
AUTHOR
Anggota keluarga inti Saint sudah tiba di bandara setelah terlebih dahulu singgah di mansion. Sesuai rencana selepas acara lamaran, keluarga inti akan kembali ke kediaman utama untuk mempersiapkan pesta pernikahan.
Sedangkan kerabat yang datang dari luar kota dan luar negeri memang sengaja tetap tinggal di mansion Suryatama untuk menghadiri akad nikah yang akan diadakan lusa depan.
Hega langsung menuju landasan udara setelah mengantar Moza ke restoran tempat pertemuan gadis itu dengan pria bernama Fabian. Meskipun sempat merasa cemas dan tidak rela, tapi Hega tahu jika ini adalah keputusan yang terbaik.
Sebenarnya Hega merasa tidak tenang membiarkan calon istrinya itu bertemu dengan pria yang juga adalah rekan bisnisnya. Tapi Moza meyakinkan dirinya bahwasanya semuanya akan baik-baik saja.
Benar yang dikatakan Moza sebelumnya, ada baiknya melepas segala beban masa lalu agar kebahagiaan mereka menjadi sempurna nantinya.
Hega bisa sedikit bernafas lega karena Deana ikut menemani gadis itu menemui sahabat dari kedua gadis itu. Lagipula sampai saat ini Ragil juga masih menjaga calon istrinya secara diam-diam.
~ Tulip Resto ~
Fabian yang mendapat telepon dari Deana yang memberitahukan jika Moza ingin menemuinya, dengan antusias segera menuju restoran yang disebutkan oleh sahabatnya itu. Bahkan Fabian sengaja datang setengah jam lebih awal dari waktu yang sudah mereka sepakati.
Sejak tahu Moza pulang ke kota asalnya, Fabian ikut kembali ke kota dimana dirinya pernah menikmati kebersamaan bersama sahabatnya itu saat mereka masih siswa SMA. Berharap ada kesempatan untuk dapat menemui Moza dan mengembalikan hubungan mereka yang sempat merenggang.
Dan disinilah Fabian berada, memesan sebuah ruangan VIP agar dirinya bisa lebih nyaman untuk berbicara dengan gadis yang memang sangat ingin ditemuinya itu. Menunggu dengan gelisah dan hati berdebar, mempersiapkan apa saja yang akan dia katakan pada gadis itu nanti.
Disisi lain, Moza baru saja sampai di depan restoran, diantar oleh calon suaminya, " Kak, percayalah padaku, hem ! " Ucapnya sebelum keluar dari mobil Hega.
" Hem, kabari aku apapun yang terjadi, oke. " Pinta Hega.
" Eum. "
Cupp. . . Sebuah kecupan mendarat di kening Moza, kemudian Hega mengusap lembut pucuk kepala Moza yang membiarkan gadisnya itu keluar dari mobilnya melangkah memasuki restoran bersama sahabatnya, Deana, yang sudah keluar terlebih dahulu.
" Mo, lo yakin ! "
" Sepertinya ucapanmu tempo hari ada benarnya, aku harus menemuinya. Dan aku rasa sekarang wakti yang tepat, aku tidak mau menunda-nunda lagi. Aku ingin bahagia seutuhnya di hari pernikahanku, aku tidak ingin memikirkan hal lain di hari pentingku itu. "
" Hem, bang Hega ? "
" Aku sudah mengatakan semuanya pada kak Hega, dan untunglah dia memahami aku. "
" Lo benar-benar beruntung, sepertinya lo jatuh cinta pada pria yang tepat. Gue jadi iri sekarang. " Goda Dea dengan masih terus melangkah memasuki restoran.
" Kamu akan menemukan seseorang yang sempurna yang memang sudah diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi pasanganmu. Dan aku akan menjadi orang pertama yang terus berdoa akan hal itu. " Ujar Moza tulus ambil mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan Deana.
" So sweet sih sahabat gue ini. " Ucap Dea dengan mata berkaca-kaca, terharu atas doa tulus sang sahabat.
Cinta pertama Moza, benar-benar berbanding terbalik dengan kisah cinta pertama seorang Deana. Meskipun sudah dua tahun berlalu, kisah cinta Deana masih terasa menyakitkan untuk diingat.
" Silahkan, Nona. Ini ruangan yang dipesan oleh Tuan Fabian. " Ujar seorang pelayan restoran yang mengantar kedua gadis itu menuju ruangan berpintu coklat.
" Terima kasih. " Moza tersenyum sopan setelah pelayan pria itu membukakan pintu di hadapannya.
Tampak seorang pria tampan memakai kemeja biru muda dengan lengan panjang yang digulung hingga siku, celana bahan berwarna hitam dan sepatu senada dengan celananya, jam tangan hitam melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Fabian bangkit dari kursinya, binar bahagia tampak jelas terlihat dari sorot mata yang setajam elang itu.
Sebuah lengkungan keatas terbentuk di bibir pria itu saat melihat sosok gadis yang dirindukannya muncul dari arah pintu.
" Mo, Dea. Duduklah ! " Sambutnya seraya menarik dua kursi di hadapannya.
" Ah, gue keluar dulu. Tadi lupa mau nelfon orang rumah, gue belum ijin soalnya kalo mau nemenin lo kesini, Mo. " Deana sangat tahu kedua sahabatnya itu butuh waktu berbicara berdua.
Memilih untuk memberi waktu dan privasi bagi kedua sahabatnya.
" Dea, terima kasih. " Ujar Fabian.
" Apaan, emang gue ngapain sampe lo bilang makasih segala. Dah ah, gue keluar dulu ya, kalian ngobrol yang santai. " Balas Dea santai.
" Mo, gue tinggal bentaran ya ?! " Dea mengerlingkan satu matanya ke arah Moza, dibalas anggukan singkat oleh gadis itu.
" Eum. "
Sebelum keluar, Dea mendekati Fabian dan meraih bahu pria yang masih dalam posisi berdiri itu agar sedikit menundukkan badannya.
" Dan buat lo Bian, pakai otak jernihmu sebelum bicara ! Jangan buat usaha gue buat bawa Momo ke sini jadi sia-sia dan berakhir ke tong sampah. " Bisiknya tepat di telinga Fabian sembari menepuk pundak pria itu.
Setelah Deana keluar dari ruangan VIP, keduanya masih tetap terdiam untuk beberapa saat.
Fabian kembali duduk di kursinya, tepat berhadapan dengan gadis yang dikenalnya sejak lima tahun lalu.
__ADS_1
" Ekhem. . . Mau minum apa ? " Tanya Fabian berusaha memecah keheningan.
" Tidak perlu, Bian. Aku hanya punya waktu sebentar. "
" Banyak yang ingin aku sampaikan, Mo. Jadi bisakah kamu memberiku waktu hari ini ?! "
" Aku sudah ada disini sekarang, Bian. Jadi katakanlah apa yang mau kamu bicarakan denganku ! "
" Aku hanya ingin kita bisa bicara lebih tenang dan tidak terburu-buru. Ada banyak hal yang tidak bisa aku katakan dengan singkat. "
Moza mendesah halus, memejamkan matanya sejenak dan kemudian kembali menatap pria di hadapannya.
" Tidak mudah untukku bisa sampai disini, Bian. Jadi tolong jangan buat aku mendapat masalah. Katakan saja apa intinya ! " Moza tidak suka basa-basi, tapi memang tidak mudah untuknya sampai di tempat itu dan menemui Fabian.
Hega memang memberikan ijin padanya dengan mudah, tapi tidak dengan sang bunda. Moza harus membujuk dengan sangat keras agar bundanya memberi ijin padanya untuk keluar sebentar dengan Deana. Tentu saja tanpa mengatakan alasan kepergiannya.
Ayu Puspita yang sempat melarang keras putrinya keluar rumah dengan alasan menghindari keburukan sebelum pernikahan. Darah asli Jawa sang bunda benar-benar membuat istri Ardi Dama itu cukup cerewet menjelang pernikahan sang putri.
Untung saja Hega membantunya untuk membujuk sang bunda sehingga Moza bisa duduk di hadapan Fabian saat ini.
" Mo, apakah tidak ada lagi kesempatan untukku ? Untuk kita ? " Tanya Fabian dengan suara parau.
" Maksudmu kesempatan untuk apa ? Jika yang kamu bicaraka adalah tentang persahabatan kita, maka aku akan menjawab iya. " Jawab Moza lugas.
" Seperti aku aku katakan sebelumnya, selalu ada tempat untukmu kembali sebagai sahabat, Fabian. " Sambunya kemudian.
" Tapi jika untuk hubungan lain, maaf, aku tidak bisa. " Moza bahkan tidak memberikan kesempatan Fabian untuk menyela ucapannya.
Karena apapun yang sudah keluar dari bibirnya adalah keputusan mutlak yang sudah tidak bisa diubah lagi. Meskipun jika Fabian berlutur dan memohon sekalipun, Moza sudah pada tekadnya.
" Mo, pikirkanlah kembali keputusanmu ! Aku yakin aku lebih baik darinya. " Pinta Fabian dengan tatapan berharap.
Moza tersenyum mendengar ucapan Fabian, " Tapi hatiku memilihnya, Bian. Meskipun ada ratusan pria yang lebih baik darinya, mataku hanya akan melihatnya, jantungku hanya akan berdebar karenanya, dan hatiku hanya akan menuliskan namanya. " Terang Moza dengan penuh keyakinan.
" Jadi maafkan aku, Bian. "
" Aku bisa menunggumu, aku yakin bisa mengubah hatimu. " Namun pria itu sungguh sangat keras kepala.
Sekali lagi Moza menghela nafas dalam, " Kamu tidak akan mendapatkan apapun dengan menungguku. Karena sampai kapanpun tidak akan ada yang berubah. Selamanya hanya dia yang akan ada di hatiku, Bian. " Ucapnya dengan sangat hati-hati.
" Tapi dia tidak pantas untukmu. " Ucap Fabian setengah berteriak, tangannya mengepal di atas meja.
Manik mata Fabian menajam, menatap lekat kedua mata Moza, " Apakah kamu setidaknya pernah memikirkan kemungkinan jika dia bersamamu bukan karena tulus mencintaimu ?! " Terdengar jelas jika Fabian menahan emosinya.
" Apa yang kamu mau katakan sebenarnya, Bian ?! " Pekik Moza dengan tatapan tak kalah tajam.
" Bukankah ada kemungkinan dia mencintaimu karena rasa tanggung jawabnya semata ?! Karena dia hidup karena jantung pemberian kakakmu. "
J E D A R . . .
Moza melebarkan matanya saat mendengar ucapan sarkas Fabian, sungguh tidak menyangka jika pria itu bisa mengatakan hal seperti itu.
" Bian, cukup. Jangan melewati batasmu ! " Nada suara Moza naik satu oktaf, dengan masih berusaha menahan emosinya yang sempat terpancing.
" Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Mo. Aku hanya ingin memastikan kebahagiaanmu. Aku. . . " Melihat tatapan marah Moza, suara Fabian perlahan melembut.
" Maka cukup doakan agar aku bahagia, Bian. "
" Mo, untuk terakhir kalinya aku meminta. Tinggalkan dia, dan ikutlah denganku. Aku akan membahagiakanmu. Aku sangat mencintaimu, Mo. " Ucap Fabian akhirnya dengan menatap sendu gadis di hadapannya.
Entah sudah berapa kali Moza menghela nafas dalam dan bersabar menghadapi kekeras kepalaan seorang Fabian.
" Bian, aku akan melupakan apa yang kamu ucapkan
aku akan menganggap bahwa aku tidak mendengar apapun hari ini. Jadi bisakah kamu kembali pada saat dimana kamu belum mengatakan perasaanmu ?! "
" Bisakah kita kembali lagi seperti dulu ? Kamu tahu kamu bukan hanya sekedar sahabat bagiku, kamu sudah seperti seorang kakak sekaligus keluarga untukku. "
" Sepertinya aku sama sekali tidak punya kesempatan lagi. " Hati Fabian bagaikan diremas-remas, yah, memqng seharusnya dari awal dia sadar jika tidak ada kesempatan lagi baginya.
Fabian mengenal betul watak gadis itu, sesuatu yang diputuskan oleh Moza tidak akan bisa diubah oleh siapapun. Apalagi keputusan itu berkaitan dengan hati dan kebahagiaanya. Maka mustahil bagi seorang Fabian membujuk Moza.
" Aku akan menunggu kamu menata kembali hatimu, Bian. Kamu akan mendapatkan cinta yang memang ditakdirkan untukmu. Dan aku akan menjadi orang yang paling bahagia untukmu jika saat itu tiba. " Ucap Moza akhirnya dengan tulus.
" Yah, baiklah. Tapi bisakah kamu tidak menghindariku ! Masih bisakah kita bertemu lagi nanti ?! " Fabian akhirnya pasrah, merelakan jika cinta pertamanya harus kandas bahkan sebelum ia merengkuhnya.
" Sebagai teman ? " Tanya Moza memastikan.
__ADS_1
" Ya, sebagai teman. " Hanya tatapan pasrah yang bisa Fabian tunjukkan saat ini.
" Eum, tentu saja selalu ada waktu untuk seorang teman, Fabian. "
" Terima kasih, Mo. "
" Hem. "
" Dan satu lagi ada hal yang ingin aku sampaikan padamu, Mo. "
" Ya ? "
" A-aku. . . " Terlihat keraguan di mata Fabian, ada gurat ketakutan dan kecemasan dalam ekspresi wajahnya.
" Aku ingin minta maaf padamu, pada keluargamu. " Sambunnya lagi.
Kening Moza sedikit mengerut, " Maaf ? Untuk apa ? "
" Maaf untuk. . . untuk kecelakaan se-belas tahun lalu, yang menyebabkan kematian kakakmu. " Yah, ini sudah tekadnya untuk mengatakan hal yang memang sudah dia katakan sejak bertahun-tahun yang lalu.
Sejenak Moza tertegun, mencerna dalam diam setiap ucapan Fabian. " A-apa. . . Apa. . . Apa yang kamu bicarakan, Bian ?! " Suara Moza terbata, manik matanya menyipit tajam, jelas berusaha memahami maksud ucapan pria di hadapannya.
" Kecelakaan sebelas tahun yang lalu, maaf, jika bukan karena masalah keluargaku, mungkin. . . "
" Tu-tunggu. . . ! " Moza mengangkat telapak tangannya menghentikan kalimat Fabian, kemudian tampak gadis itu menundukkan kepala dan memejamkan mata sejenak. Dan tak lama kembali mendongakkan kepalanya menatap kembali sahabat lamanya itu dengan tatapan menyelidik.
" Apa yang kamu bicarakan barusan, Bian ?!! " Ada getar ketakutan dalam suara Moza, tanpa disadari tubuhnya sedikit gemetar.
" Aku tidak ingin kamu mengetahuinya dari orang lain, termasuk dari tunanganmu sekalipun. "
" Apa lagi ini, Bian ? Berhentilah berputar-putar ! "
" Aku memang belum bisa menjelaskan secara detil tentang kejadian sebelas tahun yang lalu. Tapi aku sungguh ingin meminta maaf padamu. "
" Bian ? "
" Kamu akan tahu sendiri jika saatnya tiba, Mo. "
π² πΆπ΅πΆπΆπ΅πΆπ΅
Moza yang masih belum puas dengan jawaban Fabian terpaksa mengehentikan rasa penasarannya karena ponselnya terus berbunyi.
π² Bunda Calling πΆπ΅πΆπΆπ΅πΆπ΅
( . . . )
" Iya, bun. Momo sudah mau pulang. "
( . . . )
" Iya, iya. Assalamualaikm, bun. "
tut tut tut. . .
Moza segera bangkit dari duduknya setelah menutup panggilan telepon dari sang bunda, " Bian, aku harus pulang. "
" Aku akan mengantarmu. " Tawar Fabian sembari ikut bangkit dari kursinya.
" Tidak. Aku akan pulang sendiri. Lagipula tidak pantas aku diantar oleh pria lain kerumah sebelum pernikahan, apa kata orang nanti. " Jelas Moza berusaha untuk tidak menyinggung perasaan Fabian atas penolakannya terhadap niat baik sahabatnya itu.
" Ah, baiklah. Hati-hati. "
" Eum. "
Baru saja satu langkah, Moza berhenti dan berbalik kembali menghadap Fabian, " Bian, aku harap kamu bisa datang di pernikahanku. "
" Aku akan mempertimbangkannya. Tapi apa kamu tidak khawatir aku akan mengacaukan pernikahanmu dan membawamu kabur ?! " Gurau Fabian dengan tawa yang terdengar sedikit dipaksakan.
Moza tersenyum tipis menanggapi candaan itu, " Hhmph, aku tahu kamu tidak segila itu, Bian. Sampai jumpa. " Pamit Moza sambil melambaikan tangannya dan berbalik badan meninggalkan Fabian seorang diri di ruangan VIP itu.
" Ya, sampai ketemu lagi, Mo. " Ucap Fabian sambil membalas lambaian tangan gadis itu dengan hal yang sama.
" Sayangnya kamu tidak mengenalku dengan baik, Mo. Aku bisa saja melakukan hal yang lebih gila daripada mengacaukan pernikahanmu. Dan membawamu kabur dari acara pernikahanmu bukanlah hal yang sulit untukku. Tapi aku harap aku tidak sampai melakukan hal itu karena egoku. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Karena kebahagiaanmu adalah prioritasku. " Lirihnya kemudian saat melihat punggung Moza menghilang setelah berbelok di pintu keluar ruangan.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
...Abang Bian yang ganteng lagi butuh sandaran...
__ADS_1
...Ada yang mau nampung abang BIAN gak ?! πππ...