Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Tatapan Horor Sang Presdir


__ADS_3

AUTHOR


" Itu yang pakai baju biru muda cantik banget, kayaknya masih mahasiswi. " Lanjutnya seraya menunjuk ke arah meja Moza sambil merapikan dirinya seolah mempersiapkan dirinya untuk menghampiri meja gadis yang dibicarakannya.


" Cewek secantik itu pasti udah punya pacar. " Sambar pemuda lainnya.


" Coba aja gak rugi ini. " Ucap pemuda itu acuh


" Terserah lo. "


Hega yang langsung sadar siapa gadis yang dibicarakan pemuda itu mendadak geram, tanpa sadar mengepalkan kedua telapak tangannya. Terasa ingin sekali menutup mulut pemuda itu dengan tinjunya.


Tapi Hega bukan tipe pria tidak berpendidikan yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan fisik, tapi lebih bermain cerdik dengan segala ide di kepalanya.


Kecuali jika berurusan dengan tingkah Bara, sahabatnya yang seringkali membuatnya kesal. Jika pembalasan mental tidak berhasil, maka pembalasan fisik akan dilakukannya untuk membuat sahabatnya itu menyerah.


Baru saja pemuda tadi hendak berjalan mendekati meja Moza, Hega sudah lebih dulu duduk di kursinya kembali.


" Maaf membuat kamu menunggu lama. " Ucapnya yang mendapat anggukan dan senyum manis gadis itu, kemudian mengambil sebuah tissue diatas meja, mencondongkan tubuh gagahnya kedepan, perlahan mengarahkannya tangannya pada sudut bibir gadis di hadapannya.


Dengan gelagapan Moza berusaha menghindar, tapi gerakannya masih kalah cepat dari Hega. Tangan kiri Hega dengan cekatan memegang bahu kiri gadis itu agar tak bergerak, dan tangan kanannya mengusapkan tissue di sudut bibir Moza dengan lembut.


" Ssttt.... " Bisik Hega perlahan saat gadis manis itu sedikit berontak dari posisinya.


" Terima kasih. " Ucap Moza pasrah.


Aku tidak akan memberikanmu pada orang lain, tak akan kubiarkan ada celah sedikitpun yang memberikan kesempatan pada mereka untuk mendekatimu. Jangankan memilikimu, bahkan sekedar bermimpi untuk mendekatimu saja mereka tak akan berani.


Gumam Hega dalam hati sambil kemudian menatap menyeringai tajam ke arah meja pemuda yang tadi membicarakan gadisnya.


" Apa gue bilang tadi, gadis secantik itu tidak mungkin datang sendirian, pacarnya juga bukan lawan yang mudah bro. " Gerutu salah satu pemuda di meja seberang saat mendapati tatapan horor dari pria tampan yang duduk satu meja dengan gadis yang menjadi incaran temannya tadi.


Membuat pemuda itu mendadak merinding mendapati tatapan tajam Hega yang membuat tengkuknya mendingin.




Hari demi hari berlalu, tibalah hari pembukaan butik dengan nama H - Mo ( baca dalam bahasa Inggris : Eich - Mo ) yang bisa diartikan dengan House of Mode.

__ADS_1


Dengan brand fashion bernama sama dengan nama butik yang sebenarnya H diambil dari inisial nama Hyuza, kakak sulung Moza dan Mo dari nama gadis itu sendiri Moza.


Dengan bantuan koneksi dari Presdir Golden Imperial Group, mereka bisa mengurus hak paten brand dan perijinan butik mereka dengan mudah.


Seorang Hega yang tidak akan ikut campur urusan orang lain apalagi memberikan bantuan secara pribadi, dengan senang hati turun tangan langsung menangani berbagai macam hal yang menyangkut usaha butik atas nama Moza.


Jika bukan karena Presdir yang sudah terlanjur cinta pada gadis itu, mana mungkin rela membuang-bunag waktu berharganya diluar urusan bisnis.


Bara sang sahabat hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang tengah dilanda asmara. Sosok datar dan kaku, dingin pada wanita, mendadak bisa memandang seorang gadis dengan tatapan lembut dan bahagia saat sedang bersama gadis bernama Moza Artana.


Tapi disatu sisi juga merasa lega dan bahagia karena sahabatnya yang selama ini berhati batu tersebut bisa luluh pada seorang gadis. Dan bahkan bisa menunjukkan sisi lain dirinya ketika menghadapi gadis pujaannya itu, membuat Bara kerap kali mengelus dadanya heran dengan tingkah pemuda yang sedang jatuh cinta itu.




🍒🍒🍒


Sudah satu bulan sejak dibukanya secara resmi butik H - Mo, Moza yang tidak suka menjadi pusat perhatian memilih fokus sebagai designer yang bekerja di balik layar. Menorehkan pensil di atas sketch book, sedangkan Renata mengatur promosi, Amira produksi dan Deana mengurus pembukuan.


Mereka juga sudah mulai memperkerjakan dua orang karyawati sebagai penjaga butik yang melayani pelanggan yang datang.


Di sofa yang ada di sudut kafe, tempat yang menjadi base camp keenam sahabat itu. Moza duduk dengan tenang ditemani sebuah buku dan kotak pensilnya.


Memasang headset di kedua telinganya, memutar lagu-lagu favoritnya dari ponsel, sambil menorehkan beberapa goresan pensil di halaman kosong buku miliknya.


Sesekali diam, memejamkan mata sesaat mencari inspirasi untuk desainnya. Entah karena terlalu fokus atau karena kedua telinga yang tengah tertutup headset, gadis itu bahkan tak menyadari kehadiran seseorang yang sedari tadi tengah memperhatikannya.


Hega yang tiba di kafe beberapa lama, tak langsung menghampiri gadis yang tengah fokus pada goresan pensil di tangannya.


Sebenarnya pemuda itu ingin segera menemui gadis manis itu, tapi melihanya tengah berkonsentrasi menggambar, membuatnya mengurungkan niatnya.


Sengaja duduk di salah satu kursi tak jauh dari tepat gadis itu berada, memperhatikan sisi lain Moza yang tampak begitu tenang dengan hobinya.


Tentu saja kehadiran Hega masih menjadi pusat perhatian pengunjung, terutama para wanita. Beberapa pasang mata tengah menatap pemuda itu penuh kekaguman, mencoba menarik perhatiannya namun bukan Hega namanya jika peduli dengan para wanita itu.


Nyatanya kedua bola matanya tak henti-hentinya melirik ke arah gadis yang masih duduk tenang seolah tak terganggu dengan keramaian yang terjadi.


Perlahan didekatinya meja Moza, dilihatnya kedua kabel headset menggantung di leher hadis itu.

__ADS_1


Pft.... Pantas saja dia tenang dan cuek saja.


Gumam pemuda itu gemas.


Kemudian menjatuhkan dirinya di sofa di depan gadis itu.


Menyadari kehadiran pria yang selalu membuatnya gelisah tak karuan, Moza mendongakan kepalanya yang sedari tadi menunduk fokus pada bukunya.


Menatap pria yang sudah duduk dengan santai di hadapannya yang tengah tersenyum kearahnya. Tanpa sadar dilihatnya jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya, jam pemberian pemuda dihadapannya, pukul dua siang.


Jam makan siang sudah lewat, ngapain sih kamu disini ?


Batin Moza.


Diletakkannya pensil di atas buku, kemudian dilepaskannya headset dari telinganya. Menghela nafas perlahan.


" Apa seorang Presdir seperti kak Hega tidak sibuk ? " Tanyanya.


" Kenapa ? " Bukannya menjawab, pria itu malah kembali bertanya sambil mengerutkan dahinya.


" Sepertinya kakak punya banyak waktu senggang untuk mengganggu ketenanganku ? " Cibir Moza dengan nada sedikit kesal.


" Mengganggu ? Siapa ? Saya ? " Lagi-lagi bukannya menjawab malah pemuda itu bertanya balik dengan wajah datar tanpa dosa.


" Huft...." Mendengarnya, Moza hanya bisa menghela nafas kesal.


" Jangan menghela nafas seperti itu, seolah terlihat jika saya sedang menyiksamu. " Ucap Hega santai.


" Memang tidak secara langsung ? Tapi memang benar jika kakak sedang menyiksaku. " Gerutu gadis itu pelan yang masih bisa didengar oleh Hega.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Terima kasih 😊😘😘😍

__ADS_1


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


__ADS_2