
AUTHOR
Hega menangkup wajah gadis itu, menatap lembut bola mata kecoklatan yang membuatnya jatuh cinta itu, menatap dalam dan mengajukan pertanyaan beruntun.
" Apa aku kurang keren ? " Tanyanya percaya diri.
Moza menggeleng pelan, bibirnya terkatup rapat.
" Apa aku kurang tampan ? Tanyanya lagi.
Lagi-lagi gadis itu menggeleng, kemudian pipinya merona merah karena secara tidak langsung dia mengakui bahwa lelaki di hadapannya itu keren dan tampan.
Ahhhh...... Aku malu jika kakak bertanya seperti itu sambil menatapku begini ? Aku kan tidak bisa berbohong..... ~ Moza ~
" Tapi untuk romantis,....Huft.... Maaf... " Ucap Hega berubah lirih dan ragu.
Eh.... Kok mendadak wajah kakak berubah murung sih ? Aku kan tadi bilang kalau kakak itu keren dan tampan, meskipun tidak secara langsung dengan mulutku sendiri sih. ~ Moza ~
" Aku mungkin tidak bisa romantis, dan aku tidak tahu bagaimana melakukannya. Karena kamu gadis pertama yang membuatku jatuh cinta. Jadi aku sedang berusaha yang terbaik untuk membuatmu jatuh cinta padaku agar aku bisa selamanya membahagiakanmu. " Ucap Hega sendu.
Untuk pertama kalinya Moza melihat ekspresi sayu pria itu. Pria yang selalu tegas dan percaya diri, pria yang selalu menatapnya dengan penuh keyakinan akan cintanya pada gadis itu. Mendadak menjadi pias saat membicarakan satu kata yaitu 'romantis'.
Hei.... Kenapa tiba-tiba tidak percaya diri begitu sih ?
Darimana kakak menyimpulkan jika kakak tidak romantis ?
Apa kakak tidak sadar kalau apa yang kakak lakukan selama ini lebih dari kata romantis.
Kalau kakak bilang begitu sutradara drakor yang aku lihat pasti menangis karena adegan romantis yang mereka buat jauh dari apa yang kakak lakukan padaku.....
Arrrgghh tapi kan aku tidak mungkin mengatakan seperti itu. ~ Moza ~
Melihat ekspresi pemuda dihadapannya, Moza bingung tak tahu harus melakukan apa.
" Kak.... "
Hega melepaskan tangkupan telapak tangannya dari pipi gadis itu, meraih perlahan kepala Moza dan menjatuhkannya ke dadanya. Memeluk erat dan penuh kasih gadis yang dicintainya.
Moza reflek membalas pelukan pemuda itu, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hega.
" Maaf jika kakak marah. " Ucap Moza lirih, tersirat sedikit penyesalan dalam dirinya.
Niat awal yang hanya ingin membalas sikap menyebalkan pemuda itu, tapi tak pernah diduganya jika apa yang dia lakukan justru membuat ekspresi kecewa di wajah pria yang selama ini selalu menunjukkan ekspresi dan tatapan hangat padanya.
Moza tidak menyangka jika apa yang dilakukannya akan membuat pemuda itu tidak percaya diri. Seolah apa yang dilakukannya selama ini untuk gadisnya belum sepenuhnya menjadi yang terbaik.
__ADS_1
" Aku tidak marah, hanya kecewa pada diriku sendiri. " Jawab Hega sambil melepas pelukannya.
" Kenapa ? " Tanya Moza lagi.
" Karena aku sepertinya belum melakukan yang terbaik untuk gadis yang aku cintai. " Ucapnya lirih dan tersenyum getir.
Kenapa berekspresi seperti itu sih ? Jadi terlihat aku yang jahat kan seolah aku tidak menghargai apa telah kakak lakukan selama ini untukku. ~ Moza ~
" Tidak. " Sambar Moza sambil berhambur ke pelukan pemuda itu.
Untuk pertama kalinya mengambil inisiatif untuk melakukan kontak fisik dengan pria itu. Hega menyambut dengan bahagia perlakuan gadis itu, membalas pelukan Moza dengan membelai kepala gadisnya.
" Kakak benar-benar melakukan yang terbaik sampai aku selalu berdebar setiap berada di dekat kakak. " Lanjut gadis itu dalam pelukan Hega.
" Aku juga mencintai kakak. " Gumam Moza sangat lirih dalam dekapan Hega.
Begitu lirihnya hingga dirinya sendiri hampir tak mendengar apa yang baru saja dia katakan dengan bibirnya sendiri, bahkan berfikir jika saat itu dia hanya bergumam dalam hati saja.
Tapi tidak bagi Hega, pemuda yang sangat peka semua inderanya itu bahkan bisa mendengar setiap kata yang terucap dari bibir gadis yang masih berada dalam pelukannya itu.
Seketika Hega melepaskan gadis itu dari dekapannya, memegang kedua bahu Moza dan menatap mata gadis itu.
" Apa yang baru saja kamu katakan ? " Tanya Hega berbinar seolah akan mendapat pengakuan cinta yang selama ini dinantinya.
" Apa ? " Namun bukan menjawab, Moza malah balik bertanya bingung.
" Kakak benar-benar melakukan yang terbaik.... " Jawab gadis itu.
" Bukan itu, tapi kalimat selanjutnya. " Hega semakin memburu jawaban yang benar-benar diinginkannya.
" Apa ? Aku tidak mengatakan apapun lagi ? " Elak Moza sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
" Jelas-jelas aku dengar kalau kamu bilang kamu mencintaiku. " Ucap Hega yakin jika tadi dia tidak sedang salah dengar, dan tentu saja dia semakin yakin karena indera pendengarannya sangat peka dan tak mungkin mengkhianatinya.
" Tidak, kakak salah dengar. " Moza masih mengelak.
Aaaa.... Bukannya aku bilang dalam hati ya tadi ? Kalaupun memang aku mengatakannya kenapa dia bisa dengar sih ? Aku saja bahkan hampir tidak bisa mendengar ucapanku sendiri. ~ Moza ~
" Benarkah ? " Tanyanya meyakinkan.
" Iya, tentu saja. Apa mungkin lagi-lagi kakak membaca pikiranku ? " Ucap Moza tanpa sadar.
Upss...... Kenapa aku malah bilang begitu sih ? Bukankah itu artinya aku membenarkan jika aku berkata kalau aku juga mencintainya meskipun dalam hati saja aku mengatakannya. Arrrggg....Bodoh bodoh.... ~ Moza ~
Hega tersenyum melihat tingkah gadisnya yang tentu saja dia sadar apa arti dari kalimat gadis itu. Jika benar memang Moza juga mencintainya. Tapi dia bukan pria pemaksa dan egois, dia ingin gadis itu mengatakan kalimat yang selama ini dinantikannya itu atas kesadaran dan keinginannya sendiri. Dan bukan karena terpaksa atau didesak.
__ADS_1
" Baiklah, aku tidak akan memaksamu mengatakannya. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap menerimaku sepenuhnya dan mengatakan dengan bibirmu sendiri jika kamu mencintaiku. " Ucap Hega hangat seperti biasanya dan mengelus kepala gadis itu kemudian memainkan ujung rambut Moza yang terurai.
" Saat aku pulang dari Korea nanti aku harap aku bisa mendengar jawabanmu. " Lanjutnya dengan tersenyum penuh harap disusul oleh anggukan kepala dari gadis cantik yang benar-benar tengah tersipu malu.
Dan dengan inilah mereka sepakat jika mereka akan bertemu lagi sepulangnya Hega dari Korea.
Hega tak lagi membahas oleh-oleh dan Moza pun berhenti membicarakan idolanya. Menghentikan ketegangan yang terjadi gara-gara insiden drama korea.
Setelah makan siang di kafe, Hega mengantar Moza pulang kembali ke kosnya.
" Hati-hati di perjalanan, semoga perjalanan bisnis kakak berjalan lancar. " Ucap Moza saat mereka hendak berpisah, Hega tersenyum.
" Aku akan segera kembali, dan managih jawaban kamu. " Ucapnya sambil kembali memeluk gadis itu yang mulai pasrah dengan perlakuan manis Hega, kemudian mengecup pucuk kepala Moza dengan penuh cinta.
Rasa bahagia menyeruak di hati gadis itu, kembali merasakan dicintai begitu besarnya oleh seorang pria. Pria yang menganggap bahwa dirinyalah satu-satunya gadis yang istimewa.
Dengan berat hati meninggalkan kos gadis itu saat melihat Moza memasuki kosan dan sudah tak terlihat lagi.
🌟
~ Cuplikan ~
Bug ... bug....
Deana mendaratkan tinjunya dengan keras ke perut pria di hadapannya, dan sebuah tinju lanjutan di wajah tampan itu saat Hega tengah sedikit membungkuk menahan sakit di ulu hatinya.
" Bang Hega, gue kan sudah bilang jika abang tidak cukup percaya diri untuk membahagiakan sahabat Dea, maka jangan dekati dia. "
🌟
Hmmm.... Ada yg bisa tebak apa yang terjadi ? Yang membuat Deana Mayangsari murka.
Tunggu next part.....
🌟
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍
__ADS_1
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕