasihnya demi para sahabatnya.
Namun melihat kenyataan yang sekarang dihadapi Hega, Julian merasa jika hubungan antara pemuda itu dan juga calon tunangannya itu benar-benar rumit.
" Lalu apa yang akan lo lakukan sekarang ? " Tanya Bara tak kalah frustrasi.
" Gue gak punya pilihan Bar. " Jawab Hega lirih.
" Lo mau ngorbanin cinta lo dan Moza ? " Tanya Bara menekanka.
" Tapi Momo bisa hancur Bang, abang tahu sendiri kan ini pertama kalinya dia membuka hatinya dan sesulit apa dia melakukannya Bang Hega pasti paham betul kan ? " Julian semakin kacau mendengar pembicaraan dua lelaki di hadapannya, tak tahan untuk tidak ikut angkat bicara. Bagaimanapun ini juga menyangkut sahabat yang sangat disayanginya.
Hega yang baru saja menyadari keberadaan Julian sempat terkejut, bagaimanapun apa yang didengat Julian hari ini, gadis itu tidak boleh tahu.
" Julian, apapun yang baru saja kamu dengar adalah sesuatu yang tidak boleh keluar lagi dari mulutmu. " Ucap Hega dengan nada datar memperingatkan Julian, mengisyaratkan agar pemuda itu tutup mulut.
" Tapi Bang, Momo berhak tahu. Bagaimanapun.... " Sanggah Julian yang langsung dipotong oleh kalimat Hega.
" Sekarang kita sedang ada di kantor, posisi kamu sekarang ini adalah assisten pribadi saya bukan sahabatnya, jadi apapun yang baru saja kamu dengar adalah bagian dari rahasia saya selaku boss kamu yang harus kamu jaga dengan nyawamu. Itu adalah aturan pertama yang tertulis sebagai Personal Assistant saya. " Jelas Hega dengan tegas.
" Dan untuk Moza, saya yang akan mencari cara untuk mengatasinya. Jadi jangan ikut campur. " Lanjutnya dingin.
Julian hanya bisa menelan ludahnya sendiri, manarik nafas dalam dan memijat pelipisnya frustrasi.
Sedangkan Bara menatap ke arah Julian, kemudian mengangguk pelan mengisyaratkan agar Julian mengikuti saja perintah Hega.
Karena boss sekaligus sahabatnya itu sedang berada dalam mode iblis yang tidak akan mentoleransi satu kesalahanpun.
__ADS_1
Hega lalu pergi meninggalkan gedung kantornya setelah merapikan pakaiannya yang tampak kacau. Meninggalkan Bara dan Julian di ruangannya, tak memperdulikan sapaan dari karyawan-karyawan yang dilewatinya.
Hega mengemudikan kendaraannya dengan pikiran kalut, hingga mobilnya tanpa sadar sudah ada di seberang jalan depan kafe milik Dimas.
Dilihatnya gadis yang sangat dia cintai sedang bersama ketiga sahabatnya, dan seorang pemuda yang terlihat tak asing. Pemuda yang dilihatnya dikampus Moza saat dia ingin menemui gadis itu.
Bukankah itu pria yang kemarin memeluknya di depan kampus ? Siapa pemuda itu ? Kenapa mereka berdua terlihat sangat akrab ?
Geram Hega melihat keakraban kedua insan itu, kedua tangannya menggenggam erat kemudi. Ekpresinya sangat tidak bisa ditebak, antara marah, kecewa namun juga ada terbersit kelegaan, setidaknya dia masih bisa melihat senyum gadis itu meskipun dari jauh dan biarpun senyum itu tidak ditujukan untuknya.
🌟
Ada yang menunggu adegan Hega ditonjok Deana ? ?
😁😁
Yang mau satu episode lagi....
Comment yah sayangkuh ... 💋💋💋
🌟
☘☘☘
☘☘☘☘
^^ Seringkali pilihan hidup yang harus kita ambil belum tentu sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Tapi yakinlah jika Allah mungkin telah merencanakan rute jalan lain untuk kau lewati menuju kebahagiaanmu. Meskipun jalan itu lebih sulit dan penuh belenggu ^^ ( Sherinanta)
☘☘☘
☘☘☘☘
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍
__ADS_1
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕