Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Chasing you....


__ADS_3

AUTHOR


" Jika dia mau kabur, dia sudah melakukannya bang. "


Kalimat Deana membuat Hega terus kepikiran, apakah yang dimaksud gadis itu adalah bahwa dirinya memiliki kesempatan untuk mendekati sahabatnya.


Semalaman bahkan pemuda itu tak bisa memejamkan mata, disandarkannya tubuhnya di kepala ranjang. Menyalakan lampu meja dan meraih ponselnya diatas nakas. Membuka galeri foto, yang hanya berisi beberapa foto saja, dilihatnya foto terbaru kiriman Bara siang tadi.


Diperbesarnya gambar di layar ponselnya, memandangi wajah cantik gadis yang telah berhasil melelehkan hatinya yang membeku.


Perlahan tubuhnya melorot, dan tertidur sambil memeluk ponsel di dalam genggaman tangannya.


Sejak hari itu diputuskannya untuk mengejar gadisnya, melakukan beberapa cara mendekati gadis itu dengan cara halus dan perlahan.


Mulai dari meluangkan waktu untuk sekedar nimbrung saat Moza tengah berkumpul dengan ketiga sahabat perempuannya.


Satu hari tiba-tiba muncul di tempat yang akan digunakan keempat gadis itu untuk membuka butik mereka. Membantu mereka menata beberapa barang.


Besoknya mengirim beberapa camilan dan minuman saat mereka sedang sibuk mendekorasi butik.


Di hari berikutnya tanpa pemberitahuan muncul begitu saja bersama Bara saat keempat gadis itu tengah makan siang di food court mall seusai menata beberapa furniture butik.


Kecuali Deana, ketiga gadis manis lainnya sempat terperangah atas kelakuan pemuda itu, bahkan Julian yang beberapa kali ikut sibuk membantu mendekorasi butik juga sempat merasa aneh dengan tingkah laku Hega. Tapi karena sikap cueknya, maka Julian tak terlalu ambil pusing.


Sedangkan Deana bersikap biasa saja, karena nyatanya dia tahu apa yang tengah terjadi saat ini. Serta alasan kenapa pemuda itu kerap kali muncul diantara mereka.


Moza sendiri yang awalnya cuek saja sedikit mulai terusik.


Nih orang kenapa si dari kemarin nongol mulu.... Gumam Moza dengan wajah jengkel.


Dan dua minggu lebih terus seperti itu, Hega selalu menampakkan dirinya di sekitar Moza meskipun terkadang hanya sekedar menyapa ataupun tersenyum saat berpapasan dengan gadis itu.


Hingga selama beberapa hari selanjutnya tak tampak lagi sedikitpun batang hidung pria tampan itu.


Kali ini Moza mulai merasa gelisah sendiri, memikirkan kemana perginya sosok yang beberapa hari ini membuatnya tak nyaman dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


" Lo kenapa lesu gitu Mo ? " Tanya Julian saat mendapati sahabatnya beberapa kali menatap ke arah pintu butik seolah menunggu sesuatu.


" Oh aku gak papa, aku cari minum dulu ya. " Elaknya sembari beranjak keluar butik.


" Gue temenin. " Ucap Julian sambil beranjak dari tempat duduknya.


" Enggak usah, aku sendiri aj. Kamu istirahat aja disini. "


Moza berjalan menyusuri mall, masuk ke lift hendak menuju lantai food court.




🍒🍒🍒


MOZA


Aku tidak tahu kenapa mendadak hari ini terasa seperti ada yang kurang, membuat semangatku berada di titik terendah.

__ADS_1


Dengan enggan aku menuju lift, hendak mencari angin segar menghilangkan kepenatanku.


Ting


Pintu lift terbuka, kulihat sosok yang tak asing di dalam lift, mengenakan kemeja navy dengan setelan jas berwarna hitam.


Duh kenapa hari ini dia kelihatan keren sekali sih ? Bikin aku makin gelisah saja. Ughhhh


" Kamu tidak masuk ? " Suara bass nya menyadarkanku.


Segera kumasuki lift, menekan angka dimana lantai food court berada. Tak lama lift berhenti di lantai tujuanku, baru saja hendak kulangkahkan kakiku keluar pintu, lagi-lagi suara bass itu mengejutkanku, ditambah lagi uluran tangannya yang meraih lenganku.


" Tunggu. " Ucapnya singkat.


" Apa ? " Tanyaku bingung.


" Kalian turun disini, lanjutkan apa yang kita bahas tadi. " Perintahnya pada dua pria yang ada di belakangnya.


Ditekannya lagi tombol lift, dan pintu kembali tertutup. Tinggal kami berdua yang ada di dalamnya, dan tangannya yang tadinya memegang lenganku turun menggenggam tanganku.


Hei apa yang anda lakukan si ?


Sejenak kutatap mata yang tengah memandangku dalam.


Kenapa lagi si dengan orang ini ?!


Dan apa-apaan dengan tatapan hangatnya itu ? Hei apa anda tidak sadar jika ekspresi anda saat ini begitu mengerikan.


Lebih baik anda jutek saja seperti biasanya.


Kami terdiam cukup lama hingga lift kembali berbunyi dan pintu terbuka di lantai teratas gedung, terdapat sebuah rest area terbuka dengan taman kecil dan beberapa hiasan ala taman bunga.


Kenapa aku gak pernah tahu ada tempat seperti ini ya di Mall ini ?


" Ini tempat khusus, tidak semua orang punya akses masuk kesini. " Ucapnya seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.


" Oh. " Jawabku singkat.


Kulihat dia tengah menelfon seseorang yang aku tak tahu siapa, sedangkan aku menikmati pemandangan kota yang bisa aku lihat cukup jelas dari atas sini.


" Duduklah " Ucapnya lembut sambil menarik sebuah kursi.


" Untuk apa kita disini ? " Tanyaku yang masih bingung apa maunya pria ini sebenarnya.


" Saya lihat kamu sedang butuh udara segar, sekalian kita bisa makan siang bersama disini dengan santai. " Jawabnya.


" Kenapa kakak jadi seperti ini ? Sejak kapan kita akrab hingga harus makan bersama dengan santai ? " Tanyaku lagi.


" Sejak kamu selalu berusaha lari setiap kita bertemu. " Jawabnya dengan tersenyum.


" Aku ? Aku tidak... " Sanggahku.


" Baiklah, bagaimana kalau kita berteman dulu supaya tidak ada beban setiap bertemu. " Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya padaku, menopang dagunya dengan tangan kananya.


" Tidak mau. " Jawabku sambil menjauhkan diriku darinya, tak tahan karena jantungku terasa akan melompat saking terkejutnya dengan kelakuannya.

__ADS_1


" Kenapa ? " Tanyanya sambil mengerutkan dahi.


" Jangan-jangan kamu takut nanti tidak bisa melebihi teman jika kita memulai dengan pertemanan ? " Sambungnya lagi, dan sekilas kulihat senyum iblis terukir di bibirnya.


" Apa maksud kakak ? " Tanyaku tak terima.


" Bukankah itu motto persahabatan kalian berenam ? Just friends no love ? Right ?! Tidak akan ada cinta jika sudah berteman. " Jelasnya lagi membuatku sesaat terbengong masih tak memahami maksud ucapannya.


" Apa sih ?! " Gumamku kesal saat aku tahu arti dari ucapannya.


" Jadi ? " Tanyanya memburu.


" Apa ? " Aku masih pura-pura tak paham maksudnya.


" Teman ? "


" ". Aku hanya terdiam berpikir bagaimana caranya kabur dari tempat ini.


" Baiklah sepertinya tebakan saya yang tadi benar. " Ucapnya lagi masih dengan tersenyum menyebalkan.


" Iya iya baiklah. " Jawabku pasrah.


" Baiklah apa ? " Tanyanya memperjelas.


" Ya itu tadi ? " Aku masih enggan mengucapkan kata teman pada pria ini.


" Hm ??? " Tentu saja aku tahu dia tidak mudah menyerah.


" Baiklah ayo kita berteman. "


" Dan ? " Tuh kan nih orang masih memburu jawabanku, membuatku nyaris tak tahan ingin memakinya.


" Dan apa lagi ? "


" ". Dia menatapku seolah menanti jawaban lengkap dariku, yang aku tahu dia tak akan menyerah sebelum aku mengatakan sesuai yang diharapkannya.


" Baiklah ayo kita berteman, dan tidak ada beban jika bertemu. " Akhirnya aku menyerah, tak bisa mengelak lagi ataupun menghindar dari pria ini.


" Bagus ! Jadi jangan lari ataupun kabur lagi ! " Ucapnya sambil tersenyum penuh arti seolah mendapatkan apa yang dia mau.


Aku lihat senyum puas dan kemenangan dalam ekspresi wajahnya. Sedangkan aku hanya bisa mengangguk pasrah, tak lama beberapa orang datang membawa beberapa makanan dan minuman.


Kapan pesannya ini ? Oh... pasti waktu dia telfon tadi. Sudahlah, terlanjur ini, mau kabur juga sudah tidak ada kesempatan.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕

__ADS_1


__ADS_2