Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
[ Flashback ] Ruang Olahraga


__ADS_3

AUTHOR


Moza melewati jembatan yang cukup besar di lantai tiga, yang menghubungkan rumah utama dengan bangunan khusus berlantai tiga yang ada di sisi samping bangunan Rumah Utama.


Bangunan itu dibuat khusus dan terbagi 3 lantai dengan masing-masing fungsinya.


Moza menyusuri lantai tiga yang digunakan untuk ruang olahraga sejak satu bulan yang lalu. Tepatnya saat kepindahan dirinya ke rumah keluarga besar Saint itu.


Karena ruang olahraga yang sebelumnya sudah beralih fungsi menjadi kamar tidur yang disiapkan khusus oleh sang kakek untuknya.


Sedangkan untuk lantai satu dan dua, Moza belum tahu apa isinya, dan masih belum tertarik untuk mencari tahu karena mungkin memang belum saatnya dia tahu atau malas mencari tahu karena belum merasa perlu. [ Halah kok ruwet yah πŸ™„ ]


Setelah berhasil melewati jembatan penghubung dan sudah berpindah bangunan. Moza berjalan pelan sembari mengamati sekelilingnya.


Untuk pertama kalinya gadis itu bisa berkeliling kediaman keluarga Saint setelah hampir satu bulan tinggal disana.


Akhirnya setelah beberapa langkah berjalan, ditemukannya ruangan dengan pintu besar ganda berwarna putih seperti yang dikatakan oleh Paman Benyamin.


Ruang olahraga dimana si Tuan Muda bisa menghabiskan waktunya di ruangan tersebut hingga berjam-jam lamanya. Setidaknya begitulah informasi yang didapatkannya dari Sasa, pelayan pribadi Moza selama beberapa minggu kemarin.


Perlahan Moza mendorong pintu di hadapannya, matanya menyusuri ruangan luas yang berisi alat olahraga yang cukup lengkap sudah semacam ruang gym eksklusif.


Matras yoga, treadmill, gym ball besar berukuran sekitar 100 cm. Barbell dan Dumbbell, Bench, static bicycle dan masih ada beberapa alat gym lainnya yang tertata rapi di ruangan tersebut.


Mata Moza terkagum melihat ruangan yang sudah bisa disebut pusat gym profesional tersebut.


" Ini rumah apa tempat fitnes si ? Memang siapa yang akan memakai semua alat ini ? " Gadis itu tampak takjub sekaligus bingung dengan ruangan olahraga berfasilitas lengkap yang dilihatnya. Beberapa kali dahinya berkerut dan geleng-geleng kepala.


" Kak.... " Moza memanggil pelan, mencari sosok sang kekasih.


Saat melihat sosok yang sedari tadi dicarinya, mata gadis itu membulat sempurna, tubuhnya mendadak kaku tidak sanggup bergerak.


Hega menggunakan setelan baju olahraga berwarna putih, celana pendek diatas lutut dipadu kaos tanpa lengan. Sepasang headset terpasang di kedua telinganya sehingga tak menyadari kehadiran Moza disana.

__ADS_1


Matanya kembali terpesona melihat sosok pria yang tengah berlari di atas treadmill. Keringat membasahi tubuh pemuda itu membuatnya justru terlihat sangat seksi.


Hega masih fokus berlari, setelah beberapa saat ia mematikan treadmill dan turun dari alat tersebut. Saat membalikkan badan hendak mengambil handuk yang tergantung di sebuah kursi untuk menyeka keringatnya, seketika matanya menangkap sosok gadis yang tengah terpaku menatap kearahnya tanpa berkedip.


Hega tersenyum, mendekat ke arah Moza yang jelas terlihat terpesona oleh dirinya. Mulut gadis itu sedikit terlongo, bola mata canti gadis itu tak berkedip menatap dirinya.


" Ekhem...."


Suara Hega sontak menyadarkan kembali Moza dari lamunannya, mata coklat itu mengerjap beberapa kali, dan terlihat kikuk mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Moza semakin salah tingkah mendapati sosok Hega yang sudah semakin dekat padanya, Moza gelagapan sendiri merasa seolah-olah sedang tertangkap basah mengintip, meskipun pria itu bukan orang lain melainkan kekasihnya sendiri.


Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering, jantungnya berlarian cepat karena begitu gugupnya. Merasa ketahuan jika sedari tadi ia menatap kagum pada pemuda itu, Moza segera mengalihkan lagi pandangannya ke arah lain.


Menghindari tatapan mata pria yang sudah sebulan ini resmi menjadi kekasihnya itu.


Kenapa dia sangat tampan dan seksi begini si ?


Beberapa kali kepalanya menggeleng-geleng mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh yang terasa menggoda di kepalanya.


" Ehhh... I-tu.... A-aku.... anu, Kak... " Mendapati Hega sudah begitu dekat dengannya, Moza semakin tergagap, bingung mau berkata apa.


Mau mengelak tapi bibirnya terasa kelu, jantungnya berdetak kencang membuatnya tidak bisa berfikir jernih.


Mau membenarkan kalimat Hega, ahh... mau ditaruh mana muka gadis itu.


Memang benar adanya jika Hega terlihat begitu tampan saat ini, baju olahraga yang melekat di tubuh pemuda itu benar-benar membuat aura ketampanannya naik berkali-kali lipat.


Keringat yang mengalir di wajah, leher dan tubuhnya justru membuatnya terlihat seksi dan mempesona.


Ditambah otot tangan yang kekar yang biasanya terutup kemeja itu kini terlihat jelas, belum lagi perut kotak-kotak ala roti sobek dibalik kaos ketat yang telah basah oleh keringat itu membuatnya terlihat begitu menawan sekaligus menggoda di waktu yang bersamaan.


Aaaaa.... Mata polosku ternodai, bagaimana aku bisa berakhir di tempat ini dan melihat pemandangan yang luar biasa ini... πŸ™ˆπŸ™ˆ

__ADS_1


Inikah yang disebut mendapatkan Cobaan sekaligus Anugerah diwaktu bersamaan ?!


Gila... apa yang baru saja kamu pikirkan Moza Artana ?! Sejak kapan kamu jadi mesum begini ?! Ayo segera pergi dari sini sebelum terlambat.


Moza kembali menggelengkan kepalanya, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kakinya melangkah mundur berusaha mengatur jarak antara dirinya dengan pria yang justru terus melangkah mendekatinya itu.


" Hei... Apa yang kamu pikirkan sekarang Moza sayang ?! " Goda Hega meraih telapak tangan gadis itu.


Glek....


Panggilan sayang yang terucap dari bibir Hega semakin membuat dada gadis itu berdesir, mengalirkan perasaan yang terasa menggelitik di sekujur tubuhnya.


" Tidak ada, memangnya apa yang aku pikirkan ?! " Elak gadis itu berusaha menetralkan detak jantungnya, tapi usahanya sia-sia karena pria di hadapannya itu selalu punya cara untuk membuatnya berdebar tak karuan.


Pesona seorang Hega membuat mampu hati Moza yang selama ini seolah mati suri terbangun dari tidurnya. Hatinya selalu dibuat gelisah dan dadanya bergemuruh hebat setiap berdekatan dengan pemuda yang satu ini.


" Kamu lupa aku pernah bilang, jika semua yang ada di kepala kamu ini terlihat jelas di ekspresi wajahmu ?! " Menunjuk dahi gadis itu dengan telunjuknya.


" Memang apa yang aku pikirkan ? Aku tidak memikirkan apa-apa. Kakak jangan bicara sembarangan. " Elaknya seraya menepis telunjuk Hega yang menempel di keningnya.


" Ah... Benarkah begitu ? Padahal ekpresi imutmu itu jelas mengatakan kalau aku terlihat sangat tampan dan seksi, dan jelas-jelas kamu tadi menatapku dengan tatapan sangat terpesona, bahkan aku melihat air liurmu itu nyaris menetes dari bibirmu yang mungil itu... Kamu juga pasti ingin memeluk tu....." Goda Hega nakal.


" Ssssttt.... " Moza menempelkan telunjuknya di bibir Hega agar pemuda itu berhenti bicara dan kemudian kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang lain disana yang akan mendengar pembicaraan absurd tersebut.


Moza memang berhasil membuat kekasihnya itu berhenti bicara, tapi yang dilakukan Hega selanjutnya justru membuat jantung Moza berdesir hebat.


Gelenyar aneh menjalari tubuhnya, yang terasa menggoda dan sekaligus menyenangkan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_1


Seger kalau lihat yang bening gini...


Thor mendadak amnesia kalau sudah punya suami.... 🀣🀣🀣


__ADS_2