Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Apa Kakak Mau Memutuskan Pertemanan Kita ?


__ADS_3

AUTHOR


~~ Flashback Lanjutan ~~


" Kak, wajahmu pucat. Apa kakak sakit ? " Lagi-lagi menangkup pipi kakaknya dengan kedua tangannya.


" Tidak dek, kakak hanya lelah karena terlalu lama menangis. " Jawab Moza tak bertenaga.


" Jadi benar kan kakak menangis ? " Tanya Ryuza memastikan, padahal melihat mata sembab dan bengkak kakaknya pastinya sudah jelas jika memang gadis itu habis menangis.


" Iya, kakak kan juga punya hati. Memangnya kakak batu apa ? " Gerutu Moza mencoba mencairkan ketegangan pada tatapan adiknya.


" Jadi benar pria itu yang membuat kakak menangis ? ! " Tanya Ryu lagi dengan nada sedikit emosi.


" Sudahlah Ryu, kakak tidak ingin membicarakannya. " Ucap Moza lemas.


" Baiklah, jika terjadi sesuatu maukah kakak bercerita padaku ? Atau aku adik yang tidak bisa diandalkan dimata kakak ? " Ryuza memelas.


" Baiklah, kakak akan bercerita jika sudah siap ya. Sekarang tidurlah, besok kan kamu harus ke bandara pagi. " Ucap Moza lagi sambil mengelus kepala sang adik.


" Aku membatalkan penerbanganku. " Jawab Ryu santai.


" Hei, jangan seenaknya dong. Kamu kan sudah terlalu lama meninggalkan rumah, ayah bunda pasti merindukanmu. " Moza sedikit berteriak mendengar jawaban santai adiknya yang seenaknya membatalkan kepulangannya.


" Tapi aku masih ingin menemani kakak. Bagaimana jika.... " Belum sempat menyelesaikan kalimatnya sang kakak sudah terlebih dahulu memotongnya.


" Kakak akan baik-baik saja, percayalah pada kakak. Memangnya kamu tidak kenal bagaimana kakakmu ini ? " Moza tersenyum menenangkan kecemasan sang adik.


" Kak... " Ryu memanggil kakaknya masih dengan nada cemas.


" Kakak tidak apa-apa. " Moza kembali tersenyum.


Dan begitulah akhirnya Ryuza menyerah, mengikuti kemauan kakaknya untuk pulang. Memberikan ruang untuk kakaknya menenangkan diri dan menyelesaikan kekacauan hatinya.


Ryu percaya kakaknya bisa menanganinya sendiri, karena dia tahu kakaknya adalah sosok gadis yang kuat dan tegar.


~~ Flashback End ~~




🍒🍒🍒


Beberapa hari kemudian, Hega dan Moza, dua insan yang sama-sama sedang mengatasi kekacauan hati mereka, selama beberapa hari berusaha menata pikiran mereka.


Akhirnya kembali pada aktivitas normal mereka masing-masing. Hega masih terus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, meskipun tidak segila sebelumnya.


Bara meminta Julian dan Anita diam-diam mengatur kembali jadwal kegiatan Presdir mereka itu, membatasi pekerjaan pemuda itu agar tetap dalam batas sewajarnya.


Sedangkan Moza tetap pada aktivitas kuliahnya, semua mata kuliah dengan kelas pagi. Bersama Amira yang notabene nya memiliki nilai akademis yang sama dengannya, sama-sama berpredikat mahasiswi berprestasi.


Juga ada beberapa kelas yang sama dengan sahabatnya yang lain, Deana dan Renata.


Namun Julian hanya sedikit kelas saja yang dimasukinya bersama keempat sahabatnya itu, mengingat kesibukannya bekerja sebagai asisten pribadi Presdir Golden Imperial Group.


Seperti biasa setiap sepulang kuliah keempat gadis itu akan pergi ke butik mereka jika sedang dalam jadwal selesai kelas yang sama. Atau saling mengatur jadwal siapa yang bisa memantau butik.

__ADS_1


Yang jelas Moza hampir setiap hari selalu di sana, sepulang kuliah menghabiskan waktunya di salah satu ruangan butik, dengan beberapa buku sketch yang tersusun rapi di atas meja.


Ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki oleh dirinya dan sahabat-sahabatnya. Dengan satu sudut berisi sofa tempat bersantai.


Beberapa buku sketch tertata sesuai jenisnya, dari buku yang berisi desain pakaian untuk koleksi musim depan, desain pesanan khusus sesuai permintaan customer, hingga desain bebas hasil inspirasi nya yang bisa muncul kapan saja dari kepala gadis itu dan tertuang begitu saja melalui goresan pensilnya.


Hingga tidak terasa sudah hampir pukul 5 sore, Moza sedang fokus pada salah satu buku sketch dan sebuah pensil di tangannya. Saat Deana dan Julian memasuki ruangan.


" Ekehm. " Julian berdehem melihat sahabatnya itu bahkan tak menoleh ke arah pintu saat dirinya datang bersama Deana.


" Maaf, aku terlalu fokus tadi. " Ucap Moza sambil meletakkan pensil dan melepas kacamatanya.


" Mo, pergilah makan dulu. Kata Dina dan Mila lo bahkan tidak keluar untuk makan tadi siang. " Ucap Deana cemas, menyebutkan nama kedua pegawai mereka yang sedang bekerja di depan dan dari kedua orang itulah dia tahu mulai jam berapa sahabatnya itu bertapa di ruangannya.


" Aku belum lapar, dan tanggung ini sedikit lagi. " Jawab Moza sambil tersenyum.


" Pergilah, bukankah itu masih bisa dilanjutkan nanti. " Bujuk Deana lagi.


Kruyuuuukkk


Sebelum Moza sempat membantah untuk kedua kalinya, terdengar bunyi dari perutnya.


" Pergilah Mo, perutt lo gak bisa bohong. Gue akan bereskan ruangan ini dengan Dea. " Julian angkat bicara.


" Baiklah, sepertinya aku memang lapar, aku tidak ada tenaga melawan kalian berdua. " Ucap Moza nyengir.


" Udah sana. " Jawab Julian lega, mendorong sahabatnya itu menuju pintu, memastikan gadis itu benar-benar pergi menuju lift.


Kemudian tampak Julian mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, mengirim sebuah pesan untuk seseorang.


Ting...


Entah karena ada beberapa orang lagi di depannya atau karena gadis itu tengah menunduk menghadap lantai lift, hingga tidak menyadari kehadiran Hega.


Moza hanya sempat mencium aroma parfum yang tak asing di indera penciumannya. Namun ditepisnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali dan masih menundukkan kepala.


Gadis itu bahkan enggan mengangkat kepalanya saat terjadi sedikit keriuhan dari beberapa wanita di dalam lift yang tengah berbisik-bisik membicarakan sosok yang baru saja memasuki lift tersebut.


Dan pintu kembali tertutup, kemudian terbuka kembali di lantai tujuan gadis itu. Semua pengguna lift melangkah keluar lift karena ini memang jam nya para karyawan berganti shift istirahat, dan lantai yang ditujunya adalah lantai khusus food court, restoran dan kafe.


Hendak melangkahkan kakinya keluar lift, tangannya dicekal oleh seseorang yang dilewatinya.


Pemuda itu menggenggam tangan Moza dengan erat hingga pintu lift kembali tertutup. Gadis itu sontak menoleh, mencari tahu siapa yang dengan tidak sopan menyentuhnya.


" Kak. " Betapa terkejutnya gadis itu mendapati siapa yang tengah menggenggam erat tangannya saat ini.


Kemudian pria itu menarik tangan gadis itu, hingga tubuh Moza merapat pada tubuh gagahnya yang saat ini dalam posisi bersandar di dinding lift.


Hega mendekap erat gadis itu, menenggelamkan wajah Moza di dada bidangnya, mengelus rambut panjang Moza yang terurai dengan indahnya. Menghirup aroma strawberry yang disukainya dari rambut gadis itu.


" Lepaskan aku kak. " Moza berontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu.


Sebenarnya Moza diam-diam juga sangat menikmati moment itu, berada di pelukan pria itu masih terasa begitu nyaman baginya. Begitu merindukan aroma maskulin yang khas keluar dari tubuh pemuda itu.


Aroma yang masih bisa dirasakannya di tubuh beruang raksasa yang ada di ranjangnya, yang selalu menjadi penenang dirinya disaat gadis itu tak kuat merasakan sakitnya menahan kerinduan pada pria yang masih dicintainya itu.


Tapi egonya terluka saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat melihat pria ini sedang berjalan mesra dengan gadis lain.

__ADS_1


" Tolong tetaplah seperti ini sebentar saja. Aku sangat merindukanmu. " Ucap Hega mengabaikan gerakan berontak dari gadis itu, semakin mempererat dekapannya.


Lift kembali terbuka, Hega menarik gadis itu keluar lift dan memasuki lift khusus yang menuju area privat Gedung Golden Mall. Dan kembali memeluk erat gadis yang sangat dirindukannya itu tanpa berkata satu katapun.


Moza hanya diam membeku dan beberapa kali tubuhnya gemetar. Memutuskan berhenti berontak karena ia tahu pria ini tidak bisa dilawan.


Hingga mereka sampai di lantai teratas gedung, rooftop garden tempat pertama kali mereka makan siang bersama dan sepakat untuk mulai akrab dalam pertemanan.


Hega melepaskan pelukannya, menggenggam kembali tangan gadis itu, menautkan jari-jemarinya di sela-sela jari-jemari gadis itu.


Menarik lembut Moza untuk mengikuti langkah kakinya.


" Untuk apa kita kesini kak ? " Tanya Moza ragu.


Apa kakak mau memutuskan pertemanan kita ? Disini kan pertama kali kakak memintaku untuk jadi teman kakak ?


Gumam Moza dalam hati, gelisah dan bertanya-tanya untuk apa pria itu membawanya ke tempat ini.


🌟


Huaaaa......😭😭


Mau apa lagi Hega bawa Moza ke sana ??? 🤔🤔


Pakai adegan peluk segala....😑


Bikin Moza baper lagi kan.....😞😞😖


Jangan PHP atuh babang Hega....😥😥😥


Sakitnya tuh disini..😥😥😥


🌟


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️


Jika mau lanjut Jangan lupa kasih akuh vitamin penyemangat.....


✔ LIKE 👍


✔ COMMENT ✍💌


✔ VOTE 💱💲 yah 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2