Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Si Cantik Galak


__ADS_3

AUTHOR


Amira dan Renata memasuki kamar ketika Deana baru saja menyelesaikan ritual berendam air panas setelah berenang yang cukup lama.


Deana keluar kamar mandi dengan memakai kimono mandi dan handuk terlilit di kepalanya. Memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di mulutnya kepada kedua temannya yang baru saja masuk, kemudian mengarahkan pandangan pada gadis yang tengah terlelap di sofa panjang di sudut kamar.


Sepertinya gadis itu tertidur saat menunggu sang sahabat mandi begitu lama, tampak earphone masih menempel di telinganya.


Deana beranjak menuju lemari pakaian, mengambil pakaian ganti. Amira dan Renata memutuskan untuk keluar kamar menuju ruang tengah, tampak Julian dan Dimas masih belum beranjak dari depan layar televisi.


Bara menuruni anak tangga berpapasan dengan Deana yang baru saja keluar dari kamarnya. Berjalsn menuju sofa ruang tengah.


" Udahan berenangnya ? " kata pria itu.


" Ya bang, capek. " jawab Deana dan menghempaskan tubuhnya di sofa.


" Si cantik galak mana dek ? " tanya Bara seraya mengambil camilan diatas meja dan memakannya.


Dimas dan Julian tampak sekilas menoleh pada sang abang saat pria itu menyebutkan kata si cantik galak.


" Dikamar bang. " jawab Amira singkat.


" Masih ngambek dia dek ? "


" Kenapa Moza ngambek bang ? Abang apain dia ? " tanya Dimas yang sudah menghentikan permainannya dan tengah menatap tajam pada sang kakak.


" Cih... emang abang ngapain dek, sampe lo melotot gitu. " ucap Bara kesal.


" Sini dek, gantian abang juga pengen main. " ujar Bara tiba-tiba beranjak dari sofa kemudian merebut joystick PS di tangan sang adik.


Dimas beranjak dari matras dan duduk di sofa disamping Deana. Meninggalkan sang kakak untuk bermain bersama Julian.


" Ada apa ? " tanyanya kemudian sambil bergantian mengarahkan pandangannya ke arah Deana, Amira dan Renata menunggu jawaban dari ketiga gadis itu.


" Gak ada kak. " jawab Deana singkat.


" Terus apa maksud bang Bara tadi ? Dan dimana Moza ? " tanyanya khawatir.


" Dia ketiduran di kamar, kayaknya kecapekan tungguin gue berendam air panas kelamaan hehe... " jawabnya kemudian sambil cengengesan.


" Bener bukan karena ngambek ? " tanyanya kembali menyelidik.


" Tadi diledekin bang Bara gara-gara Moza gak bisa berenang. Terus kita ditinggalin di kolam renang dan..... " kata Renata yang hampir saja semakin keceplosan jika saja Amira tak menyikut lengan gadis itu.


" Dan apa ? " Dimas tampak belum puas dengan jawaban menggantung dari Renata.

__ADS_1


" Ish... ngapain sih lo dek mau tau aja. Makanya jangan keasyikan main PS, sono tadi ikut gabung di kolam renang biar gak kepo. " jawab Bara tanpa mengalihkan mata dari layar televisi di hadapannya.


Ketiga gadis yang sedari tadi merasa terdesak dengan pertanyaan Dimas diam-diam merasa lega dengan jawaban dari pria yang seolah ikut menutupi kejadian di kolam renang tadi.


Bukan tidak mau bercerita tentang apa yang terjadi, pasalnya mereka tahu jika Dimas pernah menaruh hati pada gadis yang tengah tidur terlelap di kamar.


Dan mereka tidak tahu apakah pemuda itu sudah betul-betul move on atau masih menyimpan perasaannya pada Moza. Jadi mereka memilih untuk tidak menceritakan perihal candaan mereka di kolam renang tentang Moza dan Hega.


🍒🍒🍒


Tidak terasa waktu liburan di villa sudah hampir berakhir, malam terakhir di villa mereka memutuskan untuk makan malam di taman depan villa, sedari sore menyiapkan meja dan kursi tambahan dan menatanya di taman.


Untuk menu makanan tentu saja disiapkan oleh Bu Ranta dan beberapa orang yang kini tengah membantunya di dapur.


Moza tampak keluar dari kamarnya dengan ekpresi wajah yang seolah belum sadar sepenuhnya dari kantuknya. Menuju ke arah dapur dan meneguk segelas air, tak menghiraukan pandangan beberapa pasang mata yang tengah menatapnya.


" Neng Moza baru bangun ya ? " kata Bu Ratna sambil memotong beberapa sayuran di hadapannya.


" Iya, bu Ratna masaknya banyak sekali ? Apa mau ada tamu lagi yang datang ? " tanyanya setelah mengamati banyak bahan makanan di atas meja.


" Kata den Bara buat makan malam terakhir sekalian mau dibagikan ke beberapa pekerja villa. " jawab istri dari penjaga villa tersebut.


" Oh..... " jawab gadis itu sambil manggut-manggut kemudian melayangkan pandangannya mencari keberadaan teman-temannya.


" Teman-teman eneng ada di taman depan. " kata bu Ratna yang seolah tahu jika gadis itu tengah mencari sesuatu.


🍒🍒🍒


Di taman kelima temannya dan juga satu pria tengah sibuk merapikan meja dan beberapa alat makan. Menyalakan perapian kecil di beberapa sudut taman untuk menghangatkan diri dari dinginnya suhu pegunungan.


Dari arah bangunan villa tampak seorang gadis berjalan sedikit gontai, mendekat kearah meja makan besar berbentuk lingkaran, dengan delapan kursi di sekelilingnya.


" Lo udah bangun dek ? " tanya Bara yang pertama kali menyadari kehadiran gadis itu.


" Hn. " jawabnya singkat sambil menganggukan kepalanya.


" Duduk sini, kayaknya lo masih belum sepenuhnya sadar deh. " kata Julian sambil menarik satu kursi di depannya.


" Kok aku gak dibangunin De ? " tanya gadis itu setelah menjatuhkan pantatnya di kursi kayu yang ditarik oleh Julian.


" Lo tidurnya kelewat lelap, gue gak tega banguninnya. " jawab Deana.


" Iya lagian cuma nyiapin gini doang, nih juga udah selesai. Tinggal nanti ngeluarin makanannya. " sahut Dimas yang ikut duduk diaamping Moza.


" Lo gak papa kan ? " tanya Dimas sedikit pelan.

__ADS_1


" Emang aku kenapa ? " gadis itu malah balik bertanya sambil mengernyitkan dahinya.


" Eh itu tadi kak Dimas tanya kok lo gak ikut kita berenang, dikira lo sakit, iya kan kak ? " sambar Deana sambil mengalungkan kedua tangannya di bahu Dimas.


" I... iya. " jawab Dimas pasrah.


" Aku gak papa cuma capek aja. " jawab Moza curiga dengan tingkah Deana.


" Ya udah lo duduk aja, udah beres semua kok. " lanjut pemuda itu lalu beranjak dari kursi dan melanjutkan tugasnya.


🍒🍒🍒


Tanpa sadar Moza menelusuri setiap sudut taman seolah mencari sesuatu, kemudian diam-diam menghela nafas lega saat mengetahui yang dicarinya tak ada dimanapun.


Gadis itu masih belum menyiapkan dirinya untuk berhadapan dengan pria yang menjuteki dirinya tadi pagi. Perlahan dia rebahkan kepalanya diatas meja, seolah masih enggan melakukan apapun.


Membiarkan teman-temannya melakukan pekerjaan mereka, ditemani Deana yang tengah mengelap sendok sambil duduk disampingnya.


" Lo udah gak kesel kan ma kita-kita Mo ? " tanya Deana perlahan.


" Hmm." jawab Moza tak kalah pelan.


" Sorry ya gue gak maksud ngeledekin lo, lagipula lo kok jadi aneh sih ? " lanjut Deana sambil melirik ke arah sahabatnya.


" Aku kenapa ? " tanya Moza kembali mengernyitkan dahinya.


" Biasanya lo gak pernah sejengkel ini kalo ada yang ledekin lo tentang cowok. Palingan lo cuek sambil berlalu. " ucap Deana dengan nada tanpa curiga dengan keanehan sikap sahabatnya.


" Emang sekarang aku gimana ? " tanyanya kemudian.


" Ya elo aneh aja, kalo kita sebut-sebut soal bang Hega lo kayak orang kebakaran jenggot. " jawab Deana yang kemudian reflek menatap sahabatnya seolah dia tengah menyadari sesuatu.


" Jangan bilang lo..... " kata Deana yang disambut telapak tangan Moza yang reflek menutup mulut sahabatnya.


" Hush... jangan ngaco.....Udah ah aku mau mandi dulu. " ucapnya sambil beranjak pergi meninggalkan temannya yang masih terbengong di kursinya.


☘☘☘


☘☘☘☘


^^Aku belum tahu arti rasa ini, tapi aku tahu kehadiranmu terus mengusik hati. Begitu sulitnya bagiku menyadari perasaan hati, bukan karena enggan mengakui, tapi karena memang ini adalah yang pertama kali. ^^( Sherinanta )


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤

__ADS_1


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🌹🌹🍁🍒


__ADS_2